
Semua orang di sana menangis, bahkan Regan yang sejak awal tidak menunjukkan ekspresi apapun kini menitikkan air matanya. Dengan cepat Regan menghapusnya. Lelaki itu mencoba mencari jalan keluar untuk permasalahan yang kini dihadapi oleh tamunya. Regan menatap Gustin Justavo, kebetulan sekali saat itu juga Gustin menoleh ke arahnya.
Lewat tatapan mata itu mereka berbicara, kemudian Regan mengangguk, memberikan sinyal untuk Gustin Justavo meminta maaf kepada orang tua istrinya. Berbekal ketulusan dan rasa cinta yang besar kepada sang istri, Gustin memberanikan dirinya berbicara kepada Dokter Ozan dan Bella.
“Dokter Ozan, sebelumnya saya minta maaf atas segala kekhilafan saya yang telah menjauhkan Olivia dari kalian semua,” ucap Gustin Justavo penuh dengan penyesalan.
Dia memang menyesal, bukan pilihan yang baik memang membawa kabur anak orang dan menjadikannya seorang istri dengan identitas barunya. Tapi saat itu rasa cinta dan keinginan memiliki akan sosok Olivia telah melebihi segalanya. Gustin Justavo telah kehilangan kewarasannya saat itu. Menjajal satu cairan suntik penggagal detak jantung dan penghenti denyut nadi untuk sementara.
Di luar akal manusia memang, Gustin Justavo terlalu berani melanggar kode etiknya sebagai seorang dokter hanya untuk mendapatkan wanita pujaannya.
“Saya mencintai Olivia, Dokter Ozan,” ucap Gustin Justavo, menatap ayah dari Olivia dengan lekat. Meyakinkan ayah mertuanya bahwa dia tidak sedang berbohong.
“Omong kosong! Sayang, apa yang kau lakukan? Kenapa kamu diam saja? Suruh mereka berdua pergi dari sini, laporkan mereka atas dasar penipuan. Hiks, tega sekali mereka menipu orang tua yang tengah merindukan putrinya,” isak Bella menangis histeris dalam pelukan Yona.
Yona mengelus punggung Bella, memberikan ketenangan pada sosok wanita itu. Bagaimanapun Yona bisa merasakan sakitnya menjadi Dokter Ozan dan juga Bella. Mereka telah kehilangan putrinya, kematian yang menyisakan luka pada hati mereka semua. Lalu tiba-tiba Olivia kembali, meminta pengampunan pada kedua orang tuanya.
Bukankah Olivia dan Gustin Justavo terlalu egois untuk mendapatkan pengampunan dari orang tuanya? Apalagi meminta restu kepada mereka yang telah dia lukai perasaannya begitu dalam.
“Bunda, ini Olivia. Olivia datang ke sini untuk meminta maaf sama Ayah dan Bunda,” isak Olivia berusaha mendekati Bella.
Tangan Olivia bergetar, baru saja tangannya menyentuh lengan sang ibu, namun detik selanjutnya Bella menepisnya dengan kasar.
“Jangan menyentuhku, putriku telah mati,” ucap Bella menatap Olivia dengan kilatan mata penuh amarah.
Dokter Ozan mengusap wajahnya frustasi. “Yona, tolong antarkan Tante masuk ke kamarnya,” ucap Dokter Ozan meminta Yona mengantarkan istrinya untuk masuk ke dalam mereka, tidak ingin kesehatan istrinya yang baru saja membaik harus kembali buruk hanya karena pembahasan berat yang akan Dokter Ozan perbincangkan dengan Olivia dan Gustin Justavo.
Yona menuntun Bella menuju kamar utama rumah keluarga Bellvaria. Dengan penuh kesabaran, Yona menenangkan wanita itu.
Sedangkan di ruang tamu, Dokter Ozan, Olivia, Gustin Justavo, dan juga Regan duduk di sana dengan ekspresi wajah tegang. Tangan Gustin Justavo kini berkeringat, merasakan kegugupan tatkala ayah mertuanya menatapnya dengan kening berkerut.
“Jadi apa yang terjadi? “ tanya Dokter Ozan, berusaha menetralkan detak jantungnya demi mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi pada Olivia. Rahasia masa lalu putrinya yang disembunyikan dari keluarga besar Bellvaria.
Gustin Justavo menarik napas panjang, lelaki itu kini mengubah posisi duduknya karena dilanda kegugupan.
“Saya menggunakan cairan Betriaxmia untuk menghentikan denyut nadi dan menggagalkan detak jantung Olivia,” ucap Gustin Justavo, mere*mas tangannya yang kini berkeringat.
“Cairan yang kau teliti, bukankah itu untuk membantu pasien gagal jantung?” tanya Dokter Ozan semakin tak menyangka dengan apa yang dia dengar.
“Cairan itu akan berfungsi kebalikannya apabila diberikan tiga kali dosis dalam sekali suntuk,” jawab Gustin Justavo membuat Dokter Ozan terbelalak.
Matanya semakin berkilat marah, lelaki itu menghembuskan napas kasar, dadanya mulai naik turun tak beraturan. Menandakan bahwa dirinya telah kehilangan batas kesabarannya sebagai seorang ayah.
“Kau bisa membunuh Olivia di meja operasi. Pantaskah dirimu disebut sebagai seorang dokter, Dokter Gustin Justavo?” tanya Dokter Ozan dengan nada meninggi, terlihat begitu marah dengan Gustin.
“Ayah,” lirih Olivia, mencoba mengingatkan ayahnya bahwa lelaki yang bisa saja membahayakan nyawanya kini telah berstatus sebagai suaminya. Olivia hanya tidak ingin mereka berada di posisi yang sulit.
Dokter Ozan menoleh menatap Olivia. “Berhenti menyebut kata itu, putriku telah meninggal lima tahun lalu,” ucap Dokter Ozan seakan mere*mas jantung Olivia.
“Om Ozan.” Regan hanya mampu menghela napasnya, tidak bisa berbuat banyak selain mengantarkan tamunya ke tempat tujuan.
Itu adalah masalah keluarga, tidak sopan jika Regan ikut campur dalam masalah itu.
“Regan, suruh mereka berdua untuk pergi. Om Ozan tidak sudi menerima mereka di rumah ini.”
Ucapan Dokter Ozan bagaikan sambaran kilat di siang hari. Lelaki itu berdiri dari tempat duduknya, disertai dengan helaan napas berat yang keluar dari mulut lelaki paruh baya itu.
__ADS_1
“Pintunya di sana,” ucapnya dengan suara serak, menunjuk pintu keluar rumahnya, meminta Olivia dan Gustin Justavo untuk keluar dari rumahnya.
Olivia langsung bersimpuh memeluk kaki ayahnya, menangis meminta pengampunan sang ayah karena kesalahan yang telah dia perbuat dengan Gustin Justavo. Melihat istrinya menangis sampai sedalam itu, tentu saja menjadi siksaan tersendiri bagi Gustin. Andai saja waktu bisa diputar, mungkin Gustin Justavo tidak akan melakukan hal gila seperti itu hanya untuk mendapatkan Olivia.
Semua ini kesalahannya. Kalau memang keluarga Olivia tidak berkenan menerima dirinya sebagai seorang memantu, bisakah mereka menerima Olivia sebagai putri di rumah ini? Lalu bagaimana kalau keluarga Olivia menuntut Olivia untuk berpisah dengan Gustin Justavo? Mampukah Gustin berpisah dengan belahan jiwanya.
“Minggir!” sentak Dokter Ozan mengibaskan kakinya, mencoba melepaskan pelukan tangan Olivia di kakinya.
Wanita itu sama sekali tidak berubah posisi, masih kukuh memeluk kaki ayahnya.
“Ayah, Olivia merindukan kalian. Maafkan Olivia dan Gustin, Ayah. Kami salah, kami minta maaf. Tapi Olivia mohon, maafkan kami Ayah,” isak tangis Olivia kini memenuhi ruang tamu rumah itu.
“Kak Oliv?” panggil seseorang membuat mereka semua menoleh.
Feril, adik Olivia yang kini telah tumbuh dewasa. Menatap sosok Olivia di depannya dengan mata terbelalak. Tidak mungkin jika itu adalah kakaknya, kakaknya sudah meninggal lima tahun lalu.
“Feril, masuk kamarmu!” ucap Dokter Ozan memperingati Feril untuk segera masuk ke dalam kamarnya.
Olivia menatap adiknya dengan berkaca-kaca. “Feril, ini Kak Oliv. Kakakmu,” lirih Olivia dengan suara serak.
Mata Feril terbelalak. Pikirannya kini berputar keras, berusaha mencari jawaban untuk teka-teki yang kini hinggap di kepalanya. Apa yang terjadi, kenapa bisa seperti ini, dan kegilaan macam apa yang kini Feril saksikan?
“Tidak mungkin,” jawab Feril menggelengkan kepalanya.
Feril menatap Regan dan Gustin Justavo silih berganti. Matanya menyipit ketika matanya bersitatap dengan mata bermanik coklat terang milik Gustin Justavo.
Bukankah itu dokter Kak Olivia waktu itu? Mungkinkah lelaki itu adalah dalang dari semua ini?
Feril menggelengkan kepalanya, dia jelas-jelas melihat sendiri jasad kakaknya dimasukkan ke liang lahat. Begitu konyol jika kakaknya tiba-tiba muncul di depannya lagi.
“Ya dengarkan aku, kalau kalian ingin membuat drama jangan di rumah ini. Keluargaku begitu kehilangan kakakku, jangan membuat mereka semakin kesulitan karena wajahmu yang terlihat sama persisi dengan Kak Olivia,” ucap Feril penuh peringatan.
Olivia lebih memilih bersembunyi dengan seorang lelaki daripada kembali pada keluarganya.
“Dokter Ozan, ada baiknya kita berbicara empat mata, saya mohon,” pinta Gustin Justavo sudah tidak sanggup melihat air mata yang menetes di wajah istrinya.
Sekuat tenaga Gustin, selama hidup dengan dirinya Gustin Justavo tidak pernah membuat Olivia sampai menangis, kecuali menangis karena haru dan bahagia. Karena ini adalah kesalahannya, maka Gustin Justavo siap untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Apapun itu, termasuk jika lisensi praktiknya sebagai dokter harus dicabut, atau bahkan harus mendekam di balik jeruji penjara karena telah melakukan malpraktik pada Olivia.
“Ikuti aku,” jawab Dokter Ozan meminta Gustin Justavo mengikutinya.
“Ayah, kenapa harus empat mata. Biarkan aku mendengarkan penjelasannya juga!” teriak Feril merasa kesal.
Feril mencoba mengikuti langkah ayahnya dan Gustin Justavo, tapi Regan dengan cepat menghadang Feril.
“Biarkan ayah dan suami kakakmu berbicara,” jelas Regan membuat Feril menganga.
“Apa? Suami?” pekik Feril menatap Regan dan Olivia silih berganti.
Olivia mengangguk. “Kakak dan Dokter Gustin telah menikah dua tahun lalu,” jawab Olivia membuat Feril syok.
Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar. “Kakak, apa Kakak sudah gila menikah dengan lelaki yang berusaha membunuh Kakak?” tanya Feril menatap kakaknya dengan tatapan tidak percaya, sekaligus tidak mengerti bagaimana jalan pikiran kakaknya saat ini.
“Kakak mencintainya,” jawab Olivia tanpa ragu.
“Gila, Kakak benar-benar gila! Kakak bermain drama dengan berpura-pura meningeal untuk apa?” tanya Feril setengah berteriak.
__ADS_1
“Feril, tenangkan dirimu!” tegur Regan kepada Feril.
Olivia menarik tangan Feril untuk duduk di sampingnya. “Kakak bersumpah, Kakak mengalami koma selama hampir dua tahun lebih lamanya. Kakak sempat kehilangan ingatan ringan, sampai akhirnya Kakak kembali mendapatkan ingatan Kakak,” jelas Olivia mencoba memberikan penerangan kepada adiknya.
“Lalu kenapa Kak Olivia tidak kembali pulang ke rumah? Siapa yang dikubur atas nama Kakak? Dan, bagaimana Kakak bisa hidup setelah dokter memvonis umur Kakak tidak akan panjang lagi karena Leukimia?” tanya Feril, memberondong kakaknya dengan rentetan pertanyaan.
Olivia mengedarkan pandangannya, wanita itu menunjuk satu buah figura foto sebesar 16R yang kini tergantung di sana. Foto pernikahan Melodi dengan Rehan. Feril pun mengikuti arah pandangan kakaknya.
“Karena Kak Melodi dan Kak Rehan?” tanya Feril dengan suara tercekat, tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Olivia, hidup seorang diri jauh dari keluarga.
Untung saja Gustin Justavo memperlakukan Olivia dengan baik, bertanggung jawab penuh atas kehidupan wanitanya.
“Kakak tidak ingin merusak segalanya Feril,” ucap Olivia dengan isak tangisnya.
Feril membawa tubuh kakaknya ke dalam pelukannya. Feril telah tumbuh menjadi sosok lelaki tinggi, tegap, berbadan atletis. Kalau dulu Feril hanya sepundak Olivia, kini sudah berbalik. Olivia hanya setinggi pundak adiknya.
“Kakak melewatkan banyak perkembanganmu, maafkan Kakak,” ucap Olivia terisak di dalam pelukan Feril.
“Apakah kau hidup dengan baik?”
Suara Bella mengintrupsi kakak adik yang tengah melepaskan kerinduan di antara mereka. Semua orang menoleh, menatap Bella berdiri di sana dengan bersimbah air mata.
“Bunda,” lirih Olivia dan Feril secara bersamaan.
Akhirnya, setelah lama membujuk Bella dan menjelaskan semua cerita perjalanan hidup Olivia yang Yona ketahui, Bella mulai luluh. Wanita dua anak itu malah menangis terisak mendengarkan cerita yang Yona jelaskan kepada dirinya.
Bella berjalan mengarah pada kedua anaknya. Wanita paruh baya itu tersenyum dengan air mata yang kini meluruh membasahi pipinya.
“Bunda,” lirih Olivia, suaranya serak karena menahan tangis.
Bella memeluk Olivia, meluapkan kerinduan yang selama ini dia pendam pada putrinya. Apapun yang terjadi, Bella sangat berterimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan kesempatan kepada dirinya untuk bertemu kembali dengan putri yang dia kira sudah meninggal dunia. Meninggalkan dia untuk selamanya.
Nampaknya takdir masih begitu baik kepada Bella, dia dipertemukan lagi dengan Olivia. Kalau Tuhan tidak mengetuk pintu hati Olivia, mungkin Olivia dan Gustin Justavo tidak akan mengabil resiko besar dengan datang ke rumah keluarga Bellvaria.
“Maafkan Olivia dan Gustin, Bunda,” isak Olivia menumpahkan air matanya pada pelukan ibunya yang begitu dia rindukan.
Pelukan hangat seorang ibu yang selalu Olivia rindukan setiap saat. Olivia selalu merayakan hari ulang tahun kedua orang tua dan adiknya bersama dengan anak-anak Rumah Kanker. Olivia juga butuh keberanian membujuk Gustin Justavo untuk datang ke Indonesia karena lelaki itu belum menyadari jika Olivia sudah mendapatkan ingatannya kembali.
Dua sosok lelaki yang dia cintai kini telah kembali ke ruang tamu. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi Gustin Justavo tidak menunjukkan ekspresi wajah apapun.
Gustin Justavo dan Olivia saling menatap, lelaki itu tersenyum bahagia melihat ibu dari istrinya sudah bisa menerima Olivia kembali.
“Aku akan menginap di rumahmu,” ucap Gustin Justavo kepada Regan.
“Haish, padahal aku sedang mencari alasan untuk menginap di rumah Yona,” kekeh Regan membuat Gustin menimpuk lengannya.
Olivia memicingkan matanya. “Kamu mau ke mana?” tanya Olivia panik ketika Regan dan Yona terlihat mengemasi barangnya, dan berdiri.
“Kamu menginaplah di sini, aku akan menginap di rumah Regan,” jelas Gustin Justavo, mengelus wajah istrinya dengan lembut.
Tersirah kekhawatiran pada sorot mata Olivia. Wanita itu takut akan dipisahkan dengan suaminya setelah perbincangan rahasia yang terjadi antara suaminya dengan sang ayah.
Gustin Justavo mencium kening Olivia, setelah itu berpamitan kepada orang tua Olivia meskipun mereka masih terkesan dingin dengan dirinya.
Tidak masalah, aku akan meluluhkan hati mereka esok hari.
__ADS_1
Feril mencekal tangan Olivia, tidak membiarkan sang kakak mencegah Gustin pergi dari rumahnya.
“Dokter Gustin, kamu mau ke mana? Bukankah ini juga rumahmu?” tanya Dokter Ozan menghentikan langkah Gustin Justavo.