My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Hukuman Di Pagi Hari


__ADS_3

Cuaca pada pagi hari ini terlihat begitu bersahabat, langit cerah dengan sinar mentari yang tidak terlalu terik nampaknya sangat menyenangkan untuk menjelajah kota romance yang terkenal akan sejarahnya. Kota Bath, Inggris, menjadi tempat yang ingin Regan dan Yona sambangi sebagai perjalanan bulan madu mereka berdua. 


Semalam, Regan dan Yona tiba di Kota Bath setelah menempuh perjalanan udara dengan waktu tempuh yang sangat melelahkan. Mereka berdua menetap di rumah Keluarga William yang menjadi rumah keluarga dari Marva William ketika mereka berada di Bath untuk mengelola salah satu cabang perusahaan William Company di sana.


Meskipun pagi telah menyingsing, namun pasangan pengantin baru itu nampaknya masih enggan membuka matanya. Perjalanan panjang yang telah menguras tenaganya membuat mereka malas bangun meskipun matahari telah menunjukkan sinarnya.


Regan justru semakin mengeratkan pelukannya pada istrinya, memeluk tubuh Yona dengan begitu erat seakan-akan ada seseorang yang mungkin saja bisa merebut Yona dari dirinya.


“Emhh,” gumam Yona meregangkan otot-ototnya.


Wanita itu membuka matanya, pemandangan pertama yang saat ini dia lihat adalah wajah damai suaminya saat terlelap. Begitu menenangkan, menjadi kebiasaan baru bagi Yona ketika dirinya membuka matanya pertama kali, terbangun dari alam mimpinya. Yona tersenyum lembut, mengecup bibir Regan dengan penuh cinta.


“Good morning, Hubby,” sapa Yona merekahkan senyumnya.


Satu minggu menjadi istri dari lelaki super duper mengesalkan memang bukan lagi hal yang mencengangkan. Yona sudah terbiasa dengan segala keusilan serta kenakalan Regan kepadanya selama satu minggu menjadi istri lelaki itu. Tidak ada yang berbeda, hanya status mereka dan juga aktivitas keseharian mereka berdua yang harus disesuaikan mengingat keduanya bukan lagi lelaki ataupun wanita lajang lagi.


“Selamat pagi, Sayangku,” jawab Regan masih memejamkan matanya, tangannya mengelus puncak kepala Yona dengan lembut.


Yona mencoba melepaskan lingkaran tangan Regan dari pinggangnya. Namun Regan justru mengeratkan pelukannya, tidak ingin Yona menyingkir dari dekapannya. Begitulah kelakuan Regan selama satu minggu ini. Lelaki itu hanya ingin menghabiskan seluruh hidupnya bersama dengan istrinya.


“Ish, singkirkan tanganmu, Sayang. Tidak enak dengan pelayan Kak Marva,” cibir Yona mengingat mereka tinggal di sana.


Memang dasar Regan mencari kesempatan dalam kesempitan. Sepertinya lelaki itu memilih Kota Bath sebagai tujuan bulan madu bukan tanpa alasan, tentu saja untuk menghemat kantongnya berhubung dia menikahi mantan model Internasional yang perekonomiannya di atas status kewajaran.


Lalu Sisil dan Nata? Mereka berdua menolak untuk ikut dalam bulan madu Regan dan Yona. Mereka tidak ingin menerima imbalan atas apa yang telah Sisil dan Nata berikan kepada pasangan pengantin baru itu.


“Cium aku sekali, nanti aku melepaskanmu,” ucap Regan dengan suara seraknya khas orang yang baru saja bangun dari tidurnya.


Yona mendengus, mencebikkan bibirnya kesal mendengar permintaan Regan.


“Jangan mulai, Sayang. Singkirkan tanganmu,” ucap Yona mencoba melepaskan tangannya.


Regan menggeleng, kakinya bahkan sudah menindih kaki Yona sampai wanita yang kini berstatus sebagai istrinya tidak bisa lagi bergerak.


“Lakukan saja,” pinta Regan merajuk.

__ADS_1


Sudahlah, kalau seperti ini Yona tak akan mampu menang berdebat dengan Regan. Yona memilih mencium pipi Regan dengan sekilas.


“Sudah kan?” ucap Yona.


Regan membuka matanya. “Kamu tidak benar, Sayang,” jawab Regan membuat Yona menaikkan alisnya bingung.


Apanya yang tidak benar? Caranya mencium lelaki itu kah?


Regan bergerak naik ke atas tubuh Yona. Lelaki itu mencumbu bibir istrinya. 


“Menciumlah dengan benar, Istriku,” ucap Regan mengedipkan matanya menggoda.


Yona mendorong tubuh Regan ke samping, tangan Regan dengan cekatan menarik tengkuk Yona sampai posisi mereka saat ini terbalik. Yona berada di atas dada bidang Regan, berhadapan dengan mata milik suaminya.


“A-apa yang kau lakukan?” tanya Yona dengan begitu gugup.


“Kamu,” jawab Regan, mengelus pipi Yona lalu turun ke bibir ranum wanita itu.


Tubuh Yona menegang seketika, Yona mencoba bangkit dari posisinya saat ini.


“Aku menginginkanmu,” bisik Regan mencium ceruk leher Yona, mengecupnya dari atas hingga sampai ke tengah dada wanita itu.


Tangan Regan menelusup, menggerayangi ke bagian bawah tubuh Yona, memainkan tangannya dengan begitu lihai seperti sudah hafal benar di mana titik-titik sensitive istrinya.


“Tidak sekarang, Sayang,” ucap Yona menghentikan aktivitas Regan saat ini, wanita itu membenarkan kembali gaun tidurnya yang sempat dijajah oleh tangan suaminya.


Regan merebahkan tubuhnya dengan frustasi, padahal gairahnya tengah memuncak, tapi Yona menghentikannya begitu saja.


“Segera mandi, kita harus ke rumah Paman Betrand,” ucap Yona mengingatkan suaminya bahwa dia ada kunjungan ke rumah saudara ayahnya yang ada di Kota Bath, saudara yang saat ini memegang kendali usaha keluarganya di Inggris.


“Pergi saja sendiri!” sahut Regan dengan ketus.


Regan malah menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, tidak peduli dengan permintaan istrinya yang menyuruhnya untuk mandi dan bersiap ke rumah kerabat dari keluarga istrinya.


Melihat suaminya tengah merajuk, Yona terkikik geli dengan kekehan kecil lolos dari mulutnya.

__ADS_1


“Bagaimana kalau di kamar mandi?” tawar Yona sontak saja membuat Regan menyibak selimutnya dengan cepat.


Mata lelaki itu menatap Yona dengan penuh antusiasme. “Serius?” tanya Regan langsung bangkit dari posisi tidurnya.


Yona mengangguk dengan cepat. “Memangnya di mana lagi kamu mau mandi kalau bukan di kamar mandi?” ucap Yona menatap suaminya, menahan tawanya yang siap meledak melihat raut wajah Regan yang mendadak pias mendengarkan jawabannya.


“Apa? Mandi? Mandi saja sendiri sana,” jawab Regan dengan mendengus kesal menatap istrinya.


Yona segera menuruni ranjang, berjalan menuju walk in closet untuk membasuh wajahnya. Wanita itu tersenyum menatap bekas kepemilikan yang Regan tanggalkan di sana. Tanda-tanda merah itu membuat Yona bahagia, saksi bisu percintaannya dengan suaminya.


“Nyonya Reganera, aku tak akan mandi sebelum kamu menurutiku!” teriak Regan dari luar sana.


Mendengar teriakan frustasi semakin membuat Yona tersenyum lebar, entah mengapa moment-moment seperti itu terasa begitu sweet sampai Yona ingin mengingatnya sampai nanti dia menutup nyawanya sendiri.


Yona keluar dari walk in closet, memandang suaminya yang menggelung tubuhnya dengan selimut saking frustasinya lelaki itu menahan gai*rahnya sendiri.


“Aku hitung sampai tiga, kalau kamu belum masuk kamar mandi awas saja,” ucap Yona melipat tangannya ke depan dada.


“Hitung saja semau kamu,” jawab Regan bodo amat, tidak peduli.


“Satu … aku tidak pernah main-main dengan kalimatku, Sayangku,” ucap Yona memulai hitungannya dari angka satu.


Benar, Yona selalu konsisten dengan ucapannya. 


“Dua ….” Yona masih menanti pergerakan Regan saat ini.


Wanita itu menarik napasnya. “Ti-“ Ucapan Yona terhenti saat Regan dengan sigap membopong tubuhnya, menghentikan hitungan terakhirnya.


“Kya, kamu mau membawaku ke mana?” pekik Yona saat tubuhnya melayang di udara.


“Bukannya kamu yang memintaku mandi?” tanya Regan balik.


“Hah? Lalu apa yang kamu lakukan Regan? Aku memintamu mandi, bukan aku,” ucap Yona dengan matanya melebar terkejut.


Regan menatap mata Yona. “Memberikan istri cantikku ini hukuman karena tidak memanggil suaminya dengan benar,” ucap Regan penuh dengan arti.

__ADS_1


Tentu saja Yona tahu hukuman apa yang akan dia terima saat Regan menyebutkan bahwa lelaki itu akan menghukumnya. 


Yona tidak memanggilnya dengan benar? Hah! Itu semua hanya alibi Regan agar lelaki itu bisa bermanja dalam tubuh istrinya. Ck, dasar lelaki.


__ADS_2