
Hari yang telah semua orang tunggu akhirnya telah menjadi kenyataan. Kali ini pernikahan yang sudah dinantikan banyak orang bukan hanya khayalan semata. Pernikahan pasangan Regan dan Yona akhirnya terselenggara pada hari ini. Semua telah disiapkan dengan matang-matang. Ijab qobul yang nantinya akan dipimpin langsung oleh Hendra selaku wali dari Yona.
Yona menatap pantulan dirinya di depan kaca rias. Hotel Corlyn, menjadi tempat pilihan pernikahan Regan dan Yona. Seperti janji Sisil sebelumnya, wanita itu akan memberikan hadiah berupa menyediakan tempat ketika Regan dan Yona menikah nantinya. Tidak tanggung-tanggung, keluarga Yona mengundang WO yang sama dengan WO yang telah menangani acara pertunangan Regan dan Yona sebelumnya.
Andai saja pertunangan itu tidak batal. Mungkin acara keluarga mereka akan menjadi acara pertunangan paling meriah sepanjang sejarah. Namun seluruh keluarga tidak akan menyesalinya, mereka telah menemukan hari ini, sebagai hari yang baik untuk pernikahan putra putri mereka.
Kali ini seluruh keluarga, kerabat, dan rekan kerja diundang dalam acara resepsi pernikahan Regan dan Yona. Sepuluh ribu undangan telah disebarkan, banyak juga dari kalangan pejabat negara yang turut datang memberikan restu mereka kepada Regan dan Yona.
Melupakan kebahagiaan mereka semua, pengantin lelaki justru memilin ujung jasnya saking gugupnya dia berhadapan dengan Hendra di meja akad. Padahal biasanya, mereka berdua begitu akrab satu sama lain. Tetapi kali ini berbeda, Regan menemui Hendra sebagai seorang lelaki sejati yang akan meminta restu orang tua wanita yang sebentar lagi menjadi bagian dari hidupnya. Yona, wanita itu yang telah Regan pilih untuk menemani sisa-sisa hidupnya selamanya.
Yona Anantasya William, sebentar lagi akan berganti marga, menyandang nama suaminya. Nyonya Reganera Louis.
“Kamu begitu gugup, Yona?” tanya Nadia, membantu Yona untuk mengganti gaun pernikahan yang secara khusus dia rancang.
Meskipun Nadia tengah hamil, namun itu tidak menyurutkan semangatnya menghasilkan karya terindah untuk sahabat terbaiknya. Nadia telah menanti-nanti hari ini, pada akhirnya penantian Yona dan Regan akan terbayarkan sudah.
Gaun yang memiliki ekor sepanjang tiga meter, melapisi bentuk tubuh Yona yang meliuk dengan sempurna. Gaun dengan lengan tujuh perempat, serta gaya rambutnya disanggul modern ke atas membuat wanita itu terlihat begitu cantik, memamerkan leher jenjangnya yang nampak sensual bagi siapapun yang melihatnya.
“Apa kamu merasakan hal yang sama saat mau menikah?” tanya Yona balik, menunggu jawaban dari Nadia.
Kebetulan sekali, di dalam kamar rias ada Nadia, Sisil, Viona, dan Melodi yang siap menemani wanita itu.
Keempat istri cantik yang nantinya akan menjadi teladan bagi Yona, berguru ilmu-ilmu tentang peran sebagai istri dan ibu yang baik bagi mereka.
“Tentu saja semua pengantin akan merasakan kegugupan yang sama seperti dirimu,” jelas Nadia, menaikkan resleting gaun pengantin hingga naik paling atas.
Yona menghembuskan napas kasarnya, wanita itu terlihat begitu gugup.
“Aku tidak menyangka hari ini akan tiba,” ucap seorang wanita masuk ke dalam ruangan Yona.
Di sana Naomi berdiri, teman Yona yang menyaksikan pula bagaimana pengorbanan Yona dan Regan hingga sampai ke tahap ini.
“Naomi, akhirnya kamu datang juga,” ucap Yona terlihat begitu bahagia karena Naomi sempat tidak bisa datang, wanita itu masih tetap sama seperti yang dulu, mengikuti ke manapun orang tuanya membawa dirinya pergi karena pekerjaan sang ayah.
Naomi memeluk Yona begitu erat.
“Kau tahu, selain dirimu yang merasa bersalah atas keadaan Regan, aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Aku selalu berpikir andai saja aku tidak memintamu mengantarkan undangan sialan itu padaku,” jelas Naomi menatap Yona dengan pandangan begitu menyesal.
Yona tersenyum lembut. “Itu sudah jalannya, yang terpenting aku dan Regan akan bersatu juga,” ucap Yona meyakinkan Naomi untuk melupakan segala sesuatu di masa lalu.
Para istri cantik di sana mengangguk menyetujui, lagipula tidak ada gunanya merutuki semua yang telah terlewatkan. Jika itu buruk, akan menjadi pelajaran paling baik dalam kehidupan kita, dan jika itu baik maka akan menjadi memori terindah dalam hidup. Tidak perlu menyesali semua yang sudah tertulis untuk kita lewati.
“Aku juga tidak menyangka kalau Regan pada akhirnya bersanding dengan dirimu,” ucap Viona mengutarakan apa yang dia batin selama ini.
“Kenapa begitu?” tanya Yona nampak penasaran.
“Aku selalu cerita sama Sisil. Kok bisa ya Regan jodohnya sama Yona? Sifat kalian yang bertolak belakang, tidak membuat kami yakin awalnya kalau kalian bisa sampai ke tahap pernikahan,” jawab Viona.
Sisil mengangguk dan terkekeh. “Iya, masa Viona bahasnya gitu mulu loh dari pertama kali kamu main ke rumah kita kan dikenalin sama kita. Dia bahas itu-itu terus, sampai aku bingung mau jawab dia macam gimana lagi,” jawab Sisil menggelengkan kepalanya.
“Bukan Cuma Viona, aku sama Kak Rehan saja sering kok bahas Regan dan Yona pas kami baru pulang dari kumpul-kumpul sama kalian,” sahut Melodi mengungkapkan rahasia mereka.
Nadia ternganga. “Aku pikir cuma aku sama Fernando yang memikirkan hal itu, ternyata kalian juga memikirkan hal serupa?” kekeh Nadia tidak bisa menutupi keterkejutannya.
Ternyata bukan hanya satu dua orang yang merasakan bahwa kebersamaan Regan dan Yona begitu bertolak belakang. Sifat yang berbeda, kepribadian yang selalu berbenturan, justru menjadi kombinasi paling serasi yang baru kali ini mereka lihat seumur hidupnya.
__ADS_1
“Astaga, jadi selama ini kalian ngomongin aku sama Regan di belakang?” tanya Yona berpura-pura tidak menyangka.
Padahal Yona sendiri tidak peduli selagi apa yang mereka bicarakan bukanlah hal-hal buruk tentang dirinya dan juga Regan.
Mereka berenam tertawa mendengarkan keluhan yang keluar dari mulut Yona. Siapa juga yang menyangka kalau para pasangan itu ternyata membicarakan perbedaan Regan dan Yona selama ini.
“Ijab qobulnya sudah dimulai belum sih?” tanya Yona terlihat tidak sabaran.
“Memangnya ada apa? Kamu enggak sabar ya mau mantap-mantap?” tanya Naomi menatap Yona menelisik.
“Sah aja belum sudah mikirin begituan, doain saja Regan enggak salah ngucap nama,” kekeh Nadia sengaja menggoda sahabatnya.
Yona memutar bola matanya kesal. “Kok kalian doanya begitu sih, padahal enggak mikir yang macem-macem loh,” jawab Yona membela dirinya.
“Iya enggak macem-macem, tapi cuma satu macem aja. Iya enggak?” tanya Sisil meminta persetujuan teman-teman wanitanya.
Mereka semua mengangguk antusias. Malam pertama merupakan malam yang begitu mendebarkan bagi para pasangan pengantin baru yang belum pernah melepaskan segel sebelumnya. Tapi ada, pengantin baru yang telah melepas segelnya sebelum hari pernikahan mereka tiba namun malam pertamanya tetap menggairahkan sampai tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Dia Sisil dan juga Nata. Kesalahan satu malam mereka di Bali membuat Sisil hamil dan pergi meninggalkan Indonesia, menyembunyikan dirinya dan kehamilannya dari Nata. Kesalahpahaman Sisil yang mengira Nata hanya menjadikan dirinya bahan pertaruhan membuat wanita itu emosi hingga tidak ingin bertemu lagi dengan Nata.
Tapi Tuhan telah menunjukkan jalan pertemuan kepada mereka berdua. Hari ulang tahun Devaro, anak pertama Racka dengan mendiang istrinya terdahulu membuat Sisil harus kembali ke Indonesia menemani Nayna yang terus saja merengek minta pulang ke Indonesia untuk merayakan ulang tahun sepupunya.
Tidak ingin menjadi ibu yang buruk, Sisil akhirnya mengalah demi kesehatan putrinya Queenayna. Wanita itu memberanikan dirinya kembali ke tanah air hingga bertemulah dia dengan Nata dalam acara ulang tahun Devaro. Mau dikata apa lagi, Tuhan membuat scenario yang begitu hebat pada setiap kehidupan umatnya. Sisil pada akhirnya bersatu kembali dengan Nata karena sebuah alasan, cinta yang masih terus mengakar dalam hati keduanya meskipun Sisil sempat dekat dengan pengusaha asal Amerika, Darwin Jaxon.
“Bagaimana rasanya bersatu kembali dengan Nata?” tanya Yona secara tiba-tiba.
Sisil menarik napasnya dan tersenyum. “Kembali dengan seseorang di masa lalu tidak buruk, justru kami memperbaiki diri dari kesalahan yang telah lalu untuk menyongsong masa depan yang lebih baik lagi di masa depan,” jawab Sisil tersenyum lembut, membayangkan betapa bahagianya hari-hari Sisil bersama dengan Nata.
Begitukah cinta? Tidak peduli bagaimanapun luka, rintangan, dan juga halangan, dia akan tetap mencari jalan untuk tetap bersatu.
Sedangkan di sisi lain, para lelaki justru tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Regan yang terlihat begitu gugup.
“Kayak elu enggak nervouse aja pas lagi ijab qobul,” jawab Racka menjitak kepala Fernando, membuatnya mencebikkan bibirnya.
Hendra mengangkat bahunya acuh, gangguan para suami di sana justru semakin membuat Regan gugup tidak karuan. Bukannya menyemangati Regan biar sahabatnya itu bisa lancar mengucapkan ijab qobulnya, mereka malah menertawakan Regan karena tidak lancar mengucapkan lafal ijab qobul.
“Ariana,” panggil Hendra kepada menantu sulungnya.
Ariana mengangguk dan berdiri menghampiri ayah mertuanya.
“Panggilkan juru kuncen keempat singa jantan ini, mereka kalau tidak dipanggilkan juru kunci mana bisa berhenti menggoda calon menantuku,” ucap Hendra memerintahkan Ariana.
Juru Kuncen yang Hendra maksud adalah para istri dari lelaki-lelaki usil. Biar saja mereka diam seribu bahasa ketika para istri mereka datang. Kalau dibiarkan seperti tadi, mungkin putrinya tidak cepat-cepat menikah.
“Baik, Daddy,” jawab Ariana.
Wanita ibu dari satu anak itu segera melangkahkan kakinya menuju kamar rias yang tidak jauh dari ballroom hotel. Ariana mengetuk pintu kamar rias sebelum berjalan masuk. Keningnya berkerut saat semua istri ternyata berkumpul di sana.
“Para istri-istri dan ibu yang cantik, lebih baik kalian keluar sekarang saja. Suami-suami kalian sedang menggoda penganti lelaki sampai tidak bisa mengucapkan ijab qobul karena suami kalian selalu menertawakan Regan,” adu Ariana kepada para istri.
“Apa?” pekik mereka terbelalak.
“Wah tidak tahu diri benar si Nata, dia saja sampai minta minum di tengah-tengah prosesi ijab qobul!” ucap Sisil menggebu-gebu.
Viona mengangguk. “Iya, Racka juga. Dia malah lupa siapa nama ayahku,” jawab Viona merasa kesal dengan kelakuan para lelaki itu.
__ADS_1
“Heh, apa lagi si Rehan. Dia malah menyebut nama mommyku saking gugupnya,” kekeh Melodi menggelengkan kepalanya mengingat acara ijab qobul pernikahannya dengan Rehan yang sangat lucu.
“Jangan ditanya, Fernando malah lupa mau ngucapin apa,” sahut Nadia berdecak kesal.
Sepertinya para lelaki itu mencari teman agar mereka sama-sama gagal dalam ritual ijab qobul.
“Ayo kita ke sana, Juru Kuncen,” ucap Sisil menjadi ketua perkumpulan istri Juru Kuncen itu.
Mereka berempat keluar, meninggalkan Yona, Naomi, dan Ariana di sana. Yona menatap kakak iparnya penuh rasa ingin tahu yang tinggi.
“Regan gugup ya, Kak?” tanya Yona nampak khawatir dengan Regan.
“Biasalah, para lelaki hanya lihai merayu wanita. Tapi keok saat ijab qobul,” jawab Arianna terkekeh. “Kakak ke sana dulu, nanti kalau sudah selesai Kakak ke sini jemput pengantin wanitanya. Naomi, Kak Ana titip Yona ya?”
Naomi mengangguk. “Siap, Kak,” jawab Naomi tersenyum lembut.
Yona menghela napasnya kasar, wanita itu turut merasakan kegugupan yang luar biasa tidak tertahankan. Yona rasanya bisa membagi kegugupan yang dirasakan Regan saat ini.
“Regan mungkin sedang gugup sekarang,” lirih Yona berdoa dalam hatinya.
Naomi justru terkekeh, melihat raut wajah tegang Yona membuat Naomi merasa geli.
“Sudah jangan dipikirkan, relax saja,” jawab Naomi menenangkan Yona.
Benar sekali tebakan Hendra, kedatangan para istri ternyata sangat ampuh untuk menjadi juru kuncen bagi para lelaki usil di sana. Para suami langsung diam kicep tanpa berani membuka mulutnya saat istrinya berada di dekat mereka. Lagi pula siapa yang berani melawan para juru kuncen itu. Bisa-bisa aib semasa ijab qobul mereka dibongkar habis-habisan oleh para istri mereka.
Tentu saja Fernando, Nata, Racka, dan Rehan tidak mau masa depan mereka dipertaruhkan. Lebih baik mereka diam saja, sambil menertawakan Regan secara diam-diam dalam batiniah mereka.
“Saya terima, nikah dan kawinnya, Yona Anasia-“
“Anantasya,” jawab Hendra mengoreksi kalimat Regan.
Baru kali ini, Regan merutuki sulitnya nama Yona. Padahal biasanya lelaki itu begitu fasih mengucapkan nama Yona dalam absen yang selalu dia pandu ketika kelas akan dimulai. Kenapa mendadak nama Yona terasa begitu sulit untuk dia ucapkan?
Tawa meledak keluar dari mulut Fernando, dengan cepat Nadia menyikut perut suaminya hingga lelaki itu langsung diam membisu meskipun rasa geli masih ingin dia teriakkan bersama tawanya.
“Kita ulangi lagi,” ucap penghulu yang mengawal jalannya ijab qobul pada pernikahan Regan dan Yona.
“Tarik napas dulu Regan,” ucap Marva mencoba menetralkan Regan.
“Awas, nanti kentut,” kikik Nata membuat Sisil melayangkan tatapan membunuh kepada suaminya yang telah menganugerahinya sepasang anak yang begitu lucu dan menggemaskan.
Regan menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, mengatur ritme detak jantungnya agar tidak meledak saat ini juga. Regan harus konsentrasi, memfokuskan pikiran dan lisannya pada satu nama yang tetap selalu dalam hatinya.
Regan kembali menjabat tangan Hendra. Lelaki itu memejamkan matanya sekali lagi, menarik napas lalu menghembuskannya.
“Sudah siap?” tanya Hendra dengan alisnya bertautan.
Regan berdoa dalam hatinya. “Siap, Dad. Kita ulangi lagi,” jawab Regan penuh keyakinan.
Hendra kembali mengucapkan kalimat ijab yang dipandu oleh penghulu sebelumnya. Regan melepaskan pegangan tangannya kepada tangan Hendra. Lelaki itu berdiri secara tiba-tiba membuat para tamu undangan dan keluarga yang menyaksikan jadi terheran dan juga bingung.
“Regan, kenapa?” tanya Shinta merasa bingung.
“Mommy, aku beneran mules sekarang,” jawab Regan meringis, berlari kecil memecah kerumunan untuk segera menyelesaikan panggilan alamnya.
__ADS_1
Shinta dan Arianna saling menatap. “Sepertinya dia kualat,” ucap Shinta dan Ariana bersamaan.
Siapa suruh Regan berbohong mengatakan bahwa lelaki itu sakit perut hanya untuk menemui Yona? Ucapan adalah doa, tidak salah jika doa buruk Regan malah terkabul di saat-saat menegangkan seperti ini.