
Tidak ada yang bisa wanita itu lakukan kali ini selain mengusap wajahnya frustasi. Habis sudah riwayatnya! Sebagai wanita dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Yona, wanita yang kini menatap Regan didepannya dengan pandangan yang tidak bisa lagi wanita itu jelaskan. Benarkah Regan telah menjadi lelaki pertamanya ?
“Kita harus menikah!“ pungkas Yona.
Uhuk-uhukk, Regan tersedak minumannya saat kalimat itu keluar dari mulut Yona.
“Kenapa kamu tiba-tiba mau kita menikah?” tanya Regan menatap Yona curiga.
Yona menunduk, tubuh wanita itu bergetar.
“Aku tidak mau hamil sebelum menikah,“ ucap Yona membuat Regan membelalakkan matanya.
Hamil sebelum menikah? Memangnya apa yang Yona pikirkan tentang dirinya? Dirinya bahkan mati-matian tidak menjamah tubuh Yona yang sangat menggodanya semalaman. Regan tidak mengerti apa yang menjadi pertimbangan Yona saat wanita itu mengajaknya menikah.
“Jangan-jangan, kamu benar-benar mencintaiku ya?” tanya Regan.
Yona mendongak menatap Regan, mulut wanita itu terkunci, tidak mampu mengucapkan alibi apapun. Otaknya sangat buntu sekarang.
“Apa? Jadi itu benar? Bwahahaha.“ Regan terbahak menatap wajah Yona yang kini memerah.
“Aku tidak mengatakan bahwa itu benar!” elak Yona tidak terima melihat Regan tertawa sekencang itu menertawakan dirinya.
“Regan, sepertinya aku mencintaimu,“ ucap Regan menirukan ucapan Yona semalam.
Mulut Yona menganga, lelaki itu sungguh bermulut lemes.
“Berhenti mengejekku!“ teriak Yona mengejar Regan yang kini berlari meninggalkannya.
Yona mengejar Regan, wanita itu bersumpah akan meremas mulut lemes Regan jika dia menangkapnya.
“Berhenti di sana,“ pekik Yona mengambil nafas dengan tersengal-sengal.
“Tidak mau, wlekkk!“ Regan malah menjulurkan lidahnya ke arah Yona.
__ADS_1
Buggg, kaki Yona tersandung karpet yang ada di sana.
“Argh,“ pekik Yona.
Regan terbelalak, lelaki itu berlari ke arah Yona. Regan berjongkok di sana, mensejajarkan tubuhnya dengan Yona.
“Yona-“
“Kena kamu lelaki mesum!“
Yona melakukan seragan tangannya kepada Regan, berkali-kali Yona mencubit perut dan lengan Regan hingga lelaki itu mengaduh kesakitan. Regan limbung, lelaki itu tersungkur di lantai membuat Yona ikut tersungkur bersamanya.
Mereka sangat dekat, tatapan mata mereka beradu. Saat Yona hendak berdiri, Regan justru melingkarkan tangannya ke pinggang Yona. Yona berhenti bernapas, posisi berbahaya itu harus segera Yona hindari.
Regan mencium bibir Yona sekilas, membuat mata Yona terbelalak tak percaya.
“Regan, jangan mencari kesem-“
“Katakan sekali lagi,“ pinta Regan saat lelaki itu telah melepaskan pagutan bibirnya.
“Hah, a-apa?” gugup Yona bingung.
Wanita itu berdiri, begitupula Regan. Mereka duduk di sofa, Regan kembali menoleh kearah Yona. Menuntut wanita itu untuk menjawab pertanyaannya.
“Katakan sekali lagi, Yona,“ ucap Regan menatap Yona tepat di manik mata wanita itu.
Wajah Yona kembali bersemu merah, apa yang harus Yona katakana sekarang?
“Regan, aku ... aku-”
Huekkkk, Yona memuntahkan isi perutnya di lantai. Regan sedikit tersentak.
“Kamu tidak apa, Yona?” tanya Regan khawatir.
__ADS_1
Efek minuman semalam terasa sangat mengganggu perut Yona hingga wanita itu sudah tidak tahan lagi untuk memuntahkannya.
Mata Yona berlinang, Yona berlari menuju wastafel. Mengeluarkan semua isi perutnya di sana.
“Aku akan membuatkanmu minuman hangat,“ ucap Regan meninggalkan Yona di sana.
Regan memanggil tim kebersihan apartemen untuk membersihkan apartemennya, lelaki itu menyuruh Yona untuk kembali ke kamar beristirahat terlebih dahulu sebelum Regan mengantarkannya pulang nanti.
Yona menatap langit-langit apartemen Regan dengan nyalang. Dia menggigit bibirnya. Tidak biasanya Yona muntah setelah minum. Bahkan sebanyak apapun Yona minum, wanita itu tidak pernah muntah seperti itu.
Mata Yona membulat, dia menggelengkan kepalanya.
Tidak mungkin, mana mungkin dia hamil hanya dalam kurun waktu satu malam? Tapi bagaimana jika dia benar-benar hamil. Anak itu tidak boleh lahir tanpa ikatan pernikahan.
Tidak, tidak boleh!
“Regannnn?“ teriak Yona keluar kamar mencari Regan yang entah ke mana.
“Aku di dalam kamar mandi Yona,“ jawab Regan dari dalam kamar mandi.
“Cepat keluar, ini penting!” teriak Yona tak terbantahkan.
Regan keluar, lelaki itu menatap Yona dengan alis bertaut.
“Ada apa?”
“Regan, sepertinya ....“ Yona mengambil napas. Yona menatap Regan dengan serius.
Regan tersenyum, mungkinkah Yona akan menyatakan cintanya kali ini? Regan harus mengabadikannya jika itu memang terjadi.
“Katakan!“
“Regan, sepertinya aku hamil,“ ucap Yona membuat Regan menganga tak percaya.
__ADS_1