
Mobil yang mereka tumpangi memasuki pelataran Rumah Kanker yang ternyata jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Dokter Gustavo Bekerja. Terlilat lalu lalang para suster yang bersedia mengabdi di sana bersama anak-anak penyandang kanker dan juga para lansia yang telah ditelantarkan keluarganya karena penyakit mematikan itu.
Yona menatap ke luar jendela mobil, dadanya serasa bergemuruh melihat banyak anak-anak yang telah kehilangan masa kanak-kanaknya karena penyakit mengerikan. Banyak dari mereka yang telah terenggut masa bermainnya demi melawan penyakit kanker mematikan bagi semua orang. Betapa mahalnya waktu sehat, yang tidak semua orang miliki. Yona merasa jantungnya berpacu begitu kencang, membayangkannya saja membuat Yona miris.
“Mereka kebanyakan anak-anak, orang tuanya sering berkunjung ke mari. Mereka sibuk mencari uang untuk membantu pengobatan anak-anak yang memang sudah kami tanggung lewat donasi yang terkumpul. Tapi, ada waktu di mana budgeting kita kacau dan membutuhkan mereka untuk membantu pengobatan,” jelas Livia menunjuk anak-anak yang masih terlihat giat bermain di taman dengan senyuman ceria yang masih nampak di wajah mereka.
Yona merasakan jantungnya tercubit, anak-anak seusia mereka sudah diberikan cobaan berat oleh Sang Kuasa, namun hebatnya senyuman mereka masih terus terukir di bibir mereka.
“Ayo kita sapa mereka,” ucap Livia ketika mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti.
Tangan Livia hendak membuka pintu, namun tangan Dokter Gustin Justavo lebih dulu mencekalnya.
“Tunggu, biar aku yang membukakannya untukmu,” ucap Dokter Gustin Justavo dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari bibirnya.
Begitu-pun Regan, lelaki itu membuka pintu dan keluar lebih dulu dari kursi penumpang, mempersilahkan Yona untuk segera turun.
“Awas, kepalamu,” ucap Regan, menghadang kepala Yona agar tidak menyundul atap pintu mobil.
Yona tersenyum, “terimakasih, Pak Sopir,” kekeh Yona sengaja menggoda lelaki itu.
Bukannya marah, Regan justru terkekeh ringan mendengar gurauan yang keluar dari mulut wanita yang begitu dia cintai dengan sangat.
Dokter Gustin Justavo berlari kecil mengitari mobilnya, dengan senangnya Livia menerima uluran tangan dari Dokter Gustin Justavo.
“Silahkan, Tun Putri,” ucap Dokter Gustin Justavo layaknya seorang abdi kerajaan.
Livia terkekeh, wanita itu begitu bersyukur bisa mendampingi Dokter Gustin Justavo meskipun banyak sekali permasalahan hidup yang mereka alami bahkan hingga sekarang. Perasaan dan juga rasa bersalah yang sering kali menghinggapi Livia akan keluarganya di Indonesia membuat wanita itu terkadang termenung dan terlintas dalam bayangannya untuk kembali bersama keluarganya di Indonesia. Namun, sosok di depannya inilah yang ternyata membuatnya merelakan seluruh hidupnya untuk menjadi seseorang yang baru dengan identitas baru seperti apa yang telah Dokter Gustin Justavo rencakan.
Sungguh, Livia atau Olivia tidak pernah merasakan perasaan yang seperti itu selain bersama dengan Gustin Justavo, suaminya, dan juga lelaki yang sangat dia cintai.
“Bibi Livia! Paman Gustin!” pekik anak-anak Rumah Kanker ketika melihat Livia dan Gustin Justavo berada di sana.
Beberapa anak berlari menghampiri Livia Justavo dan Gustin Justavo, Livia memberikan isyarat untuk menghentikan anak-anak itu berlari.
“Jangan berlari Aiden, kamu habis kemo. Berjalan saja, Bibi Livia akan ke sana,” teriak Livia memberikan peringatan kepada anak berusia tujuh tahun bernama Aiden.
Mata Yona berkaca-kaca, “aku jadi teringat Chiko dan Devaro jika melihat anak-anak itu, mereka pasti senang jika diajak ke mari bertemu anak-anak Rumah Kanker,” ucap Yona memandang anak-anak Rumah Kanker yang kini berlarian menghampiri Livia dan Gustin Justavo.
“Aiden! Jangan berlari, Nak,” pekik Livia ketika Aiden tanpa sengaja terjatuh dan tersungkur di tanah membuat Livia dan Gustin Justavo membelalakkan matanya.
Livia berlari, begitu juga Gustin Justavo, mereka berlari ke arah Aiden. Anak yang mereka ambil dari panti asuhan yang akan ditutup, sekaligus anak penyandang kanker sejak belia.
“Aiden, kamu membuat Bibi jantungan,” ucap Livia dengan nada yang tersirat akan kekhawatiran.
Aiden malah tersenyum, tidak merasakan sakit karena jatuh tersungkur di tanah hingga ujung ibu jari kakinya berdarah.
“Aiden tidak apa-apa, Bibi Livia,” ucap Aiden mengutarakan bahwa dirinya tidak apa-apa.
Livia mengangguk dan tersenyum ringan, wanita itu mengelus puncak kepala Aiden dengan lembut. Di antara banyak anak, Livia begitu simpati dengan satu sosok, dia adalah Aiden. Anak itu mampu menyentuh dasar hati Livia yang paling dalam, selain perawakan dan juga wajahnya yang memang sangat tampan, Aiden anak yang ceria dan tidak rewel dibandingkan anak-anak yang lainnya.
Aiden juga sering sekali membantu para suster dan perawat yang tengah bertugas di sana untuk menjaga anak-anak yang lainnya.
“Ayo, sekarang kita berdiri,” ucap Livia menepuk lutut Aiden yang kotor karena tanah.
Anak-anak yang lainnya langsung mengerubungi Livia dan Gustin Justavo, melihat itu perasaan Yona begitu campur aduk. Yona menoleh ke arah Regan, “seharusnya kita membawa buah tangan untuk mereka,” ucap Yona merasa tidak enak karena berkunjung tanpa membawa bingkisan untuk anak-anak itu.
“Bibi, dan Paman membawa teman untuk kalian, panggil saja Aunty Yona dan Uncle Regan,” ucap Livia memperkenalkan Yona dan Regan kepada anak-anak itu.
Mereka langsung menoleh ke arah Regan dan Yona, keduanya tersenyum lembut menyapa anak-anak itu yang kebanyakan telah kehilangan rambut mereka hampir lima puluh persen.
“Sana, sapa dulu Aunty Yona dan Uncle Regan,” ucap Livia memberikan perintah untuk anak-anak itu.
Semuanya langsung menghampiri Regan dan Yona, mereka mengulurkan tangannya kepada Regan dan Yona secara bergantian. Regan dan Yona tersenyum lembut menerima uluran tangan dari mereka.
__ADS_1
“Siapa namamu?” tanya Regan menyamai tinggi anak yang umurnya berkisar sembilan tahunan.
“Emmanuel, dan yang duduk di kursi roda di sana adalah Emmanuella, dia saudara kembar Nunu,” ucap anak itu membuat Regan dan Yona melemparkan tatapan matanya pada sosok yang kini duduk di kursi roda menatap mereka dengan tersenyum lembut.
Yona menghampiri anak itu, “Hay? Kamu Emmanuella ya?” tanya Yona menyodorkan tangannya kepada anak itu.
Tangan Emmanuella memiliki bekas infus, mungkinkah itu pertanda jika Emmanuella baru saja melakukan pemeriksaan?
“Aunty, model Orange Juice, ya?” tanya Emmanuella menyipitkan matanya menatap Yona.
Orange Juice? Sepertinya anak-anak di sana mengenal Yona dengan sangat baik.
“Wuahh, Aunty rasanya senang sekali, Emma bisa mengenal Aunty,” ucap Yona dengan mata berbinar bahagia.
“Emmanuella memang suka sekali dengan dirimu, Yon. Bahkan banyak poster dirimu di kamarnya,” jelas Livia menghampiri Yona yang kini berjongkok di depan Emmanuella.
Yona menatap Emmanuella, “benarkah? Aunty Yona pasti sangat beruntung bisa memiliki fans secantik dirimu, Emma. Nanti kita foto bersama, kamu setuju?” tawar Yona dijawab anggukan antusias dari Emmanuella.
“Tentu saja, Aunty. Emmanuella sangat senang bisa bertemu Aunty, apalagi untuk berfoto bersama,” ucap Emmanuella dengan matanya berbinar bahagia.
Yona mengelus rambut bergelombang alami milik Emmanuella, “ingatkan Aunty untuk mengirimu hadiah, Emma,” ucap Yona tersenyum.
“Kami juga mau, Aunty,” ucap yang lainnya kepada Yona.
Yona terkekeh, “tentu saja Aunty akan memberikan kalian hadiah,” ucap Yona membuat anak-anak di sana bersorak bahagia.
Livia mengajak Yona dan Regan untuk masuk ke dalam, mempersilahkan tamunya untuk melihat bagaimana Rumah Kanker yang telah menjadi rumah para penyandang kanker dengan gratis tanpa memandang batas usia sekalipun.
“Kami memiliki hampir tujuh puluh kamar dengan di isi dua sampai empat bad,” ucap Livia menjelaskan segalanya kepada Yona.
“Livia, apakah semua anak-anak di sini, em.. maksudku, apakah mereka yatim piatu?” tanya Yona berhati-hati.
Livia menggeleng, “tidak, ada yang masih memiliki orang tua. Namun karena keterbatasan biaya, mereka menitipkannya di sini,” ucap Livia membuat Yona tercengang.
“Kami punya banyak sekali kegiatan untuk menarik para donator, kami sering mengadakan lelang lukisan anak-anak Rumah Kanker yang bisa menarik para donatur berdonasi rutin setiap bulannya kepada Rumah Kanker. Kami juga mendapatkan anggaran dari Pemerintah meskipun tidak seberapa, tapi bisa membantu menyongsong keuangan kami,” jelas Gustin Justavo yang kini mendorong kursi roda Emmanuella.
“Begitu rupanya,” ucap Yona mengangguk, mengerti apa yang telah dijelaskan oleh Livia dan Gustin Justavo.
Ada banyak orang berumur lanjut usia ada di sana, “mereka juga dititipkan keluarganya?” tanya Yona penasaran.
“Kalau para lansia, kebanyakan mereka ditinggalkan anak cucu mereka tanpa sebab. Mungkin, karena dianggap merepotkan saja, padahal tanpa mereka mana bisa lahir anak dan cucu. Kadang di sana aku merasa nyeri ketika membayangkannya,” jelas Livia dengan menatap nanar sosok ibu-ibu lansia yang duduk di depan ruang telivisi.
“Nani… putarkan film Oddbods,” pekik salah satu di antara anak-anak berlari ke arah lansia itu.
Terlihat wanita itu tersenyum, Gustin Justavo menghampirinya.
“Biarkan Paman yang memutarkannya untuk kalian. Nani kan orang tua, tidak boleh disuruh-suruh,” ucap Gustin Justavo memberikan pengertian kepada mereka.
“Aunty, ayo kita nonton Oddbods. Di Indonesia tidak ada kan film kartun itu?” ajak Emmanuella menarik tangan Yona.
Yona mengangguk, wanita itu mendorong kursi roda Emmanuella menuju ruang televisi Rumah Kanker untuk berkumpul bersama saudara-saudaranya yang lain.
Regan memilih untuk mengitari seluruh ruangan Rumah Kanker yang menurutnya hampir mirip dengan sebuah panti asuhan, namun memiliki kepengurusan yang sangat baik ditambah banyak sekali suster dan perawat yang bekerja di sana, di bawah naungan oleh Dokter Gustin Justavo.
Lelaki itu menatap sebuah lukisan yang menurutnya sangat tidak asing gaya lukisannya, lelaki itu memicingkan matanya. Kepalanya tiba-tiba terasa berat, kilasan balik di masa SMA-nya kembali terlintas dalam benaknya.
Saat itu ujian praktek untuk seni budaya yang nilainya juga berpengaruh dalam kelulusan seorang siswa. Kala itu, Rehan memilih seni lukis, dan meminta Olivia untuk membuatkan lukisan untuk dirinya. Lukisan itu sama persis, dari gaya lukisan, dan juga tema yang dibuat. Rasanya tidak mungkin jika saat itu Olivia membeli lukisan orang lain. Ataukah, pemilik lukisan di depannya ini yang justru meniru gaya lukisan milik Olivia?
“Mana mungkin, lukisan itu hanya disimpan oleh Rehan setelah penilaian,” gumam Regan menimang pemikiran yang kini berkecambuk dalam pemikirannya.
“Regan, kamu di sini? Yona mencarimu,” ucap seseorang dengan suara yang sama persis dengan Olivia.
Lelaki itu menoleh, dalam beberapa detik lelaki itu mampu melihat wajah Livia dengan jelas. Regan menggelengkan kepalanya. Rasanya tidak mungkin orang yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu berdiri di depannya dengan kondisi tubuh yang masih utuh, wajahnya berseri-seri, dan juga masih begitu cantik sama seperti beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1
Mungkinkah mata Regan mengalami kemunduran dalam penglihatan? Ataukah itu hanya bayangan Regan yang menjadi halusinasi dalam otaknya?
“Tidak mungkin, aku pasti mimpi,” ucap Regan menggelengkan kepalanya.
Livia menautkan kedua alisnya, “kamu kenapa Regan? Biar aku panggilkan Gustin untuk memeriksa keadaanmu,” ucap Livia menatap Regan dengan khawatir, apalagi lelaki itu baru saja melakukan pemeriksaan tubuh yang memungkinkan memiliki dampak buruk dalam tubuhnya.
“Kamu siapa?”
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Regan semakin membuat Livia memicingkan matanya bingung.
“Regan, kamu tidak hilang ingatan permanen kan? Aku akan panggil Gustin untuk memeriksamu,” ucap Livia menatap Regan dengan penuh kekhawatiran.
Regan mencekal tangan Livia, “tunggu, kamu Olivia, kan?” tanya Regan membuat mata Livia terbelalak.
Langkah wanita itu mundur selangkah ke belakang, “Regan.. kamu bisa melihat wajahku?” ucap Livia menutup mulutnya.
Bodoh, seharusnya Livia tidak perlu menjawab pertanyaan Regan seperti itu. Dengan menjawab pertanyaan seperti itu pasti Regan akan semakin yakin jika dirinya adalah Olivia, mendiang kekasih sahabat lelaki itu.
“Jawab aku, kamu Olivia? Benarkan?” tanya Regan meminta penjelasan kepada wanita yang sampai saat itu masih terus dikenang oleh sahabat-sahabatnya.
Bahkan Rehan Prehantara Kusuma, selalu menyempatkan datang ke makan Olivia palsu paling tidak dua minggu sekali.
“Kak Regan, bisa melihatku?” tanya Livia dengan mata berkaca-kaca.
Regan mengangguk, meskipun dirinya berbohong. Regan hanya melihat wajah Livia sekilas, hanya beberapa detik dan kemudian pandangan matanya kembali buram seperti semula. Regan harus memastikan siapa sosok di depannya.
Kenapa wanita itu bisa sangat mirip dengan Olivia Dera Bellvaria? Kenapa suara, wajah, dan juga perilaku mereka bak pinang dibelah dua.
Tidak mungkin jika Olivia memiliki kembaran, itu sama sekali tidak mungkin.
“Katakan, siapa dirimu?” tanya Regan dengan nada intimidasi.
Livia menghembuskan napasnya kasar, wanita itu tidak tahu harus menjelaskan apa kepada Regan.
“Bisakah kita bicara sebentar?” tanya Livia, meminta lelaki itu berbicara lebih private di kamar medis yang ada di sana.
Regan mengangguk, lelaki itu mengikuti langkah Livia yang kini membimbing jalannya menuju kamar medis. Kamar yang memang digunakan untuk pemeriksaan sederhana untuk semua penghuni yang ada di Rumah Kanker.
“Berjanjilah satu hal, kamu tidak akan membawa keluar apa yang kamu lihat dan apa yang kamu dengar,” ucap Livia kepada Regan.
Regan terdiam sejenak, namun detik selanjutnya lelaki itu mengangguk mengiyakan syarat yang telah Livia berikan kepada dirinya.
“Ya, kamu benar, aku Olivia Dera Bellvaria,” ucap Livia, membuat Regan terkejut bukan main mendengarkan ucapan dari wanita itu.
“Apa? Kamu Olivia? Olivia Bellvaria?” ucap Regan memastikan pendengarannya.
“Berjanjilah, Kakak tidak akan membawa apa yang akan aku ceritakan,” ucap Livia memberikan syarat kepada Regan.
“Kamu, Olivia?”
Ucapan itu membuat keduanya menoleh, Yona berdiri di sana dengan tatapan tidak percaya. Antara dirinya yang mulai mempercayai ucapan Sisil bahwa ada arwah yang mengikutinya, ataukah memang otak dan matanya mulai bermasalah.
Namun mendengar pengakuan dari wanita itu membuat Yona paham benar, pendengaran dan penglihatannya tidak salah. Tapi, kenapa bisa orang yang sudah mati bisa kembali hidup? Dengan kehidupan, dan juga nama yang berbeda?
Apa yang semesta sembunyikan dari semua orang? Bagaimana bisa peristiwa seperti itu terjadi dalam dunia nyata? Rasanya, Yona ingin berlari dari sana, mengelak kenyataan apa yang baru saja dia dengar. Itu tidak mungkin!
-
Jangan lupa like, komen, dan follow akun author ya.
Bagi yang mau ke lapak author di ****** silahkan tap loves agar ceritanya masuk ke library kalian 🙏🙏🙏
Ditunggu kelanjutan cerita My Sweet Dosen. Jangan jadi siders aja yak, komen-komen kuyyyy biar lapak akohhh ramai seramai hati ini, wkwkwk.
__ADS_1
Jangan lupa siapkan kopi, cemilan, dan selamat membaca semuanya 🙏🙏🙏🙏