My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Hei Kamu Cemburu?


__ADS_3

Mata lelaki itu masih terpejam, entah apa yang kini ada dalam mimpinya. Tapi kerutan di keningnya seperti menandakan bahwa lelaki itu tengah bermimpi sesuatu yang rasanya seperti sebuah kenyataan.


Kepalanya bergerak kesamping, membuat bantal yang dia pakai sebagai alas tidurnya sedikit bergeser mengikuti gerakannya.


Lelaki itu bermimpi, dia datang ke salah satu Restaurant Korea untuk menemui seseorang.


"Regan berengs*kkkkk!" teriak seorang wanita dalam mimpinya.


Perlahan, kaki Regan melangkah memasuki ruangan dimana seorang wanita mengatainya berengsek.


"Fernand jauh lebih berengs*kkkk!" 


Hei, bukankah itu suara Nadia? Dengan siapa Nadia kini berbicara? Kenapa lawan bicara Nadia seperti tengah menaruh kekesalan kepadanya. Dengan pelan, Regan mendorong pintu ruangan itu hingga menampilkan Nadia yang tengah mabuk soju bersama dengan seorang wanita seusianya.


Regan menyerngit bingung, apakah kedua wanita itu sedang janjian untuk minum bersama di sore hari? Ck, dasar mereka itu kurang kerjaan.


"Hah, ini dosen berengs*k itu?"


Wanita itu menoleh menatap Regan, apakah wanita itu mengenal dirinya? Kenapa dia mengatainya berengsek padahal Regan tidak pernah mengenalnya sebelumnya.


Regan mengerjapkan matanya berkali-kali, wajah wanita itu berubah menjadi datar dan terlihat sangat samar di mata Regan. Lelaki itu mengucek matanya berkali-kali berharap matanya kembali normal seperti semula saat dirinya dalam perjalanan menuju Restaurant Korea setelah mendapatkan telepon dari Viona.


"Memangnya kenapa Viona meneleponku? Apa karena Nadia?" gumam Regan dalam mimpinya.


Regan hendak melangkah kearah Nadia, tapi tepukan di bahu lelaki itu membuatnya menoleh. Fernando datang ke sana dengan wajah yang terlihat sangat cemas.


"Mereka minum bersama?" tanya Fernando membuat Regan mengerutkan keningnya kembali.


Hei kenapa wajah Fernando dan Nadia terlihat sangat jelas? Dan kenapa wajah wanita yang kini duduk di depan Nadia terlihat datar dan samar. Apakah mata Regan ada masalah dalam melihat wajah seseorang?


Regan keluar dari ruangan itu, dirinya menatap semua orang yang lalu lalang di sana.


"Wajah mereka sangat jelas," gumam Regan terlihat sangat kebingungan.


Kemudian Regan menoleh kembali ke dalam ruangan itu. Regan menatap wanita itu dengan matanya yang dilebarkan secara sempurna hingga mau keluar dari tempatnya.


"Why? Ada apa ini? Kenapa aku tidak bisa melihat wajah wanita itu? Apa dia hantu?" ucap Regan kepada dirinya sendiri.


Semua orang tiba-tiba tertawa menatap Regan yang kebingungan. Mereka terlihat sangat bahagia melihat wajah Regan yang ketakutan dengan apa yang tengah dia lihat.


"Regan berengs*kkkkk!"


"Regan berengs*kkkkk!"


"Regan berengs*kkkkk!"


Regan mundur ke belakang, semua orang di sana tiba-tiba memiliki suara yang sama dan mengatainya berengsek. Regan membalikkan badannya, tapi kakinya terasa kaku tidak bisa berjalan.


"Regan berengs*kkkkk!" suara wanita itu lagi.


Dengan memberanikan dirinya, Regan menoleh kebelakang menatap wanita itu. Wanita itu berdiri dari tempat duduknya dan beranjak berjalan menuju ke arahnya.


"Kau siapaaaaa!!" pekik Regan kembali ke alam sadarnya.


Napas Regan terengah-engah, lelaki itu langsung bangun dari tempat duduknya. Deru napas tersengal-sengal terdengar sangat jelas. Regan nampak frustasi dengan mimpi menyeramkan yang baru saja dia alami.


Lili yang baru saja selesai menyelesaikan sholat tahajudnya langsung berlari ke arah Regan.


"Regan ada apa?" tanya Lili khawatir.


Regan menatap bundanya, lelaki itu tersentak di tempatnya.


"Kau siapa? Kenapa semua orang berwajah seperti itu?" teriak Regan menatap Lili dengan ketakutan.


Septian yang mendengar Regan berteriak dengan cepat masuk ke dalam ruang rawat Regan setelah berjalan-jalan sebentar diluar mencari udara segar.


"Regan, kamu kenapa?" tanya Septian dengan nada yang terdengar sangat cemas.


Regan menatap Lili dan Septian bingung.


"Kenapa wajah kalian sama? Kenapa dengan mataku?" teriak Regan terdengar sangat menyayat hati orang tuanya. Lili menutup mulutnya tidak menyangka, padahal sudah sehari sejak lelaki itu mendapatkan kesadarannya tapi kenapa Regan baru terlihat sangat hancur sekarang?


"Regan, tenangkan dirimu," ucap Septian kepada Regan.


Regan mengusap wajahnya frustasi, lelaki itu mengucek matanya berkali-kali seperti apa yang dia lakukan dalam mimpinya. Regan pikir semuanya hanya mimpi panjangnya. Regan pikir kenyataan bahwa dirinya menderita penyakit aneh itu cuma dalam mimpinya saja. 


"Kenapa dengan mataku?" teriak Regan sangat kacau.

__ADS_1


Lili memberanikan dirinya menyentuh tangan Regan, membawa putranya masuk dalam pelukan hangatnya.


"Anak Bunda, hiks," isak Lili memeluk Regan sangat erat.


Lili mengelus puncak kepala Regan, menepuk pelan punggung lelaki itu seperti apa yang biasa Lili lakukan kepada Regan saat lelaki itu masih kecil.


"Dokter bilang kamu bisa sembuh sayang. Bunda mohon jangan seperti ini. Hati bunda terasa sakit melihat Regan hancur," isak Lili memohon kepada anaknya untuk tidak menyerah sebelum berusaha.


Kata dr.Irawan, Regan bisa disembuhkan dengan beberapa obat penunjang dan juga operasi meskipun hasilnya belum bisa dipastikan. Dan juga, keajaiban oleh sang waktu yang bisa membawa kembali ingatan lelaki itu bersama dengan penglihatan normalnya kembali.


Tidak ada yang tidak mungkin, Tuhan maha baik. Setiap penyakit pasti ada obatnya, setiap lara pasti ada penyembuhnya. Seperti siang dan malam yang saling beriringan, begitupula dengan penyakit dan kesembuhan. Asalkan mereka berusaha, optimis dan juga tidak mudah menyerah semua pasti akan membuahkan hasil.


'Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha,' begitulah kira-kira peribahasa yang cocok untuk saat ini.


Regan menangis, lelaki itu sendiri tidak tahu apa yang membuatnya sesedih ini. Rasanya dalam hati Regan terasa sangat sakit dan juga sesak. Perasaan Regan mengatakan jika Regan telah melupakan sesuatu yang penting dalam hidupnya.


Dan juga, Regan tidak bisa melihat wajah orang tua dan semua orang yang dia cintai dan dia sayangi. Rasanya Regan seperti hidup tanpa memori kenangan, sangat hampa dan tidak berkesan apa-apa.


Septian memanggil seorang perawat untuk memberikan Regan obat penenang. Kalau Regan tidak diberikan obat itu, mungkin saja kondisi Regan malah semakin memburuk.


Rencananya, mereka akan melakukan pemeriksaan lanjutan dalam dua hari ini. Jika tidak ada masalah lain, Regan akan diperbolehkan untuk rawat jalan asalkan Regan kooperatif untuk melakukan pengecekan kesehatannya secara teratur untuk mendapatkan kembali ingatan dan juga penglihatan normalnya.


Perlahan, mata Regan terasa berat untuk terjaga. Perawat telah menyuntikkan cairan obat penenang dalam infus lelaki itu. Akhirnya mata Regan kembali terpejam, menyambut dunia mimpi yang entah akan memberikan kilasan bahagia atau mengerikan kepada lelaki itu.


"Aku merasa sangat sedih melihat putraku tersiksa seperti ini," isak Lili menatap Regan yang terpejam.


Mereka semua sepakat untuk mengatakan jika Regan terlibat dalam kasus kecelakaan. Dan Keluarga William dan Keluarga Louis sudah sepakat untuk memberikan waktu kepada Regan memulihkan dirinya sebelum mereka akan memberitahu tentang Yona yang telah lelaki itu lupakan dalam ingatannya.


*


"Terimakasih sudah datang kemari sebagai saksi dan memberikan keterangan. Kedua tersangka sudah kami tahan selagi menunggu berkas acara siap," ucap penyidik kasus yang menimpa Yona dan Regan.


Penyidik menyodorkan tangannya, Yona menjabat tangan penyidik itu.


"Terimakasih sudah memberikan saya keadilan," kata Yona dengan tulus.


Hari ini, Yona telah terlepas dari segala tuduhan yang penyidik tuduhkan kepadanya dengan bukti yang mereka amankan dan juga keterangan para tersangka yang sudah mengakui kejahatan mereka.


Yona menatap penyidik itu. "Bolehkah aku menemui para tersangka dalam tahanan?" tanya Yona.


Wanita itu ingin sekali bertemu para tersangka dan mengungkapkan segala keluh kesahnya yang sudah dia alami dan rasakan karena ulah mereka. Penjara saja tidak cukup, mereka akan mendapatkan hukum karma mereka karena telah berlaku jahat kepada orang yang berniat menolong mereka.


Beberapa menit kemudian, penyidik itu kembali menemui Yona.


"Mari ikuti saya," ucap penyidik itu.


Yona menoleh ke arah Ricki selaku kuasa hukumnya. 


"Kamu tunggu saja disini, aku tidak akan lama," kata Yona kepada Ricki.


Ricki hanya mengangguk dan menghendikkan bahunya acuh. Toh tugasnya untuk mengurus kasus yang menimpa Yona telah berakhir dengan baik. 


Yona mengikuti langkah penyidik, mereka masuk kedalam ruang interogasi.


"Berhenti sebentar, Nona Yona ingin berbicara kepada tersangka," ujar penyidik itu memanggil anak buahnya untuk memberikan waktu kepada Yona dan kedua tersangka itu untuk berbicara.


Ruangan interogasi dibiarkan terbuka untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Yona duduk di depan mereka berdua, menatap mereka berdua dengan tatapannya yang sama sekali tidak bisa mereka baca.


"Nona Yona, maafkan kami. Kami hanya butuh uang, kami melakukannya karena kebutuhan ekonomi. Kami mohon, maafkan kami. Kami sangat menyesal," ucap mereka meminta maaf kepada Yona.


Yona tersenyum sinis. "Kalian ingin membunuh lelaki yang sudah baik ingin menolong kalian saat kalian jatuh. Bukankah kalian sangat jahat?" tanya Yona kepada kedua tersangka.


"Kami meminta maaf, kami mengakui kami salah. Tapi kami mohon cabut tuntutan Anda dan tunangan Anda," ucap Nardi dengan lemas karena luka di kepalanya masih sangat terasa ngelu.


"Tunangan? Kami batal bertunangan karena ulah kalian berdua. Seharusnya hari ini kami akan bertunangan," jawab Yona dengan suaranya yang serak menahan tangis mengingat ini adalah hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya.


Yona mengeluarkan undangan pertunangannya di meja, Yona menatap kedua tersangka dengan tatapan kebencian.


"Seharusnya ini adalah hari pertunangan kami. Tapi kalian dengan jahatnya menghancurkan hari bahagia kami. Kalian pantas mendapatkan hukuman yang sangat berat!" sentak Yona dengan suara yang mulai meninggi.


Nardi bersimpuh di bawah kaki Yona, lelaki itu memohon di bawah kaki Yona dengan tangannya yang masih diborgol.


"Tidak ada yang mengurus ibu dan anak saya, saya melakukannya atas dasar ekonomi. Saya mohon maafkan saya," pinta Nardi memohon kepada Yona.


"Maaf? Bahkan lelaki yang saya cintai sekarang masih terbaring di rumah sakit. Reganku, dia tidak bisa mengingat tentang diriku dan matanya." Ucapan Yona terhenti karena sesak yang dia rasakan sekarang.


"Matanya tidak bisa lagi melihat wajah orang," ucap Yona dengan air mata yang mencelos membasahi pipinya.

__ADS_1


"Istri saya hamil besar nona, tolong biarkan saya keluar untuk mencari nafkah halal untuknya bersalin," seloroh Sutrisno kepada Yona.


Yona tidak bereaksi sama sekali, wanita itu berdiri dari tempat duduknya.


"Semua yang kalian tanam akan kalian tuai!" ucap Yona berjalan keluar dari ruang interogasi.


Yona menghampiri penyidik dan mengucapkan terimakasih sekali lagi karena telah memberikannya keadilan dan menghukum para tersangka meski persidangan masih belum digelar.


Yona memanggil Ricki, meminta lelaki itu untuk mengikuti dirinya.


"Aku dengar Nardi punya ibu dan anak yang harus dia cukupi, dan juga Sutrisno istrinya akan melahirkan," tukas Yona membiat Ricki menyerngit bingung ke arahnya.


"Lalu?" tanya Ricki.


"Berikan mereka santunan setiap bulannya," ucap Yona dengan hambusan napasnya panjang.


"Hahhh? Kamu serius? Mereka tersangka atas kasus yang menimpamu. Karena mereka juga tunanganmu berakhir seperti ini," ucap Ricki tidak menyangka dengan jalan pikiran sepupu jauhnya itu.


Yona menoleh ke arah Ricki.


"Balas dendam paling menyakitkan adalah membuat mereka menyesali perbuatan mereka," jawab Yona membuat Ricki diam membisu.


Tentu saja mereka akan menyesali perbuatannya dan mengutuk diri mereka setiap detik. Yona akan memberikan santunan kepada keluarga mereka, itu akan membuat sisksaan mental untuk mereka. Rasa bersalah yang menggerogoti hati dan pikiran mereka akan membuat mereka ingin mati saja.


Pikiran Yona memang luar biasa, wanita itu tidak bermain kotor ataupun menggunakan uangnya untuk membalaskan semua yang telah terjadi pada dirinya dan juga Regan. Yona justru membuat mereka semakin bersalah dengan bantuan yang Yona berikan pada keluarga mereka.


Drtttt ... ponsel wanita itu bergetar. Yona merogoh ponselnya dari saku tasnya. Satu pesan masuk dari Lili yanh memberikannya kabar bahwa Regan sudah diperbolehkan dr.Irawan untuk pulang ke rumah.


'Regan hari ini sudah boleh pulang, Yona tidak ke sini?'


Yona tersenyum dan membalas pesan Lili dengan mengatakan bahwa dirinya akan segera menuju ke rumah sakit.


"Ricki?"


"Hm?"


"Antarkan aku ke Rumah Sakit Kusuma," ucap Yona diangguki Ricki.



Yona tersenyum menyapa para wartawan dan awak media yang sudah datang ke sana untuk mengetahui perkembangan kasus yang menimpa dirinya dan Regan.


Tidak berapa lama, mereka berdua sampai di rumah sakit keluarga Rehan. Yona berlari kecil menyusuri lorong rumah sakit untuk mencapai lift yang akan membawa mereka naik ke lantai lima di mana Regan dirawat.


Ricki bersikeras untuk mengantarkan Yona dan menemani wanita itu selagi dirinya tidak memiliki pekerjaan apapun hari ini.


"Aku senang sekali Regan akan keluar dari rumah sakit," ucap Yona dengan senyumnya yang mengembang.


Ricki menoleh menatap wanita itu, dia ikut tersenyum melihat wajah yang terlalu banyak menangis dalam beberapa hari ini akhirnya bisa tersenyum juga.


Ting! Lift terbuka, Yona berlari kecil di ikuti Ricki di belakangnya.


Yona tersenyum sangat bahagia, Regan di sana sudah memakai pakaian santainya dengan segala keperluan lelaki itu yang sudah dijadikan dalam satu wadah.


"Bunda," panggil Yona masuk kedalam memanggil Lili di sana.


Regan ikut menoleh menatap Yona, lelaki itu justru fokus dengan lelaki yang berada di belakang Yona.


"Regan akan keluar dari rumah sakit?" tanya Yona kembali memastikan.


"Iya dia dibolehkan pulang, katanya sudah tidak betah lagi," jelas Lili.


"Bunda, bunda, memangnya dia bunda kamu?" tanya Regan sengit kepada Yona.


Yona menatap Regan, bahkan dalam kondisinya sekarang lelaki itu masih sama mengesalkannya seperti dulu. Yona merasa bahagia melihatnya, setidaknya Regan tidak berubah sama sekali meskipun Regan tidak mengingatnya.


"Kamu mampir ke rumah kan?" tawar Lili.


Regan mendengus. "Dia saja sama pacarnya, kenapa harus mampir?" tanya Regan dengan ekspresi wajahnya kesal.


"Hei kamu cemburu?" kekeh Yona membuat wajah Regan menjadi pias.


Regan cemburu? Dengan wanita yang baru saja dia kenal itu? Ah tidak mungkin.


*


*

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN AUTHOR YAAA ✌️✌️❣️


__ADS_2