My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Waktu Akan Menyembuhkan


__ADS_3

Tittt... titttt... titttttttt….


Suara patient monitor berbunyi seperti alarm pertanda bahaya, membuat Yona yang tengah terlelap langsung terjaga. Mata wanita itu terbelalak melihat tubuh Regan yang bergetar hebat di sana. Yona dengan cepat keluar dari ruang rawat Regan dan berteriak memanggil perawat dan dokter jaga yang ada di ujung lorong lantai lima.


“Pasien-“ Belum sempat Yona meneruskan ucapannya, para perawat di sana dan dokter yang berjaga langsung berlari menuju ruangan di mana Regan dirawat.


“Tekanan darahnya menurun, detak jantungnya tidak stabil Dokter,” ucap perawat itu.


Sang dokter jaga langsung mengecek kondisi tubuh Regan.


“Detak jantungnya semakin melemah, CPR!” teriak sang dokter membuat perawat lelaki langsung naik di atas ranjang dan melakukan CPR dengan tangannya di dada Regan.


Perawat lainnya meminta Yona untuk keluar agar kekasih dari Regan itu tidak menghambat jalannya upaya medis.


“Mohon tunggu di luar,” ucapnya meminta Yona segera keluar karena itulah prosedur medis yang harus keluarga pasien ikuti agar tidak mengganggu jalannya pemeriksaan yang dilakukan kepada pasien.


Sebenarnya, dengan adanya keluarga pasien didalam ruangan semakin menambah kecemasan pada diri mereka yang hendak melakukan sesuatu kepada pasien. Belum lagi suara tangis dan jeritan histeris keluarga pasien yang juga sangat mengganggu konsentrasi mereka sehingga tidak bisa optimal dalam memberikan pertolongan medis.


“Tolong, selamatkan Regan,” isak Yona menangkupkan tangannya memohon.


Perawat menutup pintu ruangan Regan dari dalam, mereka bahkan menyiapkan alat kejut jantung jika detak jantung lelaki itu tidak kunjung untuk kembali normal. Tubuh Regan bergetar hebat, entah apa yang saat ini lelaki itu bayangkan dan apa yang menimpanya.


Rehan bersama dengan dr.Irawan langsung berlari menuju ruang rawat Regan, Rehan menghampiri Yona sejenak membiarkan dr.Irawan masuk lebih dulu ke dalam ruangan sahabatnya dirawat.


“Yona,” panggil Rehan menghampiri wanita yang sangat dicintai sahabatnya tersebut.


Rehan mengelus pundak Yona. “Tenangkan dirimu, semuanya akan baik-baik saja,” kata Rehan memberikan kekuatan kepada Yona.


Yona terisak, wanita itu berhambur dalam pelukan Rehan karena tidak tahu harus meminta penopang siapa lagi disaat seperti ini. Kaki wanita itu bergetar, melihat kondisi Regan seperti itu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Yona tidak tahu lagi harus berbuat apa selain berdoa dan memasrahkan kondisi Regan kepada para dokter yang menangani mereka.


“Rehan, apa yang terjadi pada dia?” isak Yona dalam pelukan Rehan.


“Stttt, semua akan kembali normal. Jangan berpikiran buruk dia ditangani dokter hebat,” ucap Rehan kepada Yona.


Selang beberapa menit, Lili, dan Septian berlari tergesa-gesa kearah ruang rawat Regan setelah mendapatkan telepon dari Rehan jika tubuh Regan melemah dan kondisi vital lelaki itu semakin memburuk.


Lili melihat Yona dalam pelukan Rehan air mata wanita itu yang mengalir deras, Lili mendekati Yona di sana.


“Yona apa yang terjadi?” tanya Lili dengan matanya berkaca-kaca.


“Bunda, Regan ... Bunda. Hikss,” isak Yona beralih memeluk Lili.


Mereka berdua sama-sama menangisi Regan, keduanya tidak akan sanggup jika harus kehilangan Regan ataupun terjadi sesuatu hal yang buruk kepada lelaki itu. 


“Regan tiba-tiba kejang dan tubuhnya bergetar, Bunda,” isak Yona dengan air mata yang terus menetes di pipinya.


Rehan hanya terdiam tidak tahu harus mengatakan apa lagi, kejang yang datang tiba-tiba ke pasien yang tengah koma bisa disebabkan oleh beberapa factor yang mempengaruhinya. Bisa juga karena keretakan yang terjadi di kepala Regan sehingga menyebabkannya kejang secara tiba-tiba.


Di dalam sana, baik dokter jaga maupun dr.Irawan saling membantu untuk mengembalikan kondisi Regan kembali stabil. Tekanan darah yang terlihat di patient monitor naik turun, detak jantung Regan juga tidak berangsur membaik.


Kedua dokter didalam sana saling menatap, mereka mengangguk pasrah.


“Panggil keluarga pasien,” ucap dr.Irawan mengusap wajahnya frustasi karena gagal mengembalikan kestabilan tubuh Regan saat ini.


Perawat membuka pintu ruangan di sana.


“Keluarga pasien boleh masuk,” ucap perawat membuat Yona, Regan, dan kedua orang tua Regan masuk ke dalam ruangan.


Terlihat dokter sudah melepaskan selang oksigen dari hidung Regan, Yona berlari ke arah dr.Irawan.


“Tidak, kenapa Anda melepas selang oksigennya dokter. Bagaimana nanti Regan bisa bernapas tanpa bantuan selang oksigen itu!” isak Yona mencekal tangan dr.Irawan yang hendak meletakkan selang oksigen itu ke tempatnya.


Dr.Irawan menghela napas panjangnya, beliau menatap Rehan meminta lelaki itu untuk menjelaskan kondisi pasien kepada keluarganya. Mata Rehan berkaca-kaca, ini seperti mimpi baginya. Tidak mungkin Regan akan semudah itu menyerah akan kondisinya sekarang dan memilih meninggalkan wanita yang dicintai dan juga seluruh keluarga dan teman-temannya.


Rehan berjalan kearah sahabatnya itu. “Berengsek, jangan bercanda bodoh!” teriak Rehan didepan Regan dengan matanya berkaca-kaca.


“Rehan, apa yang terjadi. Dia tidak mungkin pergi kan?” isak Yona menatap Rehan di sana.

__ADS_1


Yona menangis memeluk tubuh Regan, dia tidak mungkin bisa kehilangan lelaki itu. Yona sudah terlalu mencintai Regan dan tidak mungkin bisa melepaskan kepergian Regan semudah itu.


Sedangkan Lili kini berada dalam pelukan suaminya, wanita itu terus menangis melihat Regan yang semakin pucat pasi dan para dokter yang menangani putranya sudah menyerah.


“Kita semua sudah melakukan yang terbaik, tapi sepertinya tubuh Regan tidak mampu lagi meneruskan perjuangannya,” ucap dr.Irawan penuh sesal.


“Tidakkkkkkkk, Regannnnnnn!” teriak Lili hendak menghambur kearah tubuh Regan tapi dengan sigap Septian mencegahnya.


Lili pingsan dalam pelukan Septian, wanita itu tidak sanggup menerima kenyataan pahit seperti ini. Lili tidak bisa kehilangan putra sematawayangnya begitu saja.


Perawat membantu Septian untuk membaringkan Lili di kamar tunggu yang ada didalam ruangan Regan. Septian meminta perawat untuk menjaga istrinya sedangkan kembali ke tempat Regan untuk menanyakan apa yang terjadi pada kondisi tubuh Regan. Rasanya tidak mungkin jika putranya bisa meninggalkan mereka begitu saja.


“Dokter, dia tidak meninggal kan? Putra saya masih bernapas Dokter,” ucap Septian menunjukkan deru napas Regan yang lemah.


Dr.Irawan mengangguk. “Itu denyut nadi terakhir Pak, jantungnya sudah tidak bisa berdetak seperti semula,” jelas dr.Irawan membuat Septian meluruh ke lantai.


Yona menangis meraung memeluk Regan di sana. “Berengsek, kamu membuatku mencintaiku. Kamu mengerjarku seperti orang gila dan kini kamu mau meninggalkanku hahh? Bangun Regan, bangunnnn atau aku akan membunuhmu sekarang juga!” teriak Yona terdengar sangat menyayat hati siapapun yang mendengarnya.


Yona menangis memukul dada Regan, berharap ada keajaiban dan jantung itu kembali berdetak.


“Kamu tidak punya hak untuk jantung ini, dia hanya berdetak untukku. Jadi biarkan aku memerintahkan jantung itu untuk terus berdetak di sampingku. Bangun aku bilang!” teriak Yona membuat semua orang di sana tidak bisa menahan air mata mereka.


Rehan memegang tubuh Yona, membawa wanita itu kedalam pelukannya.


“Tenangkan dirimu, aku pernah berada di posisimu,” ucap Rehan dengan air mata yang ikut meluruh bersama dengan kepahitan yang kini harus mereka terima.


Yona menangis histeris dalam pelukan Regan, Yona tidak akan sanggup hidup lagi setelah membuat Regan meninggal karena dirinya. Kenapa semua itu harus terjadi? Kalau memang Yona penyebab Regan meninggal, seharusnya Tuhan tidak usah mempertemukan mereka dan membuat cinta didalam hati mereka tumbuh seperti sekarang.


Seharusnya Tuhan tidak usah memperkenalkan Yona akan sosok Regan yang sangat bertanggung jawab dan berkomitmen akan janjinya.


“Dia berjanji akan selalu bersamaku,” isak Yona dalam pelukan Rehan.


Rehan mengelus pelan punggung Yona, semua tidak ada yang tahu jika Regan akan berakhir seperti ini. Rehan bahkan tidak menyangka jika sahabatnya itu akan menyerah dengan kondisinya sekarang.


Tittt... tit... titttt…


Semua orang menoleh, patient monitor itu kembali menunjukkan detak jantung pasien yang kini muncul kembali di sana. Dr.Irawan dengan sigap memberikan selang oksigen kembali pada hidung Regan.


“Tidakkk!!” teriak Regan terbangun dari alam bawah sadarnya.


Seluruh orang terkejut melihat Regan berteriak, Yona dan Rehan langsung mendekat ke arah Regan. Dr.Irawan bersama Rehan melakukan pemeriksaan,


“Saudara Regan, Anda bisa mendengarku?” tanya dr.Irawan saat Regan membuka matanya dengan napasnya tersengal-sengal.


Blurr, mata Regan menyipit melihat wajah semua orang yang nampak tidak jelas baginya. Padahal tubuh mereka terlihat sangat jelas.


“Saudara Regan?” tanya dr.Irawan memastikan.


“Hmm,” jawab Regan dengan suara lemasnya.


“Regan?” lirih Yona menatap Yona dengan binary bahagia dan juga terharu.


Wanita itu menangis ditempatnya, sedangkan Regan mengerutkan keningnya begitu mendengar suara Yona yang sama persis dengan suara yang ada dalam mimpinya.


“Aku di mana? Ahh!” pekiknya ketika hendak bangun dari tidurnya merasakan denyut menyakitkan yang dia rasakan didalam kepalanya.


“Regan, kamu berada di rumah sakit. Sebentar aku akan memeriksamu,” ucap Rehan.


Regan mencekal tangan lelaki itu. “Kamu Rehan?” tanya Regan memastikan suara sahabatnya yang sangat dia hafal.


Semua orang saling menatap, dr.Irawan mengecek kondisi mata Regan dan manik mata lelaki itu menunjukkan reaksi.


“Matanya normal, saudara Regan ini angka berapa?” tanya dr.Irawan kepada Regan.


Dr.Irawan mengacungkan empat jarinya kepada Regan, lelaki itu menatapnya.


“Empat,” jawab Regan.

__ADS_1


Tidak ada yang salah dari mata Regan, tapi kenapa Regan tampak kebingungan menatap semua orang di sana.


“Regan, ini Ayah.” Septian mendekat ke arah Regan.


Regan menggenggam tangan ayahnya. “Ayah, kenapa Regan tidak bisa melihat wajah Ayah?” tanya Regan membuat ketiga dokter di sana terbelalak.


Ini kasus yang jarang terjadi pada pasien luka di kepala, nampaknya luka Regan benar-benar serius.


“Apa yang saat ini anda keluhkan?” tanya dr.Irawan.


“Aku bisa melihat tubuh kalian dan semua benda, tapi wajah kalian terasa blur dan tidak jelas,” jawab Regan.


Baik dr.Irawan maupun Rehan menutup mulutnya, yang mereka takutkan akhirnya terjadi. Kerusakan yang disebabkan karena hantaman itu rupanya mempengaruhi fungsi otak Regan untuk menghapal dan mengenali wajah setiap orang.


“Regan kamu kenal wanita ini? Dia Yona,” ucap Rehan membuat Regan menyerngitkan keningnya.


“Yona siapa?” tanya Regan membuat tangan Yona bergetar.


Lelaki itu melupakan dirinya? Regan tidak ingat sama sekali tentang Yona? Ya Tuhan musibah apa lagi ini yang menimpa Yona kenapa Yona seperti baru saja menerima kutukan hingga mendapatkan musibah beruntut seperti ini.


“Regan-“ ucapan Yona terhenti saat dr.Irawan mengangkat tangannya.


“Ini tanggal berapa saudara Regan?” tanya dr.Irawan memastikan ingatan Regan.


“5 Mei, seingatku beberapa hari lalu aku baru saja menghadiri upacara hari pendidikan. Kenapa aku bisa tiba-tiba ada di sini?” tanya Regan menatap semua orang di sana meskipun mereka tidak memiliki wajah bagi Regan.


Ini sangat menyeramkan bagi Regan, dia bisa melihat tubuh tapi dia sama sekali tidak bisa melihat wajah semua orang yang kini ada di depannya.


Dr.Irawan menatap Septian dan Yona. “Pasien harus melakukan beberapa pemeriksaan,” ucapnya diangguki Septian.


“Regan, kamu tidak mengingatku?” tanya Yona dengan suara bergetar.


“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Suaramu nampak tidak asing bagiku,” tanya Regan memastikan.


Yona menggeleng, mungkin kondisi Regan saat ini sedang tidak baik. Yona harus menahan diri dan tidak boleh membuat Regan memiliki beban pikiran hanya untuk mengingat dirinya sendiri. Yona melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Regan. Air mata menetes membasahi wajah wanita itu.


Setelah Regan kembali dari ambang kematian lelaki itu, kenapa malah Yona harus menelan pil pahit kalau Regan tidak mengingat dirinya sama sekali. Padahal Yona ingin bercerita banyak hal kepada Regan dan memaki lelaki itu karena sudah banyak menumpahkan air matanya sampai detik ini.


Yona memasuki lift, menekan tombol lantai satu dis ana. Baru saja lift akan tertutup, sebuah tangan mencekalnya. Rehan masuk kedalam lift dan tersenyum ke arah Yona.


“Mau menenangkan diri di ruanganku? Sebentar lagi Melodi akan selesai sift dan menemanimu di sana,” tawar Rehan diangguki Yona.


Rehan menekan tombol dua di sana, mereka hanya terdiam di dalam lift. Hanya suara hembusan napas kasar yang terdengar sangat menyayat hati. Rehan mengajak Yona untuk masuk kedalam ruangannya, memberikan wanita itu minum agar sedikit tenang.


“Rehan apa yang sebenarnya terjadi dengan dia?” tanya Yona dengan air mata yang masih menetes tanpa henti.


“Karena luka di bagian kepala Regan, banyak kemungkinan yang terjadi. Termasuk hilang ingatan sebagian dan tidak bisa mengenali wajah,” jelas Rehan membuat Yona menatap lelaki itu lekat.


“Berarti Regan hanya melupakan sebagian ingatannya?” tanya Yona diangguki Rehan.


Yona menunduk, apakah itu termasuk dirinya yang menjadi bagian terlupakan bagi Regan? Kenapa harus seperti itu? Bukan kesadaran seperti ini yang Yona inginkan, Yona ingin lelaki itu sadar dan sehat normal seperti sedia kala tanpa kekurangan suatu apapun.


“Dia tidak bisa sembuh?” tanya Yona.


“Bisa, tergantung tubuh seseorang itu sendiri. Ada yang berbulan-bulan bahkan tahunan,” jelas Rehan membuat Yona mendesah pasrah.


“Itu berarti Regan akan melupakanku? Dia tidak akan mengingat semua tentang diriku?” tanya Yona terisak.


“Yona, kita tidak bisa memaksakan kehendak kita. Nyawa Regan taruhannya jika lelaki itu memaksakan diri mengingat ingatannya yang telah hilang,” kata Rehan lembut.


Yona menangis di sana, Yona sama sekali tidak menyangka kalau Regan mampu melupakan dirinya semudah itu. Semua kenangan yang sudah mereka lewatkan, dan juga hari-hari yang mereka lalui bersama.


“Kenapa harus Regan?” lirih Yona menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.


Melodi yang baru saja masuk ke dalam ruangan Rehan terkejut melihat kondisi Yona yang sangat menyedihkan. Melodi duduk di samping Yona, mengelus punggung wanita itu yang bergetar.


“Yona, tenangkan dirimu,” ucap Melodi yang tahu tentang kondisi Regan dari perawat yang berada dalam satu tim dengannya.

__ADS_1


Melodi dan Rehan sudah menduganya sejak awal, tapi mereka selalu berdoa untuk semua yang terbaik. Ini pasti menjadi hantaman keras bagi Yona. Dia menjadi wanita yang terlupakan, padahal Yona sangat menantikan kesadaran Regan.


“Waktu akan menyembuhkan,” lirih Melodi.


__ADS_2