
Panggilan alam yang tidak bisa Regan tahan akhirnya kembali membuat ijab qobul pernikahannya dengan Yona menjadi tertunda. Lelaki itu menghapus keringat yang bercucur membasahi pelipisnya.
“Ah sial, kenapa aku jadi mules beneran sih!” keluh Regan merutuki kesalahannya karena membohongi Shinta, mommy Yona, dengan beralasan bahwa lelaku itu mules padahal dia hanya ingin memilik waktu dengan Yona sebentar saja.
Tapi nampaknya karma datang kepada dirinya di waktu yang tidak tepat. Jika seharusnya Regan menyelesaikan ijab qobul agar Yona secepatnya menjadi istrinya, panggilan alam justru sedikit lebih cepat dari pada niatnya. Regan harus segera menyelesaikan panggilan alamnya dan langsung kembali untuk menunaikan ijab qobul dirinya bersama dengan Yona.
Sedangkan para suami dan istri tertawa terbahak-bahak membayangkan kesialan Regan pada hari ini. Adegan komedi secara alami membuat mereka semua terhibur. Heran sekali, Regan lelaki paling tenang di antara teman-temannya justru melakukan kesalahan fatal hingga panggilan alam memanggilnya. Kegugupan yang mendera lelaki itu ternyata begitu mempengaruhi konsentrasinya.
“Hust, jangan menertawakan Regan, kasihan,” ucap Sisil tapi mulut wanita itu sendiri masih tersenyum lebar dengan wajahnya memerah saking tidak bisa menahan geli melihat kekonyolan dari Regan.
“Asli, Regan sangat konyol,” kekeh Nadia menggelengkan kepalanya.
Mereka semua menikmati suguhan komedi pada acara pernikahan Regan dan Yona.
“Jangan lupa kamu pernah salah menyebut nama dalam ijab qobul kita,” cibir Melodi yang memang menjadi wanita paling kalem dan lemah lembut di antara para istri lainnya.
Suaminya memeluk tubuh Melodi dengan erat, Rehan begitu beruntung memiliki istri sesabar Melodi yang tidak pernah merasakan cemburu meskipun Rehan masih terang-terangan memiliki perasaan kepada Olivia. Bagi Rehan, perbedaan dunianya dengan Olivia tidak menjadi penghalang perasaan yang masih tersisa untuk kekasih di masa lalunya.
Sepertinya Rehan belum mengetahuinya, bahwa Olivia telah kembali bersama keluarganya di Indonesia. Olivia dan Gustin Justavo datang ke rumah keluarga Bellvaria dengan ditemani Nadia bersama Fernando saat itu. Persis sekali seperti mimpi Regan ketika lelaki itu masih memejamkan matanya selama satu tahun lamanya.
Olivia dan seluruh keluarganya telah sepakat, menutup rapat-rapat berita bahwa dirinya telah kembali. Membiarkan Rehan dan Melodi mengetahui satu hal, Olivia sudah tidak berada lagi di tengah-tengah keluarga mereka. Banyak pertimbangan sebelum akhirnya Olivia memutuskan mengajak Gustin Justavo datang menyambangi tempat tinggal keluarganya. Wanita itu ingin mendapatkan restu orang tua sebagaimana pasangan-pasangan pada umumnya. Tidak pernah ada bayangan ayah, maupun ibu dalam kehidupan rumah tangganya bersama Gustin Justavo selama dua tahun belakangan. Wanita itu hanya hidup bersama Gustin Justavo, dengan menyibukkan dirinya mengurus Rumah Kanker yang telah dia bangun selama ini.
Dorongan dan juga nasihat-nasihat yang Nadia berikan kepada Olivia pada akhirnya mampu meruntuhkan dinding yang telah Olivia bangun selama ini. Bohong jika Olivia mengatakan bahwa dirinya tidak merindukan sosok ayah, ibu, dan adiknya selama ini. Olivia hidup seperti memakai cangkang baru, dengan nama lain, dan indentitas lain yang bagi Olivia sendiri itu nampak asing bukan seperti dirinya.
“Dokter Gustin Justavo tidak datang?” tanya Rehan mencari-cari sosok Gustin Justavo yang dia cari sejak tadi tetapi tidak menemukan batang hidungnya.
Melodi ikut menelisik ke kanan dan kirinya, mencari sosok dokter yang telah mengambil risiko untuk mengoperasi Regan meski saat itu kondisi Regan tidak memungkinkan menjalani operasi. Dokter Gustin Justavo memang layak untuk mendapatkan apresiasi dari Rumah Sakit Kusuma, kegigihan dan rasa kemanusiaan lelaki itu begitu tinggi sampai melupakan kemungkinan buruk bahwa lelaki itu bisa saja dipecat ketika operasi yang dia pimpin mengalami suatu kegagalan yang membuat kondisi pasien semakin buruk, parahnya lagi bisa meninggal dunia.
“Iya, aku juga tidak melihatnya,” jawab Melodi menyetujui ucapan suaminya.
Sisil dan yang lainnya ikut mencari-cari sosok Dokter Gustin Justavo. Jujur saja, pasangan Sisil-Nata dan Viona-Racka belum pernah bertatap muka langsung dengan sang dokter yang katanya begitu hebat. Kesibukan mereka pada bulan sebelumnya membuat kedua pasangan itu tidak mengikuti perkembangan kesehatan Regan, hanya memantau lewat grup chat karena Rehan dan Melodi sangat update tentang kondisi Regan setiap saat.
“Yah, padahal aku ingin menyapanya. Kata Yona dia sangat tampan,” ucap Sisil mengulum senyumnya, semburat merah mulai muncul di wajah ibu dua anak itu.
“Iya sangat tampan malah,” jawab Nadia mengelus perutnya, siapa tahu kepintaran dan ketampanan Dokter Gustin Justavo menurun pada anaknya.
Mata Fernando terbelalak melihat Nadia mengelus perutnya yang mulai membuncit. Lelaki itu menarik tangan Nadia agar tidak menyentuh perutnya lagi.
Nadia merasa bingung dengan kelakuan Fernando, wanita itu mengerutkan keningnya menatap suaminya.
“Apa yang kamu lakukan, Sayang?” tanya Nadia memicingkan matanya.
Fernando mencebikkan bibirnya kesal. “Jangan mengelus perutmu ketika kamu memuji lelaki lain. Anakku hanya boleh menuruni semua sikap, kepintaran, dan wajah rupawan hanya dari ayahnya saja!” sahut Fernando menggebu-gebu.
Nadia mengelus pipi suaminya dengan lembut, mendaratkan ciuman kecil di pipi lelakinya tanpa merasa malu meskipun mereka berada di antara banyak orang. Hormon kehamilannya membuat Nadia ingin terus bermanja-manja dengan suaminya.
“Kamu cemburu ya?” tanya Nadia dengan tatapan mata geli.
“Enggak, siapa juga yang cemburu. Dokter Gustin Justavo mah enggak ada apa-apanya denganku, gantengan aku jauh,” jawab Fernando dengan begitu percaya diri.
Para wanita menganga mendengar ucapan Fernando, detik selanjutnya mereka malah tergelak karena merasa lucu dengan jawaban dari lelaki itu.
“Lengan Dokter Gustin Justavo saja gagah,” ucap Melodi dengan mendeskripsikan bentuk lengan Dokter Gustin Justavo dengan pergerakan tangannya.
“Mama Alena, Aileen, ingat anakmu,” jawab Rehan menunjuk bayi kembarnya yang kini berada dalam gendongan Bella dan Ozan.
Melodi memutar bola matanya jengah, dasar memang suaminya tidak bisa melihat Melodi merasakan bahagia sedetik saja karena membayangkan lelaki lain.
“Beneran?” tanya Sisil dengan matanya terlihat sangat antusias.
__ADS_1
“Sisil, Nayna dan Zio bisa malu mempunyai mommy seperti dirimu,” ucap Nata begitu sarkas. Lelaki itu memberikan baby Zio ke dalam gendongan Sisil, membuat Sisil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Mi-mi,” gumam Zio yang berarti tengah memanggil Sisil dengan sebutan mommy.
“Ish aku jadi kesal, di umurku yang sekarang anakku sudah dua!” ucap Sisil dengan raut wajahnya ditekuk kesal.
“Sisil, kamu menyesal punya anak denganku?” seloroh Nata, terlihat tidak terima dengan kalimat yang keluar dari mulut istrinya.
Mana bisa seorang istri dan ibu berkata seperti itu. Bukankah seharusnya Sisil merasa bahagia karena memiliki suami penyayang seperti Nata dan anak-anak yang begitu menggemaskan, Queenayna dan Dirgazio. Di saat para wanita begitu mendambakan seorang keturunan, tapi Sisil malah sibuk menyesali pilihannya menikah dengan Nata dan melahirkan anak-anaknya.
“Hei, kenapa kamu begitu serius? Padahal aku hanya bercanda saja,” ucap Sisil terkekeh, mengelus wajah suaminya penuh kasih sayang.
“Cuma Viona yang hanya mengidolakan suaminya,” kata Racka begitu bangga, merangkul pundak Viona dengan mesra.
“Dalam mimpimu! Viona bahkan menyimpan foto Dokter Gustin Justavo yang aku kirimkan ke grup para istri,” ucap Nadia membuat Racka dan para lelaki menganga.
Para lelaki itu menatap istri mereka dengan sengit, tidak menyangka jika mereka akan melakukan hal sejauh itu. Menyimpan foto lelaki lain? Astaga, para istri itu memang sangat keterlaluan sekali!
“Kalian ya!” Kekesalan para suami sudah tidak bisa dia bendung.
“Fix, kita harus membuat istri kita bunting lagi biar sadar diri akan status mereka!” ucap Racka yang bagaikan hukuman mati untuk para istri.
“No!” pekik Sisil, Viona, dan Melodi bersamaan sampai-sampai para tamu undangan menatap mereka penuh tanya.
Perdebatan antara suami istri terhenti karena pengantin lelaki sudah datang kembali ke meja akad.
“Sudah lega, Re?” tanya Shinta tidak mampu menahan senyumannya.
Regan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa malu dengan tatapan semua orang yang kini dilayangkan kepada dirinya. Memang apa salahnya mendapatkan panggilan alam? Semua orang bisa kapan saja merasakannya.
“Sudah, Mommy,” jawab Regan mengatur napasnya, berusaha bodo amat akan tatapan geli para tamu undangan.
Regan menoleh, memicingkan matanya menatap bocah yang sebentar lagi akan menjadi keponakannya setelah dirinya menjadi suami sah dari Yona Anantasya William.
“Machiko, jangan begitu tidak sopan, Nak,” tegur Marva kepada anak tunggalnya.
Machiko mengacungkan kedua jarinya ke udara, meminta maaf kepada Regan.
Berbeda kondisi dengan kericuhan yang ada di sekitar meja akad. Di dalam kamar rias, Yona justru mondar-mandir tidak jelas karena tidak sabar menunggu ijab qobul segera dilakukan. Pintu kamar rias terbuka, Ariana masuk dengan senyuman kecil lolos dari bibir indahnya.
Yona segera menghampiri kakak iparnya.
“Kakak, bagaimana? Sudah selesai ijab qobulnya?” tanya Yona memberondong Ariana dengan beberapa pertanyaan.
Ariana menggeleng. “Sepertinya belum, Kakak ke sini untuk menemanimu. Siapa tahu kamu merasa bosan,” ucap Ariana menjelaskan.
“Memangnya apa yang sedang dilakukan Regan sampai-sampai ijab qobul memakan waktu yang begitu lama?” kesal Yona menekuk wajahnya.
Ariana tertawa. “Dia baru saja usai menyelesaikan panggilan alamnya,” jawab Ariana membuat mata Yona membulat sempurna.
“Astaga, lelaki itu!” Yona menghembuskan napas kasarnya.
Awas saja kalau dalam sepuluh menit Regan tidak segera menyelesaikan ijab qobulnya, biarkan saja Yona yang menggantikan lelaki itu dengan lelaki lain yang benar-benar serius dengan dirinya.
Merasakan kegugupannya telah mereda, Regan menatap Hendra, memberi kode untuk segera melafalkan ijab qobul agar pernikahannya dengan Yona terlaksana. Regan menjabat tangan Hendra, lelaki itu menarik napasnya.
Perut, jangan membuat masalah lagi, ya.
Regan mengucapkan mantra agar perutnya tidak membuat masalah untuk dirinya lagi.
__ADS_1
Lantunan ijab qobul akhirnya terdengar juga, kata sah dari semua tamu undangan menjadi pertanda bahwa Regan telah resmi menjadikan Yona sebagai istrinya. Menjadikan wanita itu satu-satunya wanita di dalam hidupnya setelah sang ibu. Akhirnya, setelah penantian lama Regan dan Yona bisa dipersatukan dalam mahligai rumah tangga.
Penghulu memimpin doa, doa untuk pernikahan pasangan Regan dan Yona agar sampai Til Jannah.
“Selamat, Regan,” ucap Hendra, merentangkan tangannya menyambut menantu barunya ke dalam dekapannya.
Hendra merasa bahagia, turut merasakan kebahagiaan yang Regan dan Yona rasakan ketika pernikahan itu telah terlaksana.
“Daddy serahkan Yona kepadamu, meskipun dia keras kepala, tapi dia wanita yang penurut,” ucap Hendra menepuk punggung Regan dengan penuh kasih sayang.
“Daddy tidak usah khawatir, Regan akan menjaga Yona seperti menjaga hidup Regan sendiri,” jawab Regan kepada daddynya.
Regan menghapus titik air mata di sudut matanya, perasaan haru menyeruak dalam diri Regan dan yang lainnya. Bahkan para teman Regan dan Yona turut menitikkan air mata, ikut merasakan kebahagiaan akhirnya Regan dan Yona bisa meneruskan hubungan mereka yang penuh lika-liku sampai ke pelaminan.
“Regan.” Shinta menangis tersedu-sedu, wanita itu memeluk Regan, mendekapnya dengan erat. Shinta tidak menyangka bahwa hari ini benar-tiba. Air mata Shinta bahkan mengalir deras membasahi jas yang Regan pakai saat ini.
“Mommy, Regan akan menjaga Yona dengan baik,” ucap Regan meyakinkan Shinta bahwa dia mampu menjaga Yona dengan baik.
Bukannya Shinta tidak rela putrinya menjadi istri dari Regan, bahkan Shinta begitu bahagia merasakan kebahagiaan putrinya. Regan adalah lelaki yang telah Shinta dan Hendra pilihkan untuk menjadi suami dari Yona. Dan Tuhan nampaknya sangat baik, pilihan mereka tidak salah. Regan telah membuktikan bahwa dia mampu menjaga Yona dengan nyawanya sendiri.
Kegilaan Regan melindungi Yona saat perampokan kala itu, menjadi pembuktian betapa Regan ingin melindungi Yona dengan segenap jiwa dan raganya. Tidak peduli meskipun nyawa Regan menjadi taruhannya.
Justru Regan merasa beruntung bisa melindungi wanitanya, memastikan Yona baik-baik saja karena wanita itu adalah pusat nyawa dan detak jantungnya.
“Mommy percayakan Yona kepadamu, Regan. Mommy minta tolong jaga Yona dengan baik,” isakan haru terus saja lolos dari Shinta.
Hendra menarik tangan Shinta, membawa tubuh istrinya masuk ke dalam dekapan hangatnya.
“Regan akan menjaga Yona dengan baik, jangan kahwatir,” ucap Hendra menenangkan istrinya. Hendra tahu kalau Regan pasti melakukan segalanya yang terbaik untuk putri mereka.
Lili dan Septian memeluk putra mereka. Orang tua Regan merasa bangga memiliki anak yang sangat baik dan bertanggung jawab seperti Regan. Perjodohan yang orang tua Regan dan orang tua Yona lakukan ternyata menjadi takdir cinta sejati bagi Regan dan juga Yona.
“Selamat anakku, akhirnya keinginanmu telah terwujud. Jadilah suami seperti lautan, berhati luas dan tidak hanya berpikir satu sudut pandang saja. Ayah yakin, kamu akan menjadi lelaki terbaik, suami paling baik,” ucap Septian menepuk punggung Regan.
Lili tidak kuasa menahan air matanya. “Bunda mendoakan semoga kalian berjodoh dunia dan akhirat, Nak,” ucap Lili mengelus puncak kepala putranya.
Dilanjutkan dengan para sahabat Regan mengucapkan selamat kepada Regan. Namun pikiran Regan malah terpecah, perasaan rindu dalam diri lelaki itu akan sosok Yona membuat perhatiannya pecah.
“Di mana Yona?” tanya Regan mencari-cari Yona.
“Dia ada di kamar rias,” jawab Sisil.
Shinta menghampiri Sisil. “Sisil, panggil Yona untuk ke mari,” pinta Shinta diangguki Sisil.
Tangan Sisil dipegang oleh Regan, lelaki itu menggeleng.
“Tidak usah dipanggilkan, aku akan memanggilnya sendiri,” ucap Regan membuat semua orang menatapnya penuh tanda tanya.
Mereka tersenyum geli, rupanya pengantin lelaki tidak sabar untuk menemui pengantin wanitanya. Tentu saja mereka semua bisa mengerti kalau Regan tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi menunggu Sisil memanggil Yona menemui dirinya.
“Eh, pamali loh,” goda Viona.
“Pamali teruss,” jawab Regan membuat mereka terkekeh.
Hendra menepuk bahu Regan. “Jemput istrimu,” ucap Hendra diangguki Regan.
Lelaki itu melangkahkan kakinya, tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya.
“Regan, jangan nyolong start dulu, ini masih sianggg,” teriak para lelaki disusul kekehan dari banyak orang.
__ADS_1