
Napas mereka terengah-engah, keduanya saling menatap penuh memuja satu sama lain. Pagutan bibir keduanya pada akhirnya terlepas, disusul dengan tarikan napas dalam untuk mengisi rongga paru-paru mereka yang telah kosong. Tangan Yona menyentuh dada bidang Regan, menatap manik mata suaminya.
“Pastikan tidak ada wanita lain di sini,” ucap Yona dijawab anggukan penuh keyakinan dari Regan.
“Kamu, satu-satunya,” jawab Regan mengecup puncak kepala Yona.
Mereka menatap penampilan mereka dari kaca, membenarkan tatanan rambut dan make up Yona agar tidak menjadi olok-olokan lagi bagi para pasangan usil di tempat resepsi. Setelah memastikan penampilan mereka sudah sempurna tanpa ada satupun yang terlewatkan, Regan mengulurkan tangannya, menyambut jemari Yona untuk dia genggam erat menuju tempat resepsi.
Mereka keluar dari kamar rias, melangkahkan kaki beriringan seirama dengan begitu cocok. Pepaduan wajah mereka berdua memang tidak bisa diremehkan, sudah bisa dipastikan bagaimana kelak keturunan Regan dan Yona. Ketampanan dan kecantikan mereka, bersatu padu dengan aura kebahagiaan yang terpancar pada wajah mereka untuk hari.
Lampu flash menyambut kedatangan Regan dan Yona, para awak media tidak ingin melewatkan kesempatan mengunggah berita pernikahan spektakuler seorang putri konglomerat dari keluarga William sekaligus mantan model internasional jebolan agensi Perancis yang kali ini bersanding dengan lelaki yang telah mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan. Perbedaan sumber perekonomian mereka berdua tidak lantas membuat Regan dan Yona berbeda dalam perasaan.
Justru, keduanya saling melengkapi satu sama lain dengan baik dan tidak memiliki celah sedikitpun.
“Itu Uncle Regan dan Aunty Yona,” pekik Machiko yang pada akhirnya membuat semua orang mengikuti arah pandangannya.
Gaun indah yang saat ini Yona kenakan, begitu serasi dengan jas elegan yang tersampir sempurna pada bahu Regan. Mereka berjalan begitu elok, menebar senyum pada semua tamu undangan yang datang.
MC acara pernikahan mempersilahkan pasangan pengantin baru itu untuk naik ke atas panggung, menaiki singgasana mereka satu hari ini. Kemudian MC meminta orang tua Regan dan Yona turut naik ke atas panggung untuk melakukan ritual sungkeman.
Dimulai dari meminta restu, sungkem pada orang tua Yona. Yona menangis di bawah kaki ibunya, bersimpuh meminta maaf atas kesalahan yang selama ini dia perbuat selama menjadi anak mereka.
“Maafkan Yona, Mommy, Daddy,” isak Yona di bawah kaki orang tuanya.
Begitupun dengan Regan, lelaki itu bersimpuh di samping Yona, meletakkan tangannya pada pangkuan Shinta dan Hendra seperti apa yang Yona lakukan saat ini.
__ADS_1
“Mommy dan Daddy merestui pernikahan kalian, semoga sakinah, mawadah, warohmah, berjodoh sampai maut memisahkan,” ucap Hendra mengelus puncak kepala Regan dan Yona.
“Jadilah kalian pasangan yang bisa mengayomi satu sama lain,” doa Shinta atas pernikahan putrinya dengan Regan.
Lalu Regan dan Yona bergantian sungkem pada orang tua Regan. Orang tua pasti ingin segala hal yang terbaik bagi anak-anak mereka. Doa baik untuk kebaikan pernikahan Regan dan Yona yang sebenarnya ujian hidup sebenarnya baru saja mereka mulai. Melaksanakan pernikahan memang tidak mudah, memantapkan hati untuk menyatukan dua pribadi yang berbeda tidak sebanding dengan mempertahankan rumah tangga saat perbedaan satu per satu mulai bermunculan bersamaan dengan ego pengantin baru yang terkadang tidak bisa ditebak.
“Ayah dan Bunda mendoakan yang terbaik untuk Regan dan Yona, semoga cepat mendapatkan momongan. Cepatlah melahirkan anak-anak yang banyak agar rumah keluarga kita tidak sepi lagi,” kata Lilian memberikan doa-doa terbaiknya pada Regan dan Yona.
Benar kata sebagian orang, orang tua turut menuliskan takdir anak-anaknya. Begitulah yang saat ini para orang tua pikirkan, tidak menyangka aksi perjodohan anak-anak mereka akhirnya benar-benar terwujudkan menjadi kenyataan.
Kali ini saatnya para tamu undangan memberikan selamat kepada pengantin baru yang tengah berbahagia. Satu persatu dari mereka naik ke atas panggung, memberikan ucapan selamat atas pernikahan Regan dan Yona pada hari ini.
Keempat pasangan super famous mendapatkan giliran naik ke atas panggung. Mereka berpelukan, turut menyalurkan rasa bahagia atas hari baik yang akhirnya datang juga setelah hujan badai datang menghujami lika-liku percintaan mereka berdua.
“Selamat, akhirnya kalian sudah sah. Halal mantap-mantap,” ucap Nadia begitu antusias.
“Kabari aku kalau kamu butuh gaya yang paling mantap, aku ada rekomendasi,” kekeh Nata menepuk bahu Regan.
Wajah Yona langsung merona seketika, membayangkan malam pertamanya saat menjadi seorang istri tentu saja membuat dirinya merasa malu. Astaga, bagaimana mungkin Yona dan Regan tidak melakukannya, tentu saja mereka melakukannya karena sudah sah dan memang wajib bagi pasangan yang telah menikah, apalagi melakukan itu mendatangkan pahala yang melimpah ruah.
“Aku jadi tidak sabar untuk malam ini,” kekeh Regan menoleh menatap Yona.
Napas Yona seakan hilang begitu saja tidak tersisa, keringat dingin bercucuran keluar dari kening Yona.
“Tuh Yona gugup gara-gara omongan kamu,” goda Melodi yang bisa membaca raut wajah Yona saat ini.
__ADS_1
Mereka tertawa, namun kode dari pembawa acara malam ini meminta mereka segera turun karena antrian semakin panjang. Tamu undangan banyak yang baru berdatangan karena jam pada undangan mereka yang berbeda-beda.
Regan menoleh menatap Yona.
“Kamu lelah?” tanya Regan mengelus pipi Yona hingga wajah Yona menunjukkan rona merah di sana.
“Hm, kakiku pegal sekali,” jawab Yona sambari menggerakkan pergelangan kakinya.
“Nanti malam biar aku pijit,” ucap Regan sontak saja membuat Yona menatap lelaki itu tidak berkedip.
Kalimat ambigu yang keluar dari mulut Regan membuat Yona merasakan sesuatu dalam dirinya ingin berteriak, dadanya bergemuruh hebat. Astaga, padahal Regan hanya mengatakan akan memijitnya malam ini, namun bayangan Yona langsung berkelana pada adegan pijit memijit plus-plus yang sering kali para orang dewasa bicarakan.
Dengan cepat Yona menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran sensual dari dalam otaknya.
Yona hanya mengangguk menanggapi perkataan Regan. Lelaki itu tersenyum lembut, mengelus pipi Yona yang begitu halus dia rasakan pada telapak tangannya.
“Kamu sudah memikirkan gaya apa yang akan kita pakai malam nanti?” bisik Regan di telinga Yona.
Jantung Yona semakin kencang memompa darah ke seluruh tubuhnya. Raut wajah menggoda dari suaminya memang tidak akan pernah bisa disembuhkan.
Yona menyikut lengan suaminya, merasa malu dengan perkataan yang Regan ucapkan kepada dirinya.
“Hmm, aku sudah memikirkannya,” jawab Yona membuat mata Regan berbinar sempurna.
“Benarkah? Aku tidak menyangka kamu selangkah lebih cepat dari aku,” jawab Regan merasa bahagia. “Kalau boleh tahu, kamu ingin memakai gaya apa?” lanjut Regan dipenuhi rasa ingin tahu.
__ADS_1
“Gaya kupu-kupu,” sahut Yona dengan wajah tak berdoa.
Mulut Regan ternganga tidak percaya dengan apa yang Yona katakan. Gaya kupu-kupu? Memangnya mereka mau berenang?