My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Rencana Pernikahan


__ADS_3

“Kyaaaa, kalian berani-beraninya melanjutkan semalam di kamar ini? Astaga kalian melakukan season dua?” pekik Shinta membuat Yona terkejut dan membuka matanya.


Yona mengucek matanya, wanita itu menatap Shinta dengan mata yang masih mengerjap.


“Mommy kenapa berteriak sih, Yona kaget tahu,” ucap Yona membuat Shinta menatapnya tajam.


“Justru mommy yang kaget dengan kelakuan kalian,” jawab Shinta, matanya jatuh pada handuk dan pakaian yang berserakan di depannya.


Shinta sungguh tidak menyangka jika Regan dan Yona akan melanjutkan aktivitas semalam setelah mengusirnya dan Hendra dari dalam kamar.


“Kalian ini astaga, keterlaluan sekali,” ucap Shinta menggelengkan kepalanya.


Yona menangkap sinyal buruk dari mata mommynya, wanita itu menoleh ke samping melihat Regan yang kini bergelung dengan selimut.


“Regan, apa yang kamu lakukan?” tanya Yona mengguncang tubuh Regan.


“Tidak, jangan buka. Aku belum memakai pakaian,” ucap Regan membuat mata Shinta dan Yona terbelalak.


Shinta menatap tajam Yona, “kalian, segera turun ke bawah!” titahnya kembali keluar dari kamar Yona.


Yona melempar bantalnya ke tubuh Regan, “kamu ini kenapa bugil masuk dalam selimut, mommy jadi salah paham kan sama kita?” ucap Yona terlihat sangat kesal kepada Regan.


“Ya masuk ke dalam selimut lah, mommy nyelonong aja masuk ke kama. Padahal aku kan belum selesai ganti baju,” ucap Regan menyanggah ucapan Yona ketika wanita itu mencoba untuk kembali menyalahkannya setiap orang tuanya salah faham dengan Regan dan Yona.


“Terus kenapa kamu masih ada di dalam selimut? Mau sampai kapan?” tanya Yona mendorong kaki Regan dengan tangannya.


Regan menyibak selimutnya, menampilkan wajahnya agar Yona melihatnya.


“Kamu mau melihatku bugil?” tanya Regan membuat wajah Yona bersemu merah.


“Ih, mana mau. Kamu ngacok!” ucap Yona memutar bola matanya jengah.


Regan menggunakan tangannya sebagai isyarat, “kalau begitu keluarlah dari sini, biarkan aku berganti baju lebih dulu,” ucap Regan.


“Ini kamar siapa kenapa kamu mengusirku? Tidak tahu diri sekali,” ucap Yona mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


Wanita itu segera berbalik dan berjalan menuju pintu kamarnya. “Jangan lama-lama,” ucap Yona memperingati Regan.


“Hmmmmmm,” jawab Regan malas.


Setelah pintu kamar tertutup, Regan langsung bangkit dari posisinya. Lelaki itu dengan cepat memakai baju yang sudah Yona siapkan sebelumnya. Regan menautkan kedua alisnya, merasakan pisangnya terjepit oleh celana dalam milik Yona.


“Celana dalam macam apa ini, kenapa sangat sempit,” ucap Regan mengeluh.


Lelaki itu memegang pisangnya, “semoga kami tidak mengkeret menjadi kecil karena memakai celana serapat ini,” ucap Regan berbicara dengan bat*ang tegang miliknya.


Regan segera keluar dari kamar Yona, lelaki itu berjalan menuruni anak tangga satu persatu hingga sampai di bagian paling akhir dari semua tangga. Terdengar suara orang tua Yona dan suara wanitanya tengah berbincang di ruang makan.


“Itu Regan sudah ke mari, ayo kita makan dulu,” ucap Hendra menghentikan perdebatan di antara Yona dan Shinta.


Yona menoleh, wanita itu melihat gelagat jalan Regan yang tidak biasa. Yona tiba-tiba saja terkekeh geli membayangkan kepemilikan Regan kesempitan karena celana dalam yang telah dia siapkan. Shinta yang melihat ekspresi wajah Yona yang bersemu merah membuatnya teringat akan malam pertamanya dengan Hendra sang suami.


“Benarkan, ada sesuatu yang terjadi di antara mereka tadi malam,” gumam Shinta menatap Yona dan Regan bergantian.


Mereka makan pagi bersama, seperti biasa Regan akan merecoki Yona untuk mengambilkan makanannya. Shinta dan Hendra hanya bisa mengulum senyumnya melihat hubungan Regan dan Yona yang tetap lekat melekat meskipun cobaan merundung mereka.


Yona sudah tahu, orang tuanya pasti akan menggunakan kesalah pahaman semalam dan tadi untuk menikahkan Yona dan Regan secepatnya. Begitulah orang tuanya, selalu bertindak seenaknya sendiri tanpa tahu situasinya.


“Kalian terlalu dekat untuk hubungan yang masih belum resmi, maka dari itu daddy meminta kalian segera meresmikan hubungan kalian sebelum godaan setan kembali menghampiri kalian. Daddy tidak ingin Yona hamil sebelum menikah, daddy bukannya menyudutkan mereka yang sudah terlanjur ya kita kan tidak bisa menghakimi jalan hidup orang. Cuma daddy tidak akan membiarkan kalian begitu dalam tanda kutip yang seperti kalian pikir,” ucap Hendra.


“Kalian harus menikah secepatnya,” lanjut Hendra membuat Yona menatap daddynya dengan mata membulat sempurna.


“Daddy serius?” pekik Regan dengan mata berbinar, inilah yang Regan tunggu-tunggu segera meresmikan hubungan dirinya dan Yona agar hubungan keduanya menjadi lebih terikat satu sama lain.


“Serius lah, kalian menolaknya?” jawab Hendra.


“Iya” “Tidak” jawab Regan dan Yona berkebalikan.


Shinta memutar bola matanya, mana bisa pernikahan dilakukan dengan pendapat yang berbeda. Memangnya pernikahan itu rundingan meja bundar yang harus menemukan titik temu sebuah permasalahan?


“Nanti kita bicarakan dengan orang tuamu Regan,” ucap Hendra membuat Yona membelalakkan matanya.

__ADS_1


“Daddy! Yona kan tidak setuju kenapa tidak mendengarkan jawaban dari Yona?” ucap Yona tidak terima karena jawabannya diabaikan oleh sang daddy.


“Kamu mah malu-malu tapi mau, nggak usah didengerin anakmu itu sayang,” jawab Shinta menatap Yona jengah.


“Whattt? Malu-malu tapi mau? Mommy keterlaluann sekali!” sentak Yona sangat kesal.


Keputusan orang tua Yona sudah final, mereka akan membicarakan lebih lanjut perihal pernikahan Yona dan Regan.


“Mommy, daddy kenapa tidak bertunangan dulu?” tanya Yona kepada orang tuanya.


“Tidak, nanti batal lagi!” jawab mereka berdua kompak.


“Batal lagi? Memangnya Yona pernah bertunangan sebelumnya?” tanya Regan menatap ketiga orang itu dengan sorot matanya menelisik.


----


PROMOSI PENGGALAN CERITA DI DREAME


WHAT IS LOVE* ?


Nayna berdiri dengan gemetar di depan kamar hotel tempat Donatan menginap. Ini kali pertama mereka bertemu sejak 2 hari yang lalu , dan Nayna sengaja mematikan ponselnya agar tidak berbuhungan dengan Donatan. Nayna menatap nanar pintu kamar hotel yang kini di tempati Donatan. Selama berada di Indonesia, lelaki itu menginap disana. Nayna merasakan ulu hatinya dicabik-cabik tanpa ampun, mengetahui kekasihnya bermain api dengan sahabatnya. 


Betapa jahatnya lelaki itu, sudah tahu wanita yang menjadi teman ranjangnya adalah sahabat kekasihnya kenapa mereka masih meneruskan hubungan seperti itu sampai berujung kehamilan Ekafi. Ataukah mereka memang sengaja membuat Nayna merasakan luka sedalam itu.


Seharusnya, Nayna tidak usah mempedulikan nasih Ekafi dengan Donatan. Mereka penghianat, jika mereka harus menderita maka itu adalah hukum karma mereka yang setimpal dengan lara hati yang kini menggerogoti batin Nayna. Kali ini Nayna akan memperjuangkan hak seorang anak yang bahkan belum lahir ke dunia, anak hasil perselingkuhan mantan pacar dan mantan sahabatnya. Dia akan memperjuangkan nasib jabang bayi yang masih berada dalam kandungan Ekafi.


Nayna mengadahkan wajahnya, tidak tahu benarkah kini yang dia lakukan. Nayna sengaja meminta izin Devaro untuk pulang lebih dulu dari jam pulang yang sebenarnya.


'Ketuk tidak, ketuk tidak, ketuk!' batin Nayna menimang.


Nayna mengetuk pintu kamar hotel itu dengan tidak sabaran, Nayna juga menekan tombel bel yang ada di samping pintu berkali-kali. Berharap seseorang di dalam sana mendengarnya dan dengan cepat membukakan pintu untuknya.


Klik, suara pintu yang terbuka dari dalam membuat Nayna menghembuskan napasnya kasar. Wanita itu melihat seseorang yang telah mematahkan hatinya berdiri di depan sana dengan wajah yang tidak terawatt, bahkan baju lelaki itu sangat lecek seperti telah dipakai seharian ini.


"Honey, ini kamu? Kemana saja kamu, aku mencarimu dan nomor ponselmu tidak aktif, aku mengkhawatirkanmu," ucap Donatan menatap Nayna tidak percaya, lelaki itu sama sekali tidak menyangka Nayna akan datang ke kamar hotelnya untuk menemuinya.

__ADS_1


__ADS_2