
Ketiga pasang mata disana menoleh kearah sosok lelaki yang tiba-tiba saja datang kesana dan membuat keributan besar dengan kedatangannya. Lelaki itu menatap wanitanya dengan tatapan mata menyalanya penuh amarah.
Lelaki itu memilih duduk disamping wanitanya.
“Regan?” “Pak Regan” ucap mereka bertiga begitu melihat Regan datang menghampiri mereka di sana.
Padahal, lelaki itu sendiri yang meminta Yona dan Naomi meninggalkan ruangannya karena tidak tahan dengan ocehan-ocehan kedua wanita yang mengganggu konsentrasinya mengerjakan tugas miliknya yang harus segera dia selesaikan secepatnya.
“Pintar sekali dirimu ya, pakai acara pura-pura marah biar bisa duduk bareng sama mahasiswa bau kencur ini. Begitukan niatmu sebenarnya?” tuduh Regan dengan pandangan kesalnya.
Yona menghela napas panjang, memang susah berbicara dengan lelaki bucin akut seperti Regan yang selalu saja negative thinking kepadanya. Yona menoleh kearah Regan meskipun sangat malas meladeni lelaki yang katanya sangat dewasa tapi terkadang tingkahnya lebih parah dari pada anak TK.
“Bisa tidak jangan negative thinking terus denganku?” tanya Yona memutar bola matanya jengah.
“Saya tidak sengaja ketemu Miss Yona, Pak,” jelas Yogi membuat Regan menatapnya marah.
“Kenapa kamu berada di sini bukannya kuliah ha?” tanya Regan menghardik.
“Kan sudah selesai ujian akhir semesternya pak, mau kuliah apa lagi?” ucap Yogi balik bertanya kepada Regan.
“Siapa tahu kamu mengulang mata kuliah tertentu, semester pendek,” tutur Regan membuat Yona dan Yogi menatapnya curiga.
Yona dan Yogi langsung menatap Regan curiga, mata mereka menyipit seperti meminta penjelasan dengan apa yang baru saja Regan katakana.
“Kamu tidak berniat memberikan nilai yang jelek kepada mahasiswamu hanya karena cemburu denganku kan?” tuduh Yona memicingkan matanya kearah Regan.
Bukannya menjawab pertanyaan Yona, lelaki itu malah mengambil minuman yang masih utuh di meja mereka.
“Maaf Pak, itu minuman saya,” ucap Yogi memberitahu Regan bahwa itu adalah minumannya.
“Nanti uangnya saya ganti, puas kamu? Sudah berani mendekati tunangan saya, sekarang kamu berani kurang ajar sama saya hanya karena segelas minuman ini?” tanya Regan dengan nadanya menyolot.
Yona menghembuskan napas kasarnya, wanita memegangi wajah Regan dengan kedua tangannya.
“Sekarang tatap mataku!” ucap Yona dengan matanya menyala.
“A-apa ini? Kamu tidak akan menciumku di depan mereka berdua kan?” tanya Regan membuat Naomi menutup mulutnya geli melihat Regan dan Yona yang sangat lucu bagi dirinya.
Yona menggerakkan kepala Regan hingga lelaki itu menatap ke luar café,
“Lihat, itu motor Yogi sedang mogok. Aku melihat dia disana dan memanggilnya ke mari,” ucap Yona menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Itu pasti alibinya anak ini biar kamu melihatnya, mana ada takdir yang kebetulan begitu,” ucap Regan masih saja menaruh curiga kepada Yogi.
Yogi menggeleng, dia bahkan tidak tahu jika Yona berada di café itu, dia baru saja selesai mengantarkan penumpangnya dan motornya tiba-tiba saja mogok tanpa permisi.
“Saya bahkan tidak tahu kalau Miss Yona ada di sini,” jawab Yogi disetujui Naomi.
“Iya, aku yang menyaksikannya sendiri. Kamu pasti terlalu takut kalau Yona berpaling ke daun muda ya?” goda Naomi membuat Regan mendengus, menolak persepsi Naomi karena tidak masuk akal.
Lihat saja Yogi sekarang, lelaki itu bahkan memiliki tubuh yang lebih kecil dan lebih pendek darinya. Pasti senjata lelaki itu tidak lebih besar dari Regan. Mana mau Yona berpaling dari dirinya ke lelaki seperti mahasiswanya yang masih bau kencur? Tidak mungkin!
“Aku? Cemburu sama bocah ini?” tanya Regan terkekeh mengejek.
“Siapa tahu kan saya lebih muda dari pada Bapak,” jawab Yogi membuat Regan menatapnya dengan matanya melebar.
“Kamu berani kurang ajar sama saya?” tanya Regan terlihat sangat kekanakan saat cemburu.
“Tidak Pak, maafkan saya,” jawab Yogi tersenyum kearah Regan.
“Menyalah gunakan jabatan untuk mengancam mahasiswa itu melanggar kode etik!” ucap Yona memberitahu lelaki itu perihal kode etik.
Seharusnya Regan lebih tahu tentang kode etik soalnya lelaki itulah yang mengampu mata kuliah etika bisnis selama ini. Bukankah sangat lucu, kalau Regan mengampu mata kuliah perihal etika tapi lelaki itu sendiri yang melanggar etika sebagai dosen dan mengancam mahasiswanya untuk urusan pribadi?
“Kamu sedang mengajariku soal etika? Nilaimu saja C di mata kuliah itu,” cibir Regan membuat Yona terbelalak ditempatnya.
“Ulangi sekali lagi apa yang baru saja kamu katakan!”teriak Yona kesal.
Regan menoleh ke arah Yona.
“Nilaimu C di mata kuliah etika bisnis,” ucap Regan mengulangi ucapannya.
Mata Yona terbelalak, mulut wanita itu menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari lelaki itu. Dia mendapatkan nilai C di mata kuliah Regan? Kejam sekali Regan memberikan nilai C kepada tunangannya. Apa lelaki itu sungguh tidak memiliki hati sama sekali hingga tega memberikan nilai C kepada Yona?
“Kejam sekali kamu memberiku nilai C! Regan, aku ini calon tunanganmu!” keluh Yona menatap Regan tidak percaya.
“Baru saja kamu yang bilang kan kalau aku tidak boleh menyalah gunakan jabatanku?” tanya Regan mengingatkan Yona atas ucapan wanita itu sendiri.
__ADS_1
Wanita itu menganga di sana, ingin sekali Yona mencakar wajah Regan yang tampan tapi Yona masih berpikir wajah itu akan Regan gunakan untuk bersanding dengannya beberapa hari lagi untuk pertunangan mereka berdua.
Yona tidak mungkin tega menghiasi wajah tampan itu dengan cakaran kukunya yang sangat menakutkan. Tapi Regan sudah sangat sangat keterlaluan kepada dirinya.
“Regan, aku tidak main-main dengan ucapanku!” ucap Yona menatap Regan dengan berkilat marah.
Spontan saja Regan meringsut, lelaki itu langsung memegang barangnya dibawah sana.
“Non Yona?” panggil seseorang membuat Yona menoleh.
Lelaki itu adalah salah satu mekanik yang bekerja di bengkel langganannya.
“Pak Hadi, ini motor mahasiswa saya mogok. Pak Hadi bisa menanganinya kan?” tanya Yona kepada Pak Hadi.
“Bisa Non, Mas bisa ikut saya ke bengkel kan nanti saya dorong dari belakang?” tanya Pak Hadi kepada Yogi.
Yogi mengangguk, lelaki itu menatap Yona sejenak. Wanita didepannya benar-benar baik, padahal mereka baru saja bertemu tapi Yona sudah menolongnya. Kalau saja tidak ada Yona, mungkin Yogi akan menunggu temannya untuk menjemputnya. Yogi telah salah menilai seorang konglomerat dan juga seorang model internasional memiliki kepribadian yang buruk dan juga sombong. Nyatanya Yona sangat baik dan juga peduli kepada dirinya.
Kalaupun bukan Yogi, Yona pasti akan melakukan hal yang sama juga untuk mereka yang membutuhkannya.
“Terimakasih Miss Yona, Pak Regan,” ucap Yogi dengan tulus.
“Sama-sama, nanti bayarnya biar diurus pegawai rumah ya Pak Hadi. Saya yang mengurus biaya perbaikan motornya,” ucap Yona membuat Yogi semakin tidak enak kepada Yona.
“Tidak usah Miss, saya sudah sangat merepotkan Miss Yona.”
“Sudah tahu merepotkan belum juga pergi,” cibir Regan berupa bisikan, dan langsung dihadiahi injakan maut dari Yona di kaki lelaki itu.
“Nggak papa, yang penting kamu bisa narik lagi dan kuliah yang rajin.”
Tangan Yona menyentuh kepala Yogi, mengacaknya dengan lembut seakan menguatkan lelaki itu bahwa dia tidak sendirian menghadapi cobaan hidupnya.
“Sekali lagi terimakasih, Miss,” ucap Yogi membungkuk mengucapkan terimakasih.
Yona hanya mengangguk dan tersenyum, menjadi anak brokend home tidaklah mudah. Pilihan hidup untuk bersama papa atau mama, seperti merampas kebahagiaan anak itu sendiri. Belum lagi jika papa mamanya menikah dengan orang lain dan melupakan anak yang mereka tinggalkan.
Banyak sekali kasus, kehancuran anak-anak berawal dari keegoisan orangtua mereka. Tapi teruntuk anak-anak brokend home, jangan patah dan juga jangan merasa kamu hancur sendirian. Ada banyak orang yang lebih tidak beruntung dari pada diri kalian.
Teruslah semangat, kesusahan dan juga penderitaan tidak hanya berada dalam hidup kalian saja.
*
Shinta dan Hendra sendiri sudah menunggu kedatangan Nadia yang memang telah mereka berikan mandat untuk mengurus gaun untuk para wanita dan juga jas untuk para pria di keluarganya.
Wanita itu tersenyum ke arah Shinta dan Hendra yang kini duduk di meja makan.
"Nadia, sini ikut makan malam," ucap Shinta menghampiri Nadia dan mempersilahkan wanita itu duduk disana.
Nadia celingukan, mencari sosok Yona yang sejak tadi tidak dia lihat batang hidungnya. Padahal Nadia sudah mengatakan akan datang ke rumah Yona saja dan meminta Yona memberikan kabar kepada keluarga Regan untuk berkumpul di rumah keluarga William agar Nadia tidak membuang waktunya dan menghabiskan waktu lebih lama.
"Yona mana Tante?" Tanya Nadia.
"Yona? Dia sebentar lagi sampai. Tante suruh dia mampir beli kue dulu di tempat mamamu. Tante lagi pengen kue buatan mama kamu, enak tahu nggak," jelas Shinta kepada Nadia.
"Loh kalau gitu kenapa enggak bilang sama Nadia saja biar Nadia bawain sekalian kalau mau mampir ke sini," jawab Nadia.
"Nggak usah, nanti ngerepotin. Apalagi kalau kamu kasih gratis. Tante nggak enak," jawab Shinta menolak tawaran Nadia dengan halus.
Sedangkan Hendra di sampingnya hanya memutar bola matanya, mana ada wanita di dunia ini yang menolak diberikan sesuatu yang gratis? Istrinya memang suka sekali pencitraan!
"Nggak papa Tante, Nadia malah seneng kok," jawab Nadia tersenyum.
Shinta menatap Nadia lekat, tidak menyangka Nadia pernah mengalami kejamnya kehidupan yang sempat membuatnya tidak bisa berjalan selama beberapa waktu.
Belum lagi kenyataan sang papa berselingkuh dari mamanya. Shinta rasanya tidak sanggup membayangkan jika dirinya berada dalam posisi Nadia saat itu.
Untung saja langit hitam dan hujan badai telah dilewati Nadia dengan baik dan kini wanita itu telah menjelma menjadi wanita yang sangat sukses dengan kariernya sebagai desaigner ternama membuat semua wanita di belahan dunia ingin memakai rancangan dari tangan ulet Nadia.
"Wahhh Nadia udah sampai sini aja nih," ucap Yona yang baru saja datang dengan membawa dua plastik besar bermerk bakery milik mama Nadia.
"Borong bukk," kekeh Nadia membuat Yona ikut tertawa bersamanya.
"Ih kamu sukanya ngejek aku mulu, padahal yang bentar lagi jadi ibu-ibu kan kamu. Nyonya Pirthfly," goda Yona menoel pipi Nadia hingga wanita itu tersipu malu.
"Aku batalin nih?" Ancam Nadia yang sukses membuat Yona mengangkat tangannya tanda menyerah.
Yona menaruh bungkusan itu di atas meja makan. Shinta langsung mengambil alihnya, membuka kue pesanannya yang sudah sangat dia idamkan beberapa hari belakangan ini.
__ADS_1
"Mommy kok tumben-tumbenan malam begini mau makan kue? Kan itu manis, bisa-bisa Mommy gemuk," ucap Yona ketika mommynya menaruh potongan kue yang Yona bawa ke piring.
Shinta menoleh ke arah putrinya.
"Mommy hamil lagi," jawab Shinta mengambil satu potongan kue itu.
"Nadia, ayo cicipi kue mamamu sendiri," kekeh Shinta merasa geli karena menawarkan kue resep mama Nadia kepada anak pemiliknya.
"Whattttttt? Mommy hamil lagi? Yang bener Dad??" Pekik Yona menatap daddy dan mommy bergantian.
Tidak mungkin, mana mungkin mommynya bisa hamil lagi sedangkan mommynya pernah melakukan kiret kandungan yang entah bagaimana prosesnya itu menjadi alternatif bagi pasangan yang ingin stop punya anak tanpa KB.
Hendra tidak bereaksi, lelaki itu hanya menghendikkan bahunya acuh.
"Wahh selamat ya Tante, akhirnya Yona punya adik," kekeh Nadia memberikan selamat kepada Shinta meskipun tahu jika Shinta hanya bergurai mengerjai Yona yang sangat tidak suka memiliki seorang adik.
Pernah suatu ketika, Shinta dan Hendra menggodanya kalau mommynya hamil lagi. Sontak saja Yona menangis seharian didalam kamarnya, takut jika adiknya nanti akan menjadi pesaingnya dalam merebut kasih sayang daddy dan mommynya.
"Tidak boleh, kan Mommy sudah tua," keluh Yona menekuk wajahnya kesal.
"Hei mana bisa Mommy dibilang tua, setiap kita jalan berdua saja banyak kan teman-temanmu yang bilang mommy ini kakak kamu," ucap Shinta tidak terima jika dia disebut tua oleh Yona.
Shinta tidak mengada-ngada soal orang-orang yang mengira dirinya adalah kakak Yona. Banyak sekali orang yang mengatakan hal seperti itu kepada mereka berdua. Wajah Shinta pun masih tetap segar, cantik, dan juga kencang seperti wanita berumur tiga puluh tahunan.
Pantas saja semua orang mengira wanita itu adalah kakak dari Yona.
"Selamat Yona, kamu bakal jadi kakak," ucap Shinta memberikan selamat kepada Yona namun dijawab dengusan kesal dari wanita itu.
Suara mobil memasuki halaman rumah keluarga William membuat mereka berdiri dan menyambut tamu mereka. Keluarga Louis yang sengaja menyempatkan waktu untuk datang ke rumah mereka karena harus mengukur baju yang akan mereka pakai untuk acara pertunangan.
"Liliii!" pekik Shinta menyambut Lili dengan merentangkan tangannya seperti sudah lama tidak bertemu dengan calon besannya yang tak lain adalah teman dekatnya sendiri.
Terlihat Yona memalingkan wajahnya saat Regan menatap wanita itu. Salah siapa memberikan nilai C dimata kuliahnya kepada Yona. Padahal setidaknya Yona sudah sering masuk kelas lelaki itu diakhir-akhir pertemuan sebelum ujian akhir semester dimulai.
Sebagai seorang dosen, bukankah seharusnya Regan menilai niat baik dan kegigihan Yona selama menjadi mahasiswa lelaki itu?
Mana mungkin Regan berpikir seperti itu, dia kan lelaki yang sangat menyebalkan dan juga lelaki paling kejam yang pernah dia temui.
"Ini Nadia bukan?" tanya Lili menatap Nadia dengan berbinar.
Wanita yang pernah mengisi hati Regan saat anaknya remaja. Wanita pertama kali yang Regan ceritakan kepada Lili dan membuat Lili sangat penasaran atas sosok Nadia.
Pertemuan keduanya ketika Lili dengan sengaja untuk mampir ke cafe milik Sonia dan kebetulan sekali ada Nadia disana membantu karyawan cafenya yang terlihat sangat kuwalahan melayani para pembeli yang datang.
"Iya Tante, saya Nadia. Adik kelas dari Regan," ucap Nadia mencium tangan Lili dengan sopannya.
Lili tersenyum, wanita itu menyentuh kepala Nadia dan berdoa didalam hatinya semoga Nadia mendapatkan kebahagiaannya selamanya. Mendengar kisah hidup Nadia dari Regan membuat dada Lili kala itu sesak.
"Tante beruntung sekali bisa memakai gaun rancangan kamu," ucap Lili mengungkapkan kebahagiaannya.
Nadia tertawa malu, wanita itu merangkul tangan Yona.
"Kalau bukan Yona yang merayu, Nadia pasti menolaknya," jawab Nadia membuat mereka tertawa.
Mereka semua masuk kedalam, Shinta sebagai nyonya rumah mengajak mereka semua untuk makan malam bersama dengan makanan yang dia siapkan sendiri tanpa bantuan para pelayan rumahnya.
"Ini semua buatan Shinta kan? Aku sangat hafal masakannya. Dulu waktu kita ngekost, dia juga hobby banget masak," cerita Lili kepada semua orang tentang keseruannya bersama Shinta.
"Masakannya Shinta enak ya, Sayang," puji Septian diangguki Lili.
Yona dan Regan menjadi sosok yang pendiam sejak tadi. Mereka berdua bahkan tidak menyapa satu sama lain.
"Yona, Regan nggak kamu ambilin makanan? Latihan jadi istri dari sekarang," perintah Shinta membuat Yona mendongak kearah mommynya.
Wanita itu meringis di dalam hatinya, kini semua orang mengangguk mengiyakan ucapan mommynya. Meski malas, Yona mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk yang sangat banyak.
Yona menoleh ke arah Regan yang duduk disampingnya, menampilnya senyuman sinisnya.
"Segini cukup?" tanya Yona menunjukkan isi piringnya kepada Regan.
"Aduh itu kebanyakan, Regan sukanya nasinya dikit terus sayurannya dibanyakin Sayang," jelas Lili memberitahu calon menantunya.
Regan menerima piring itu.
"Yona kan sengaja, dia maunya kita sepiring berdua. Iya kan sayang?" tanya Regan tersenyum devil kearah Regan.
Yona terbelalak, sejak kapan dia mau sepiring berdua dengan lelaki yang memberinya nilai C?
__ADS_1
"Aaaa, buka mulutmu," perintah Regan kepada wanita itu.