
Suasana terasa sangat memanas saat ini, tatapan mata dengan sorot kesedihan semua tertuju kepada sang ibunda dari lelaki yang terkapar tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Lili, menatap Yona dengan tatapan yang tidak bisa mereka artikan. Mata itu memerah dengan air mata yang meluruh tanpa henti di pipinya.
Begitu juga Yona, wanita itu tidak menyangka dengan apa yang baru saja Lili katakan. Rasanya itu bukan seperti ibunda dari calon tunangannya yang selalu menyapanya dengan senyuman hangat khas miliknya. Ibunda dari Regan yang selalu membelanya ketika bertengkar dengan Regan meskipun Yona lah yang bersalah. Seorang ibu yang selama ini menyayangi Yona sama seperti menyayangi anaknya sendiri.
“Bunda” lirih Yona menatap Lili tidak menyangka.
Lili menatap Yona dengan mata yang berkilat marah, semua ini tidak akan terjadi jika saja Yona tidak memaksakan kehendaknya demi memesan souvenir pertunangan mereka padahal pemilik took sudah berjanji akan datang ke rumah Keluarga William untuk mengantarkan souvenir yang telah mereka pesan.
Kalau saja mereka tidak pergi, Regan pasti tidak akan mengalami hal semacam ini. Kalau saja Regan masih berada di rumah, lelaki itu tidak mungkin mendapatkan luka hantaman hingga membuat Regan harus masuk ke rumah sakit dan mendapatkan operasi untuk menjahit luka di kepalanya.
Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Regan? Parahnya, lelaki itu cidera di kepalanya. Lili sungguh tidak bisa membayangkan jika putra sematawayangnya mengalami hal buruk akibat insiden yang terjadi sekarang ini.
“Perawat, tolong bawa putraku ke ruang perawatan” ucap Septian kepada para perawat yang bertugas membawa Regan untuk masuk ke ruang perawatan lelaki itu saat rawat inap hingga lelaki itu sadarkan diri dan diperbolehkan pulang oleh dokter.
“Baik pak” jawab perawat rumah sakit itu mengajak rekan kerjanya untuk kembali mendorong sang pasien memasuki ruang perawatan yang telah Yona pilih saat wanita itu menandatangani persetujuan operasi dan menjadi wali untuk Regan sebelum orang tua lelaki itu datang kesana.
Perawat yang ditugaskan untuk mengantarkan Yona juga membujuk Yona untuk kembali duduk di kursi roda untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut perihal kesehatan wanita itu yang nampaknya terlihat kurang sehat dan juga lemas setelah melewati musibah mengerikan ditambah dengan mendonorkan darahnya untuk Regan.
“Yona, kita bicarakan nanti. Sekarang kamu harus mendapatkan perawatan” ucap Shinta memberikan pengertian kepada Yona.
“Tapi mommy, bunda-“
Septian mengangguk, memberikan calon menantunya itu sebuah sinyal untuk menuruti saja perintah Shinta. Lili tengah berada dalam rasa cemas dan juga dilema sebagai seorang ibu. Lili membutuhkan seseorang yang bisa dia salahkan dalam kondisi ini agar hatinya sedikit tenang. Septian mengelus pundak istrinya, memberikan ketenangan kepada wanita itu.
“Sabar, tidak ada yang tahu kapan cobaan akan datang” ucap Septian mengingatkan kepada istrinya bahwa sudah menjadi kewajiban mereka sebagai manusia untuk menerima segala porsi kesusahan dan kebahagiaan yang telah Tuhan siapkan untuk mereka.
Hendra mengajak Shinta untuk mengikuti langkah perawat Yona mendorong putri mereka memasuki kamar rawat Yona. Meninggalkan Lili dan Septian yang masih diam mematung atas kejadian yang menimpa putra mereka.
“Aku ingin menemani putraku” lirih Lili dengan suaranya serak karena terlalu lama menangis.
Septian menuntun langkah istrinya yang sangat lemah, mendengar kabar bahwa Regan dan Yona berada di rumah sakit cukup membuat istrinya menjadi sangat sedih. Apalagi melihat kenyataan bahwa putra mereka satu-satunya mendapatkan musibah yang mengharuskan operasi tentu saja membuat Lili sebagai seorang ibu merasa terpukul sekaligus sangat cemas.
Lili dan Septian memasuk ruang rawat Regan, Yona memilihkan lelaki itu ruang rawat VVIP yang memiliki satu ruang tidur untuk para penunggu pasien dan juga satu set meja sofa tamu disana. Lili duduk di kursi disamping ranjang Regan. Wanita itu meraih tangan Regan yang kini tengah di infus. Lili mengelusnya perlahan dengan mata berkaca-kaca.
“Bunda tidak tahu harus berkata apa lagi, bunda tidak bisa melihat Regan terkapar disini dengan keadaan memilukan seperti ini. Regan harus bangun, bunda dan ayah menunggu Regan bangun.” Lirih Lili tidak kuasa membendung air matanya.
Lili menatap wajah Regan yang terlihat sangat pucat pasi, hati wanita itu terasa nyeri melihat putranya seperti itu.
Ibu mana yang rela melihat anaknya terbaring tidak berdaya di rumah sakit dengan luka hantaman benda tajam yang bisa membahayakan nyawa putranya? Tidak ada yang tahu bagaimana kondisi kesehatan Regan saat ini sebelum lelaki itu tersadar dan melakukan cek kesehatan lebih detail lagi.
"Sayang, kamu harus istirahat. Kamu terlalu banyak menangis" ucap Septian mengingatkan istrinya yang memiliki penyakit lemah jantung diusia tuanya untuk menjaga kesehatannya sendiri.
"Kamu ini bagaimana anak lagi kena musibah masih mikirin istirahat!" Kesal Lili menatap suaminya dengan jengkel.
Sedangkan Septian hanya menganga tidak percaya mendengarkan istrinya memarahi dirinya yang berniat baik mengingatkan Lili dengan kesehatan wanita itu sendiri. Sama halnya seperti Lili, Septian juga merasakan kecemasan yang sama dengannya. Regan tetaplah anak mereka satu-satunya, tidak mungkin jika Septian tidak mengkhawatirkan Regan.
Hanya saja, lelaki itu nampaknya tidak begitu bisa mengungkapkan perasaan sayangnya dengan sang putra yang memang lebih dekat dengan sang bunda daripada dengan dirinya. Septian memang sering menghabiskan waktunya bekerja di luar negeri sebagai dosen di salah satu Universitas Negeri disana. Lelaki itu memutuskan kembali ke Indonesia karena kesehatan istrinya yang tidak terlalu baik.
"Sayang memangnya hanya kamu yang mencemaskan Regan? Kita semua mencemaskan Regan dong. Aku, kamu, Yona dan keluarganya" ucap Septian membuat lelaki itu teringat perilaku Lili kepada Yona yang dianggapnya sangat keterlaluan tapi juga sangat wajar dalam kondisi mereka yang tengah tertimpa musibah.
Apalagi Lili seorang ibu, yang hanya memiliki satu anak. Semua orang pasti tahu bagaimana perasaan wanita itu sebagaimana perasaan ibu-ibu lain pada umumnya.
__ADS_1
"Oh ya sayang, bukankah sikap kamu pada Yona tadi terlalu kejam ya?" Ucap Septian duduk di sofa tamu karena kakinya sudah terasa berdenyut terlalu lama berdiri dari menunggu Regan didalam ruang operasi hingga sekaramg dirinya baru bisa duduk disana.
Lili menatap suaminya, wanita itu menghela napasnya panjang memikirkan apa yang sudah dia lakukan pada Yona. Lili sebenarnya tidak tega dan juga tidak bermaksud bersikap sekasar itu dengan Yona. Tapi entahlah, dirinya hanya butuh orang yang bertanggung jawab atas keadaan yang menimpa anaknya satu-satunya.
"Semua ini karena salah Yona, andai saja dia tidak memaksa untuk-" ucapan Lili terhenti ketika suaminya menyela.
"Tidak ada yang tahu nasib seseorang, semuanya sudah ditentukan, Regan mengalami musibah jam segini, di jalan ini, bersama siapa, karena siapa. Seharusnya kamu bersyukur Yona bersama Regan dan dengan cepat memanggil polisi" ucap Septian untuk pertama kalinya berbicara panjang kali lebar hanya untuk membela anak-anak mereka.
Septian merasa tidak enak dengan orang tua Yona. Mereka pasti merasa sedih melihat anak mereka diperlakukan seperti itu oleh Lili. Belum lagi pertunangan keduanya sudah dekat. Apakah mungkin pertunangan Regan dan Yona akan tetap dilangsungkan dengan kondisi mereka saat ini dan juga kasus mereka kini masih belum tau kemana arahnya akan mengalir.
"Aku tidak ingin membahasnya" jawab Lili menutup percakapan mereka tentang Yona.
*
Salah satu dari dua perampok yang meyebabkan masalah di hidup Yona dan Regan akhirnya tertangkap saat akan melarikan diri. Satu lagi perampok yang mendapatkan pukulan pembelaan diri dari Yona tengah dirawat di salah satu rumah sakit yang tidak jauh dari kejadian perkara.
Lelaki itu bernama Sutrisno dan juga Nardi. Sutrisno harus dilumpuhkan dengan tembakan senjata api karena berusaha kabur dari kejaran polisi yang hendak menangkapnya. Sedangkan Nardi, lelaki itu memiliki kondisi yang tidak jauh berbeda dari Regan. Hanya saja luka lelaki itu tidak terlalu parah karena Yona yang menghantamnya. Berbeda dengan Regan yang mendapatkan hantaman dari lelaki yang memiliki tenaga extra.
"Bagaimana kondisinya dokter?" Tanya polisi yang mengantarkan Nardi ke rumah sakit.
"Lukanya lumayan serius tapi tidak apa-apa, tapi tetap saja pasien harus di rawat intensif di rumah sakit dan belum bisa melakukan proses penyidikan ya pak" jelas sang dokter itu.
Polisi yang bertugas mengerti, lelaki itu berjaga didepan ruang rawatan Nardi sampai menunggu perintah dari atasan mereka.
Disisi lain, para petugas yang melakukan olah tempat kejadian perkara sudah mengamankan barang bukti yang akan mereka bawa untuk dijadikan alat bukti dalam persidangan.
"Lalu bagaimana dengan status wanitanya? Dia bisa dituntut percobaan pembunuhan dalam upaya pembelaan diri?" Tanya salah satu tim olah TKP disana.
"Kita mintai keterangannya sebagai saksi, setelah mendengar penjelasannya baru kita tentukan statusnya setelah penyidikan" ucap penyidik yang juga turut hadir disana.
Kabar datangnya salah satu anggota kepolisian sebagai penyidik sampai di telinga Hendra. Lelaki itu memberitahu putrinya untuk mempersiapkan diri.
"Penyidik dalam perjalanan kemari, jawab saja yang berhubungan dengan kasus perampokan. Kalau mereka tanya soal kamu melakukan perlawanan, jawab saja pengacara kita yang akan mendampingimu" ucap Hendra memberitahu putrinya untuk tidak gugup.
"Sayang, kamu sudah mengabari pengacara kita kan? Bagaimana kalau Yona ditahan dengan tuduhan percobaan pembunuhan?" Tanya Shinta yang terlihat sangat cemas.
Yona hanya meremas tangannya gugup, tidak menyangka dia akan mengalami hal semacam ini menjelang hari pertunangannya bersama Regan yang hanya tinggal menghitung hari saja.
"Kamu ini bicara apa? Yona melakukannya karena salah satu perampoknya hampir menusuk Regan dengan pisau" ucap Hendra memberikan penjelasannya kepada Shinta.
Shinta menoleh kearah Yona, wanita itu menggenggam tangan putrinya untuk menyalurkan kekuatan.
"Semuanya akan baik-baik saja, mommy dan daddy bersamamu" ucap Shinta menarik bibirnya dan tersenyum hangat.
Shinta sendiri merasa sangat menyesal atas semua yang kini terjadi pada putrinya. Hampir sepuluh jam berlalu, namun Regan juga belum menunjukkan tanda-tanda sadarkan diri. Sedangkan hari pertunangan mereka tinggal lima hari saja. Kalau memang situasi mereka tidak bisa melangsungkan pertunangan, berita terburuknya mungkin pertunangan keduanya akan batal untuk dilaksanakan.
Tapi bukan itu yang sekarang harus dikhawatirkan. Kondisi Regan dan juga masalah baru yang membelit Yona telah menanti mereka untuk mereka hadapi.
Ketukan di pintu ruang rawat Yona membuat mereka menoleh. Satu polisi dan satu lelaki gagah dengan pakaian formal khas penyidik ditambah satu dokter yang akan memberikan penjelasan tentang kondisi Yona.
"Dokter, bisakah kami memberikan pertanyaan kepada nona Yona Anantasya William?" Tanya penyidik itu membaca nama lengkap Yona dari surat tugas yang dia terima untuk memastikan identitas wanita itu.
__ADS_1
"Bisa silahkan saja" ucap sang dokter menjelaskan bahwa kondisi Yona sudah bisa untuk saling tanya jawab meskipun kondisi mental wanita itu mungkin belum kembali sehat sepenuhnya setelah mengalami kejadian tragis bersama dengan calon tunangannya.
"Maaf bapak, ibu, biarkan kami melakukan tugas kami sebentar" ucap polisi yang menamani penyidik itu kepada Hendra dan Shinta.
Shinta mengelus puncak kepala Yona, wanita itu mengangguk pertanda mengerti.
Orang tua Yona sudah keluar dari ruang perawatan wanita itu. Setelah memastikan pintu benar-benar tertutup, sang penyidik mendekat kearah Yona.
"Bagaimana kabar nona hari ini?" Tanya sang penyidik sebelum melontarkan pertanyaan perihal kasus yang menimpa Yona.
Yona hanya mengangguk dengan lemas, "Saya baik" jawab Yona dengan suara yang sangat lirih.
"Karena saudari dalam kondisi yang baik dan bisa menjawab pertanyaan dari saya. Maka saya selaku penyidik yang menangani kasus yang melibatkan saudari Yona dan saudara Regan akan menanyakan beberapa pertanyaan."
"Berapa pertanyaan?" Tanya Yona mendongak menatapnya.
'Ini pertama kalinya aku bertemu dengan model yang sangat terkenal itu' pekik sang penyidik dalam hati. Andai saja ini bukan pekerjaannya, mungkin dia akan menanyakan nomor ponsel Yona.
"Ada tujuh" ucap sang penyidik membuat mata Yona melebar.
Mereka pikir Yona tersangka perampokan itu hingga memberondongnya dengan tujuh pertanyaan?
"Bisakah anda ceritakan bagaimana awal mulanya?"
Yona mengangguk, wanita itu kembali mengingat kejadian semalam yang mungkin saja akan wanita itu ingat seumur hidupnya. Untuk pertama kalinya Yona melewatkan pengalaman mainstream dan juga action seperti semalam.
Belum lagi keberaniannya memukul kepala perampok itu.
Yona menjelaskan semuanya, tanpa mengurang-ngurangi ataupun melebih-lebihkan.
"Siapa yang memukul kepala tersangka Nardi?" Tanya sang penyidik membuat Yona menelan salivanya.
Wanita itu meremas selimut rumah sakit, menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.
"Kepala saya pusing" ucap Yona memegangi kepalanya.
Dia harus menunda pertanyaan sang penyidik hingga kuasa hukum keluarganya datang.
"Tinggal satu pertanyaan, bisakah anda menjawabnya?"
"Memaksa saksi untuk menjawab pertanyaan dalam kondisi tidak sehat melanggar etika pak penyidik" ucap seseorang membuat mereka semua menoleh.
Pengacara keluarga Yona telah datang, lelaki muda yang umurnya berada dipenghujung angka dua puluhan datang disaat yang tepat.
Pengacara itu menunjukkan surat kuasa resmi antara dirinya dan juga Yona.
"Sekarang, yang sehubungan dengan klien saya akan menjadi tanggung jawab saya" ucapnya menjelaskan.
"Tidak masalah, semua orang berhak mendapatkan kuasa hukum" jawab sang penyidik menatap Yona dan pengacaranya.
"Tapi sepertinya klien saya tidak dalam kondisi yang sehat untuk melakukan penyidikan" protesnya kepada sang penyidik.
__ADS_1
Penyidik itu menutup buku kasusnya.
"Secepatnya, anda akan datang ke kantor polisi entah sebagai saksi maupun tersangka atas Nardi" ucapnya menatap Yona lekat-lekat.