My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Regan VS Yogi


__ADS_3

Ketukan di pintu ruangan Regan membuat lelaki itu mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya ke arah pintu.


“Masuk,” ucap Regan membuat seseorang yang mengetuk pintu ruangan Regan tersenyum bahagia.


Wanita cantik dengan raut wajah sunda memasuki ruangan Regan, wanita itu tersenyum ke arah Regan dengan sangat menawan.


“Saya Naomi Priscilla pak, pindahan dari Jakarta,” jelasnya memperkenalkan dirinya kepada Regan.


Naomi Priscilla adalah mahasiswa strata dua yang baru saja pindah dari Jakarta ke Bandung karena papanya terpilih menjadi anggota dewan di Bandung dan tentu saja mengharuskan Naomi dan keluarganya mengikuti papanya untuk pindah ke Bandung.


Naomi menyerahkan data dirinya yang harus dia mintakan tanda tangan Regan sebagai dosen walinya. Wanita itu menatap takjub pemandangan yang kini memanjakan matanya, ketampanan Regan dan juga aura yang terpancar dari mata lelaki itu yang mampu membuat siapa saja meleleh karenanya.


“Sudah diberitahu pihak Akademik kan?”


“Sudah Pak, katanya saya tidak perlu mengulang beberapa mata kuliah disemester pertama karena mata kuliahnya sama dengan yang diajarkan di sini,”jawab Naomi menjelaskan apa yang bagian Akademik jelaskan kepadanya.


Regan mengangguk, lelaki itu menatap Naomi sekilas.


“Jadi kamu sudah bisa mengikuti mata kuliah setelah semester genap dimulai bulan depan. Ini sudah saya tanda tangani, selamat menempuh pendidikan di kampus kami,” ucap Regan tersenyum formal kearah Naomi.


Naomi menggigit bibirnya, wanita itu tidak menyangka akan memiliki dosen wali seperti Regan. Selama dia menempuh pendidikan dibangku kuliah, wanita itu sama sekali tidak pernah meminta tanda tangan dosen walinya. Tapi kali ini, Naomi akan sangat rajin meminta tanda tangan dosen walinya untuk Kartu Rencana Studi maupun nilai yang dia dapatkan nanti selama satu semester.


“Bapak mengajar di mata kuliah apa untuk semester genap?” tanya Naomi membuat Regan mendongak kearahnya.


“Kenapa memangnya?” tanya Regan balik.


“Hanya ingin tahu,” jawab Naomi tersenyum.


“Kalaupun aku beritahu, kamu belum tentu bisa berada dalam mata kuliah yang akan aku ampu semester ini. Karena ada beberapa dosen yang mengampu mata kuliah yang sama,” jelas Regan membuat Naomi mendesah karena rencananya untuk mengetahui mata kuliah yang lelaki ampu ternyata sia-sia saja.


Regan menyerahkan beberapa lembar berkas itu kepada Naomi, wanita itu mengulurkan tangannya dan dibalas uluran tangan Regan menyambut tangan Naomi.


“Terimakasih, Pak,” ucap Naomi membungkuk hormat.


Regan mengangguk. “Sama-sama,” jawab Regan dengan suara khas lelaki itu yang terdengar sangat sexy di telinga Naomi.


Naomi masih berdiri di tempatnya, menatap Regan tanpa berkedip. Wanita itu mengagumi keindahan yang telah Tuhan ciptakan tanpa cela. Kenapa baru sekarang Naomi bertemu lelaki seperti Regan yang memiliki aura luar biasa tersebut? Seharusnya Naomi bertemu Regan sejak dulu dan berkuliah di kampus milik yayasan keluarga Regan.


“Kenapa masih berdiri disana? Masih ada yang ingin kamu tanyakan?” tanya Regan dijawab anggukan antusias dari Naomi.


Iya, Naomi ingin bertanya segala hal tentang Regan.


“Bapak mau menjawab pertanyaan saya?” tanya Naomi dengan matanya berbinar bahagia.


“Tentu saja, tanyakan saja,” ucap Regan menaikkan alisnya bingung dengan eskpresi wajah Naomi sekarang.


Naomi duduk di depan Regan, menatap Regan dengan teliti. Tiba-tiba saja Naomi menyentuh hidung Regan tanpa permisi hingga membuat Regan terkejut dan memundurkan wajahnya dari jangkauan tangan wanita itu.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Regan kebingungan dengan apa yang saat ini Naomi lakukan kepadanya.


“Hidung Bapak asli? Bukan hasil operasi plastik?” tanya Naomi menatap Regan menelisik.


Lelaki itu mendengus mendengar ucapan Naomi yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Entah sudah keberapa kalinya ada orang yang menanyakan hal serupa perihal hidung Regan. Padahal, sudah terlihat jelas bahwa hidungnya asli, asli ciptaan Tuhan dan bukan hasil dari tangan manusia.


“Ya asli lah,” jawab Regan membuat Naomi berdecak kagum.


“Wawww, Bapak memang tipe saya,” ucap Naomi bersemangat.


“Saya tipe kamu?” tanya Regan mengulangi ucapan Naomi.


“Iya Pak, saya selalu berharap memiliki dosen yang tampan. Bapak menjadi dosen pertama yang sesuai dengan tipe dosen impian saya.”


Regan tertawa masam, tipe dosen impiannya katanya? Padahal lelaki itu sudah berpikiran dengan segala kepercayaan diri didalam otaknya jika dirinya menjadi tipe lelaki yang Naomi sukai. Ckck, dasar lelaki terlalu percaya diri. 


“Bapak masih single?” tanya Naomi penasaran.


“Masih,” jawab Regan membuat Naomi berbinar bahagia,


“Bapak serius masih single?” tanya Naomi mengulangi jawaban dari Regan yang menurutnya sangat tidak masuk akal.


“Iya single, tapi sebentar lagi saya mau tunangan,” ucap Regan menunjukkan beberapa undangan yang berada diatas meja kerjanya dan belum sempat dia bagikan kepada rekan-rekannya karena kesibukannya sejak pagi tadi untuk segera menyelesaikan data nilai mahasiswa yang harus segera dia kirimkan untuk dia kirimkan ke Bagian Kemahasiswaan.


Naomi mengambil undangan itu.


“Hei itu bukan untukmu,” keluh Regan kepada Naomi.


Naomi membuka undangan itu, matanya terbelalak melihat nama calon tunangan Regan.


“Yona Anantasya William? Yona AW? Yona itu kan?” tanya Naomi memastikan kepada Regan.


Pintu ruangan Regan terbuka.


“Sayang, tadi Nadia bilang akan ke rumahmu-. Oh ada tamu rupanya,” ucap Yona menghentikan kalimatnya begitu melihat ada seseorang di ruangan Regan.

__ADS_1


“Kamu, Yona AW kan?” tanya Naomi berdiri, wanita itu berjalan mendekat kearah Yona dan menatap wajah Yona dari dekat.


“Hah? Iya,” jawab Yona.


Naomi memeluk erat Yona.


“Astaga Yonaaaa, aku tidak menyangka kita bertemu di sini,” pekik Naomi membuat Yona merasa seperti pernah mengenal sosok didepannya kini.


“Memangnya kamu siapa?” tanya Yona dengan mengingat-ingat wajah wanita itu.


“Ya ampun, aku Naomi. Temen sebangku kamu waktu SMP, waktu kita kelas satu ingat?” tanya Naomi.


“Ini Naomi, kamu? Gilaaaa Naomi aku tidak menyangka kita bakal ketemu lagi setelah sekian lama enggak pernah ketemu dan hilang komunikasi!” pekik Yona tidak kalah antusias.


Yona mengajak Naomi untuk duduk di sofa tamu ruangan Regan, Yona meminta Naomi untuk menceritakan bagaimana bisa Naomi kembali lagi ke Bandung setelah sekian lama meninggalkan kota kelahirannya.


“Bokap jadi anggota dewan di Bandung, jadi kita sekeluarga ngikutin bokap ke sini,” ucap Naomi menjelaskan.


“Terus terus, kamu bakalan lanjutin kuliah di sini?” tanya Yona memastikan berkas yang kini Naomi pegang.


Naomi mengangguk, membuat Yona terpekik bahagia dan memeluk teman sebangkunya dulu dengan bahagia.


“Kita bakal satu jurusan, semoga saja kita satu kelas,” ucap Yona penuh harap.


Sedangkan Regan di tempatnya hanya menganga melihat interaksi Yona dan Naomi. Satu mahasiswa tengil saja sudah mengacaukan seisi kelas, bagaimana dengan ketambahan satu murid lagi? Bisa Regan pastikan, jika kedua wanita cantik itu berada dalam satu kelas, mereka pasti akan menjadi biang keributan. Regan bisa menjaminnya sendiri dengan tebakannya yang tidak akan meleset kali ini.


“Oh ya Na, sekarang tinggal di daerah mana?” tanya Yona.


“Deket kok dari sini, mau mampir?” tanya Naomi balik.


“Kapan-kapan aku mampir, aku harus mengurus banyak hal untuk acara pertunanganku dengan dosen walimu itu,” jawab Yona diangguki oleh Naomi.


“Sayang sekali ya, aku pikir Regan bakal jadi menantu orang tuaku,” kekeh Naomi membuat Yona ikut terkekeh bersamanya.


Yona menyodorkan ponselnya kepada Naomi.


“Minta nomor contact kamu dong Na.”


“Tentu saja, dengan senang hati.”


Naomi mengetik nomor ponselnya, wanita itu sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan Yona setelah hampir sepuluh tahun lamanya mereka tidak pernah bertemu.


“Nanti ceritain pengalamanmu jadi model ya.” 


Regan menggaruk kepalanya, niatnya mengerjakan tugasnya tapi malah kedatangan Naomi dan Yona di ruangannya seperti ajang pertemuan kedua sahabat yang telah lama tidak bertemu. Suara mereka berdua sangat mengganggu konsentrasi Regan saat ini.


“Hei kalian berdua, bisa diam atau keluar sana kalau mau berbincang-bincang. Aku harus mengurus nilai jadi berhenti mengganggu di ruanganku,” cibir Regan menghardik kedua wanita disana.


“Ckck, kenapa kamu galak sekali hah? Padahal kita kan bicara berdua, bukannya mengajakmu bicara. Kalau mau ngerjain ya ngerjain aja dong,” keluh Yona tidak terima jika kedatangannya disana dianggap menjadi pengganggu.


“Tapi suara kalian berdua seperti bebek, wek wek wek mengganggu saja!”


“Seperti bebekkk?” pekik Yona dan Naomi bersamaan.


Mereka berdua menatap Regan dengan tatapan membunuh mereka, sepertinya Regan tidak tahu jika Yona dan Naomi pernah menjadi trouble maker di SMP bahkan sampai membuat orangtua mereka di panggil ke sekolahan karena mereka berdua membuat guru mata pelajarannya menangis saat itu.


“Ada apa dengan tatapan kalian?” tanya Regan gugup ditatap kedua wanita itu dengan tatapan menusuk.


“Kamu pernah lihat bebek secantik kami?” tanya Yona berkacak pinggang.


“Benar!” jawab Naomi membenarkan pertanyaan Yona.


“Aku tidak bermaksud untuk-“


Yona mendengus, wanita itu mengajak Naomi meninggalkan ruangan Regan.


“Selesaikan saja tugasmu, aku dan Naomi akan berbicara di luar seperti maumu,” ucap Yona menggandeng tangan Naomi.


Yona berhenti di ambang pintu, wanita itu menoleh kembali kearah Regan.


“Awas saja jika kamu memberiku nilai jelek dan membuatku remidi, aku hancurkan masa depanmu seperti ini,” tangan Yona memberikan contoh memelintir sesuatu, membuat Regan bergidik ngeri ditempatnya.


Blammmm, pintu tertutup meninggalkan Regan disana seorang diri. Lelaki itu berdecih, tangannya dengan spontan menyentuh masa depannya dibawah sana.


“Mana berani dia menyentuhmu, sebelum dia menyentuhmu kita pastikan kamu lebih dulu menyentuhnya,” kikik Regan menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran gila didalam otaknya.


Regan kembali berkutat dengan tumpukankertas-kertas disana untuk dia masukkan datanya kedalam laptop miliknya.



Yona dan Naomi memilih untuk berbincang di café yang berada diseberang kampus. Mereka berjalan menuju ke café hingga membuat beberapa orang menatap kedua wanita itu penuh dengan penasaran. Yona yang terkenal sebagai model internasional tengah berjalan dengan putri anggota dewan Kota Bandung yang terkenal menjadi selebgram.


“Aku tidak tahu kamu menjadi selebgram,” ucap Yona.

__ADS_1


“Tentu saja kamu tidak tahu, remukan rempeyek seperti diriku mana pernah terlihat di matamu,” jawab Naomi tersenyum.


“Ih apaan sih Na, kan aku memang udah nggak pernah denger kabar kamu lagi.”


“Boleh ceritain dikit dong gimana bisa kamu berakhir dengan Regan?” tanya Naomi yang penasaran dengan kisah cinta Yona.


Pasalnya, dari beberapa sumber menyebutkan saat itu Yona menjalin hubungan dengan lelaki lain. Namun kisah cinta mereka dikabarkan putus tidak lama setelah Yona kembali ke tanah air hingga sekarang.


Yona memberikan isyarat kepada Naomi untuk mendekat.


“Sebenarnya kita awalnya dijodohkan,” jawab Yona membuat Naomi terbelalak.


“Seriusss?” pekik Naomi tidak percaya.


“Iya, awalnya gitu. Tapi makin kita menghabiskan waktu bersama aku merasa kok aku klop banget ya kalau sama dia. Terus banyak lah, sikap dia itu gentleman banget. Aku sampai mikir nggak mungkin ada duanya nih laki,” ucap Yona menceritakan kesannya terhadap Regan.


Naomi teringat sekarang, video saat Regan melamar Yona saat di kapal pesiar menjadi tranding beberapa hari di berbagai media sosial. Tapi Naomi baru sadar sekarang jika lelaki itu adalah Regan yang baru saja dia kenal tadi.


“Jadi Naomi, jodoh itu kita tidak bisa tebak bakalan sama siapa. Aku juga sama, aku tidak tahu siapa jodohku. Doakan saja semoga kami bisa sampai pelaminan dan hidup bersama sampai nanti maut memisahkan kita berdua,” ucap Yona.


“Amin, semoga kalian ‘Love Till Jannah’ ya,” harap Naomi.


Mata Yona menatap keluar jendela, sepertinya Yona mengenal sosok yang sedang berdiri ditepi jalan. 


“Mungkinkah motornya mogok?” tanya Yona pada dirinya sendiri.


Naomi mengikuti arah pandang Yona.


“Siapa Yon?” 


“Mahasiswaku,” jawab Yona.


Wanita itu berdiri untuk keluar menghampiri Yogi di sana.


“Yogi?” panggil Yona membuat Yogi menoleh kearah suara.


“Miss Yona?” 


Yona menghampiri Yogi, wanita itu menelisik motor Yogi yang kini bersandar ditepi jalan. Motor lelaki itu sepertinya memang mogok sesuai dugaannya.


“Mogok?” tanya Yona diangguki Yogi.


“Padahal baru beberapa hari lalu aku service,” ucap Yogi membuat Yona merasa kasihan.


“Ayo masuk ke dalam, biar nanti bengkel langgananku yang mengambil motornya,” ucap Yona.


Yona menarik tangan Yogi, mengajak lelaki itu bergabung bersama dengan dirinya dan juga Naomi. Yogi menundukkan kepalanya menghormati Naomi yang kini duduk diseberangnya.


“Dia mahasiswanya Regan sebenarnya,” jelas Yona.


Naomi mengangguk mengerti, Yogi mengingatkannya dengan adiknya yang mungkin seumuran dengan Yogi. Bedanya, Yogi mencari uang sendiri sedangkan adiknya sangat menggantungkan segalanya kepada orangtuanya dan juga sangat manja.


“Kakak juga punya adik seumuran denganmu,” ucap Naomi.


Yogi hanya tersenyum, tidak tahu harus menjawab apa lagi.


“Kamu cari uang sendiri untuk kuliah? Papa mama kamu masih ada?” tanya Naomi penasaran.


“Masih, mereka cerai,” jawab Yogi membuat hati Yona dan Naomi terhenyak mendengar jawaban dari Yogi.


Yona memberikan isyarat kepada Naomi untuk mengakhiri pembicaraan mereka.


“Kamu mau pesan apa?” tanya Yona, wanita itu memanggil pelayan dan meminta Yogi untuk memesan makanan dan minuman yang lelaki itu mau.


Ponsel Yona bergetar, nama Regan tertera di sana.


“Ya Regan? Kamu sudah selesai?”


“Kamu di mana?” tanya Regan.


“Aku? Aku di café seberang kampus,” jawab Yona.


“Dengan siapa?”


“Naomi dan Yogi mahasiswamu, aku tadi-“


“Yogii???” pekik Regan membuat Yona menjauhkan ponselnya.


Regan segera menutup ponsel dan mematikan laptopnya, lelaki itu berlari keluar kampus untuk segera sampai di café yang Yona maksdu sebelum Yona dan Yogi saling berdekatan seperti apa yang kini ada dalam bayangannya.


Regan berlari hingga sampai kesana, dari luar café itu Regan bisa melihat bagaimana Yona dan Yogi saling berbincang dan juga tertawa.


“Aku sedang bekerja tapi kamu malah asyik dengan lelaki piyik ini?” tanya Regan membuat Yona dan yang lainnya menoleh ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2