My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
I Will Be Your's


__ADS_3

Seluruh penumpang kapal pesiar terpekik ketika cincin yang Regan pegang menggelinding entah kemana arahnya. Goncangan di kapal pesiar itu nampaknya membuat rencana Regan gagal total. Parahnya, semua mata kini menatapnya denga berbagai arti, ada yang menatapnya kasihan, ada juga yang menatapnya dengan tatapan pasrah mereka dengan apa yang kini lelaki itu alami.


Yona mengulurkan tangannya, membantu Regan untuk berdiri. Regan menatap Yona dengan perasaan yang tidak enak, kebahagiaan dan sinar berbinar di mata wanita itu lenyap entah kemana. Tapi Regan tahu jika semua ini adalah kesalahannya karena terlalu ceroboh membiarkan cincin itu lepas dari genggamannya.


“Yona, maafkan aku,“ ucap Regan menatap Yona dengan ekspresi wajah yang sangat kacau.


Wanita itu tersenyum meskipun ada rasa kecewa menghinggapi perasaannya, tapi apa yang bisa Yona lakukan? Semua ini tidak bisa di prediksi.


“Aku akan mencari cincinnya, kamu tenang saja hmm,“ ucap Regan mengelus pipi Yona.


Lelaki itu meminta bantuan para penumpang kapal, berharap cincin itu berada di bawah mereka dan acara yang sempat gagal bisa dilanjutkan kembali. Yona mengusap wajahnya yang terasa panas, padahal dia sudah sangat menantikan moment itu terjadi. Apalagi moment ini tidak bisa terulang kembali nanti.


Siapa yang tidak ingin seperti Yona? Berharap lamaran romantic di tengah laut lepas diatas kapal pesiar dan berada di bawah gemerlap kembang api tahun baru pertanda tahun baru dan lembaran baru siap untuk dimulai kembali.


“Maaf, permisi,“ ucap Regan saat lelaki itu berjongkok untuk melihat di bawah meja.

__ADS_1


Padahal Regan bisa membelinya lagi, tapi ini bukan perkara membeli lagi atau mungkin berapa harga cincin itu. Ini perkara tanggung jawabnya, tanggung jawab Regan karena memulai acara lamaran itu tanpa berpikir bahwa situasi seperti ini mungkin akan terjadi tanpa bisa lelaki itu duga sebelumnya.


Ck, Regan sudah mempersiapkan diri dan mentalnya sebaik mungkin untuk malam ini malah gagal begitu saja.


Mungkinkah seharusnya Regan melamar Yona saat mereka sudah menepi disalah satu tempat wisata yang akan dia kunjungi? Namun ini adalah moment yang sangat pas, lihat saja acara pesta yang sangat elegan dan glamour. Belum lagi kembang api yang terus saja menghiasi langit malam meskipun pergantian jam ke tahun yang baru sudah berlalu sejak dua puluh menit yang lalu.


“Regan, berhenti,“ ucap Yona berjalan ke arah Regan.


Lelaki itu tidak perlu mempermalukan dirinya untuk sebuah cincin yang bisa dia beli kapan saja mereka mau. Regan harus memperhatikan situasi mereka kini yang menjadi pusat perhatian ditengah pesta perayaan tahun baru di kapal pesiar itu.


Yona menghela napas panjang, wanita itu menarik tangan Regan meminta lelaki itu segera berdiri.


“Berdiri Regan,“ pinta Yona kepada Regan.


“Sebentar saja, aku tidak ingin membuatmu kecewa,“ ucap Regan masih dengan posisinya berjongkok, mata lelaki itu menatap Yona dengan serius.

__ADS_1


“Lupakan cincin itu, sekarang berdiri. Aku bilang berdiri Regan!“ pinta Yona tidak sanggup menahan sesak di dadanya melihat Regan melakukan hal seperti itu hanya untuk dirinya.


“Kenapa?”


Yona menatap Regan. “Aku tidak ingin mempermalukanmu,” jelas Yona kepada Regan.


Regan menggenggam kedua tangan Yona, lelaki itu mengecup kedua tangan wanita itu penuh dengan cinta.


“Aku berjanji akan memberikanmu yang lebih baik daripada yang hilang,“ ucap Regan kepada Yona.


Interaksi mereka tidak luput dari sorotan mata iri para wanita single yang ada disana. Seperti Yona, mereka juga mengidolakan lelaki seperti Regan. Lelaki yang bertanggung jawab hingga akhir atas apa yang telah lelaki itu lakukan.


“Aku tidak peduli tanpa atau dengan cincin itu, jawabanku tetap sama. I will be yours!“ ucap Yona dengan pandangan tulus menatap mata teduh menenangkan milik Regan, lelaki yang telah menyentuh hatinya begitu dalam dengan segala tingkah menyebalkan lelaki itu.


“Maafkan aku,“ lirih Regan membawa Yona ke dalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2