My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Berdamai Saat Tidur


__ADS_3

Setelah acara makan malam selesai, Regan meminta Yona untuk mengantarkannya ke kamarnya dengan dalil Regan ingin berganti baju karena baju yang dia pakai basah hingga mengering dengan sendirinya.


Regan mencari-cari akal untuk tetap menahan Yona di rumahnya agar wanita itu tidak cepat-cepat pulang ke rumah dan meninggalkannya sendiri.


"Memangnya sekarang kakimu juga bermasalah?" Tanya Yona, menatap Regan jengah.


Lihat saja sekarang, Regan bukannya merangkul punggung Yona malah melingkarkan tangannya di pinggang Yona seperti orang yang mau menghadiri pesta dansa saja.


"Kepalaku sakit, kalau tidak sakit mana mau aku meminta tolong pada wanita seperti dirimu," dengus Regan menjawab pertanyaan Yona.


"Sepertiku bagaimana? Kamu mau cari gara-gara sama aku?" Tanya Yona lagi dengan wajahnya yang sudah siap menyemburkan amarahnya.


Regan menggeleng, lelaki itu tetap berjalan menaiki tangga rumahnya dengan tangan melingkar di pinggang ramping Yona tanpa memperdulikan tatapan membunuh yang Yona layangkan kepadanya.


Meskipun begitu, Yona tetap menuntun langkah lelaki itu dengan sabar. Kalau bukan Yona, mungkin Regan akan didorong jatuh menggelundung dari tangga berkelok di rumah lelaki itu saking kesalnya. Sepertinya Regan harus berterima kasih kepada Sang Pemberi Takdir yang telah mempertemukan dirinya dengan wanita sebaik Yona.


Yona membuka pintu kamar Regan, aroma maskulin dan aroma parfume Regan bercampur menjadi satu menyeruak memasuki indera penciuman wanita itu.


Yona memapah tubuh Regan, membantu lelaki itu duduk di ranjang tidurnya.


"Sudah sampai, aku pulang dulu," pamit Yona melihat jam dinding yang tergantung di dinding kamar Regan.


Regan menatap Yona, mencari alasan lagi untuk menahan wanita itu lebih lama bersamanya.


"Ambilkan aku baju ganti," pinta Regan menunjuk lemari pakaian di depan mereka.


Mata Yona terbelalak, kenapa juga Yona harus bersikap seperti baby sitter lelaki itu?


"Kenapa aku harus mengambilkan baju gantimu?" Tanya Yona melipat tangannya di depan dada.


"Kamu mau aku bertelanjang dada di depanmu? Bajuku ini basah Yona, bagaimana kalau aku sakit dan masuk angin?" Ucap Regan panjang kali lebar.


Akhirnya Yona mengalah, wanita itu melangkah menuju lemari pakaian Regan. Yona membuka lemari pakaian Regan, menoleh kearah Regan.


"Kamu mau pakai yang mana?" Tanya Yona menatap Regan.


Regan menatap lurus ke depan, melihat seluruh isi lemarinya.


"Terserah saja mana yang menurutmu pantas aku kenakan," jawab Regan dijawab anggukan kepala Yona.


Selama mengenal Regan, lelaki itu sangat modis dan fashionable. Semua pakaian yang dikenakan lelaki itu adalah pakaian rancangan khusus. Salah satunya rancangan Nadia Mark yang rupanya banyak sekali rancangan wanita itu menjadi koleksi Regan.


"Kamu menyukai rancangan Nadia?" Tanya Yona menatap satu sap baju-baju itu dengan label merk milik Nadia.


Regan menatap Yona, "Memangnya kenapa? Kamu mau juga?" Tanya Regan yang sepertinya tidak paham dengan pertanyaan Yona yang tersirat akan kecemburuan.


Sejak kapan Regan mengoleksi baju-baju rancangan Nadia?


"Aku terakhir membelinya satu tahun yang lalu, setiap kali dia mengeluarkan baju terbaru pasti aku membelinya," jawab Regan melanjutkan.


Satu tahun yang lalu? Bukankah itu tandanya empat bulan sebelum Regan dan Yona bertemu? Baiklah, kali ini Yona akan memaafkan lelaki itu.


"Ouh, aku kira kamu menyukai orangnya bukan baju rancangannya," ucap Yona sarkas.


"Iya benar, aku pernah menyukai Nadia sangat lama," jawab Regan seperti tanpa beban membocorkan rahasia masa lalunya.


Bodoh atau apa lelaki itu berani berbicara seperti itu di depan Yona? Yona menatap Regan dan mendengus, Yona harus bisa menahan dirinya menghadapi lelaki yang sudah kehilangan ingatan serta akal sehatnya itu.


"Ini," ucap Yona menyodorkan atasan kepada Regan.


Regan menerimanya, lelaki itu tanpa malu membuka bajunya dan menggantinya dengan baju bersih yang sudah Yona pilihkan untuknya.


"Bagaimana? Aku pasti terlihat semakin tampan sekarang?" Tanya Regan dengan senyuman lebar, menampilkan giginya yang rapi dan bersih.


Wajah Yona memerah, melihat dada bidang Regan untuk sekian kalinya membuatnya meleleh. Apakah lelaki itu tidak sadar apa yang telah dia lakukan kepada Yona?


"I..iya," jawab Yona gugup, memalingkan wajahnya dari Regan.


Yona kali ini sangat bersyukur, Regan tidak bisa melihat bagaimana reaksi wajahnya sekarang. Bolehkan Yona bersyukur atas dampak positif penyakit Regan?


"Ambilkan aku celana pendek,"


"Hahh?" Pekik Yona memenuhi seantero kamar Regan.


Regan menatap Yona bingung, memang apa salahnya meminta Yona mengambilkan celana pendeknya? Toh Regan tidak meminta Yona mengambil celana dalam atau memakaian celana lelaki itu.


Kening Regan berkerut, kali ini dia mengerti arti pekikan spontan Yona.


"Kamu pasti berpikir yang tidak-tidak ya?" Tanya Regan memicingkan matanya kepada Yona.


Sialan! Andai saja penyakit aneh itu tidak menghinggapinya mungkin Regan bisa melihat bagaimana rona merah menggemaskan menghiasi wajah Yona.


"Iya, eh ti..dak. Jangan mengada-ngada deh," jawab Yona tergagap.


"Dasar wanita mesum!" Ucap Regan mencibir.


Yona merasa kehilangan pasokan oksigennya saat ini. Wanita itu segera mengambil salah satu celana pendek kain yang ditumpuk dengan celana pendek lainnya dengan rapi.

__ADS_1


"Nih celananya!" Ucap Yona melempar celana pendek itu ke atas ranjang.


Regan melepaskan celana kerjanya, sontak saja Yona berbalik badan dan berjalan kearah pintu.


"Pintunya aku kunci," ucap Regan membuat Yona berbalik menatapnya dengan spontan.


"Kapan?" Tanya Yona menatap Regan, bukan Regan tapi bagian bawah lelaki itu.


Herrrrr, Yona mengambil kesempatan dalam kesempitan rupanya. Yona segera memalingkan wajahnya, enggan menatap kaki Regan yang kini memakai celana boxer ketat namun sangat menggoda di mata wanita itu.


"Kapan apanya? Kapan kita anu-anu? Astaga kita bahkan belum menikah Yona," jawab Regan membuat Yona semakin melebarkan matanya tidak percaya dengan jawaban lelaki itu.


"Bukan itu! Kapan kamu mengunci pintunya!"


"Oh itu, tadi pas kita masuk," jawab Regan mengayunkan kunci yang kini dia pegang dengan sengaja.


Yona berjalan menghentakkan kakinya menuju Regan. Yona mencoba meraih tangan Regan namun tidak bisa karena tubuhnya yang kalah tinggi dengan Regan.


"Sini, bawa sini nggak?" Ucap Yona kesal.


"Siapa itu sini? Temanmu?" Kekeh Regan menggoda Yona.


"Ngeselin banget ih! Regan bawa sini kuncinya," ucap Yona mengguncang tubuh lelaki itu.


Napas Yona terengah-engah, matanya beberapa kali mengerjap. Tubuhnya terasa tidak enak sejak tadi dia main hujan-hujanan di tepi danau dengan Joseph.


"Ah bodo ah," keluh Yona akhirnya menyerah, mendaratkan bokongnya di tepi ranjang Regan.


Begitu juga Regan, lelaki itu duduk di samping Yona.


"Pasti lucu ya?" Ucap Regan membuat Yona menoleh kearahnya.


Lucu apanya? Siapa yang lucu? Apa yang lucu? Lucunya bagian mana?


"Apanya?" Tanya Yona bingung.


"Wajahmu yang memerah, pasti sangat lucu," ucap Regan membuat Yona menatapnya lekat. Ada rasa sesak yang muncul tiba-tiba di tengah pembicaraan mereka.


Yona menarik napasnya panjang, tanpa berniat menjawab ucapan Regan karena memang Yona tidak tahu harus menjawab apa atas ucapan lelaki itu.


"Aku ingin melihatnya," ucap Regan menoleh menatap Yona, menatap di bagian mata wanita itu yang lebih jelas diantara bagian yang lainnya.


Regan mengelus pipi Yona, "Aku ingin melihat rona merah di pipimu," lanjut Regan membuat tubuh Yona menegang.


Ekspresi wajah Regan berubah, lelaki itu menaruh tangannya di kening Yona.


Lelaki itu memegang pipi dan leher Yona yang terasa sangat panas.


"Kamu habis hujan-hujanan ya?" Tanya Regan dijawab anggukan kepala oleh Yona.


Regan berdecak, "Memangnya kamu itu anak kecil yang harus main hujan-hujanan?" Tanya Regan marah.


"Aku butuh merilekskan otakku setelah banyak pikiran di dalamnya," jawab Yona membuat Regan menggelengkan kepalanya.


"Kamu hanya boleh banyak pikiran dengan satu alasan," ucap Regan mengelus puncak kepala Yona.


"Banyak-banyak memikirkan diriku, itu saja yang boleh kamu pikirkan," jawab Regan membuat Yona tertawa.


"Memangnya kamu siapa sampai aku harus memikirkanmu?" Tanya Yona menatap Regan dengan geli.


"Aku? Aku Reganera Abimanyu Louis," jawab Regan dengan bangganya menyebut nama lengkap lelaki itu.


Regan menempelkan kembali tangannya di kening Yona, Regan benar-benar khawatir dengan kondisi Yona saat ini.


"Ayo kita ke rumah sakit," ajak Regan.


"Kepalamu sakit lagi?" Tanya Yona menatap Regan terbelalak.


"Bukan aku, tapi kamu. Kamu harus periksa kondisimu ke dokter," jawab Regan cemas.


"Tidak perlu Regan, aku akan baik-baik saja setelah minum obat dan istirahat," jawab Yona meyakinkan Regan bahwa kondisinya tidak seburuk itu hingga harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.


"Kalau begitu istirahatlah," ucap Regan, menggeser tubuhnya agar Yona bisa berbaring di ranjang ridurnya.


Yona menaikkan alisnya bingung, sedangkan Regan menepuk bagian kosong ranjangnya.


"Tidurlah, katamu kamu harus beristirahat," ucap Regan membuat Yona melebarkan matanya.


Lelaki di depannya memang sudah kehilangan kewarasannya!


"Maksudnya aku akan istirahat di rumahku Regan, aku akan pulang sekarang juga," Yona berdiri, namun dengan cepat Regan menarik Yona untuk kembali duduk.


Lelaki itu menggeleng, "Tidak tidak, kamu tidak boleh mengendarai mobil sendirian. Bagaimana jika tiba-tiba kepalamu pusing dan terjadi sesuatu hal yang buruk kepadamu? Aku juga, kepalaku sangat sakit sekatang. Aku tidak mungkin kan mengantarkanmu pulang dengan kondisiku yang mengenaskan ini?" Tanya Regan sepanjang jalan kenangan membuat Yona menghembuskan napasnya.


"Aku tidak apa-apa Regan, aku bisa menyetir sendiri," ucap Yona meyakinkan Regan bahwa dia baik-baik saja.


"Bukan kamu Yona, aku memikirkan kesehatanku. Kalau kamu kenapa-kenapa pasti aku akan memikirkanmu selalu. Tanpa kamu kenapa-kenapa pun aku sudah memikirkanmu setiap malam. Jadi jangan membuatku memikirkanmu sekali saja. Biarkan aku tidur dengan tenang mengistirahatkan otakku sejenak," jawab Regan membuat Yona melongo dibuatnya.

__ADS_1


Fix, lelaki ini terkena virus budak cinta.


"Sini tidur sini, aku akan mengambilkanmu obat penurun panas di bawah. Tadi kotak obatnya masih di ruang keluarga," ucap Regan memaksa Yona untuk merebahkan dirinya di ranjang.


Lelaki itu berjalan dengan cepat keluar kamar, membuat Yona menatapnya heran.


"Apa-apaan itu? Katanya kepalanya sakit dan butuh pegangan tapi kenapa dia bisa berjalan secepat itu? Ck, dasar," gerutu Yona mengulum senyumnya karena tingkah Regan yang sangat manis menurutnya.


Yona merebahkan tubuhnya di ranjang lelaki itu, menghirup aroma tubuh Regan yang masih menempel di spray dan selimut ranjang itu.


"Ah sangat menenangkan," gumam Yona memejamkan matanya dengan mengelus selimut lembut milik Regan.


Tidak berapa lama Yona mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Wanita itu segera bangkit dari tidurnya,


"Yona, kata bunda kamu menginap di sini saja," ucap Regan berbohong, padahal dia yang memberikan penjelasan kepada bundanya untuk mengerti dirinya.


"Benarkah? Lalu kamu tidur di mana?" Tanya Yona.


"Di sini, aku harus menemanimu. Jangan sampai terjadi apa-apa dengan ibu calon anak-anakku kelak," ucap Regan membuat dada Yona berdegup sangat kencang.


'Lelaki ini memang sangat ahli membuatku berdebar tidak karuan!' batin Yona ingin berteriak sekarang juga.


Regan memberikan obat penurun panas kepada Yona sekaligus air putih.


"Jangan khawatir, bunda akan menelpon mommymu dan mengatakan kamu aman menginap di sini,"


"Whatttt??? Kamu bilang aku menginap di sini??" Pekik Yona menyemburkan air ke baju Regan, untung saja bukan wajah tampan Regan yang dia sembur.


Regan mengibaskan bajunya yang terasa basah,


"Kamu ini mau jadi dukun apa gimana? Main sembur aja," keluh Regan karena bajunya basah.


"Maaf maaf, lagian kamu seenaknya aja kalau ngomong." Ucap Yona meminta maaf.


"Tapi beneran, bunda bilang begitu. Kata mommymu tidak apa-apa kamu menginap di sini beberapa hari," jawab Regan lagi-lagi berbohong.


"Hah? Mommy bilang begitu? Wahhh pasti mereka seneng banget tuhh di rumah berduaan," ucap Yona kesal.


Regan tertawa dalam hati, padahal dia meminta Lili untuk mencarikan alasan agar Yona bisa tidur di rumahnya. Jadilah Lili akan memakai alasan Yona ingin merawat Regan yang sakit untuk malam ini.


"Ingat ya, pintunya dibuka. Jangan sampai kalian keblablasan!"


Begitulah pesan Lili yang mewanti-wanti Regan untuk tidak melakukan hal-hal aneh yang kadang dilanggar oleh anak-anak muda zaman sekarang.


"Tidur, berbaring di sampingku," ucap Regan menepuk sisi ranjangnya yang masih kosong.


Yona akhirnya tidak memiliki alasan lain lagi untuk mengelak. Di sisi lain, Yona sangat ingin menghabiskan waktu yang lama bersama lelaki itu setelah semua masalah yang terjadi.


"Regan, pintunya tidak kamu tutup?" Tanya Yona hati-hati, takut Regan berpikiran buruk lagi tentangnya.


"Tidak, bunda bilang jangan ditutup," ucap Regan menyenderkan kepalanya di tumpukan bantal.


"Kamu anak yang penurut sekali," ucap Yona tersenyum membuat Regan menoleh kearahnya.


Lelaki itu menghadap Yona, Regan menyingkap rambut Yona menyelipkannya ke belakang. Andai saja dia bisa melihat wajah itu, mungkin wajah Yona sangat halus dan juga mulus seperti wajah bayi.


Regan mengelus wajah itu perlahan,


"Aku yakin anak-anak kita nanti akan menurut juga sepertiku,"


Anak-anak kita? Ucapan itu terdengar sangat hangat dan menenangkan di telinga Yona.


"Tidurlah, jangan khawatir aku tidak akan melakukan sesuatu tanpa izinmu," ucap Regan tersenyum, memberikan kecupan hangat di kening Yona sebagai pengantar tidur wanita itu.


"Regan, bisakah kamu memelukku?" Tanya Yona.


"Tentu saja, aku akan memelukmu sampai pagi tiba," kekeh Regan di ikuti kekehan Yona.


Mata mereka terasa sangat berat, keduanya menguap. Regan dan Yona memejamkan matanya untuk masuk ke alam mimpi mereka dengan posisi tidur saling berpelukan.


Padahal, Regan tidak tahu apa hubungan mereka dan apa yang membuatnya yakin akan perasaannya kepada Yona.


Lili yang baru saja ingin melihat kondisi Yona tersenyum dengan pemandangan apik di depannya.


"Lihatlah, mereka hanya berdamai saat tertidur," kekeh Lili, menutup pintu kamar Regan.


Meninggalkan kedua insan manusia untuk terlelap di dalam sana melupakan segala masalah yang telah menimpa mereka akhir-akhir ini. Lili selalu mendoakan, semoga pagi yang cerah segera datang menyambut mereka untuk kisah yang lebih baik lagi.


-


-


"TEMEN-TEMEN ONLINE JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN FOLLOW AKUN AUTHOR YA. AKU TUNGGU LOH, KALAU NGGAK GITU AKU NGAMBEKK BAKAL NONGOL LAMAAAA... NAH LOOOOH," ancam Yona kepada para penggemarnya.



Tokoh utamanya ngancem loh, awassss nanti Yona beneran ngumpet 🤭🤭 Readersku semua, yang punya akun DRE*AME, bisa follow akun author. Author publish cerita Velove Love (Velove dan Dirgazio), What Is Love? (Queenayna dan Machiko), sama My Hope (kisah cinta Valeria)

__ADS_1


Ditunggu ya teman-teman 🙏🙏


__ADS_2