
Rumah utama Keluarga Corlyn sangat ramai, kedatangan Rehan dan juga Melodi disana membuat rumah mewah bak istana kini semakin menggila. Sayangnya, Nadia dan Fernand tidak bisa ikut datang kesana karena pekerjaan wanita itu tengah menumpuk guna menyelesaikan pesanan terdahulu sebelum mereka mengerjakan pesanan pasangan Yona dan Regan yang sangat dadakan.
“Bagaimana kalau kita main truth or dear?” usul Viona membuat seluruh pasangan di sana saling menatap hingga akhirnya mereka mengangguk menyetujui ajakan Viona.
“Boleh, aku setuju,” ucap Yona menyetujuinya dengan semangat.
“Sisil, kamu masih menyimpan botol sirupnya kan?” tanya Viona kepada Sisil.
Sisil mengangguk. “Ada, di laci meja dapur paling bawah,” ucap Sisil yang kini tengah menyusui baby Zio secara langsung.
Baik Sisil maupun Viona memilih menyusui sendiri anak-anak mereka dari pada membiasakan anak-anak mereka meminum susu formula. Selama mereka masih bisa menyusui dan menyimpan stok asi di rumah kenapa mereka harus memberikan anak-anak susu formula?
Sebenarnya baik susu formula ataupun susu asi sama saja, keduanya punya kandungan yangbagus untuk tumbuh kembang anak. Tapi balik lagi, susu asi lebih baik dan juga lebih bagus untuk anak-anak dari segi manapun.
“Yang, ambilin dong,” kata Viona kepada Racka.
Lelaki itu mengangguk, sebagai suami yang siaga Racka tidak pernah membiarkan Viona melakukan segala hal sendiri. Jika Racka bisa membantunya, maka lelaki itu rela melakukan apa saja untuk meringankan pekerjaan Viona yang menjadi wanita karier sekaligus ibu rumah tangga yang sangat baik untuknya dan juga anak-anak mereka.
Racka mengambil botol ToD seperti arahan dari Sisil, lelaki itu menaruhnya di meja.
“Ayo kita melingkar,” ajak Yona diangguki mereka semua.
Mereka duduk melingkari meja kaca di ruang keluarga rumah utama Keluarga Corlyn.
“Yang tidak bisa menjawab ataupun tidak mau melakukan apa yang kita suruh, siap-siap traktir kita sepuasnya. Setuju?” ucap Melodi menatap seluruh orang disana.
“Oke, aku setuju,” jawab mereka semua kompak.
“Kita hompimpa dulu,” tutur Yona.
Mereka hompimpa, untuk menentukan siapa orang pertama yang akan memutar botol itu sebagai permulaan permainan truth or dear.
“Yesssss,” pekik Yona saat dirinya menjadi orang pertama yang akan memutar botol itu.
“Dimulai dari Yona, nanti giliran berputar ke kanan dan seterusnya,” ucap Viona memberikan arahannya.
Yona memegang botol itu, matanya menatap semua orang di sana.
“Siapakah yang akan kena ya? Jeng..jengg..jenggggg,” wanita itu memutar botol itu, membuat seluruh orang di sana menatap botol itu dengan harap-harap cemas.
Mata Rehan terbelalak, semua mata menatap kearah mantan kekasih dari Olivia tersebut.
“Hati-hati saja,” bisik Regan yang kebetulan berada disamping lelaki itu.
“Sialan lo!” keluh Rehan sedikit cemas dengan apa yang akan Yona lakukan sekarang.
“Truth or dear?” tanya Yona menatap Rehan dengan senyumannya yang justru terlihat seperti devil bagi Rehan.
Rehan begitu hapal, bagaimana karakter calon tunangan sahabatnya yang terkenal sangat usil dan juga menyebalkan. Pantas saja pasangan itu serasi, mereka sama-sama menyebalkan dan juga mengesalkan.
“Emmm, truth,” jawab Rehan.
Yona nampak berpikir sejenak, ah Yona mendapatkan satu ide yang mana ada rasa penasaran dalam benak Yona dan semua orang disana yang ingin mengetahui bagaimana perasaan Rehan sekarang kepada Olivia yang telah berpulang beberapa tahun yang lalu.
Semua orang sangat tahu, seberapa besar cinta Rehan saat itu kepada Olivia. Bahkan Rehan tidak goyah sedikitpun ketika penyakit mematikan menggerogoti nyawa wanita yang dia cintai hingga wanita itu meninggalkannya sendiri disana. Duka kehilangan Olivia, sampai saat ini masih Rehan rasakan setiap saat.
Entahlah, Olivia sering mampir ke mimpinya ketika Rehan merasa bersalah karena belum cukup mampu saat itu untuk mengobati Olivia sendiri. Andai saja itu terjadi sekarang, mungkin Rehan akan berusaha lebih keras untuk kesembuhan Olivia.
“Bagaimana perasaanmu sekarang kepada Olivia?” tanya Yona hati-hati, karena menyebut nama Olivia saja bisa menyinggung Rehan dan Melodi yang kini telah resmi berpasangan.
Rehan merasakan dadanya bergetar ketika Yona menyebut nama Olivia-nya. Lelaki itu mengulum senyumnya, teringat bagaimana saat Olivia menunjukkan senyuman terindah wanita itu di detik-detik terakhir wanita itu sebelum menemui ajalnya.
“Aku masih mencintainya,” jawab Rehan dengan matanya berkaca-kaca, membuat Yona merutuki kebodohannya dengan menanyakan pertanyaan sensitive seperti itu kepada Rehan.
“Viona, giliranmu,” ucap Nata yang tahu ekspresi wajah Rehan yang berubah menjadi mendung.
Rehan mencekal botol itu, membuat seluruh orang menatapnya tidak enak. Bahkan Melodi menatap lelaki itu dengan tatapan tidak kuasanya.
“Bagaimana perasaanku dengan Olivia saat ini? Sama besarnya dengan cintaku kepada Melodi saat ini. Mereka berdua memiliki tempat berbeda di hatiku,” jawab Rehan dengan senyuman kecut lelaki itu.
“Lupakan pertanyaan dari Yona, lanjutkan saja permainannya,” ucap Regan menatap Yona dengan melotot marah.
Yona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ini semua salahnya karena menanyakan pertanyaan menyakitkan seperti kepada seorang lelaki yang pernah kehilangan wanita yang dia cintai untuk pergi selama-lamanya dari dunia ini.
__ADS_1
“Jantungnya masih berdetak untukku,” jawab Rehan, menggenggam tangan Melodi dan tersenyum seakan mengatakan bahwa Rehan baik-baik saja sekarang karena ada jantung Olivia dalam diri Melodi dan juga dengan adanya kehadiran Melodi dalam hidup lelaki itu kini.
Padahal, masih ada misteri tentang kebenaran kematian Olivia yang belum terungkap sampai saat ini.
Semua orang di sana menatap Rehan dan Melodi dengan senyuman bahagia mereka, meskipun awan gelap pernah datang menghinggapi Rehan, nyatanya lelaki itu bisa menemukan kebahagiaan barunya dengan hidup bersama Melodi yang tidak lain adalah anak angkat keluarga Bellvaria, keluarga Olivia.
“Sekarang giliranku,” ucap Viona dengan segera memutar botol tersebut.
Botol itu berhenti menunjuk kearah Racka, membuat Viona menatap lelaki itu dengan menusuk. Viona menunggu saat-saat seperti ini, untuk menanyakan kecurigaannya kepada suaminya.
“Jawab saja!” ucap Viona membuat Racka terbelalak.
“Hei, mana bisa jawab saja. Truth or dare, Sayangku,” ucap Racka menaikkan alisnya.
“Jawab saja, jangan banyak protes,” jawab Viona pada akhirnya membuat Racka mendesah pasrah.
“Rasain lu!” ejek Nata menimpuk kepala Racka dengan kulit kacang yang isinya baru saja dia makan.
Racka menekuk wajahnya.
“Tanya saja, aku akan jawab,” ucap Racka dengan pasrah.
Viona tersenyum penuh kemenangan.
“Penarikan terakhir, kamu gunakan untuk apa? Kenapa besar sekali jumlahnya?” tanya Viona.
Tentu saja Viona akan menanyakan hal ini, sejak beberapa hari yang lalu Viona sangat penasaran dengan pemberitahuan dari SMS bank tentang penarikan uang yang jumlahnya hampir seratus juta rupiah. Sepertinya lelaki itu tidak membeli apapun, kenapa Racka bisa menarik uang sebesar itu?
“Em, itu kan.” Racka terdiam, dia menoleh kearah Sisil dan Nata meminta bantuan.
Bisa gagal rencana surprise untuk Viona jika Racka harus menjawab pertanyaan istrinya dengan jujur.
“Aku yang minjem, aku kemaren tiba-tiba saja butuh dan lupa bawa kartu ATMku,” jelas Nata membantu Racka menjawab pertanyaan dari Viona.
“Sungguh? Kamu tidak sedang berbohong?” tanya Viona menyelidik kearah suaminya.
“Mana mungkin aku berbohong kepadamu, tidak mungkin aku selalu jujur,” jawab Racka menunjukkan senyuman memikatnya yang mampu memikat dan meluluhkan kebekuan di hati Viona beberapa tahun yang lalu.
Kini botol itu berhenti ke arah Yona, membuat seluruh orang disana bersorak sangat bahagia.
“Kalian sepertinya sangat senang,” cibir Yona dengan tatapan jengahnya.
“Truth or dear?” tanya Sisil menatap Yona.
Mata Yona menyipit, apa yang akan dia pilih saat ini? Jika truth, maka Yona harus menjawab pertanyaan Sisil. Dan jika dear, bagaimana jika Sisil memintanya melakukan hal yang tidak-tidak.
“Truth, aku pilih truth,” jawab Yona membuat Sisil mengulum senyumnya.
“Kalian ada yang mau menanyakan sesuatu nggak dengan Yona?” tanya Sisil kepada semua orang disana,
“Regan mungkin?” tanya Viona dijawab gelengan kepala lelaki itu.
Kalau Regan memiliki pertanyaan, mungkin dia akan menanyakan secara langsung kepada Yona secara pribadi daripada bertanya di depan para pasangan rese yang nanti mungkin akan menjadikan dirinya dan Yona bahan bullyan mereka.
“Kalau tidak ada yang mau bertanya, aku mau bertanya. Yona, pilih Regan atau project dengan Song Hye Kyo?” tanya Sisil membuat Yona menganga.
Song Hye Kyo? Mantan istri dari actor favoritnya Song Joong Ki? Dewinya Korea Selatan yang diidolakan banyak orang?
“Tentu saja Regan,” jawab Yona tanpa berpikir lagi.
“Wuahhh, selamat Regan kamu benar-benar ada dihati model international kita,” ucap Sisil memberikan selamat kepada Regan.
“Bukan karena ada di hatinya, tapi karena dia tidak mungkin berada satu project dengan Song-song itu,” kata Regan menebak apa yang kini berada dalam isi kepala wanita cantik yang kini menyengir kuda kearahnya, sebagai tanda bahwa tebakan lelaki itu memang benar adanya.
Mereka terbahak, Regan sungguh tahu segala yang ada dalam pikiran Yona. Mereka sepertinya pantas dijuluki sebagai best couple tahun ini karena kekompakan mereka berdua.
“Sekarang giliran Melodi,” ucap Melodi yang memang selalu memanggil namanya untuk penyebutan atas ‘aku’.
Wanita yang paling kalem diantara wanita-wanita disana, wanita yang sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagi dokter di Singapura hingga jarang untuk berkumpul bersama teman-temannya di Indonesia.
Sama dengan Yona, Melodi baru mengenal mereka beberapa tahun ini ketika dia menjalin hubungan dengan Rehan.
“Sisil!” pekik Nata sangat bahagia saat botol itu mengarah ke arah Sisil, membuat para orang dewasa menatapnya aneh.
__ADS_1
“Hei kenapa elu yang bahagia bodoh, yang mau bertanya kan Melodi,” keluh Rehan yang sangat jengah dengan kelakuan ayah dua anak yang tidak pernah berubah sama sekali.
“Mel, biarkan aku yang bertanya dengan Sisil,” pinta Nata.
Melodi menoleh ke arah Sisil, Sisil menggelengkan kepalanya pertanda bahwa Melodi tidak boleh mengiyakan permintaan Nata.
“Jangan,” ucap Sisil.
“Mel, kita temen kan?” tanya Nata menatap Melodi penuh harap.
“Mungkin Nata ada yang ingin dia tanyakan denganmu, jadi aku mengizinkannya,” ucap Melodi dengan polosnya membuat Sisil memejamkan matanya.
Sedangkan Rehan hanya terkekeh dengan kepolosan wanitanya yang sangat menggemaskan di mata lelaki itu.
“Sekarang jawab aku dengan jujur Cecilia, kamu pernah berhubungan lagi dengan Darwin Jaxon atau tidak setelah kita menikah?” tanya Nata membuat mata Sisil terbelalak.
Sialan, Nata sepertinya sangat curiga dengan hubungan Sisil dan Darwin. Padahal Sisil mati-matian menutupi komunikasinya dengan Darwin agar Nata tidak salah paham. Darwin menghubunginya hanya untuk menanyakan kabar Sisil dan juga Queenayna. Bahkan, ketika Nayna belibur ke Amerika bersama satu sekolah anak itu, Darwin menghampiri Nayna di tempat wisata yang anaknya kunjungi tanpa sepengetahuan Nata.
Untung saja anaknya menurut saja dengan Sisil jika Sisil memerintahkan apapun kepada Nayna.
“Tidak pernah,”jawab Sisil menyembunyikan kegugupannya.
“Bohong!” cibir Nata mengerucutkan bibirnya.
“Kamu yang selalu saja berbohon, Karina datang ke kantormu tapi kamu tidak bilang denganku. Itu namanya apa hah?” tanya Sisil balik, membuat Nata menganga mendengar ucapan Sisil.
Ini pasti Aneta yang memberitahu Sisil jika Karina datang ke kantornya meskipun Karina sudah tahu bahwa Sisil dan Nata sudah menikah dan mempunyai dua orang anak.
“Dari mana kamu tahu, itu hanya gossip. Digosok-gosok makin sip, jadi kamu jangan mudah percaya.”
“Digosok, memang setrikaan,” keluh Sisil menatap Nata dengan pandangan kesalnya.
“Hei kenapa jadi kamu yang marah? Aku yang ingin bertanya dengamu, dan kamu malah balik tanya,” keluh Nata karena gagal bertanya kepada Sisil dan malah berakhir dengan dirinya mendapatkan masalah baru.
“Kamu memang keterlaluan bro, udah tahu punya istri masih ganjen sama wanita lain,” ucap Regan menjadi angin yang membesar-besarkan api diantara Nata dan Sisil.
“Tutup mulutmu bodoh!” umpat Nata membuat semua orang disana tertawa.
“Sekarang tinggal dirimu sendiri yang belum diberikan pertanyaan, jawab aku. Yona atau Nadia?” tanya Nata dengan tatapan balas dendamnya.
Yona menatap Regan dengan tajam, awas saja jika lelaki itu masih menaruh perasaan dengan Nadia. Yona pasti akan membunuh Regan sekarang juga.
“Yona dong,” jawab Regan mengedipkan matanya kearah Yona.
“Alasannya apa?” tanya Melodi yang sangat penasaran.
“Melodi, kenapa kamu justru bertanya kepada Regan? Seharusnya kamu menggunakan kesempatanmu untuk bertanya denganku,” kesal Sisil.
Melodi hanya tertawa kecil, wanita itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Regan yang terlihat paling berbeda dengan teman-temannya. Jujur saja, semua orang disana tidak menyangka dengan Regan sekarang, Regan yang berani melamar Yona didepan para penumpang kapal pesiar dan berdansa dengan sangat mesra dengan wanita yang dia cintai.
“Aku tidak butuh alasan untuk mencintainya,” jawab Regan menatap tepat di manik mata wanitanya.
“Kenapa kamu tiba-tiba yakin dengan Yona?” tanya Viona menyuarakan rasa penasaran yang sebenarnya ingin dia tanyakan.
“Karena aku merasa lengkap bersama dengan Yona,” jawab Regan tanpa panjang lebar, sangat singkat tapi penuh dengan makna.
Cinta tidak membutuhkan alasan untuk hadir, cinta bisa datang kapan saja dan dengan siapa saja yang dia mau. Cinta tidak butuh kata permisi untuk datang, dan tidak butuh kata pemitan untuk saling meninggalkan.
“Karena dia Yona, hanya karena dia Yona aku merasakan getaran yang aneh dalam hatiku,” lanjut Regan membuat seluruh wanita di sana menatapnya menganga kagum.
Racka menoleh kearah istrinya, dia tahu jika Viona sangat mengagumi Regan bahkan saat mereka masih berada di bangku kuliah. Bahkan secara terang-terangan Viona memuji ketampanan Regan.
‘Padahal aku tidak kalah tampan dari cecunguk ini’ cibir Racka mendengus melihat cara menatap Viona kepada Regan yang terlihat sangat memuja.
“Blegedussss,” jawab Racka yang merasa kesal dan juga cemburu.
Viona mendengus menatap suaminya, Racka memang suka sekali merusak romantisme.
“Berhenti mengacau, bangunkan Devaro dan antarkan dia untuk les,” ucap Viona memberikan perintah sebagai Ibu Negara di rumah tangga mereka berdua.
-
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMENNYA 🙏🙏🙏
__ADS_1