
Dehaman dari Dokter Stefano membuat Regan dan Yona teringat akan posisi saat ini. Wajah mereka berdua berubah menjadi kemerahan karena malu, bukan karena malu aksi ciuman penuh cinta di antara keduanya disaksikan banyak orang. Melainkan karena mereka malu tidak bisa menahan diri hingga lepas control tanpa melihat dimana, dan sedang apa mereka datang ke rumah sakit itu.
Yona memalingkan wajahnya, sedangkan semua orang yang menyaksikan ciuman panas mereka berdua hanya menatap keduanya dengan mata berbinar bahagia. Kapan lagi mereka bisa melihat adegan seperti itu secara langsung jika bukan hari ini. Ah, beruntungnya mereka bisa melihatnya tanpa harus menunggu seseorang merekam Regan dan Yona seperti video lamaran mereka berdua.
“Maaf, bolehkah saya meminta ponsel saya?” tanya perawat yang ponselnya kini berada dalam genggaman tangan Regan.
Wajah lelaki itu memerah, tanpa berpikir lebih panjang lagi Regan segera menyerahkan ponsel itu kepada sang perawat.
“Hadeuhh, sepertinya daun muda tidak bisa mengontrol gejolak asmara,” ucap Dokter Gustin Justavo dengan bahasa Indonesia yang hanya dirinya, Livia, Regan, Yona, dan Dokter Irawan yang mengerti arti perkataan yang keluar dari mulutnya.
“Kalian boleh kembali bekerja, sepertinya jam makan siang sudah selesai,” ucap Livia melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
Wanita itu menatap para perawat di depannya, meskipun pekerjaan mereka semua sangat bagus menurut review dari Dokter Gustin Justavo yang tidak lain adalah suaminya, tapi mereka juga sangat suka bergosip dan berkumpul hingga membuat mereka menunda pekerjaan yang seharusnya bisa mereka selesaikan secepat mungkin jadi molor.
“Mmm, kami permisi dulu, Dokter, Mrs.Justavo, Mr.Regan, dan Miss Yona,” ucap mereka membungkuk untuk mengundurkan diri mereka dari sana.
“Jangan lupa beri tahu Dokter Anclair,” ucap Dokter Gustin Justavo mengingatkan anak buahnya.
“Baik, Dokter. Saya tidak akan melupakan apa yang sudah Anda perintahkan,” ucap perawat yang diberi tugas menyatakan kesanggupannya.
Dokter Gustin Justavo mengangguk, kemudian para perawat itu bubar jalan menuju tempat mereka bekerja seperti semula karena jam makan siang telah usai. Lelaki itu menatap Regan dan Yona, alisnya bertaut dengan sorot mata menggoda.
“Hadeuhhh,” ucap Dokter Gustin Justavo memutar bola matanya jengah, sedangkan Livia terkekeh kecil melihat ekspresi wajah suaminya dan semua orang yang nampak canggung satu sama lain.
Livia merangkul lengan suaminya, “mereka mengingatkan kita, benarkan sayang?” tanya Livia dengan matanya menatap suaminya menggoda.
“Hadeuhhh, mari Dokter Irawan mampir saja ke ruangan saya. Di sini kita seperti lalat yang mengerubungi makanan manis, tidak ada artinya,” ucap Dokter Stefano berlagak kesal, padahal lelaki itu begitu memahami gejolak muda yang juga menghampiri dirinya.
Dokter Irawan terkekeh, lelaki itu dengan senang hati menerima ajakan Dokter Stefano untuk singgah ke ruangan dokter spesialis radiologi itu.
“Mari, dengan senang hati saya menerima undangan Anda, Dokter Stefano,” jawab Dokter Irawan tersenyum ke arah Dokter Stefano.
__ADS_1
“Kita tinggalkan saja dulu pasangan bucinersss yang sudah mendarah daging ini,” lanjut Dokter Stefano mempersilahkan Dokter Irawan untuk mengikuti langkahnya menuju ruangan sang dokter spesialis radiologi itu.
“Syirik aja itu bujangan, makanya sampai umur 29 tahun belum juga menikah,”cibir Dokter Gustin Justavo membuat Livia terkikik geli.
“Dokter Stefano belum menikah?” tanya Yona yang turut penasaran dengan sosok karismatik seperti Dokter Stefano.
Lelaki tampan, berambut coklat terang dengan model cepak, ditambah dengan mata berwarna abu-abu membuat lelaki itu memiliki pesona luar biasa yang tidak bisa untuk Yona lewatkan sejak tadi. Jujur saja, semua wanita pasti akan berpendapat yang sama dengan Yona jika melihat sosok seperti Dokter Stefano.
“Iya, Dokter Stefano pernah memiliki masa lalu yang buruk dengan seseorang,” ucap
"Ouh, begitu rupanya. Pantas saja dokter seperti dirinya masih single sampai sekarang," ucap Yona membuat Regan menoleh cepat ke arah wanita itu.
Matanya memicing tajam, rasanya panas sekali dalam hati Regan ketika mendengar Yona memuji lelaki lain di depannya.
"Memangnya lelaki seperti dirinya itu dalam konteks apa?" Tanya Regan dengan menatap Yona tajam.
"Ya seperti dirinya, masa seperti kamu? Ada-ada saja pertanyaanmu ini," ucap Yona menatap Regan jengah.
"Bukan, maksudku kenapa kamu seperti menyayangkan Dokter Stefano masih single sampai sekarang?" kukuh Regan ingin mendengar jawaban dari Yona.
"Aku tidak ingin menjawab pertanyaan lelaki yang tengah cemburu, sama saja menyulut api!" Jawab Yona melipat kedua tangannya ke depan dada.
Livia mendengus, baru saja semua orang mengagumi betapa romantisnya pasangan itu. Tapi beberapa saat kemudian kebiasaan mereka yang suka sekali berdebat membuat perasaan kagum dalam hati Livia lenyap entah ke mana.
"Stop! Aku malas mendengar pertengkaran kalian," ucap Livia menengahi Regan yang nampaknya ingin menyanggah argumen dari wanitanya.
"Sudahlah, katanya kita mau ke Rumah Kanker kan? Sekalian aku ingin berdonasi ke sana," ucap Yona membuat Livia berbinar bahagia.
Wanita itu menyentuh tangan Yona, senyumnya terukir begitu lebar mendengar Yona akan berdonasi di Rumah Kanker yang menjadi tanggung jawab dirinya sebagai pendiri sebuah yayasan khusus penderita kanker yang kekurangan biaya berobat.
Bahkan Livia tidak tanggung-tanggung untuk mencari para donatur besar demi kelangsungan Rumah Kanker yang telah menjadi mimpinya sejak dulu. Mimpi untuk meringkan para penderita kanker dalam segi biaya dan mengurangi tekanan dalam hati mereka ketika berada dalam satu atap yang sama dengan mereka yang bernasib sama.
__ADS_1
Livia berharap, Rumah Kanker itu mampu menjadi wadah bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Dan semua itu tidak akan berjalan selancar ini sampai sekarang kalau tidak ada campur tangan dari suaminya, Dokter Gustin Justavo, yang selalu memotivasi wanita itu untuk terus menekuni apa yang dia anggap sebagai hal bermanfaat dalam hidupnya.
Semua mimpi Livia telah terwujud, di sana sudah banyak pasien kanker yang mampu sembuh dengan bantuan dana dari para donatur sekaligus kehebatan media para teman-teman Dokter Gustin Justavo yang berkenan menjadi tenaga medis untuk menangani mereka tanpa memandang patokan harga.
"Yona, kamu serius kan?" Tanya Livia dengan matanya berbinar bahagia.
"Serius nggak ya? Aku pikir-pikir dulu lah," ucap Yona dengan kekehan geli sengaja menggoda wanita itu.
Livia menepuk pelan lengan Yona, "kamu mah suka becanda atuh," jawab Livia dengan aksen sunda membuat Regan mengerutkan keningnya.
Rasanya, wanita yang telah menjadi istri dari adalah sosok tidak asing bagi Regan. Suara, postur tubuh, dan body language dari Livia Justavo mengingatkan Regan akan sosok wanita yang sangat dicintai oleh sahabatnya.
Tapi, mungkinkah seseorang yang telah mati dan telah dia lihat jasadnya masuk ke liang lihat bisa hidup kembali? Lelaki itu menajamkan penglihatannya, berharap matanya akan berfungsi normal barang sedetik-pun untuk melihat sosok wanita yang sejak awal membuatnya berpikir keras atas sosok itu.
"Tidak mungkin," gumam Regan membuat Yona dan Livia menatap dirinya bingung.
"Regan, kamu kenapa?" Tanya Yona menatap Regan khawatir.
Regan menggeleng, "tidak, maksudku mana mungkin kamu menyukai Dokter Stefano bukan?" Ucap Regan tanpa menyadari apa yang baru saja dia ucapkan.
"Hah? Menyukai Dokter Stefano? Kamu benar-benar cemburu dengan Dokter Stefano?" Ucap Yona menatap Regan dengan senyumannya menggoda.
"Ternyata Regan sejak tadi diam berfikir soal itu, konyol sekali!" Ejek Livia terkekeh, diikuti kekehan dari Yona.
Sialan ini mulut! Kenapa juga harus mengucapkan kalimat menjijikkan seperti itu!
-
YUHUUUUUU AUTHOR EMESH BALIK LAGI, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN FOLLOW DONG...
KALAU SEPI KOMEN AUTHORNYA MALASS-MALASAN NIEHHH..
__ADS_1
*OH YA MAU MINTA TOLONG JANGAN LUPA MAMPIR KE LAPAK AUTHOR DI DRE*AME. CARI TIYA CORLYNINGRUM DAN MOHON TEKAN LOVES UNTUK KETIGA CERITAKU DI SANA YA TEMAN-TEMAN 🙏🙏🙏 TENANG SAJA, MASIH GRATIS TIS TIS KINYIS-KINYIS TANPA MEMBAYAR SEDIKITPUN KOK*.
CUKUP TEKAN LOVESS AJA DI SANA, OKAY MBEB AUTHOR TUNGGU KEDATANGAN KALIAN 😊😊😊🙏