My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Penghuni Hati


__ADS_3

Kepulangan Regan dan Yona ke Indonesia disambut suka cita oleh seluruh keluarga mereka. Mereka dijemput dengan jett pribadi milik keluarga Corlyn, bersama Nata yang kebetulan tengah melakukan peresmian pembukaan cabang salah satu anak perusahaan keluarga Corlyn mewakili Cecilia yang kini full time bersama anak-anaknya di rumah saja seperti anjuran dari pemerintah.


Belum lagi, Sisil harus membantu Nayna untuk mempelajari mata pelajarannya agar bisa mengikuti semua materi yang seharusnya diajarkan di sekolah.


“Terimakasih, Bro,” ucap Regan menepuk punggung Nata.


“Sama-sama, kalau gitu gue balik dulu ya,” pamit Nata.


Nata melambaikan tangannya kepada seluruh keluarga Regan dan Yona yang kini tersenyum ke arahnya. Jett pribadi milik keluarga Corlyn memang memiliki izin parkir di Bandar Udara Internasiona Husein Sastranegara. Kini Nata dan asisten pribadinya melangkah keluar dari bandara karena sopir yang menjemput mereka telah menunggu di luar.


Lili menghambur memeluk anaknya yang baru kembali dari Singapura. Kerinduan seorang ibu yang tidak bisa tahan, dan juga rasa cemas yang selalu menggelayuti perasaan Lili akan hasil CT-Scan Regan di Singapura. Bahkan beberapa hari ini Lili tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan kondisi Regan. Jika saja dirinya masih muda dan kekebalan tubuhnya lebih kuat, mungkin Lili akan menemani Regan untuk berobat.


“Bagaimana hasilnya, Regan?” tanya Lili sudah tidak mampu menahan rasa penasaran dalam benaknya.


Septian mengelus lengan istrinya. “Bun, kita kembali ke rumah dulu,” ucap Septian karena musim saat ini yang tidak mendukung.


Baik Shinta maupun Hendra menyetujui ucapan dari Septian. Shinta juga berharap bahwa Regan secepatnya diberikan kesembuhan oleh Tuhan. Melihat Yona dan Regan yang mendapatkan cobaan seberat itu tentu saja membuat Shinta merasakan kesakitan yang sama dengan putrinya.


Mereka keluar menuju parkiran mobil mereka. “Yona, kita naik mobil sendir saja biar Bunda dan Ayah satu mobil dengan Mommy dan Daddy,” ucap Regan menarik tangan Yona sebelum Yona masuk ke dalam mobil kedua orang tuanya.


Senyumam penuh arti kini muncul dari wajah para orang tua. Beberapa hari hidup bersama nampaknya membuat pasangan itu enggan terpisahkan jarak dan waktu.

__ADS_1


“Hah?” tanya Yona dengan wajahnya nampak berpikir.


“Udah, ikutin saja kemauanku,” ucap Regan memberikan perintah kepada Yona.


Regan meminta kunci mobil dari tangan ayahnya, lelaki itu membukakan pintu mobil untuk Yona. Regan berlari kecil mengitari mobil dengan senyuman yang merekah di wajahnya. Jujur saja, Regan tidak bisa jauh dari Yona meskipun pemerintah telah menerapkan social distancing. 


“Kenapa kita tidak satu mobil saja dengan orang tua kita?” tanya Yona menatap Regan.


“Karena setelah ini kita bakalan jarang buat ketemu,” ucap Regan menjawab pertanyaan Yona.


Regan mengelus puncak kepala Yona dengan lembut. “Jangan tanyakan kenapa angin membuat gugur dedaunan, jangan tanya kenapa hujan turun setelah langit mendung. Begitu juga denganmu, jangan tanyakan kenapa aku selalu rindu,” ucap Regan membuat Yona kehilangan pasokan udara dalam paru-parunya.


“Kamu terlihat cantik kalau blushing seperti itu,” ucap Regan semakin membuat wajah Yona merona.


Kebahagiaan dirasakan keduanya, kabar baik dari Dokter Gustin Justavo yang akan mengatur jadwal operasi saat kondisi Regan telah memungkinkan, dan juga kondisi alam yang mendukung. Hari itu akan menjadi hari yang akan Regan dan Yona tunggu-tunggu selama ini.


“Kamu mau berjanji satu hal?” tanya Yona kepada Regan.


“Apa?” tanya Regan balik.


“Berjanjilah, bahwa detik pertama kamu mampu melihat wajah, wajahku menjadi wajah pertama yang kau kenali,” pinta Yona menatap Regan yang kini mengemudikan mobil.

__ADS_1


Regan meraih tangan Yona, menggenggam jemari Yona dan menciumnya. 


“Bahkan dengan memejamkan mata aku selalu bisa melihatmu,” ucap Regan membuat Yona tersentak.


Bagaimana bisa? Bahkan Regan belum pernah melihat wajahnya setelah lelaki itu sadar dari komanya.


“Bagaimana bisa, Regan?”


“Aku mengingatmu, aku mengingat semua tentang kita,” jawab Regan membuat mata Yona berkaca-kaca.


“Bersumpahlah kau tidak berbohong!” pinta Yona meletakkan tangan Regan di atas kepalanya.


“Aku mengingatmu, aku mengingat tentang flasdisk, pernyataan cintamu di apartemen, racauanmu saat mabuk di kapal pesiar, dan cincin yang hilang saat lamaran,” jelas Regan kepada Yona.


Yona menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Benarkah apa yang kini dia dengar? Benarkah Regan telah kembali mendapatkan ingatannya yang sempat menghilang beberapa bulan ini?


Tanpa menunggu lama, Yona menghambur memeluk Regan dengan erat.


“Terimakasih Regan, terimakasih kamu sudah mengingatku,” lirih Yona bersama dengan jatuhnya bulir air mata yang kini menetes dari pelupuk matanya.


Regan mengecup puncak kepala Yona, dadanya kini menghangat. Kalaupun seumur hidup dia akan kehilangan kemampuan untuk melihat, maka dia akan mengingat wajah Yona dalam ingatannya. Itu janji Regan yang akan dia tepati untuk sosok wanita penghuni hati, Yona Anantasya William.

__ADS_1


__ADS_2