
Keringat terus bercucuran dari kening Dokter Gustin Justavo. Beberapa kali kondisi Regan mengalami penuruan hingga membuat semua tim medis hampir menyerah untuk lelaki itu. Namun janji yang telah Dokter Gustin Justavo ucapkan kepada Yona dan seluruh keluarga Regan membuatnya tidak boleh menyerah akan kondisi lelaki itu.
Dokter Gustin Justavo membisikkan kalimat di telinga Regan, berharap doa semua orang mampu membuat Regan mendengar kalimatnya.
Kamu harus berjuang sekali lagi, bukan untuk hidupmu. Tapi untuk hidup wanita yang sejak dulu memperjuangkan dirimu.
Kalimat yang menjadi mantra paling mujarab setelah doa tulus semua orang. Detik telah berganti menit, dan menit telah berganti dengan jam. Segala proses telah semua orang lewati penuh perjuangan untuk Regan. Operasi yang memakan waktu serta menguras tenaga dan juga pikiran semua orang.
Operasi yang mungkin sangat menegangkan bagi ketiga dokter di sana. Kondisi fisik Regan terlalu mustahil untuk mampu selamat dari dinginnya meja operasi. Namun Tuhan berkehendak lain, Tuhan memberikan kehidupan sekali lagi kepada Regan hingga lelaki itu mampu berjuang sampai detik ini.
Tuhan tidak memberikan cobaan di luar batas kemampuan seseorang. Bahkan dalam ketidak sadaran dirinya, Regan masih diberikan mimpi luar biasa indah bersama dengan Yona. Pengobat rindu yang baginya mampu untuk sedikit mengobati kerinduannya kepada wanita yang sudah lama tidak dia temui.
“Finish,” ucap Dokter Gustin Justavo menatap semua orang dengan tersenyum di balik masker yang kini dia pakai.
Dokter Madina langsung mengecek kondisi vital Regan lewat layar yang tertampang di ruang operasi.
“Semuanya telah kembali normal,” ucap Dokter Madina mengangguk.
Dokter Irawan merasakan beban dalam pundaknya serasa diangkat begitu operasi yang dilakukan kepada Regan akhirnya dinyatakan sukses dan berakhir.
“Kita hanya bisa membantu kesembuhan Regan, semoga saja Regan mampu melawan segala yang kini dia hadapi di sana untuk segera bangun, sadar dari komanya,” ucap Dokter Gustin Justavo menatap tubuh Regan tak berdaya di depannya.
Bahkan untuk bernapas saja Regan harus dibantu dengan alat bantu pernapasan. Bisakah Regan melewati segalanya yang saat ini dia hadapi di alam bawah sadarnya?
“Dia harus bangun untuk semua orang.” Dokter Madina menatap Regan sekilas, lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan operasi.
Siapa yang tidak mendengar kisah romansa dari pasangan Reganera Abimanyu Louis dan Yona Anantasya William? Bahkan video lamaran mereka di atas kapal pesiar Miami menjadi trending topic hingga akhir tahun. Apalagi berita koma yang meretas di kalangan masyarajat semakin membuat seluruh kaum hawa di negeri ini menggandrungi sosok Arjuna masa kini, Reganera.
Dokter Madina keluar terlebih dahulu setelah mengganti baju operasinya dengan seragam dokter miliknya. Lampu operasi juga telah padam, menandakan bahwa operasi telah selesai dilakukan.
Semua keluarga Regan berdiri, mereka mengerubungi pintu masuk untuk menanyakan bagaimana kondisi Regan saat ini.
“Dokter Madina, bagaimana keadaan Regan?” tanya Rehan, begitu mencemaskan sahabatnya.
Sudah banyak dokter yang menolak untuk melakukan operasi kepada Regan. Mereka lebih memilih menyelamatkan lisensi kedokteran mereka tanpa berani mengambil resiko demi menyelamatkan nyawa seorang pasien. Tapi Rehan tidak bisa berbuat banyak, dirinya juga dokter dan begitu paham akan kondisi Rehan yang sangat tidak mungkin untuk melakukan operasi.
Beruntunglah, kegilaan Dokter Gustin Justavo pada akhirnya mampu menyelamatkan Regan dari ambang kematian.
“Operasinya berjalan dengan lancar, tapi kita masih harus memantau perkembangan kondisi pasien yang saat ini bahkan belum sadarkan diri dari koma,” ucap Dokter Madina menjelaskan.
Seperti mendapatkan hujan es di tengah gurun pasir. Wajah Yona yang sejak tadi murung dipenuhi kecemasan, kini wanita itu bisa bernapas sedikit lega setelah mendengar bahwa operasi Regan lancar.
“Bisakah kami menemui Regan, Dokter?” tanya Yona dengan matanya berkaca-kaca.
“Nanti, setelah dia kembali di ruang perawatan,” jawab Dokter Madina tersenyum.
Yona tidak sanggup menyembunyikan rasa harunya, wanita itu langsung memeluk Dokter Madina dengan erat.
“Terimakasih Dokter, saya berhutang budi dengan Anda sekali,” ucap Yona tidak kuasa menahan haru yang kini menyergapnya.
“Anda tidak perlu sungkan Nona Yona, sudah menjadi kewajiban saya untuk menjalankan tugas ini. Dokter Gustin Justavo menjadi kunci kesuksesan pada operasi kali ini,” ucap Dokter Madina mengelus punggung Yona.
Tidak berapa lama, perawat membawa Regan keluar dari ruang operasi.
“Dokter Gustin.” Rehan dan Dokter Gustin Justavo saling menatap.
Dokter Gustin Justavo mencoba menetralkan jantungnya, setiap kali melihat lelaki itu Dokter Gustin selalu merasa bersalah karena telah merebut wanita yang lelaki itu cintai dengan jalan yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
“Semuanya baik-baik saja, meskipun ada beberapa masalah ketika operasi berlangsung,” jelas Dokter Gustin tersenyum, menepuk lengan Rehan dengan bersahabat.
“Terimakasih Dokter Gustin,” ucap Rehan dan Lili bersamaan.
Tidak masalah Dokter Rehan, saya juga berhutang satu kali dengan Anda.
“Sudah menjadi tugas saya, saya permisi,” pamit Dokter Gustin Justavo memberikan perintah kepada perawat untuk segera membawa Regan ke dalam ruangannya.
Yona mencekal tangan perawat lelaki yang hendak mendorong ranjang Regan. Wanita itu menundukkan badannya, melihat kepala Regan yang kini dibalut dengan perban. Air matanya menetes tanpa bisa Yona cegah.
“Regan, apakah ini sakit?” isak Yona dengan tangannya gemetaran.
Marva langsung menarik adiknya ke dalam dekapannya.
__ADS_1
“Regan, bertahanlah sedikit lagi untuk masa depan kita, aku mempercayakan segalanya padamu. Regan kamu mendengarkanku kan?” Tangan Yona hendak memeluk tubuh Regan, namun Marva semakin erat mendekap tubuh Yona.
“Semuanya telah selesai, semoga Regan bisa segera sadar,” ucap Marva mengelus puncak kepala adiknya.
Marva menatap perawat lelaki itu. “Bawa Regan sekarang,” ucapnya diangguki kedua perawat yang kini bertugas.
Lili jatuh tersungkur ke lantai sebelum Septian sempat menangkapnya. Semua orang begitu syok dengan kondisi Regan yang tiba-tiba memburuk hingga harus dilakukan operasi secara dadakan. Semua orang pasti akan berpikir macam-macam, bahkan keluarga Regan tahu benar, kalaupun Regan dioperasi kemungkinan untuk selamat tidak lebih dari empat puluh persen.
“Lili,” pekik semua orang ketika Lili tidak sadarkan diri.
“Tante Lili terlalu syok, bawa saja ke ruangannya Rehan, Om,” kata Rehan pada Septian.
Septian membopong tubuh Lili untuk mereka bawa istirahat di ruangan Rehan yang tidak jauh dari sana.
Shinta mendekati putrinya. “Yona, kita pulang sebentar. Nanti malam kita ke sini lagi, kamu juga butuh istirahat, Sayang,” ucap Shinta menghapus air mata yang terus saja menetes di pipi Yona.
Yona menggeleng, dia tidak mungkin meninggalkan Regan sendirian di sana melawan kematian yang bisa kapan saja mendatanginya. Yona tidak ingin ketika Regan sadar, bukan dirinya yang lelaki itu lihat untuk pertama kalinya.
“Yona di sini saja,” jawabnya masih kukuh pada pendiriannya.
“Kamu tidak bisa masuk ke dalam ruangan Regan sampai dokter memperbolehkannya. Lebih baik kamu istirahat saja dulu di rumah, Yona.” Kini Fernando menyuarakan pendapatnya.
Sebagai dokter tentu saja Fernando tahu benar prosedur medis ketika pasien baru saja melakukan operasi besar seperti Regan saat ini.
“Kita pulang saja sebentar, istirahatkan hati dan pikiranmu,” bujuk Shinta tersenyum lembut, memberikan pengertian kepada Yona.
Akhirnya wanita itu mengangguk menyetujui ajakan ibunya. Seharian ini Yona terlalu banyak memforsir hati dan pikirannya untuk satu nama. Yona juga membutuhkan istirahat, memulihkan perasaan dan otaknya agar tetap bisa bertahan dengan Regan yang entah kapan akan membuka matanya lagi.
Yona memejamkan matanya, menikmati hembusan angin yang kini berhembus menerpa wajahnya yang terlihat begitu sembab.
Angin, kutitipkan rindu ini padamu.
*
“Regan, bagaimana hasil responsiku tadi siang?” tanya Yona membuka pintu ruangan bekerja Regan.
Lelaki yang kini tengah sibuk berkutat di depan layar laptopnya langsung mendongak, senyumnya merekah melihat siapa tamunya kali ini.
Yona berbinar bahagia. “Pasti bagus kan hasilnya?” tanya Yona membuat Regan terkekeh.
“Bagus apanya, semua jawabanmu hasil copy paste dari Mbah Google kan?” ejek Regan membuat Yona mencebikkan bibirnya kesal.
Yona menghampiri Regan, wanita itu menyipitkan matanya melihat pekerjaan yang saat ini sedang Regan kerjakan. Pantas saja kekasihnya tidak menjawab pesannya sejak tadi pagi setelah response usai dilakukan. Ternyata Regan sedang berkutat dengan tugas-tugasnya sebagai seorang dosen.
Tangan Regan menarik tangan Yona hingga wanita itu duduk di atas pangkuannya. Regan menenggelamkan kepalanya pada tubuh Yona.
“Aish Regan, kamu lupa kalau Ayah bisa lihat kita di CCTV?” tanya Yona mengingatkan Regan akan kejadian tempo lalu saat mereka kepergok ciuman di ruangan Regan lewat rekaman CCTV yang bisa diakses Septian kapan saja.
“Hmmm … biarkan saja. Sebentar lagi kita akan menikah kan?” tanya Regan menatap Yona dengan senyuman lembutnya.
Wajah Yona bersemu merah, setiap kali Regan membicarakan pernikahan pasti membuat wanita itu tersipu malu.
“Siapa bilang? Mana mau aku sama lelaki menyebalkan seperti dirimu?” jawab Yona melipat tangannya ke depan dada.
“Tentu saja kamu mau, banyak wanita di luar sana yang rela mengantri untuk bersama denganku,” jawab Regan mengeluarkan jurus percaya dirinya di depan Yona.
Keduanya kini terkekeh, Regan semakin mempererat pelukan mereka.
“Yona,” lirih Regan.
“Hm?” jawab Yona mengelus jemari Regan di perutnya.
“Aku mencintaimu,” ucap Regan dengan suara serak.
Yona menoleh menatap Regan. “Regan, ada apa dengan suaramu? Kamu flu?” tanya Yona dengan cemas.
Tiba-tiba saja darah keluar bercucuran dari kepala Regan hingga membuat Yona menjadi panik. Wanita itu berteriak histeris, memanggil siapapun untuk datang menuju ruangan Regan.
“Regan kamu kenapa?” pekik Yona dengan matanya berkaca-kaca.
Yona mengambil tisu yang ada di atas meja, mencoba menghentikan pendarahan di kepala Regan. Mata Yona melebar, lelaki itu justru mengulum senyumnya.
__ADS_1
“Aku mencintaimu,” ucap Regan sekali lagi sebelum kegelapan menyergapnya.
“Regannnnn!” teriak Yona kembali dari alam mimpinya.
Napas wanita itu terengah-engah. Ditatapnya sekeliling kamarnya. Keringat dingin bercucuran dari kening wanita itu. Wajahnya pucat pasi, itu sungguh mimpi yang sangat mengerikan bagi Yona.
“Tidak, Regan baik-baik saja,” gumam Yona berlari keluar dari kamarnya.
Yona meraih kunci mobilnya, wanita itu bahkan berlari tanpa alas kaki. Shinta yang baru saja keluar dari kamar setelah mendengar teriakan putrinya terlihat tercengang melihat Yona berlari menuruni tangga rumahnya tanpa memakai alas kaki.
“Yona, ada apa?” tanya Shinta namun tidak dihiraukan sama sekali oleh Yona.
Yona justru mempercepat langkah kakinya, tanpa membuang waktu Yona segera memasuki mobilnya dan melajukannya menuju Rumah Sakit Kusuma tempat Regan dirawat.
“Yona, kamu mau ke mana?” teriak Shinta memanggil putrinya.
Shinta begitu cemas melihat wajah pucat putrinya ditambah dengan keringat dingin di kening Yona. Mungkinkah ada yang tidak diketahui Shinta?
“Mommy, ada apa?” tanya Hendra yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya.
Shinta menoleh. “Yona pergi membawa mobil,” jawab Shinta sarat akan kecemasan.
“Kita susul dia,” ucap Hendra diangguki Shinta.
Mimpi buruk membuat Yona tidak bisa berpikir selain Regan. Sudah cukup rasa sesak yang dia terima selama satu tahun lamanya. Tidak bisakah Yona mendapatkan secercah kebahagiaan untuk dirinya dan juga Regan?
Kenapa keinginan bersatu dengan Regan terasa begitu sulit? Apa yang akan mereka lewati lagi setelah ini? Kematian kah? Bahkan jika untuk bersama dengan Regan hanya sebuah mimpi, Yona rela tertidur untuk selama-lamanya, menemani lelaki itu menuju gerbang keabadian.
“Regan, aku juga mencintaimu,” ucap Yona menjawab ucapan Regan di dalam mimpinya.
Darah yang mengucur keluar dari kepala Regan mengingatkan Yona pada saat kejadian perampokan malam itu. Malam di mana kebahagiaan dirinya bersama Regan seperti direnggut secara paksa oleh Sang Takdir. Rasanya sakit luar biasa, melihat seseorang yang begitu dia cintai berada dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Kepada siapa Yona bisa meminta pertanggung jawaban atas derita yang kini dia rasakan bersama Regan? Kepada siapa Yona meminta tolong untuk mengembalikan Regan seperti sedia kala sebelum para baji*ngan itu merenggut kebahagiaan dari hidup mereka berdua?
“Kamu tidak sendirian Regan, aku akan menemanimu,” lirih Yona bersamaan dengan air mata yang meluruh di pipinya.
Hendra dan Shinta mengikuti Yona di belakang mobil wanita itu dengan dada bergemuruh hebat. Yona mengemudikan mobilnya dengan kesetanan. Di jalanan yang cukup padat, wanita itu terlihat tidak peduli dengan kecepatan mobil yang saat ini dia kendarai. Dalam otaknya, Yona hanya ingin segera bertemu dengan Regan.
“Tidak ada yang bisa memisahkan kita,” ucap Yona menggigit bibir bawahnya yang kini bergetar hebat, menahan isakan keluar dari mulutnya.
Berkali-kali Hendra mengklakson mobilnya, berharap Yona akan mendengarkan peringatan darinya dan mengurangi kecepatan laju mobil yang saat ini Yona kendarai.
“Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi,” ucap Shinta menghubungi Marva.
Anak lelakinya itu tengah menjemput istri dan putranya di rumah keluarga Kusuma.
“Dia menuju ke mana Mommy?” tanya Marva terlihat begitu tegang di tempatnya.
“Rumah sakit, sepertinya dia ingin menemui Regan,” jawab Shinta menelan salivanya melihat kegilaan Yona saat menyetir.
“Baiklah, Marva akan ke sana,” ucap Marva sebelum mengakhiri panggilan telepon dari mommynya.
Hendra mengklakson mobilnya hingga menyita perhatian kendaraan di sekitarnya.
“Oh sh*it!” umpat Hendra ketika Yona mampu menerobos lampu lalu lintas sebelum lampu merah menyala.
Kini Hendra dan Shinta hanya mampu menatap laju mobil Yona dengan kecemasan luar biasa dalam benak mereka berdua.
Air mata yang menggenang tidak membuat Yona mengurangi kecepatan mobilnya. Bahkan Yona tidak memperdulikan klakson mobil di belakangnya sejak tadi. Yona tidak peduli, Yona hanya ingin segera sampai di rumah sakit untuk menemui Regan.
“Aku akan sampai,” lirih Yona dengan tersenyum penuh kepedihan.
Bruakkkkkkkk. Bunyi dentuman yang sangat kencang membuat seluruh kendaraan di sekitarnya berhenti dan berhamburan keluar. Mungkinkah benar, takdir tengah mempermainkan mereka berdua?
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
HELLO READERS TERCINTA
JANGAN LUPA DUKUNG NOVEL MY SWEET DOSEN. KARENA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERMANFAAT SEKALI BAGI AUTHOR. AYO APRESIASI NOVEL FAVORIT KALIAN DENGAN VOTE ❣️❣️🥰
LIKE, KOMEN, DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. TERBANYAK VOTE MINGGUAN AKAN MENDAPATKAN HADIAH KOTAK SUPER DUPER SPESIAL DARI AUTHOR. SILAHKAN MAMPIR KE MANSION AUTHOR YA (GC AUTHOR).
__ADS_1