My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Dunia Ngontrak


__ADS_3

Mereka semua berjalan menuju ruang CT Scan yang sudah ada seorang Dokter Stefano selaku dokter spesialis radiologi yang telah menunggu untuk kedatangan Dokter Gustin Justavo dan Dokter Irawan selaku dokter pribadi dari pasien. Dokter Irawan menatap kagum ruang CT Scan yang ada di rumah sakit itu, segala peralatan terbaru dan sangat lengkap tersedia di sana tanpa kurang apapun juga.


Seorang lelaki berjas kebesaran berwarna putih keluar dari sana, lelaki itu tersenyum ketika melihat rombongan Dokter Gustin Justavo dan Dokter Irawan berada di sana.


“Dokter Stafano, anda mau ke mana? Kami baru saja mau masuk ke ruangan,” ucap Dokter Gustin Justavo seraya tersenyum ramah ke arah lelaki di depannya.


Dokter Stefano, dokter yang baru saja lulus dari kuliah spesialis radiologi untuk menunjang kariernya sebagai seorang dokter. Mata Dokter Stefano menyipit menatap Regan, “dia kah pasiennya?” tanya Dokter Stefano menaikkan satu alisnya ke atas.


Regan mengangguk, lelaki itu menyodorkan tangannya ke arah Dokter Stefano menyalami lelaki itu dengan ramah.


“Saya Reganera, mohon bantuannya Dokter Stefano,” ucap Regan dengan senyumnya yang tersungging di bibir ranumnya.


Lelaki yang sama sekali tidak pernah aktif merokok, lelaki yang memang sangat memperhatikan kesehatan tubuhnya untuk tetap dijaga dengan baik. Bagi Regan, kesehatan itu mahal harganya. Bahkan saat dengan mati-matian lelaki itu menjaga kesehatannya, kecelakaan perampokan yang begitu naas malah menimpa lelaki itu dan Yona sampai gagalnya acara pertunangan mereka berdua.


Parahnya, Regan sama sekali tidak tahu dan tidak sadar apa yang telah dia lupakan. Kenangan apa saja yang sudah dia lewatkan. Memori apa saja yang telah diremove dari otaknya karena penyakit yang kini dia derita.


“Dan ini, calon istri saya,” ucap Regan memperkenalkan Yona, merangkul pundak Yona dengan begitu mesra.


Dokter Stefano memicingkan matanya, “sepertinya wajah anda tidak asing ya?” tanya Dokter Stefano sambari mengingat wajah Yona.


“Tentu saja kamu mengingatnya Dokter, Yona ini model Internasional yang wajahnya sering wara-wiri di media sosial kita bahkan sering kali nongkrong di reklame jalan-jalan di beberapa sudut kota,” ucap Dokter Gustin Justavo membuat Dokter Stefano tersenyum.


“Senang sekali bisa bertemu dengan anda, saya Dokter Stefano. Dokter Spesialis Radiologi yang nantinya akan bekerja sama dengan Dokter Gustin Justavo dan Dokter Irawan untuk emm, calon suami anda,” ucap Dokter Stefano membuat wajah Yona memerah malu.


Astaga, dengan menyebut nama calon suami saja membuat wajah Yona bersemu merah. Wanita itu nampaknya sangat tidak siap dengan julukan yang mereka ucapkan untuk Regan.


Calon suami? Hmmm memikirkannya saja membuat wajah Yona bersemu merah.


“Mari kita masuk sekarang, sambari menunggu perawat membersiapkan segala keperluannya,” ucap Dokter Stefano mempersilahkan Regan, Yona, dan yang lainnya untuk masuk ke dalam ruangan CT-Scan Radiologi. Di mana Dokter Stefano-lah yang bertanggung jawab dan telah diberikan wewenang untuk menjadi dokter radiologi yang akan mengecek kondisi tubuh Regan, khususnya di bagian kepala lelaki itu.


Mereka memasuki ruangan CT-Scan, Yona memegang erat tangan Regan memberikan kekuatan lewat sana.


“Bagaimana pasien, sudah siap?” tanya Dokter Stefano terkekeh ringan.


“Saya mempercayakan semuanya kepada Dokter-dokter sekalian,” ucap Regan meyakini bahwa di tangan mereka dengan kuasa dari Sang Ilahi-lah dirinya bisa kembali sembuh.


Regan berharap, hasil dari CT-Scan hari ini akan menunjukkan perkembangan yang baik di dalam kepalanya. Penyakit aneh menurut Regan karena hanya beberapa orang saja yang mengalami penyakit seperti itu di dunia. Regan berharap, waktu akan menyembuhkan segalanya. Termasuk bagian kepalanya yang rusak, Regan berharap ada keajaiban suatu hari nanti agar dirinya bisa kembali melihat wajah seseorang, terumata wajah ayu dari wanita yang kini menggenggam erat tangannya memberikan kekuatan lewat sana.


Para perawat lelaki masuk ke dalam ruangan, ada dua perawat yang telah ditunjuk oleh Dokter Stefano untuk mempersiapkan pemeriksaan lewat CT-Scan ini. 


“Langsung saja disiapkan peralatannya,” ucap Dokter Gustin Justavo memberikan aba-aba.


Kedua perawat lelaki itu langsung mempersiapkan CT-Scanner, tube Xray, computer, peralatan yang memungkinkan dalam kondisi gawat darurat, zat kontras, intercom, skrin pelindung radiasi, dan juga tombol panggilan.


“Itu alat CT-Scanner diperiksa sekali lagi, Mr,” ucap Dokter Stefano meminta para perawat untuk kembali memeriksa alat CT-Scanner sekali lagi agar tidak terjadi kesalahan.


Kini Yona, Regan, dan Livia hanya menunggu di ruang CT-Scanner namun tidak memasuki ruangan steril di mana alat-alat CT-Scan itu berada. Yang boleh masuk ke sana adalah orang-orang yang sudah memakai jubbah steril dan telah mendapatkan izin memasukinya.


“Mari, Reganera, kita cek dulu tekanan darah dan yang lainnya sebelum melakukan tahapan CT-Scan,” ucap Dokter Gustin Justavo mengajak Regan untuk masuk ke dalam ruangan yang berbeda namun masih berada dalam ruangan CT-Scan.


Jadi, ruangan CT-Scan itu sendiri terdiri dari 1 ruang steril yang berisi alat-alat Scanner dan juga menjadi ruang utama dalam melakukan tindakan Scanner. Selanjutnya ada ruangan monitoring, di mana nanti Dokter Spesiali Radiologi dan Dokter Spesialis Bedah akan berada di sana untuk melihat bagaimana hasil dari proses CT-Scan itu sendiri. Dan, ruangan yang akan menjadi ruang medis pengecekan kondisi vital pasien sebelum melakukan CT-Scan.


Livia menyentuh pundak Yona, membuat wanita itu menoleh ke arahnya. Livia tersenyum lembut, sangat paham dengan apa yang kini Yona rasakan karena kecemasan yang tengah Yona alami.


Yona menatap Regan sebelum punggung lelaki itu menghilang di balik tembok. Yona mere*mas tangannya gugup. Lelaki itu yang akan menjalani pemeriksaan, tapi Yona merasakan kecemasan yang luar biasa akan kondisi lelaki yang sudah menyita cinta dan perhatiannya sejak dulu.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja," ucap Livia kepada Yona, mencoba meyakinkan bahwa Regan pasti akan baik-baik saja.


"Terimakasih, sudah menenangkan dan menemaniku di sini," ucap Yona meraih tangan Livia, menggenggam balik tangan wanita yang baru saja dia temui namun sudah seperti kerabat dekat bagi Yona.


Livia mengangguk, "pernah ada seorang lelaki yang berada di posisimu, dia begitu cemas menunggui kekasihnya melakukan perawatan medis. Sayangnya, kekasihnya meninggal," ucap Livia dengan kilatan kesedihan di matanya.


Yona tersentak, mendengar kalimat Livia malah mengingatkannya akan sosok Rehan Prehantara Kusuma yang kabarnya begitu kehilangan sosok kekasihnya dulu yang bernama Olivia Dera Bellvaria yang meninggal karena penyakit mematikan.


"Itu bukan kisah novel kan?" Tanya Yona membuat tawa wanita di depannya meledak.


"Kamu pikir aku kecanduan novel sampai menghubungkan dunia fantasi dengan real life?" Ucap Livia memasang wajah seakan kesal dengan Yona.


Yona terkekeh, keberadaan Livia di sampingnya mempu membuatnya sedikit rilexs. Mungkin kalau tidak ada wanita itu, Yona akan berdiri di depan ruangan berdinding kaca itu dengan kegugupan yang luar biasa.


Tidak berapa lama, terlihat Regan memasuki ruangan steril CT-Scan lewat pintu penghubung. Dokter Stefano, Dokter Gustin Justavo, dan Dokter Irawan langsung bersiap masuk ke ruang monitoring untuk memastikan pemeriksaan CT-Scan berjalan dengan lancar.


"X-Ray tube-nya dicek sekali lagi," ucap Dokter Stefano lewat microfon ruang monitor.


"Baik, Dokter."


Yona menunggu dengan cemas, kebetulan sekali saat itu Regan menoleh ke arah Yona dan mengacungkan jempolnya. Memberikan pertanda kepada wanitanya bahwa dirinya tengah baik-baik saja di dalam sana.


Wanita itu tersenyum dan mengangguk, tidak peduli apakah Regan bisa melihat senyumannya atau tidak. Yang terpenting dirinya sudah menunjukkan semua hal terbaik di dalam dirinya untuk menutupi kegugupan yang kini dia rasakan.


Entah apa yang kini mereka lakukan di dalam sana, Regan telah berganti baju dengan seragam steril berwarna hijau tosca sebelum merebahkan tubuhnya di meja baring.


Para perawat langsung keluar dari ruang CT-Scan begitu Regan sudah siap sepenuhnya. Kini giliran Dokter Stefano yang mengoperasionalkan semua mesin itu lewat komputer yang kini ada di hadapannya.


Dokter Gustin Justavo berdeham, sebelum menyalakan microfon penghubung ruangan monitoring dan ruangan mesin CT-Scan.


"Ya," jawab Regan dengan lantangnya.


Siap tidak siap, Regan harus melawan kegugupan yang kini menyergapnya. Demi satu alasan, untuk bisa bersanding dengan Yona dan membuat wanita itu bahagia. Regan tidak ingin menjadi beban dalam hidup wanita itu. Karena pada dasarnya, Yona hanya ingin menjadi pelangi dalam hidup Yona, tidak ingin menjadi awan mendung yang membawa hujan air mata dalam hidup Yona.


Regan berdoa, semoga saja apa yang kini mereka harapkan akan segera terwujud. Regan berdoa akan ada masanya di mana dirinya dan Yona akan bersatu tanpa ada masalah yang menghalangi mereka berdua.


"Baiklah, kita mulai," ucap Dokter Gustin Justavo diangguki Regan.


Meja baring itu bergerak, membawa Regan masuk ke dalam mesin Ct-Scan yang berbentuk bulat dan terdapat bolongan di tengahnya. Sinar-sinar dari mesin itu sudah mulai bekerja dalam mengambil gambar dari segala organ yang ada di dalam kepala Regan.


Mata Dokter Gustin menyipit, layar di depan mereka menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi kepada Regan.


"Tolong perbesar ini," ucap Dokter Gustin Justavo menunjuk satu garis yang sejak awal sudah menarik penglihatannya.


Dokter Irawan juga melihatnya, gambar itu lebih jelas dari pada gambar yang muncul saat mereka melakukan CT-Scan di Indonesia.


"Ini yang menjadi penyebab dia kehilangan penglihatannya melihat wajah seseorang," ucap Dokter Gustin Justavo membuat Dokter Stefano dan Dokter Irawan menatap apa yang lelaki itu tunjuk.


"Terjadi penyumbatan darah, dan juga kerusakan yang lumayan parah di bagian itu," jawab Dokter Stefano.


Dokter Gustin Justavo mengerutkan keningnya, entah apa yang kini lelaki itu pikirkan dalam otaknya. Perubahan wajah Dokter Gustin Justavo nampaknya menjadi sinyal bahwa ada yang mengusik ketenangan lelaki itu setelah melihat gambar yang ditampilkan mesin CT-Scan akan isi kepala Regan.


"Kapan hasilnya bisa keluar?" Tanya Dokter Gustin Justavo kepada Dokter Stefano yang memang juniornya.


"Dua hari lagi, Dokter Gustin," jawab Dokter Stefano.

__ADS_1


Dokter Gustin Justavo menggeleng, "besok malam kirimkan aku file bagian ini ke alamat emailku," ucap Dokter Gustin Justavo.


Dokter Stefano tersenyum, sudah hafal benar tentang sifat dan kepribadin Dokter Gustin Justavo yang sangat memanage waktu dengan baik.


"Iya besok," jawab Dokter Stefano dengan tersenyum.


"Kamu memang bisa aku andalkan, Stef," ucap Dokter Gustin Justavo menepuk bahu Dokter Stefano seraya tersenyum simpul.


Mereka bertiga keluar dari ruangan monitoring, kedua perawat langsung masuk ke dalam sana untuk membantu Regan keluar dari sana.


Yona dan Livia segera menghampiri ketiga dokter yang sejak tadi berada di dalam sana untuk melakukan pemeriksaan atas diri Regan.


"Sayang, bagaimana?" Tanya Livia.


"Dokter, bagaimana kondisi Regan?" Tanya Yona.


Kedua wanita itu sama-sama menunjukkan ekspresi wajah yang terlihat sangat cemas. Membuat Dokter Stefano terkekeh pelan, "sepertinya Dokter Gustin tidak lagi menjadi idola para wanita, melainkan pasien Reganera," kekehnya.


Dokter Gustin Justavo mendengus, "sayang kamu ini kenapa lebih cemas dari pada Yona? Siapa di antara kalian yang akan menjadi istri Reganera Abimanyu Louis?" Goda Dokter Gustin Justavo menunjukkan ekspresi wajah seolah-olah dirinya tengah terluka.


'Tentu saja, aku mengenalnya lebih lama dari pada kalian. Aku sangat mengkhawatirkan Kak Regan, teman baik dari mantan kekasihku.'


"Regan? Kamu tidak apa-apa?" Tanya Yona bergegas menghampiri Regan yang baru saja keluar dari dalam ruangan.


"Hei, dia hanya pemeriksaan singkat, jangan memperlakukannya seakan Regan baru saja kembali dari pintu kematian," keluh Dokter Gustin Justavo.


Livia mencubit lengan suaminya, "kamu ini syirik mulu kalau ada orang khawatir," keluh Livia kesal.


Syirik kalau ada orang khawatir? Kenapa Dokter Gustin Justavo merasa dirinya tersudutkan di sini.


"Aku baik-baik saja," jawab Regan mengelus pipi Yona dengan lembut.


Uhuk uhuk. Dokter Irawan terbatuk, bukan karena pure batuk, tapi melainkan pemandangan di depannya yang menurutnya sangat melankolis.


"Bagaimana Dokter?" Tanya Regan menatap ketiga dokter yang kini berdiri di depannya.


Ketiga dokter itu menatap Regan balik, "dua hari lagi hasilnya akan keluar," ucap Dokter Gustin Justavo membuat Dokter Stefano menoleh ke arah lelaki itu.


Apa yang sedang Dokter Gustin Justavo pikirkan? Padahal jelas-jelas dirinya meminta hasil lebih cepat, kenapa terlihat ingin menyembunyikan sesuatu dari pasiennya? Ada apa? Apa yang telah terjadi sebenarnya? Apa yang tengah lelaki itu pikirkan sekarang?


"Kita akan tahu hasilnya saat hasilnya telah keluar, setelah itu baru bisa kita pikiran langkah apa yang akan kita ambil," ucap Dokter Irawan mendukung ucapan dari Dokter Gustin Justavo.


Yona tersenyum, wanita itu mengelus bahu Regan.


"Aku bilang juga apa, ini tidak semenakutkan apa yang kamu bayangkan sebelumnya. Dokter akan mengusahakan segala hal yang terbaik untuk dirimu," ucap Yona tersenyum begitu menawan.


'Dia layak menyabet piala award wanita asia paling cantik,' batin Dokter Stefano memuji kecantikan dari Yona.


Regan tersenyum masam, Yona hanya tidak tahu ketakutan apa yang dia rasakan di dalam sana. Berbagai pemikira mengerikan bercampur aduk menjadi satu kolaborasi yang membuat dada Regan sesak secara tiba-tiba.


Regan begitu takut, hasil CT-Scan justru akan membuatnya semakin hancur. Kenyataan terburuknya, dia tidak bisa untuk sembuh atau sekadar melihat senyuman di wajah Yona yang mampu membuat semua lelaki merasa iri dengan posisi Regan saat ini.


Regan menatap Yona, sosok yang menjadi sumber kekuatannya selama ini. Tanpa aba-aba, Regan membawa Yona ke dalam pelukannya. Membuat seluruh orang di sana menatap mereka berdua kebingungan.


"Kita hanya ngontrak di sini," ucap Dokter Irawan mengundang gelak tawa dari yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2