
Terlihat lalu lalang perawat dan dokter memenuhi rumah sakit tempat lelaki itu bekerja. Dokter Gustin Justavo, spesialis bedah tapi juga memiliki keahlian ilmu cancer yang namanya sudah melampau tinggi ke kancah internasional. Bahkan semua operasi yang dia lakukan sekarang harus direkam untuk didokumentasikan guna pembelajaran para dokter lainnya yang sebidang dengan dirinya.
“Dokter Gustin,” panggil seorang perawat membuatnya menoleh.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Gustin Justavo menaikkan satu alisnya.
Perawat itu mengangguk, “Anda diminta bertemu dengan Ketua Yayasan rumah sakit ini, Dok.”
“Dimana aku harus menemuinya?” tanya Gustin yang memang sebelumnya belum pernah menemui Ketua Yayasan tempatnya bekerja.
Rumah sakit tempatnya bekerja adalah rumah sakit swasta, Gustin memilih bekerja disana sebagai dokter bedah.
“Anda ditunggu di ruang kepala, Dok.”
Gustin menangguk, “Tolong bawa ini ke ruangan saya,” ucap Gustin menyerahkan hasil pemeriksaan rutin pasiennya kepada perawat itu yang kebetulan bekerja di bangsalnya.
Gustin berjalan menuju ruangan Kepala rumah sakit tempatnya bekerja, lelaki itu mengetuk pintu ruangan itu perlahan.
“Masuk,” sahutan dari dalam membuat Gustin membuka pintu ruangan itu.
Mereka tersenyum menyambut kedatangan Gustin,
“Dia dokter muda yang keahliannya tidak bisa diragukan lagi,” ucap Kepala Rumah Sakit Singapura kepada semua orang.
Disana hadir juga Dokter Irawan yang kebetulan mengajak Ketua Yayasan datang kesana. Dokter Irawan mengulurkan tangannya, menjabat tangan Dokter Gustin Justavo.
“Saya Dokter Irawan, dari Indonesia,” ucap Dokter Irawan memperkenalkan dirinya di depan Gustin.
Lelaki itu menegang, mendengar nama Indonesia terucap dari mulut Dokter Irawan seakan membuat Gustin lemas seketika. Ada banyak rahasia yang saat ini Gustin sembunyikan dari Indonesia, sosok wanita yang kini tinggal bersamanya, wanita yang telah dia klaim sebagai miliknya.
Ada kilatan membara dari mata Dokter Gustin Justavo, “Saya Dokter Gustin Justavo,” jawab Gustin memperkenalkan dirinya.
Ketua Yayasan meminta Gustin untuk duduk, “Silahkan duduk Dokter Gustin, kita akan merundingkan banyak hal. Ada pasien special untukmu,” ucap Ketua Yayasan membuat Dokter Gustin menatap mereka penasaran.
“Saya membawa hasil pemeriksaan pasien, dia mengidap penyakit prosopagnosia tipe acquired,” ucap Dokter Irawan menunjukkan rekam medic dari kepala Reganera Abimanyu Louis.
Dokter Justavo menerimanya, melihat hasil rekam medic itu dengan teliti.
“Korban kecelakaan?” tanya Dokter Gustin Justavo memastikan.
“Pendarahan di kepalanya, pasien juga kehilangan ingatannya dalam jangka waktu enam bulan sebelum terjadinya kecelakaan,” ucap Dokter Irawan menjelaskan.
“Lalu apa yang ingin dilakukan?” tanya Dokter Gustin menatap semua orang disana.
“Saya ingin Anda berkenan untuk melakukan operasi kepada pasien,” ucap Dokter Irawan kepada Dokter Gustin.
Dokter Gustin Justavo mengangguk, “Saya akan mempelajari penyakitnya lebih dulu, setelah saya menemukan masalahnya baru kita akan melakukan tindakan,” jawab Dokter Gustin tersenyum simpul.
Haruskan Dokter Gustin Justavo kembali berurusan dengan orang Indonesia lagi? Sedangkan Gustin mati-matian menghindari Negara itu untuk dia kunjungi.
“Pasrahkan saja semuanya dengan Dokter Gustin, dia andalan Negara kami,” ucap Ketua Yayasan kepada Dokter Irawan.
“Pihak kami sangat berharap ada langkah yang bisa kita ambil untuk penyakit ini, saya tahu kalau para peneliti sekalipun belum menemukan cara yang pasti untuk penyembuhannya. Setidaknya dengan bantuan Dokter Gustin Justavo akan meringankan beban kami. Saya selaku dokter pribadi pasien atas nama Regan sekali lagi mengucapkan terimakasih kepada Anda,” ucap Dokter Irawan diangguki Dokter Gustin.
“Bisakah saya mendengar lebih detail, bagian mana saja yang sempat anda tangani Dokter Irawan?” tanya Dokter Gustin kepada Dokter Irawan.
“Kalian bisa mendiskusikan di ruangan pribadi Dokter Gustin, silahkan Dokter Irawan.”
Kepala Rumah Sakit mempersilahkan Dokter Gustin untuk membicarakan perihal penyakit Regan secara pribadi di ruangannya. Ini adalah kode etik seorang dokter, yang mana segala apapun jika berhubungan dengan pasien haruslah menjadi sebuah rahasia. Mereka bisa mendiskusikan secara public jika itu sudah mendapatkan izin dari yang bersangkutan.
“Silahkan masuk Dokter Irawan,” ucap Dokter Gustin mempersilahkan Dokter Irawan masuk ke dalam ruangannya.
Ruangan bertuliskan ‘Kepala Bangsal Bedah’, tempat yang menjadi persinggahan Dokter Gustin selama bekerja disana.
“Usia anda masih sangat muda, tapi anda sangat sukses Dokter Gustin,” ucap Dokter Irawan memuji Dokter Gustin.
Dokter Gustin hanya terkekeh ringan, lelaki itu mengambilkan minuman untuk Dokter Irawan.
“Maaf hanya seadanya,” ucap Dokter Gustin tersenyum.
“Tidak apa-apa, saya merasa senang Anda menyambut saya secara pribadi,” jawab Dokter Irawan membalas senyuman Dokter Gustin.
“Oh ya Dokter Irawan, ini dari yang saya lihat ada kerusakan di otak kiri pasien. Anda yakin itu hanya amnesia sebagian?”
Dokter Irawan menatap Dokter Gustin lekat, “Maksud Dokter Gustin bagaimana?”
Dokter Gustin menunjukkan sesuatu di gambar yang kini dia pegang, “Kemungkinan, pasien bahkan tidak akan ingat apa yang kemaren dia lalui,” jelas Dokter Gustin dengan ekspresi wajahnya yang tegang.
“Pasien tidak mengalami keluhan lagi setelah operasi, hanya mengeluhkan sakit di kepalanya saja yang terkadang muncul. Saya kira pasien ini tidak sampai separah itu, sampai sekarang dia bisa beraktivitas normal seperti sebelumnya,” jelas Dokter Irawan kepada Dokter Gustin.
__ADS_1
“Itu yang saya harapkan, semoga hanya amnesia sementara. Apakah saya harus datang ke Indonesia?” tanya Dokter Gustin.
Jelas saja Dokter Gustin tidak bisa meninggalkan wanitanya sendirian di Singapura. Wanita itu harus selalu dalam pengawasannya. Bahkan ponsel miliknya terhubung langsung dengan CCTV di rumah yang Dokter Gustin dan wanitanya tempati. Wanita yang hanya berpura-pura kehilangan ingatannya untuk tetap tinggal bersama Gustin. Wanita yang telah merelakan cintanya di masa lalu kepada saudara angkatnya, termasuk meninggalkan seluruh keluarganya yang tertipu atas satu alasan bahwa dirinya telah mati.
“Tidak, nanti saya dan pasien saya yang akan datang kemari. Dokter Gustin tinggal memberikan kabar, kapan sekiranya operasi ini bisa dilakukan,” jelas Dokter Irawan kepada Dokter Gustin.
Dokter Irawan menghela napas panjangnya, “Saya secara pribadi sangat simpati dengan pasien saya, tiga hari menjelang pertunangannya kecelakaan itu terjadi. Dan parahnya, pasien saya melupakan tentang calon tunangannya yang sangat mencintainya,” lanjut Dokter Irawan membuat Dokter Gustin menatapnya penuh minat.
Sepertinya kisah cinta pasien yang akan dia tangani sangat mengesankan, bukankah jika dirinya menolong lelaki itu sama saja dia menolong pasangan saling mencintai untuk kembali bersatu?
Dokter Gustin membuka buku agendanya, mencari jadwal yang kosong untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan awal lebih dulu pada pasien yang akan dilakukan.
“Satu minggu lagi bisa datang kemari, saya juga ingin melihat si pejuang cinta,” kekeh Dokter Gustin Justavo yang penasaran akan sosok Reganera Abimanyu Louis.
Lelaki itu menatap hasil rekam medic yang kini berada di tangannya, bayangannya melayang pada beberapa tahun silam. Dimana dirinya pertama kali bertemu dengan wanita yang terlihat sangat frustasi karena penyakitnya.
****
“Sayang, kamu sedang apa?”
Gustin Justavo menoleh, wanita cantik dengan sorot mata teduh dan menenangkan menatapnya berbinar. Gustin merentangkan tangannya, meminta wanita itu mendekat kearahnya.
“Ini, aku sedang membaca rekam medic pasien,” jawab Gustin memeluk wanita itu erat, begitu merindukan wanitanya seharian ini.
Livia, wanita itu seharian menghabiskan waktunya di rumah kanker yang ada di pusat kota. Wanita itu sering berada disana untuk membagikan kisah hidupnya yang bisa hidup kembali dari kematian yang sudah ada di depan matanya. Kehadiran Gustin Justavo yang ikut andil dalam pengobatannya membuatnya masih hidup sampai sekarang.
Sebuah penelitian yang Gustin Justavo lakukan saat itu, kini menjadi ilmu pengobatan kanker yang cukup terkenal, dan mendapatkan penghargaan atas keberhasilan Gustin saat itu. Tentu saja tanpa diketahui oleh keluarga wanita itu yang telah menganggap Livia mati setelah mendengarkan jam kematian dari Gustin Justavo.
Gila, Gustin Justavo memang gila. Lelaki itu berani memisahkan anak dari orangtuanya demi rasa cinta yang membuncah di hatinya ketika menangani Livia disaat-saat kritisnya. Lelaki itu tidak ingin membiarkan Livia kembali bersama kekasihnya dulu. Gustin sengaja memilih jalan yang sangat berat karena dia tahu benar jika Livia sembuh saat itu, Livia pasti masih bersama dengan kekasihnya di masa lalu.
“Kenapa kamu selalu melihat gambar jeroan-jeroan seperti ini sih, lihat gambar-gambarku saja,” keluh Livia mencebikkan bibirnya kesal.
Gustin mencium pipi wanita itu, “Aku bahkan sangat hafal setiap inchi tubuhmu sekaligus bagian dalamnya sayang,” bisik Gustin Justavo di telinga Livia hingga wajah wanita itu bersemu merah.
“Jangan menggodaku Dokter Gustin Justavo!” ucap Livia memicingkan matanya.
Gustin terkekeh, lelaki itu menarik tubuh Livia hingga duduk diatas pangkuannya.
“Dia lelaki yang melupakan tunangannya,” jelas Gustin menatap hasil rekam medic Regan dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.
“Kenapa bisa?” tanya Livia penasaran.
Mata Livia terbelalak membaca nama lelaki yang akan menjadi pasien dari suaminya.
“Reganera Abimanyu Louis?” gumam Livia dengan tubuhnya yang kini menegang.
Regan? Regan yang itukah? Teman baik dari sosok lelaki di masa lalunya yang kini sudah dia tutup rapat perasaannya karena mengetahui sosok yang dia cintai sudah menikah dengan saudara angkatnya.
‘Kak Regan,’ batin Olivia menatap nama itu dengan nanar.
“Sayang, kamu mengenal pasien ini?” tanya Gustin memicingkan matanya menatap Livia Justavo.
Livia Justavo menggeleng, suaminya tidak boleh tahu kalau dirinya tidak amnesia. Livia harus tetap berpura-pura seakan dirinya tidak mengingat semua masa lalunya setelah dua tahun lamanya koma diambang kematian yang siap membawanya kapan saja.
“Tidak, aku hanya terkejut melihat isi kepalanya,” jawab Olivia yang malah membuat Gustin Justavo tertawa mendengar ucapan dari istrinya.
Gustin mencium puncak kepala Livia, bahagia sekali rasanya lelaki itu bisa hidup bersama dengan Livia meskipun hanya memakai identitas palsu yang Gustin Justavo dapatkan dari orang kepercayaannya. Mereka menikah secara sah, baik agama maupun Negara.
“Sayang, aku lapar,” ucap Gustin Justavo mencium singkat bibir istrinya.
“Memangnya Mrs.Ketrada tidak memasak?” tanya Livia menatap suaminya dengan kening berkerut.
“Bukan perutku yang lapar sayang, tapi yang di bawah ini yang sedang meronta-meronta setiap kali melihatmu,” ucap Gustin Justavo menghirup aroma tubuh istrinya yang seperti candu baginya.
Livia mendengus, wanita itu segera menjauhkan tubuhnya dari Gustin sebelum lelaki itu mulai melancarkan aksinya.
“Lanjutkan saja pekerjaanmu Dokter Gustin Justavo, aku sedang halangan sekarang,” jawab Livia menaikkan satu alisnya.
Mata Gustin terbelalak, sial sekali nasibnya. Sudah seminggu dia berpuasa karena harus lembur di rumah sakit. Tapi giliran dia sudah terbebas dari tanggungjawabnya, kini dia harus berpuasa lagi untuk tidak bercinta dengan istrinya? Astaga, kenapa nasibnya sesial itu?
“Kamu pasti berbohong kan?” tanya Gustin memicingkan matanya menatap Livia.
“Kamu mau melihatnya sendiri? Silahkan saja,” kekeh Livia menatap geli ekspresi frustasi suaminya.
Gustin mengacak rambutnya kesal, “Ya sudah sana buatkan aku makan malam, biar perutku saja yang makan,” ucap Gustin pada akhirnya.
Wanita itu terkekeh, mencium kening suaminya dengan lembut. Inilah pilihan Livia, dia memilih lelaki itu untuk hidup bersama dengannya. Livia merelakan segala sesuatu tentang kehidupannya di masa lalu hanya untuk Gustin Justavo, lelaki gila yang sudah kehilangan akalnya hanya karena seorang wanita.
“Aku mencintaimu Gustin,” ucap Livia menangkup wajah suaminya dan mencium bibir lelaki itu sekilas.
__ADS_1
“Aku juga mencintaimu sayang,” jawab Gustin Justavo tersenyum lembut kearah wanita yang sangat dia cintai.
“Bolehkah aku meminta satu permintaan kepadamu suamiku?” tanya Livia menatap suaminya lekat.
Gustin menaikkan alisnya, ini pertama kalinya Livia meminta sesuatu permintaan kepada dirinya.
“Gustin, aku ingin meminta sesuatu hal untukmu.”
“Katakan, apa yang harus aku lakukan dan berikan untukmu?” tanya Gustin Justavo mengelus lembut rambut Livia.
Livia menatap hasil rekam medic dari Regan, “Bisakah kamu menyelamatkannya juga?” tanya Livia menunjuk hasil rekam medic Regan dengan matanya.
“Tumben sekali kamu meminta hal seperti itu kepadaku, ada apa?” tanya Gustin balik.
“Aku tidak ingin ada perpisahan Gustin, aku ingin pasangan yang saling mencintai bisa kembali berbahagia,” jelas Livia menarik napasnya panjang dan menghembuskannya perlahan.
Gustin mengangguk, “Tanpa kamu minta sekalipun dia sudah menjadi tanggung jawabku sebagai seorang dokter. Tapi karena kamu yang memintanya, maka aku akan semakin berusaha untuk kesembuhan lelaki yang tengah jatuh cinta itu,” ucap Gustin mengelus pipi Livia.
Livia tersenyum, setidaknya Gustin harus berusaha untuk kesembuhan Regan selaku pasiennya. Livia tidak ingin ada perpisahan lagi seperti kisah cintanya bersama sosok lelaki di masa lalunya. Livia tidak ingin mereka mengalami hal yang sama seperti dirinya, melihat lelaki itu berpisah darinya karena sebuah tebing yang tidak bisa Livia jangkau kembali.
‘Aku selalu dekat dengan mereka, bahkan takdir sekalipun membawa orang-orang terdekatku menuju kehidupanku yang sekarang. Siapapun wanita yang bersama dengan Kak Regan, aku mohon bertahanlah, kamu wanita kuat,’ batin Livia penuh harap.
****
Mobil yang dikendarai Regan membelah jalanan Ibu Kota Jawa Barat, lelaki itu duduk dengan senyuman merekah. Tangannya menggenggam erat tangan seorang wanita yang kini duduk di sampingnya. Wanita itu menoleh kearah Regan,
“Apa yang sedang kamu lihat sejak tadi? Ada kotoran di wajahku?” tanya Yona langsung berkaca dengan kaca tengah mobil lelaki itu.
“Tidak ada, kamu terlalu cantik,” jawab Regan membuat Yona bersemu merah, padahal lelaki itu tidak bisa melihat wajah. Bagaimana dia tahu kalau wanita yang duduk di sampingnya terlalu cantik?
Mereka berdua telah sepakat untuk menjalani hubungan mereka, mempererat kembali sesuatu yang pernah renggang sebelumnya. Regan tersenyum mengelus rambut Yona yang terurai, lelaki itu merasa sangat bahagia bisa kembali berdamai dengan Yona setelah sebelumnya bertengkar karena rasa kalut yang menggelayuti pikiran Regan.
Suara dering ponsel Regan membuat lelaki itu melepaskan pegangan tangannya dari Yona, lelaki itu menghubungkannya dengan audio connectivity di mobilnya.
“Hallo Dokter Irawan?” sapa Regan kepada sang penelpon.
“Regan, ada kabar bahagia untukmu,” jawab Dokter Irawan membuat Yona dan Regan saling menatap.
“Kabar bahagia apa itu Dokter Irawan?” tanya Regan penasaran.
Dokter Irawan terdengar terkekeh di seberang sana, “Dokter Gustin Justavo bersedia untuk menangani penyakitmu, minggu depan dia memintamu datang ke rumah sakit tempatnya bekerja,” jawab Dokter Irawan.
Sontak saja Yona dan Regan merekahkan senyumnya, itu bukan lagi kabar bahagia, tapi kabar yang sangat sangatttt membahagiakan bagi mereka berdua kan?
“Dokter Irawan tidak becanda kan?” tanya Regan dengan suaranya yang terdengar sangat antusias.
Inilah akhir yang telah dia tunggu-tunggu selama ini, Regan telah menunggu kesembuhannya. Akhirnya Dokter spesialis bedah yang kabarnya sangat terkenal itu bersedia untuk menangani penyakitnya. Bisakah Regan berharap jika ini adalah kesembuhan yang dia idam-idamkan selama beberapa bulan belakangan?
“Aku baru saja menemuinya, kalau aku tidak langsung datang mungkin Dokter Gustin akan mementingkan mereka yang menjadi pasien tetapnya,” sahut Dokter Irawan menjelaskan.
“Terimakasih atas kabar bahagianya ini Dokter Irawan, kalau Anda sudah sampai di Indonesia saya akan segera menemui Anda,” jawab Regan dengan matanya berkaca-kaca.
“Aku turut bahagia untukmu, sudah dulu ya pesawatku akan take off sebentar lagi,” ucap Dokter Irawan menutup panggilan telepon diantara mereka berdua.
Regan menitikkan air matanya, begitu juga Yona yang turut bahagia atas kabar yang Regan dapatkan dari Dokter Irawan. Yona memeluk Regan dengan erat, wanita itu tidak bisa berkata-kata apa lagi selain menitikkan air mata harunya.
“Selamat Regan, semoga ini awal yang baik untuk perkembangan kesehatanmu,” ucap Yona memberikan selamat kepada Regan.
Lelaki itu mengangguk, Regan mengelus puncak kepala Yona. Ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Regan, jawaban dari Yona yang menerima perjodohan mereka, dan juga kabar bahwa Dokter Gustin Justavo telah menerima diri untuk menangani penyakit Regan.
“Aku tidak bisa menyangka kalau hari ini akan tiba secepat ini,” ucap Regan dengan suara serak.
Yona mendongak menatap mata Regan, wanita itu menghapus air mata di sudut mata Regan.
“Kamu akan sembuh, kamu akan mendapatkan kembali penglihatan normalmu, dan juga ingatan di masa lalumu Regan,” ucap Yona tersenyum meyakinkan..
Regan mengangguk, lelaki itu bersyukur memiliki Yona di sampingnya. Regan teringat pertanyaan Yona tadi malam, bagaimana jika Regan memiliki wanita yang dia cintai sebelumnya? Apa yang harus Regan lakukan jika memang itu terjadi? Siapa yang akan Regan pilih, wanita di masa lalunya ataukah Yona yang kini duduk bersama dengannya melewati hujan badai dalam hidupnya.
“Yona, maukah kamu bertahan di sampingku apapun yang akan terjadi?” tanya Regan kepada Yona.
“Aku berjanji, apapun yang terjadi aku akan di sampingmu Regan, aku berjanji kepadamu,” jawab Yona memeluk tubuh Regan, menikmati kehangatan dada bidang lelaki pemilik hatinya.
***
-BERSAMBUNG- (JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN FOLLOW AKUN AUTHOR) :*
HELLO TEMAN-TEMANNN, MAAPKEUN YA AKU JARANG NONGOL HUHUHU.
AUTHORNYA SANGAT SIBUK SEKALI, ADA DEADLINE DI DRE*AME YANG HARUS END DALAM WAKTU EMPAT MINGGU. TEMEN-TEMEN BANTU TAP LOVES CERITA AUTHOR DI DRE*AME YUK, CARANYA KALIAN CUKUP LOGIN DI SITUS DRE*AME, CARI NAMA ‘TIYA CORLYNINGRUM’ TAP LOVES KETIGA CERITA AKUHH DI SANA YAAA :*MATUR NUWUN TEMEN-TEMEN HEHE
__ADS_1