My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Ekting Sakit


__ADS_3

Kringggg...kringggg..kringgg.


Suara bunyi telepon rumah membuat Lili yang baru selesai memasak untuk makan malam langsung melepaskan celemek masaknya dan mencuci tangannya.


Wanita satu anak itu berjalan tergesa-gesa menuju telepon rumah mereka. Sudah dua kali telepon yang masuk dalam waktu ini. Lili merasa sangat tidak nyaman jika telepon rumahnya terus berdering, takut jika ada kabar buruk yang menimpa Regan maupun suaminya yang kini tengah berada di luar rumah.


Entah kemana mereka berdua, Lili sejak tadi sebelum memasak sudah mencoba untuk menghubungi mereka namun tidak juga mendapatkan jawaban dari kedua lelaki penting di dalam hidupnya.


"Lili!" Pekik seseorang di seberang sana membuat Lili menjauhkan telepon rumahnya dari telinganya.


"Assalamualaikum, Shinta," sapa Lili dengan halus menegur mommy dari Yona yang selalu grusa-grusu dalam setiap bertindak.


"Hehe, iya Waalaikumsalam, Lili." Kekeh Shinta merasa tidak enak.


Lili memang sangat agamis, wanita itu begitu rajin beribadah dan juga tidak lupa melakukan kewajibannya sebagai umat muslim pada umumnya untuk saling berbagi.


"Ada apa Shin? Tumben sekali jam segini menelpon ke telepon rumah," tanya Lili penasaran.


"Haishhhh, aku sudah hampir sepuluh kali menghubungi kamu di nomor ponselmu. Tapi tidak juga kamu angkat!" Ucap Shinta dengan nada menggebu-gebu.


Lili terkekeh, dia baru sadar kalau ponselnya dia mode diam hingga dirinya tidak mendengar ada telepon masuk di ponselnya dari Shinta.


"Maafkan aku, aku sedang memasak tadi. Ada apa memangnya?" Tanya Lili kepada Shinta.


"Dengarkan aku, ini masalah anak-anak kita," jawab Shinta diangguki Lili secara reflek.


"Iya, lanjutkan saja. Bagaimana?" Tanya Lili kepada Shinta.


Di seberang sana, terdengar Shinta menghembuskan napasnya panjang.


"Anak-anak sepertinya tidak memiliki kemajuan Lili. Kita sebagai orang tua harus melakukan sesuatu untuk membantu hubungan Regan dan Yona sebelum mereka benar-benar berpisah," jelas Shinta mendesah kasar.


Lili memasang wajahnya datar, wanita itu menghela napasnya dan menghembuskannya perlahan.


"Apa yang harus kita lakukan untuk mereka?" Tanya Lili pada akhirnya.


"Kita atur ulang perjodohan ini. Kata Dokter Irawan kita tidak boleh memaksa Regan untuk mengingat masa lalunya kan? Kalau begitu kenapa kita tidak membuat Regan mengingatnya sendiri dengan menjodohkan ulang mereka berdua?" Tanya Shinta sekaligus menjelaskan apa maksud dari niatnya untuk menjodohkan ulang Regan dan Yona.


Siapa yang tahu jika dengan ide Shinta untuk menjodohkan ulang Regan dan Yona malah membawa dampak positif kepada Regan? Semua orang pasti sangat senang jika Regan kembali mengingat masa lalunya lagi, termasuk mengingat Yona di dalam pikirannya lagi.


"Apa kamu yakin kita akan berhasil?" Tanya Lili memastikan.


Shinta mengangguk di sana, "Aku yakin, ada artikel yang aku baca mengatakan kalau pasien akan ingat sendiri kalau ada kilasan balik yang sama dengan kejadian di masa lampau. Kenapa kita tidak mencobanya saja Lili? Aku tadi melihat Regan dan Yona bertengkar entah masalah apa," jelas Shinta mengungkapkan apa yang tadi lihat bersama suaminya. Saat Yona dan Regan bertengkar hebat hingga berujung Yona masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu kamarnya sangat kencang.


"Mereka bertengkar? Aneh sekali padahal Regan tidak mengingat siapa Yona dan apa hubungan mereka. Kenapa mereka bisa bertengkar?" Tanya Lili terheran-heran dengan kelakuan Regan dan Yona yang selalu saja bertengkar dalam keadaan apapun.


"Iya! Astaga kamu tidak melihat bagaimana wajah mereka berdua tadi. Mereka seperti sedang shooting drama korea!" Jawab Shinta menggebu-gebu hingga Lili menutup telinganya.


"Kamu ini dikit-dikit drama korea, jadinya gini kan anak-anak kita kisahnya melebihi keruwetan drama korea!" Keluh Lili membuat Shinta memutar bola matanya jengah.


"Aihhhh, berhenti merutuki diriku Lili. Oh ya kamu punya ide nggak kita bakal nemuin mereka dimana untuk perjodohan ulang ini?" Tanya Shinta membuat Lili berpikir sejenak.


"Bagaimana kalau kita sekalian berlibur saja ke puncak? Kita menginap di vila keluargaku," tanya Lili menawarkan idenya.


"Aku setuju dengan idemu, aku juga sudah lama sekali tidak ke puncak," jawab Shinta sangat bersemangat.


Lili terkekeh ringan, semoga saja tujuan mereka untuk menjodohkan Regan dan Yona ulang akan berbuah manis.


"Ya sudah, aku tutup teleponnya. Kita atur jadwal lewat chat saja,"ucap Shinta mengakhiri telepon antara mereka.


Lili menatap telepon itu, dan menaruhnya kembali di tempatnya. Wanita itu memejamkan matanya, berharap usaha mereka untuk membuat Regan mengingat masa lalunya bisa berhasil. Setidaknya jika Regan sudah mengingat masa lalunya, lelaki itu hanya perlu menyempurnakan penglihatannya.


Suara mobil memasuki garasi rumahnya membuat Lili berjalan keluar untuk melihat siapa yang datang. Mobil Regan baru saja masuk ke garasi, menandakan jika lelaki itu sudah pulang.


"Regan," panggil Lili membuat Regan menoleh kearahnya.


Regan menyipitkan matanya karena silau lampu yang kini membuat matanya kabur seketika tidak bisa melihat sekelilingnya seperti sebelumnya. Tubuh lelaki itu menggeloyor begitu saja, membuat Lili langsung berlari kearah anaknya.


"Regan, apa yang terjadi nak? Kamu sakit?" Tanya Lili cemas melihat wajah Regan pucat pasi dengan bibirnya yang kini memutih.


Lili memapah tubuh Regan, membantu lelaki itu untuk berjalan masuk ke dalam rumahnya. Regan menggelengkan kepalanya yang terasa berputar-putar. Sejak dia terbangun dari komanya, lelaki itu belum pernah mengalami kondisi seperti sekarang ini.


"Regan, bagian mana yang sakit? Bunda telepon ayah dulu ya kita ke rumah sakit?" Tanya Lili dengan wajahnya sangat cemas.


Bukannya Lili tidak bisa mengendarai mobil, tapi dirinya hanya sudah lama tidak pernah mengendarai mobil sendiri semenjak menikah dengan Septian.


"Re..gan tidak apa-ap..a bunda," jawab Regan meringis, menjatuhkan tubuhnya ke sofa panjang yang ada di ruang keluarganya.


"Tidak apa-apa bagaimana? Wajahmu pucat pasi begini! Sebentar bunda ambilkan obatmu," gerutu Lili dengan jawaban Regan yang menganggap enteng keluhan pada tubuhnya.


Lili berlari kecil menuju kamar Regan, mengambil kotak obat yang ada disana.


"Bik Sriiii, tolong ambilkan air putih untuk Regannnn," teriak Lili memanggil asisten rumah tangganya yang kini tengah berada di belakang rumah.


"Baik bukkkkk," jawab Bik Sri segera mengambilkan air putih untuk Regan.

__ADS_1


Lili berlari menuju Regan, membuka kotak obat dan mencari obat yang khusus sakit kepala lelaki itu yang telah Dokter Irawan jelaskan kepadanya.


"Ini buk," ucap Bik Sri menyodorkan minuman di depan Lili.


Lili membuka tablet pil itu, mengeluarkan satu pil dari sana.


"Buka mulutmu," ucap Lili memberikan perintah kepada Regan.


Regan menuruti saja ucapan Lili, lelaki itu membuka mulutnya menerima pil pahit itu memasuki mulutnya diikuti dengan air putih yang ibunya tuangkan ke dalam mulutnya perlahan.


"Berbaringlah dulu di sini, bunda akan telepon Dokter Irawan dulu untuk memberitahu keadaanmu sekarang," ucap Lili, membuka sepatu Regan dengan penuh perhatian.


Lili menoleh kepada Bik Sri, "Bik tolong jaga Regan sebentar, jangan boleh bergerak dulu ya," ucap Lili diangguki Bik Sri.


Lili berjalan menuju kamarnya, mengambil ponselnya dan menghubungi Dokter Irawan untuk memberitahukan keadaan Regan saat ini yang tiba-tiba saja memburuk.


Panggilan itu terhubung, Lili dengan cemas menceritakan kondisi Regan kepada Dokter Irawan.


"Bagaimana dokter, apa yang harus kami lakukan? Apa butuh perawatan intensif di rumah sakit?" Tanya Lili dengan cemas.


"Tidak usah bu, itu reaksi biasa kalau pasien terlalu tertekan. Sebisa mungkin jangan sampai Regan tertekan ya. Jangan lupa obat yang sudah saya resepkan untuk di minum saudara Regan ya," ucap Dokter Irawan mengingatkan.


"Terimakasih dokter, kalau begitu saya akhiri dulu." ucap Lili yang akhirnya bisa bernapas lega setelah Dokter Irawan memberikan pernyataan bahwa kondisi Regan masih dalam reaksi yang wajar.


*


Regan mengucek matanya perlahan, setelah meminum pil yang bundanya berikan kepadanya rasanya Regan langsung mengantuk dan tidak tahan lagi untuk terjaga lebih lama lagi. Apalagi dengan sakit yang luar biasa menyergap kepalanya tanpa permisi.


Mata itu mengerjap, membukanya perlahan dan menyesuaikan dengan cahaya ruang keluarganya. Lelaki itu bangkit dari tidurnya,


"Regan, kamu sudah bangun?" Tanya Septian berjalan mendekati Regan.


Regan mengangguk, "Regan pasti membuat kalian cemas ya?" Tanya Regan merasa tidak enak kepada orang tuanya karena membuat mereka cemas.


"Kamu ini bicara apa Regan, kamu anak ayah dan bunda satu-satunya. Sudah sewajarnya kami cemas melihat kondisimu yang tiba-tiba saja memburuk," jawab Septian menatap Regan dengan pandangan tidak tega.


Lili berjalan mendekati anak dan juga suaminya di sana dengan semangkuk bubur ayam yang baru saja matang ditandai dengan uap yang kini keluar dari bubur itu.


"Bunda tadi menghubungi Yona, katanya dia akan kemari," ucap Lili membuat Regan terbelalak.


"Hah? Bunda menghubungi Yona? Kenapa?" Tanya Regan.


"Ck, bunda tahu kamu tadi habis datang ke rumah Yona kan? Tadi mommynya memberitahu bunda kalau kamu kesana." Jawab Lili membuat Regan menyenderkan kepalanya di kursi sofa.


Regan menghela napas panjang, lelaki itu berdecak kesal membayangkan percakapannya dengan Yona tadi saat dirinya berada di rumah wanita itu.


Lili dan Septian saling menatap, andai saja mereka berdua bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Regan mungkin saja Regan dan Yona tidak harus saling menyakiti seperti sekarang ini.


"Dan dia juga tidak akan datang kemari meskipun bunda menelponnya," lanjut Regan menghela napasnya.


Lili menatap Regan dengan prihatin, kenapa juga Regan dan Yona harus mengalami cobaan naas seperti ini.


"Kalaupun Regan bisa mendapatkannya, Regan kasihan dengan Yona," ucap Regan membuat kedua orang tuanya menatapnya bingung.


"Kenapa kasihan? Kamu lelaki hebat Regan, semua wanita akan mengatakan hal yang sama dengan bunda," jawab Lili tidak terima mendengar Regan berkata seperti itu.


"Regan tidak normal, Regan punya kekurangan. Bagaimana mungkin Yona harus menghabiskan hidupnya dengan lelaki bermata sial*an ini seumur hidupnya?" Kekeh Regan membuat hati Lili dan Septian seakan tengah dicubit dari dalam.


"Bicara apa kamu ini! Mana ada kekasih yang saling mencintai berpikir seperti itu," hardik Septian tidak tahan lagi melihat anaknya menyedihkan seperti itu.


"Sayangnya kami bukan sepasang kekasih," jawab Regan tersenyum kecut.


"Ayah dan bunda akan menjodohkanmu dengannya, seperti keinginan orang tua Yona juga sejak dulu," ucap Lili membuat Regan melebarkan matanya menatap sang bunda.


"Menjodohkan kami? Bunda serius?" Tanya Regan dengan binar mata bahagia saat ini.


Lili mengangguk, begitu juga dengan Septian yang sudah diberikan briefing istrinya sebelum mereka mengatakannya kepada Regan. Lelaki itu terpekik bahagia, tidak menyangka apa yang kini ada di dalam otaknya akan menjadi kenyataan.


Tapi bagaimana jika operasinya nanti tidak berjalan dengan lancar? Regan takut Yona akan menghabiskan seumur hidupnya dengan lelaki cacat seperti dirinya. Lelaki yang bahkan tidak tahu kapan wanita itu memasang wajah bahagia ataupun terluka. Lelaki yang tidak tahu rona merah di wajah wanita itu saat Yona tersipu malu.


Bisakah? Bisakah Regan berjuang untuk perasaan yang kini membuncah di dalam hatinya? Apakah Yona akan menerima perjodohan mereka dan menerima Regan apa adanya?


Mereka semua menoleh, saat suara mesin mobil berhenti di depan rumah mereka.


"Itu pasti Yona," ucap Regan disetujui oleh kedua orang tuanya.


Regan langsung berbaring di depan orang tuanya, "Bunda, bilang Regan masih pingsan begitu. Oke?" Ucap Regan mengedipkan matanya kearah bunda dan ayahnya.


Lili menganga melihat kelakuan Regan, begitu juga Septian yang kini menatap jengah putranya. Benar memang kata orang, jatuh cinta tidak mengenal umur. Bagaimana mungkin lelaki dewasa seperti Regan melakukan ekting pingsan hanya untuk menarik simpati wanita yang dia cintai? Huhhh, kekanakan sekali lelaki itu.


Suara Yona yang mengucap salam membuat Lili berdiri, menghampiri Yona dan menyambut wanita itu dengan senyuman lembut khas dirinya.


"Aduh, kenapa Yona malah datang kesini. Bunda jadi tidak enak tadi menghubungi Yona," ucap Lili menyentuh lengan Yona, meminta wanita itu untuk mengerti kekhawatirannya sebagai seorang ibu.


"Tidak apa kok bunda, Yona juga tidak ada kegiatan di rumah," jawab Yona tersenyum.

__ADS_1


Padahal, tubuh Yona sendiri menggigil kedinginan karena hujan-hujanan di tepi danau tadi sore. Mendengar Lili menelponnya dan memberitahu kondisi Regan saat ini membuat Yona tidak bisa berpikir panjang selain datang ke sana dan melihat langsung bagaimana kondisi Regan saat ini.


"Bagaimana keadaan Regan bunda?" Tanya Yona khawatir.


'Yesssss, Yona ternyata mengkhawatirkan diriku,' batin Regan bersorak bahagia mendengar Yona bertanya kepada Lili dengan nadanya yang tersirat kecemasan.


"Ya begitulah, Regan masih belum membuka matanya setelah minum pil tadi saat dia sudah sadar," jawab Lili menunjuk Regan yang kini berbaring di sofa dengan mata terpejam pura-pura.


Yona menghampiri Regan, wanita itu bersimpuh di depan wajah Regan meletakkan telapak tangannya di kening lelaki itu.


"Sepertinya Regan sedikit demam," ucap Yona menatap Lili dan Septian.


Lili menatap suaminya, "Iya, tadi ayah sudah menelpon Dokter Irawan dan katanya Regan tidak apa-apa," jawab Septian meyakinkan Yona bahwa Regan tidak apa-apa.


Yona memastikannya sekali lagi, wanita itu menyentuh kening Regan lebih lama.


'Hei, kenapa tangannya terasa hangat. Jangan-jangan Yona yang demam!' batin Regan.


Kemudian tangan Yona turun ke wajah Regan, menyentuh leher Regan dan pipi lelaki itu.


Deg deg deg..


"Suara apa itu? Apa obat yang Regan minum membuat jantungnya berdebar?" Tanya Yona mendekatkan telinganya ke dada lelaki itu.


"Hahh?" Ucap Lili dan Septian bersamaan.


'Jantung sial*an, jangan membuatku malu bodoh,' umpat Regan membatin.


"Iya tadi bunda baca memang efeknya debar jantung yang berlebihan, itu wajar kok Yona. Iya kan sayang?" Tanya Lili meminta dukungan dari suaminya.


Lili mencubit pinggang suaminya hingga Septian berjingkat.


"Hehe iya wajar, lagi pula itu kan resep dokter jadi aman," jawab Septian diangguki Yona.


Yona berdiri, rambut wanita itu tanpa sengaja menyapu wajah Regan hingga aroma wangi rambutnya menyeruak begitu saja memenuhi indera penciuman lelaki itu.


'Please segera menjauh, atau aku terkena serangan jantung sekarang!' teriak Regan membatin detak jantungnya yang terasa akan meledak sekarang juga.


Yona memilih duduk di sofa yang kosong, "Bunda dan ayah kalau mau istirahat silahkan, Yona yang ngurus Regan," ucap Yona memberikan pengertian kepada orang tua Regan.


"Benar, ayah belum makan malam," jawab Septian membuat Lili mendelik menatapnya kesal.


Yona tersenyum, mempersilahkan orang tua Regan untuk makan malam terlebih dahulu. Yona yakin, mereka pasti sangat cemas melihat kondisi Regan yang tiba-tiba saja memburuk. Ataukah mungkin semua ini karena pertengkaran mereka berdua?


"Aku jadi merasa bersalah denganmu," lirih Yona yang masih bisa di dengar oleh Regan.


Yona menghembuskan napasnya, tidak menyangka pertengkaran mereka bisa berakhir dengan kondisi Regan yng tiba-tiba saja drop.


Yona melihat bubur yang masih utuh belum di makan sama sekali. Wanita itu menyentuhnya,


"Awwww, panas sekali," pekik Yona berjingkat kaget saat tangannya menyentuh mangkuk beling itu yang terasa sangat panas.


Mendengar teriakan Yona, Regan langsung membuka matanya dengan sempurna.


"Ada apa? Kamu terluka?" Tanya Regan yang langsung bangun dari tempat duduknya dan menyentuh tangan Yona dengan sangat cemas.


Lelaki itu meniup tangan Yona, mengelusnya perlahan berharap rasa panas di tangan Yona segera menghilang.


"Bukannya kamu..?" Mata Yona menatap Regan memicing curiga.


Regan mendongak, "Suara teriakanmu mengagetkan diriku, siapapun akan bangun mendengarmu berteriak seperti itu," keluh Regan berpura-pura marah kepada Yona.


Yona menundukkan kepalanya, "Maafkan aku, aku jadi membangunkanmu," ucap Yona merasa bersalah karena sudah berteriak secara spontan.


Regan hanya melirik Yona dari sudut matanya, lelaki itu memegangi kepalanya.


"Arghh, kepalaku pusing mana perutku lapar sekali. Yona bisa panggilkan bunda untuk menyuapiku?" Tanya Regan dengan ringisan pura-pura yang dilakukannya untuk menarik simpati dari Yona.


"Kamu lapar? Biar aku saja yang menyuapimu. Bunda sedang menyiapkan makan malam untuk ayahmu," jawab Yona menawarkan dirinya.


"Baiklah kalau kamu memaksa," jawab Regan pada akhirnya.


Lelaki itu tersenyum puas di dalam hatinya.


Yona mengambil satu sendok bubur itu, menyuapkannya kepada Regan.


"Blehhhh, fyuhhhh panas sekali. Kamu mau membunuhku?" Ucap Regan mengipasi mulutnya dengan kedua tangannya dan membuka mulutnya dengan lebar.


"Maafkan aku, tapi apa tidak apa kalau aku tiup?" Tanya Yona kepada Regan.


"Tidak apa, dari pada kamu membunuhku. Kalau perlu cicipi dulu dengan mulutmu sebelum menyuapkan ke mulutku," ucap Regan kepada Yona.


Yona hanya mengangguk, wanita itu meniup setiap suapan bubur dan mencicipinya lebih dulu dengan mulutnya sebelum menyuapkannya ke dalam mulut lelaki lemes itu.


"Kalau begini kan lebih enak," ucap Regan tersenyum geli.

__ADS_1


-


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN JUGA VOTE NOVEL INI YA TEMAN-TEMAN BIAR MASUK 20 BESAR 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2