My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Emosional


__ADS_3

Yona menaikkan alisnya menatap Regan di sana. Apakah lelaki itu tengah terang-terangan menunjukkan bahwa dia cemburu dengan Yona? Tapi bagaimana bisa Regan sama sekali tidak mengingat dirinya. Regan pasti juga tidak ingat bahwa mereka saling mencintai.


"Aku? Cemburu dengan wanita seperti dirimu?" tanya Regan dengan sengit.


"Seperti diriku? Seperti apa maksudmu?" ucap Yona balik tidak terima jika dirinya di rendahkan dengan kalimat 'seperti itu' yang keluar dari mulut Regan.


Seperti apa maksudnya? Sangat cantik begitu? 


"Bunda, kenapa Bunda memanggil wanita ini?" tanya Regan kepada sang bunda karena sedikit kesal dengan kedatangan Yona ataukah dengan kedatangan Yona bersama lelaki lain yang membuat darahnya mendidih.


Lili juga bingung, mood Regan tiba-tiba anjlok begitu saja. Padahal pagi ini lelaki itu sudah terlihat baik baik saja meskipun Regan masih terlihat murung menerima kenyataan pahit dirinya yang sekarang.


"Ayahmu kan pergi ke kampus, mengurus pekerjaanmu yang terbengkalai. Jadi bunda minta tolong saja sama Yona," jelas Lili berpura-pura.


Regan mendengus. "Padahal Rehan kan bisa mengantarkan kita, atau kita pakai jasa mobil online," ucap Regan dengan nadanya yang datar.


Yona menghembuskan napas lelahnya, Regan kembali menjadi Regan yang sangat dingin dan juga ketus. Lelaki itu terlihat seperti Regan saat pertama kali mereka bertemu di kampus. Bahkan saat ini Regan tidak peduli ketika Yona memperkenalkan dirinya sebagai model Internasional. Sekarang pun sama, Regan menunjukkan sikap dan ekspresi yang pernah Yona temukan saat pertama kali mereka bertemu.


"Jangan merepotkan orang lain lagi Bunda," ucap Regan seperti titah kepada bundanya.


"Iya lain kali Bunda tidak akan merepotkan orang lain, tapi Yona tidak merasa direpotkan sama Bunda kok Re. Iya kan Yona?" tanya Lili menatap Yona dengan senyum sumringah.


Yona mengangguk. "Iya Yona malah seneng menjemput kam-, maksud Yona menjemput Bunda," ucap Yona mengoreksi kata-katanya.


Regan menghendikkan bahunya acuh, wanita jaman sekarang memang mudah sekali merasa dekat dengan seseorang. Contohnya saja Yona yang bisa memanggil bundanya dengan panggilan bunda. Padahal dalam ingatan Regan mereka belum pernah bertemu satu sama lain.


"Kamu tidak keberatan, tapi bagaimana dengan kekasihmu?" tanya Regan dengan sinis.


Ricki menunjuk dirinya sendiri, bertanya kepada semua orang apakah yang dimaksud Regan adalah dirinya.


"Aku?" tanya Ricki membuka suara.


"Dia bukan kekasihku, dia ini kuasa hukumku," jelas Yona seperti membuat hati Regan mendapatkan udara baru yang menyejukkan.


"Kuasa hukum? Memangnya kenapa kamu membawa kuasa hukummu ke mari?" Kening Regan menyerngit menatap keduanya yang terlihat sangat tidak jelas wajah mereka.


"Sepertinya anda salah paham, kita baru saja dari kepolisian," ucap Ricki menjelaskan.


"Apa? Kepolisian? Kamu bermasalah dengan kepolisian? Apa kamu kriminal?" tanya Regan dengan polosnya membuat Yona menatapnya kesal.


Kriminal katanya? Padahal Yona terlibat kasus seperti itu karena kebodohan Regan yang dengan polosnya menolong pengendara motor yang ternyata mereka adalah begal. Dan juga, Yona tidak akan sejauh ini terlibat dengan kasus itu jika bukan karena Yona menolong Regan dari tusukan pisau tersangka Nardi dengan menghantam tersangka Nardi menggunakan linggis yang Regan simpan di bagasi mobilnya.


Bisa-bisanya Regan menuduhnya sebagai kriminal.


"Kalau aku kriminal, mungkin kamu yang menjadi sasaran utamaku," ucap Yona menatap kesal lelaki yang tanpa dosa mencela dirinya.


"Aku? Ohh karena aku mapan dan tampan? Begitu?"


Ck, bahkan dengan ingatannya yang hilang lelaki itu masih sangat mengesalkan seperti biasanya. Ingin rasanya Yona berteriak dan memaki lelaki itu karena sudah membuatnya menangis seperti orang gila dalam beberapa hari ini.


"Bukan, tampan? Wajahmu saja pucat pasi seperti vampir," ejek Yona membuat Ricki menutup mulutnya sebelum tawanya meledak memenuhi ruangan rawat Regan.


Sedangkan Lili hanya menggelengkan kepalanya melihat interaksi pasangan kucing dan tikus meskipun lelaki itu tidak ingat siapa Yona sebenarnya.


"Wajah sepertiku jelek? Aku penasaran bagaimana wajah lelakimu," ucap Regan tidak terima.


"Lelakiku? Tentu saja dia tampan. Sangatttt tampan, dan aku begitu mencintainya," jelas Yona membuat dada Regan bergemuruh sekaligus menghangat.


'Hei bodoh, yang dia puji itu lelakinya bukan dirimu! Kenapa kamu yang sesenang ini hingga mengulum senyummu malu?' teriak batin Regan memberontak.


"Aku tidak yakin yang kamu ucapkan itu kebenaran," ejek Regan tersenyum merendahkan.


Bukannya marah, Yona malah terkekeh ditempatnya membuat Regan menatapnya bingung. Apakah Yona mulai gila? Kenapa dia sesenang itu saat Regan mengejek dan merendahkan kekasihnya?


Yona terkekeh menatap Regan, lucu sekali melihat Regan mengejek dirinya sendiri. Andaikan saja Regan tahu yang dia ejek adalah dirinya sendiri mungkin lelaki itu akan murka dan memberikan Yona pelajaran karena sudah mengerjainya.

__ADS_1


"Berhenti tertawa dasar wanita aneh!"


"Dasar wanita labil!" Hei itu suaranya sendiri!


Regan memegang kepalanya yang berdenyut, bukankah itu seperti suaranya? Kenapa ini seperti kilasan balik apa yang pernah Regan ucapkan sebelumnya. Ataukah ini hanya perasaan Regan saja yang merasa dejavu.


"Baiklah aku akan berhenti tertawa sebelum wajahmu merah padam," kekeh Yona berusaha mengerem ketawanya.


"Oh ya pertanyaanku yang tadi, kenapa kamu mau menjadikanku sasaran utama kriminal?" tanya Regan penasaran.


Jika mapan dan tampan tidak menjadi alasan Yona menjadikannya sasaran tindak kriminal, maka apa? Mungkinkah Yona akan menjual kulit wajahnya yang halus? Astagaa, Yona mengerikan sekali.


"Aku ingin mengambil sesuatu darimu," ucap Yona membuat Regan bergidik ngeri.


"Apa?" tanya Regan berusaha menutupi kegugupannya.


"Hatimu, bolehkah?" tanya Yona dengan nada geli membuat Ricki dan Lili terkekeh di tempat mereka.


Wajah Regan merah padam, entah kenapa suasana di dalam kamar rawatnya berubah menjadi panas seakan tidak ada udara. Regan memalingkan wajahnya dari Yona.


"Tante Lili, ini Rehan sudah mengurus semua berkas-berkasnya. Regan boleh pulang sekarang," ucap Rehan menatap Lili dengan tersenyum.


Rehan mengedipkan matanya menatap Yona, dan menganggukkan kepalanya ketika Ricki menyapa dirinya.


"Biarkan Rehan yang mengantatkan kita pulang," ucap Regan tiba-tiba membuat semua orang menoleh ke arah lelaki itu.


"Kenapa?" tanya Rehan penasaran, bukankah Yona berada di sana karena ingin mengantarkan Regan kembali ke rumah lelaki itu.


Lili memberikan kode kepada Rehan, dan Rehan mengangguk mengerti dengan kode yang Lili berikan kepadanya.


"Sorry Nro, gue masih belum selesai sift sekarang. Masih tiga jam lagi, mau menunggu di sini?" tanya Rehan menawarkan.


Regan mencebikkan bibirnya kesal, satu jam lagi di rumah sakit itu saja Regan tidak akan sudi apalagi harus menunggu tiga jam lagi. Lebih baik Regan menumpang dengan wanita aneh itu dari pada harus berada di ruangan yang membosankan lebih lama lagi.


Yona menatap Regan tidak suka, kenapa lelaki itu malah seperti menghindari dirinya? Apa salah Yona? Padahal dulu Regan yang selalu mencari alasan untuk selalu bisa berdekatan dengan Yona, dan Yona yang selalu mengerjai lelaki itu dengan menonaktifkan ponselnya dan akan berakhir dengan Regan menelpon ke rumahnya dan mengadukan Yona kepada orang tuanya. Hahahaha, sangat kekanakan dan juga menggemaskan sekali lelaki itu.


Dengan penuh pengertian, Ricki menawarkan diri untuk membawakan tas berisi pakaian Regan dari tangan Lili.


"Terimakasih, Nak Ricki," ucap Lili dijawab anggukan dari Ricki.


Rehan menyerahkan berkas-berkas milik Regan, termasuk juga hasil pemeriksaan lelaki itu.


"Nanti aku dan anak-anak main ke rumah," ucap Rehan menepuk pelan bahu sahabatnya.


Rehan sangat bersyukur, setidaknya Regan sudah legowo menerima kondisi tubuhnya sekarang dan tidak menyerah. Regan bahkan sangat antusias ketika dr.Irawan mengatakan bahwa kemungkinan Regan kembali ke kondisi normalnya itu sangat besar. Itu artinya Regan bisa kembali melihat dengan normal dan mendapatkan memori ingatannya yang hilang dalam kurun waktu enam bulan ini.


Regan berjalan dengan pelan, setiap kali lelaki itu menapakkan kakinya kepalanya terkadang masih suka keliyengan seperti berputar-putar tidak jelas.


"Yona bisa tuntun Regan? Bunda bawa berkas-berkas ini," ucap Lili menunjukkan beberapa amplop besar dalam tangannya.


Yona mengangguk, wanita itu menggenggam lengan Regan dan menuntun lelaki itu untuk berjalan pelan-pelan.


"Lepaskan, aku bisa berjalan sendiri," kata Regan hendak melepaskan tangan Yona.


Baru saja tangannya menyentuh tangan Yona, getaran aneh dalam hatinya membuat Regan merasa terenyuh. Sentuhan tangan wanita itu terasa hangat dan juga lembut. Regan mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar.


Akhirnya Regan menerima saja apa yang Yona lakukan kepadanya. Yona tersenyum bahagia melihat Regan akhirnya pasrah dengan perlakuannya. Tentu saja, sekalipun Regan melupakan Yona. Yona tidak akan menyerah begitu saja. Yona akan membantu lelaki itu berjuang melawan penyakitnya dan mendapatkan kembali penglihatan normalnya begitu juga ingatannya.


Enak saja Regan mau melupakannya begitu saja sedangkan Yona setiap detik selalu memikirkan lelaki itu. Yona sangat tersiksa semalaman karena keinginannya bermalam di ruang rawat Regan tapi dia tidak mungkin berada di sana yang malah membuat Regan merasa curiga dengan kehadiran dirinya.


Yona berusaha keras menahan dirinya, Yona yakin masalah yang mereka hadapi akan berlalu. Badai akan berlalu bersamaan dengan udara baru yang menyejukkan. Begitulah kiranya pemikiran Yona.


"Hati-hati," ucap Yona ketika Regan menapakkan kakinya masuk ke lift.


"Aku memang tidak bisa melihat wajah, tapi aku bisa melihat jalan," sindir Regan sensitif karena diperlakukan seperti anak kecil oleh Yona.

__ADS_1


Yona hanya tersenyum mendengar segala omelan Regan yang terasa sangat lucu baginya. Yona masih terus menggenggam lengan Regan meskipun mereka sudah masuk ke dalam lift.


"Kamu masih berniat memegang lenganku? Kita berada di lift sekarang," ucap Regan mengingatkan Yona.


Yona nampak acuh, tidak peduli dengan apa yang Regan katakan baru saja. Regan memutar bola matanya jengah, Yona sepertinya sedang mencari kesempatan dalam kesempitan untuk bisa menyentuh tubuhnya yang sangat atletis dan sexy seperti artis korea. Dasar lelaki penuh percaya diri!


Tidak ada suara lagi didalam lift. Entah kenapa didalam sana terasa sangat kaku tanpa ada dari mereka yang berbicara.


Ting!


Yona berjalan lebih dulu, tangannya terulur untuk membantu Regan keluar dari lift. Dalam hati Regan mengumpat, 'Apa-apan ini, kenapa wanita ini malah memperlakukanku seperti orang lumpuh?'. Padahal Regan bisa berjalan dengan baik, Yona hanya perlu memegangi lengannya jika saja Regan tiba-tiba kehilangan keseimbangannya.


"Minggir, pasien gawat darurat!" teriak para perawat yang berlari masuk kedalam lift.


Tubuh Yona tersenggol salah satu perawat yang tengah berlari mendorong ranjang pasien. Dengan sigap Regan menarik tubuh Yona untuk masuk dalam dekapannya. Detak jantung Regan terdengar seperti tabuhan drum yang sangat cepat. Darahnya mengalir lebih cepat dari sebelumnya.


Yona mendongak menatap Regan, menatap tepat di manik mata lelaki itu. Regan mengerjapkan matanya, beberapa detik Regan mampu melihat wajah Yona yang sangat cantik. Hidung mancung Yona yang sangat pas di wajah wanita itu, dan juga bibir ranum Yona. Tapi detik selanjutnya mata Regan kembali seperti sebelumnya, wajah Yona kembali terlihat samar di mata lelaki itu.


Regan melepaskan tangannya dari pinggang Yona.


"Kamu ini bagaimana, aku yang sakit masa aku yang harus megangin kamu? Dasar tidak kompeten," ucap Regan kesal dengan wajahnya merah padam seperti lelaki yang baru pertama kali beradu pandang dengan wanita.


"Ck, aku kan kehilangan keseimbangan. Wajar aja kali," ucap Yona menjawab omelan dari Regan.


"Bisa saja ngelesnya," cibir Regan tidak suka.


Yona mengalah, wanita itu hanya mengerucutkan bibirnya lucu. Yona kembali memegangi lengan Regan meskipun Regan mengatakan bahwa Yona tidak usah memeganginya.


"Permisi, kopi panasss!" teriak seseorang dengan langkah cepatnya hampir menabrak Yona lagi.


Regan menarik tangan Yona mendekat ke arahnya.


"Ini sudah kedua kalinya, apa mungkin matamu yang harus diperiksakan hah?" kesal Regan antara marah ataupun cemas dengan keteledoran Yona yang bisa membuat wanita itu celaka kapan saja.


"Terussss, teruss saja maki aku," jawab Yona kesal.


Lili hanya menatap keduanya dengan tatapan lelah. Di manapun mereka berdua bersama, dalam kondisi apapun juga mereka berdua selalu bertengkar dan saling mengejek satu sama lain. 


Mereka akhirnya sampai di pintu masuk sekaligus pintu keluar rumah sakit. Ricki mengatakan untuk mengambil mobilnya di parkiran dan meminta mereka bertiga untuk menunggu di sana saja.


Suasana siang itu tidak begitu terik, matahari menampakkan sinarnya dengan malu-malu. Seperti Regan yang saat ini melirik tangan Yona yang berada dalam lengannya.


Tanpa sadar lelaki itu tersenyum, dia seperti lekaki yang tengah dimabuk cinta. 


"Aku tahu kamu sengaja menempel padaku," ucap Regan membuat Yona menoleh kearahnya.


"Apa?" tanya Yona bingung.


Regan hanya menghendikkan bahunya tidak menjawab pertanyaan Yona. 


"Otaknya benar-benar bermasalah," gumam Yona mendengus.


Bagaimana tidak bermasalah, Regan bersikap sangat aneh dan juga membingungkan. Kadang lelaki itu terlihat sangat ketus, menyebalkan, suka marah, tapi lelaki itu juga terlihat sangat perhatian kepada Yona. Buktinya saja Regan tidak membiarkan Yona jatuh terjerembap di lantai saat perawat mendorong ranjang pasien gawat darurat. 


Lalu, Regan juga tidak membiarkan seseorang yang membawa kopi tadi menabrak Yona dan menumpahkan kopi di kulit putih besar milik Yona. Bukankah itu tandanya bahwa hati Regan masih mengingat Yona meskipun otaknya tidak mengingat Yona?


Mobil Ricki berhenti di depan mereka, Yona membantu Regan berjalan ke arah mobil. Regan membukakan pintu untuk Yona, membuat Yona dan diri lelaki itu sendiri keheranan.


'Apa yang kamu lakukan Regan?' teriak Regan merasa malu sendiri.


Tangannya secara otomatis meraih pintu mobil dan membukakannya untuk Yona. Tapi dengan cepat Regan menghentikan Yona yang mau masuk ke dalam mobil.


Yona menatap ke arah Regan, keningnya berkerut dengan perlakuan Regan sekarang. Lelaki itu sepertinya tidak melupakan kebiasaan mereka ketika bersama. 


"Ah, terima kasih," pikir Yona yang lupa mengucapkan terimakasih karena Regan telah membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Minggir, aku dulu!" ucap Regan berusaha menutupi kejanggalan sikapnya sendiri.


__ADS_2