
Yona memilin kain kimono yang dia pakai, matanya menatap sosok Regan hilang bersamaan pintu walk in closet yang tengah tertutup. Otak Yona berkelanan, mencari cara bagaimana dia bisa terbebas dari Regan malam hari ini. Sungguh, demi apapun juga, Yona belum siap melakukan hubungan suami istri bersama Regan meskipun mereka telah sah dalam ikatan agama maupun negara.
Wanita itu memilih masuk ke dalam selimut, bergelung di bawah selimut tebal untuk menutupi tubuhnya. Iya, mungkin ini cara paling jitu agar Regan tidak menyentuhnya sekarang juga.
Berpura-pura tidur, Regan tidak mungkin menyentuhku saat aku tidur.
Yona mengulum senyumnya, wanita itu sengaja memiringkan tubuhnya ke samping kanan agar wajahnya tidak berhadapan langsung dengan Regan ketika lelaki itu membaringkan tubuhnya di samping Yona.
Suara pintu terbuka semakin membuat jantung Yona memburu begitu cepat. Dengan satu kerjapan, Yona memejamkan matanya, memulai sandiwara putri tidurnya untuk mengelabui Regan saat ini.
“Kamu tidur?” tanya Regan berjalan menghampiri Yona.
Lelaki itu mengelum senyumnya, mungkin Yona benar-benar lelah akan kegiatan mereka seharian ini. Regan memilih duduk di tepi ranjang, di samping kaki jenjang Yona yang meringkuk di bawah selimut. Jemari Regan dengan perlahan mengelus wajah Yona, mengikuti setiap lekuk wajah rupawan istrinya dengan begitu hati-hati agar tidak mengganggu tidur istrinya.
Dikecupnya perlahan kening Yona, Regan menarik selimut yang menutupi sebagian tubuh Yona, menaikkannya hingga menyapai leher wanita itu.
Regan merangkak naik ke samping tubuh Yona saat ini berbaring. Lelaki itu meraih ponselnya dari atas meja nakas, membuka pesan-pesan yang masuk ke sana dan membalasnya satu per satu. Banyak dari mereka mengucapkan selamat atas pernikahan Regan dan Yona, bahkan saat ini grup chat WhatsApp para pasangan ruwet tengah ramai hingga terdapat ratusan chat masuk di sana.
“Apa-apaan ini,” cibir Regan membuka pesan grup, membacanya dari atas hingga pesan terakhir. Regan terkekeh geli membaca pembahasan para pasangan ruwet yang membuatnya bergidik sendiri.
Yang mau malam pertama Regan dan Yona, kenapa justru para pasangan ruwet itu yang terlihat begitu antusias sampai-sampai mengirim beberapa contoh referensi gaya yang bisa Regan dan Yona praktekkan dalam penyatuan mereka berdua.
“Ck, dasar pasangan ruwet kurang kerjaan,” cibir Regan, lalu menekan tombol bersihkan isi chat dari grup para pasangan ruwet agar tidak mencemari kesucian ponselnya.
Apa yang tengah lelaki itu lakukan? Yona mati-matian menahan rasa penasarannya saat Regan tiba-tiba terkekeh seorang diri. Yona menekan dalam niatnya untuk membuka mata. Kecupan halus di kening wanita itu membuatnya merasakan kedamaian luar biasa.
__ADS_1
“Selamat tidur, selamat beristirahat,” ucap Regan melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya, menelusupkan tangannya untuk dijadikan bantal dari kepala istrinya.
Rasanya seperti mimpi, posisi mereka saat ini tidak pernah dibayangkan oleh Regan sebelumnya. Dirinya tidak menyangka bahwa Yona pada akhirnya akan menjadi istrinya meskipun saat pertama kali mereka dijodohkan banyak pertimbangan-pertimbangan yang harus Regan lewati untuk memantapkan dirinya mencoba hubungan bersama dengan wanita yang sangat-sangat bertolak belakang dengan dirinya.
Dengkuran halus dari mulut Regan membuat Yona membuka matanya. Astaga, bukankah niatnya Yona yang berniat pura-pura tertidur? Kenapa lelaki itu justru yang terlihat begitu pulas menyapa alam mimpinya?
Yona berbalik, menghadap lelaki yang saat ini telah menjadi suaminya. Senyuman terukir, melengkung begitu indahnya menghiasi wajah Yona. Wanita itu mengecup singkat bibir Regan, menikmati wajah damai suaminya yang terlihat seperti pemandangan paling menenangkan di dunia ini bagi Yona.
Tangan Yona bergerak menggapai puncak kepala Regan, lalu turun pada kedua alis tebal Regan, merabanya dengan lembut. Kemudian turun pada mata Regan, mata yang selalu menatapnya dengan penuh cinta. Jemari Yona mengikuti bentuk hidung mancung suaminya, terkekeh geli membayangkan jika nanti anak-anaknya akan menuruni ketampanan dari Regan.
“Kamu benar-benar tampan,” gumam Yona menggerayangi bibir Regan dengan hati-hati.
Saat dirinya menarik tangannya, justru tangan Regan menggenggam tangannya begitu erat hingga membuat wanita itu tersentak kaget. Mata Regan terbuka, beradu pandang dengan mata Yona yang saat ini membulat sempurna.
Wajah Yona bersemu merah, Yona memalingkan wajahnya, tidak sanggup jika harus bersirobok dengan mata suaminya.
“Ka-kau tidak ti-tidur?” tanya Yona dengan gugup.
“Bagaimana dengan dirimu?” tanya Regan balik.
Yona menggeser tubuhnya ke samping, tapi tangan Regan justru menarik tubuh Yona untuk semakin dekat dengan dirinya.
“A-apa yang kau lakukan?” cicit Yona merasakan atmosfir dalam kamar yang mereka tempati berubah.
Bahkan aroma bunga mawar yang begitu kental kini rasanya menyeruak begitu saja saat Regan menarik tubuh Yona dalam dekapannya. Tangan kanan Regan menggerayangi wajah Yona, lalu turun hingga ke lekukan leher Yona sampai wanita itu menggelinjang merasakan geli pada setiap sentuhan tangan Regan pada tubuhnya.
__ADS_1
Regan mulai bangkit dari posisinya, lelaki itu tiba-tiba saja sudah berada di atas tubuh Yona. Regan mendaratkan ciuman pada bibir Yona.
“Aku sangat merindukanmu,” ucap Regan, bibirnya menemui bibir Yona, mencecap bibir istrinya dengan perlahan, penuh perasaan dalam rongga dadanya.
Lalu gerakan Regan turun pada leher telanj*ang Yona, lelaki itu meninggalkan kecupan basah dan gigitan kecil di sana hingga Yona terpekik pelan merasakan bibir halus milik Regan menyapu sebagian leher hingga turun ke bahunya yang entah kapan kimono yang dia pakai sudah melorot sampai mengekspose bahu putih halus bak kulit bayi.
Kecupan demi kecupan Regan tinggalkan di sana, meleburkan kerinduannya selama ini kepada Yona saat mereka berdua melakukan prosesi pingitan yang sangat menyiksa diri dan batin Regan. Sungguh, sekuat hati dan tenaga Regan sebagai lelaki dewasa dan normal yang terus saja menahan dirinya untuk tidak menyentuh Yona setiap saat mereka berada pada keadaan dan posisi yang genting.
Bisa saja Regan melakukannya saat mereka berdua menginap dari kebun strowberry, atau di saat Yona mabuk dan menginap di apartemennya. Namun bukan Regan namanya jika lelaki itu mencari kesempatan dan kesempitan. Regan hanya ingin melakukan percintaan saat keduanya telah sah menjadi suami istri dan mengalirlah pahala pada diri mereka setiap saat pergulatan panas itu dilakukan.
Bulu-bulu halus di tubuh Yona mulai meremang, gerakan sensu*al yang Regan lakukan pada tubuhnya begitu memanjakannya, dan … memabukkan. Yona sampai memejamkan matanya, tidak kuasa menolak sentuhan-sentuhan halus bibir dan jemari Regan pada tubuhnya.
Kenapa tubuh Yona pasrah begitu saja pada sentuhan-sentuhan tangan Regan? Lelaki itu sangat ahli memancing sesuatu dalam tubuh Yona hingga wanita itu seperti terhipnotis pada perlakukan bibir Regan yang disematkan di sepanjang kulit putih bersih miliknya.
“Katakan kau merindukanku,” lirih Regan dengan matanya membara penuh gai*rah tak tertahankan.
Yona mengangguk, tanpa menunggu Regan, wanita itu justru menarik tengkuk Regan, memulai cium*an panas mereka berdua di sela-sela perasaan mereka yang mulai membuncah hingga keduanya mulai kehilangan akal.
-------------
BUAT PARA PEMBACA KARENA BEBERAPA HARI INI BAKALAN UPDATE DOUBLE PART. MOHON UNTUK TIDAK MELONCATI BAB SAAT LIKE DAN KOMENTAR.
RASANYA SESAK SEKALI BAGI SEORANG AUTHOR YANG SUDAH MERELAKAN DOUBLE UPDATE EH BAB ATAS MINIM LIKE DAN KOMENTAR, DILEWATIN BEGITU SAJA KAYAK MONOPOLI HANYA LEWAT 😭😭😭
AKU YAKIN PEMBACAKU BAIK-BAIK SEMUA KOK MAU NINGGALIN JEJAK BUAT APRESIASI AUTHORNYA 😍😍☺️
__ADS_1