
Seluruh keluarga kini berkumpul, isak tangis mulai membasahi wajah semua orang. Satu tahun lamanya, lelaki itu tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda jika dirinya akan sadar setelah mengalami koma karena kecelakaan yang menimpanya. Perampokan hingga berujung kematian separuh fungsi otak lelaki itu membuat dirinya tidak mampu sadarkan diri.
Telah banyak dokter dari manca negara yang datang ke Indonesia hanya untuk mengobati dirinya, namun sia-sia saja. Tidak ada tanda-tanda kemajuan pada lelaki itu.
Percobaan perampokan yang telah merampas kebahagiaan Regan dan Yona.
Ya, lelaki itu adalah Regan. Lelaki yang masih berusaha di alam bawah sadarnya untuk kembali membuka matanya. Lelaki yang terus berusaha meyakinkan dirinya bahwa suatu hari nanti dia akan sadar untuk memeluk wanita itu.
Yona, satu nama tersimpan di lubuk hatinya yang paling dalam. Suara yang masih terus dia dengar meskipun matanya terpejam. Meskipun kini dirinya tidak lagi mampu melihat wajah wanitanya, namun mimpi-mimpi yang selalu datang dalam tidur panjangnya membuat Regan mampu bertahan hingga satu tahun lamanya.
Koma selama satu tahun, Regan hanya berbekal suara-suara orang yang dia cintai untuk menguatkan dirinya.
“Tidak, Regan tidak boleh pergi,” isak Yona meraung dalam dekapan kakaknya, Marva.
Beberapa minggu ini kesehatan Regan semakin memburuk. Tanda-tanda vitalnya mengalami banyak kemunduran. Mungkinkah lelaki itu sudah menyerah dalam hidupnya saat ini?
“Yona, tenangkan dirimu. Regan pasti akan baik-baik saja,” ucap Marva meyakinkan adiknya bahwa Regan akan baik-baik saja.
Telah banyak mimpi yang datang menemani tidur panjang Regan. Kebersamaannya dengan Yona terasa begitu nyata sampai-sampai Regan tidak bisa membedakan mana alam nyata mana alam ilusi yang hanya bisa dia dapatkan ketika dirinya tidak sadarkan diri.
Jadi semua yang telah dia lewati bersama Yona hanya ilusi semata yang dia ciptakan karena kerinduannya kepada Yona?
Setahun lamanya, Yona dengan setia menemani Regan dalam tidurnya. Tidak ada aktivitas lain dari wanita itu selain wara-wiri rumah dan Rumah Sakit Kusuma tempat Regan dirawat.
Bahkan kini Yona tengah menyelesaikan tesisnya untuk tugas akhir pascasarjana. Bolehkan Yona bermimpi akan wisuda tahun ini ditemani lelaki itu, Regannya?
“Tidak, aku tidak akan sanggup hidup tanpa Regan putraku,” teriak Lili begitu hancur.
Melihat putranya satu tahun terbaring tidak berdaya dalam ranjang pasien sudah menjadi mimpi buruknya selama ini. Tidak mungkin Lili harus kehilangan Regan untuk selama-lamanya.
Tidak, aku tidak mati. Aku hanya bermimpi panjang, melewati hari-hariku bersama Yona.
Regan berteriak, lelaki itu ingin membuka matanya, ingin segera bangun dari ruang gelap ini karena sudah tidak tahan lagi. Setiap tangan lembut Yona membelai wajahnya, Regan selalu ingin membuka matanya, menarik wajah wanita itu untuk dia kecup saking rindunya.
Yona, aku selalu bermimpi bersamamu. Sangat nyata.
Aih sial! Kenapa aku tidak bisa membuka mata dan mulutku. Kegelapan apa ini? Bisakah aku kembali bermimpi lagi agar aku kembali dekat dengan Yona saja?
“Kenapa para bajing*n itu bisa dihukum hanya empat tahun saja? Mereka telah membuat Regan sampai terkapar seperti ini!” teriak Lili mulai kehilangan kesabarannya.
Apa? Mereka hanya dihukum empat tahun setelah membuatku kehilangan banyak waktu bersama dengan orang-orang yang aku cintai?
Regan kembali bangun dalam ruangan itu, lelaki itu meraba sekitarnya. Suara-suara isak tangis yang sangat dia kenal begitu jelas dia dengarkan. Lelaki itu menatap ke sekelilingnya, mencari tahu di manakah dirinya kini tengah berada.
Yona menitikkan air matanya. Dalam hatinya wanita itu berdoa, semoga Tuhan memberikan satu kali kesempatan untuk Regan bisa kembali bangun dan hidup seperti sedia kala. Yona mungkin akan gila jika Regan sampai meninggalkan dirinya setelah penantiang panjang selama satu tahun lamanya.
Hari demi hari Yona lewati dengan hambar, tidak ada Regan pencari masalah dengan dirinya, tidak ada Regan perusak moodnya, tidak ada hadiah-hadiah membahagiakan dari lelaki itu yang membuat Yona sampai tidak bisa berkata-kata saking hebatnya Regan memperlakukan dirinya.
Kasus perampokan itu telah selesai di persidangan. Telah ditetapkan empat tahun kurungan penjara. Namun tetap saja tidak membuat seluruh keluarga besar Regan dan Yona menjadi lega. Karena perampokan itu, kehidupan Yona dan Regan sampai hancur lebur tak lagi berbentuk.
Undangan pertunangan yang telah mereka sebarkan batal begitu saja dengan banyak persepsi mengalir bebas di benak semua tamu undangan. Banyak yang mengira bahwa Yona adalah wanita pembawa sial sampai membuat Regan koma selama satu tahun lamanya.
Benarkah itu? Benarkah yang mereka katakan tentang Yona? Yona mati-matian menahan diri untuk tidak menutup mulut mereka yang menggunjing dirinya hanya untuk ketentraman kedua belah pihak keluarga.
“Aku tidak sanggup … Kakak, seharusnya Yona yang berada di dalam sana,” ucap Yona diiringi isak tangis yang keluar dari mulut wanita cantik itu.
Andai saja dirinya tidak memaksa Regan untuk mengantarkan dirinya mengecek souvenir dan mengantar undangan untuk Naomi, mungkin semua ini tidak akan mungkin kejadian, Regan tidak akan mungkin berada dalam kondisi mengenaskan seperti itu.
Memang biadab para perampok itu!
“Sttt, Regan pasti baik-baik saja,” ucap Marva mencoba menenangkan adiknya.
__ADS_1
Sedangkan di dalam sana, Dokter Irawan dan juga Rehan, dengan dibantu Dokter Gustin Justavo tengah berusaha semampu mereka mengembalikan kestabilan tubuh Regan seperti sebelumnya. Entah mimpi atau apa, tapi Olivia memang masih hidup, dan Dokter Gustin Jutavo benar menjadi suami dari Olivia.
Semua kejadian yang ada dalam mimpi Regan benar-benar kejadian di alam nyata. Mungkinkah lelaki itu sedang menerima anugrah dari Tuhan selama dirinya tidak sadarkan diri?
“Shut!” ucap Dokter Gustin Justavo bermain dengan alat pacu jantung dengan luwesnya.
“Sekali lagi,” ucap Dokter Gustin memberikan perintah kepada Rehan yang saat ini turut membantunya.
Dokter Gustin Justavo menoleh menatap Rehan, memberikan kode kepada lelaki itu untuk melakukan tugasnya.
Tittttttt…..
Suara nyaring nan memekakkan telinga membuat semua mata terbelalak.
“Tidak Regan, tidak sekarang sial*an!” umpat Rehan menatap tubuh sahabatnya yang kini terkapar tidak berdaya.
Rehan langsung berjalan ke arah ranjang, meminta Dokter Gustin Justavo untuk menyingkir dan memberinya jalan.
“Naikkan tekanannya!” teriak Rehan memberikan komando kepada Dokter Gustin Justavo.
“Dokter Rehan,” ucap Dokter Gustin Justavo dan Dokter Irawan bersamaan.
“Naikkan tekanannya sekarang juga! Aku tidak akan mengampuni kalian kalau sampai Regan kenapa-napa!”
Dokter Irawan dan Dokter Gustin Justavo saling menatap. Namun pada akhirnya mereka mengikuti intruksi yang Dokter Rehan ucapkan kepadanya.
“Shut!” teriak Rehan frustasi. Lelaki itu bahkan sampai menitikkan air matanya, tidak tahan jika Regan harus kehilangan nyawanya setelah setahun lamanya terkapar di atas ranjang pasien itu.
Regan harus bangun, sahabatnya itu pasti sangat bosan dengan kamar rumah sakit yang hanya dipenuhi aroma obar-obatan setiap harinya.
“Bereng*sek, bangun! Buka matamu, hah! Yona dan orang tuamu menunggu di luar. Ku mohon Regan, ku mohon,” ucap Rehan sarat akan frustasi.
Dokter Gustin Justavo mencoba menarik Rehan dari sana. “Lebih baik Anda keluar Dokter Rehan, Anda hanya akan melanggar kode etik seorang dokter yang tidak boleh mencampur adukkan urusan pribadi dengan medis,” pinta Dokter Gustin Justavo merasa kasihan, seakan mengerti bagaimana perasaan Rehan saat ini.
“Anda hanya akan meledakkan jantungnya, Dokter Rehan!” kata Dokter Irawan.
Terjadilah perdebatan sengit, namun Rehan tidak peduli meskipun dirinya akan mendapatkan sanksi dari rumah sakit milik keluarganya.
Kebetulan sekali di sana Fernando ikut serta menemani keluarga Regan. Lelaki itu memeluk pinggang istrinya yang kini mulai buncit karena kehamilan yang sudah menginjak empat bulan. Fernando menggigit bibir bawahnya, dia tahu benar apa yang sedang ketiga dokter itu lakukan di dalam sana.
“Siapa yang membiarkan Rehan ikut masuk di dalam?” tanya Fernando menatap semua orang.
“Dia yang pertama kali menangani Regan sebelum Dokter Irawan dan Dokter Gustin Justavo tiba di Indonesia,” ucap Lili dengan suara serak.
Fernando menghembuskan napas kasar, lelaki itu mengusap wajahnya frustasi.
“Dia harus dikeluarkan dari sana, dia sudah tidak bisa mempertahankan sisi kedokterannya karena yang dia tangani sahabatnya,” ucap Fernando mengamati perdebatan mereka dari luar.
Rehan melakukannya lagi, menambah tekanan alat kejut jantung hingga membuat Fernando menggelengkan kepalanya.
“Tidak Rehan, jangan lakukan itu!” teriak Fernando dari luar seakan menyadarkan Rehan dari kegilaannya.
Mata Fernando dan Rehan bertemu, Fernando menggelengkan kepalanya. Meminta Rehan untuk mengakhiri pergulatan batinnya dan menerima semua yang telah ditakdirkan Tuhan dari pada semakin memberatkan perasaan keluarga Regan dan Yona jika jantung Regan meledak karena alat kejut jantung itu.
Kali ini Rehan naik di atas kaki Regan, lelaki itu melakukan CPR dengan sekuat tenaganya.
Berkali-kali Rehan membuang napas kasarnya, sampai seluruh orang di luar sana menangis melihat betapa seriusnya Rehan untuk mengembalikan detak jantung Regan.
Tit … titt … tit…
Jantung Regan kembali terdeteksi meskipun sangat lemas. Dokter Gustin Justavo dan Dokter Irawan akhirnya bernapas lega.
__ADS_1
“Ini suatu keajaiban,” lirih Dokter Gustin Justavo menepuk punggung Dokter Rehan.
Dokter Gustin Justavo langsung menyuntikkan obat berbentuk cairan ke dalam tangan Regan.
“Lebih baik segera mulai operasinya,” ucap Dokter Gustin Justavo diangguki Dokter Irawan.
Dokter Irawan langsung bergegas keluar dari ruang ICU yang kini menjadi rumah setahun Regan.
“Bagaimana keadaan Regan, Dokter Irawan?” tanya mereka semua serentak.
“Kita akan melakukan operasi untuk mengurangi dampak buruk yang kemungkinan bisa terjadi. Kerusakan pada kepala Regan bisa berpengaruh buruk pada seluruh anggota tubuhnya,” jelas Dokter Irawan.
“Regan, di-dia tidak apa-apa kan Dokter?” tanya Yona dengan wajah bersimbah air mata.
“Kalian bisa tenang saja, kemungkinan besar operasi ini akan berhasil karena ahlinya ada di sini. Apa yang kalian cemaskan kalau Dokter Gustin Justavo sudah ada di sini untuk merawat Regan? Kalau begitu saya permisi untuk menyiapkan ruang operasinya, kalian hanya perlu berdoa dan berdoa saja,” jelas Dokter Irawan mengulum senyumnya lembut, lalu melangkahkan kakinya untuk mengatur jalannya operasi pada diri Regan.
Yona menatap Regan dari jendela pintu, tangannya membelai kaca itu seakan-akan di depannya adalah wajah Regan. Terlalu banyak pengorbanan Regan selama ini, lelaki itu harus kembali membuka matanya untuk mengakhiri semua ini.
Beberapa perawat masuk ke dalam ruang ICU, membuat Yona menyingkir dari pintu.
Mereka mendorong ranjang pasien untuk keluar dari sana, mendorongnya menuju ruang operasi yang kini telah dipersiapkan.
“Dokter Gustin, saya mohon selamatkan Regan,” lirih Yona ketika Dokter Gustin Justavo berdiri di depannya.
Dokter Gustin Justavo tersenyum lembut. “Tenang saja, itu sudah menjadi tugas saya sebagai serorang dokter,” jawabnya begitu tenang, khas sekali pada pembawaan lelaki itu.
“Saya mempercayakan hidup saya kepada Anda, Dokter,” ucap Yona menaruh harapan penuh pada Dokter Gustin Justavo.
Yona telah mempercayakan kehidupannya kepada Dokter Gustin Justavo. Regan adalah hidup dan matinya. Jika Regan mati, mungkin Yona tidak akan memiliki alasan lagi untuk tetap hidup di dunia yang sangat kejam ini.
Lalu pandangan Yona menatap tubuh Regan yang kini lebih kurus dari setahun yang lalu.
“Sebentar saja,” ucap Yona kepada semua orang.
Yona tahu Regan harus cepat-cepat mendapatkan penanganan, namun Yona ingin membisikkan sesuatu kepada Regan. Satu mantra kehidupan yang dia yakini akan membawa pengaruh baik pada Regan.
“Aku menunggumu, kamu tidak boleh mati. Kau dengar kan? Kau hanya boleh mati saat aku mati,” bisik Yona di telinga Regan.
Dikecupnya kening Regan, sebagai obat paling manjur di dunia ini.
Kini ranjang pasien yang membawa tubuh Regan telah mereka dorong menuju ruang operasi. Begitupun semua orang yang kini ikut serta di belakang para petugas medis untuk menemani Regan melewati dinginnya meja operasi.
Nadia menatap suaminya, menarik lengan sang suami untuk mendekat ke arahnya.
“Sayang, bagaimana kalau Dokter Gustin menyuntikkan cairan yang sama seperti Olivia kepada Regan?” tanya Nadia menatap suaminya dengan kening berkerut.
“Hust, jangan berbicara seperti itu di sini. Bagaimana kalau ada yang mendengarmu?” Fernando menyentil hidung istrinya dengan gemas.
Nadia kini menatap sosok di depannya, Yona yang masih terus menangis dalam dekapan kakak lelakinya.
“Aku juga tidak bisa membayangkan jika aku berada dalam posisi Yona. Setahun menanti kesadaran lelaki yang dia cintai. Setiap hari dihantui kondisi Regan yang bisa berubah-ubah setiap saat.” Nadia menghela napasnya panjang.
“Aku tidak pernah menyangka, mereka akan mengalami fase terburuk seperti ini dalam kehidupan mereka,” bisik Fernando.
“Kita pernah mengalaminya, semoga saja Regan dan Yona bisa melewati semua ini. Kebahagiaan akan segera menanti mereka berdua,” lirih Nadia mendoakan segala yang terbaik untuk Yona dan Regan.
Kini Regan tidak bisa berbuat banyak. Lelaki itu hanya duduk diam menunggu hingga kegelapan segera lenyap dari peradaban. Regan sudah tidak sabar untuk kembali ke alam nyata lagi.
Lelaki itu tersenyum di dalam alam bawah sadarnya. Mantra yang diucapkan Yona seperti penambah semangat untuk dirinya bisa tetap bertahan di dalam kegelapan itu.
Yona, aku pasti akan kembali. Bisakah kamu menungguku?
__ADS_1
Dalam diam, Regan mencintai Yona. Di setiap hembusan napas yang terus dia hembuskan, di setiap detak jantungnya, semua itu karena Yona. Keinginannya untuk tetap hidup untuk bisa bersatu lagi dengan Yona.
Tuhan tidak akan memisahkan segala sesuatu yang memang telah ditakdirkan untuk bersama.