
Manik mata berwarna coklat itu kini berkaca-kaca menatap bangunan rumah yang telah lama tidak pernah dia sambangi. Wanita yang dengan kejamnya menipu semua keluarga dan orang-orang terdekatnya. Olivia mengedarkan pandangannya, hawa sejuk karena pepohonan tumbuh rindang di halaman rumahnya menusuk pori-pori kulit wanita itu.
Hembusan napas panjang berkali-kali keluar dari mulutnya. Kaki Olivia tiba-tiba kaku tidak bisa digerakkan. Tubuhnya limbung, untung saja Gustin Justavo dengan sigap meraih tubuh Olivia, menopangnya dengan badan tegapnya.
“Kamu tidak apa-apa, Sayang?” tanya Gustin terlihat begitu khawatir melihat wajah istrinya yang kini berubah menjadi pucat pasi.
Olivia pasti gugup, wanita itu merasakan tubuhnya bergetar hebat, dadanya mendadak sesak menatap rumah yang selama sembilan belas tahun dia tempati.
“Olivia, kalau kamu tidak siap kita kembali saja sebelum terlambat,” ucap Yona mengerti bagaimana perasaan Olivia saat ini.
Yona menoleh menatap Regan, mereka lalu menghela napasnya bersamaan secara kompak.
Gustin Justavo mengelus bahu istrinya. “Kita datang lagi lain kali,” ucap Gustin Justavo, sangat khawatir pada istrinya saat ini.
Gustin tidak ingin kesehatan istrinya terganggu dengan pikiran berat serta tekanan batin yang wanita itu hadapi. Gustin tidak sanggup melihat istrinya yang selalu ceria mendadak lemas seperti sekarang.
Olivia menggeleng. “Kita sudah basah, lebih baik sekalian saja untuk menyelam,” ucap Olivia melepaskan pegangan tangan suaminya dari tangannya.
Olivia memberanikan dirinya melangkahkan kaki menuju pintu utama rumah keluarga Bellvaria. Wanita menarik napasnya dalam, lalu menghembuskannya perlahan, mengulang-ulang sampai debaran jantungnya kembali normal lagi.
Yona dan Regan mengikuti langkah pasangan itu di belakangnya. Meskipun bukan orang yang mengalaminya, Yona dan Regan sangat paham benar apa yang sekarang ini pasangan itu rasakan.
“Kenapa kamu mepet-mepet begini?” bisik Regan ketika Yona malah menempel pada lengannya seperti cicak.
“Aku takut pingsan saat ini, rasanya lebih menegangkan dari pada main paralayang,” jawab Yona seraya berbisik di telinga Regan.
“Bilang saja kamu mencari kesempatan dalam kesempitan untuk menempel denganku, iya kan?” tanya Regan membuat Yona menatapnya dengan mulut menganga.
Decakan kesal keluar dari mulut Yona, dengan kasar Yona menghempaskan tangannya dari lengan Regan. Benar-benar mengesalkan sekali Regan itu. Kenapa tingkat kepercayaan dirinya bisa setinggi itu melebihi Raja Lee Gon di drama Korea berjudul The King Eternal Monarki?
Yona menggelengkan kepalanya, meninggalkan Regan di belakangnya sedangkan dirinya mempercepat langkah untuk berada di samping Olivia.
Tujuannya telah sampai, Olivia mendongak menatap nanar pintu rumah keluarganya selama beberapa detik. Olivia menoleh, mencari bel rumah untuk dia tekan.
“Biar aku saja,” ucap Yona mencekal tangan Olivia.
__ADS_1
Yona meminta Olivia untuk mundur ke belakang. Tangan Yona sudah menekan tombol bel rumah keluarga Bellvaria selama tiga kali, berharap seseorang akan membukakan pintu untuk mereka yang kini tengah menunggu.
Klek. Suara pintu terbuka membuat Olivia dan Gustin menahan napasnya.
“Yona.” Dokter Ozan tersenyum melihat Yona datang ke rumahnya.
Yona tersenyum membalas sapaan dari ayah kandung Olivia itu.
“Hallo Om Ozan, selamat malam,” ucap Yona menyapa.
“Selamat malam, Yona. Dengan siapa datang ke sini?” tanya Dokter Ozan.
Baru saja lelaki paruh baya itu hendak keluar melangkahi pintu rumahnya, Regan dengan cepat maju ke depan untuk berada di samping Yona, menghalau Dokter Ozan keluar dari rumahnya.
“Oh dengan Nak Regan to,” kekeh Dokter Ozan menepuk pelan bahu Regan pertanda lelaki itu sudah akrab dengan Regan.
“Selamat malam, Om,” sapa Regan menunduk sekilas.
Dokter Ozan tertawa kecil. “Ada apa ini ke mari?”
“Bukannya hari ini upacara tujuh bulanannya Melodi, Om? Kenapa sepi sekali?” tanya Yona berpura-pura celingukan mencari seseorang.
Regan mengulum senyumnya geli. Dalam hatinya, Regan berpikir bahwa Yona memang ahlinya mencari alibi di setiap kesempatan.
“Kayaknya kalian salah hari, upacaranya kan besok. Kalian enggak mendapatkan undangannya?”
Olivia meraih tangan suaminya, kakinya terasa lemas, tidak kuasa mendengarkan suara dari ayahnya yang selama ini telah dia tinggalkan bertahun-tahun. Keluarga yang telah Olivia tipu dengan kematiannya. Tidak, bukan Olivia, tapi Gustin Justavo yang menjadi tokoh utama dalam scenario yang lelaki itu buat.
“Hah? Iya kami dapat Om, makanya kami ke mari,” sahut Yona berlagak kebingungan.
“Ck, kamu ini salah hari ternyata,” decak Regan menatap Yona dengan meremehkan.
Dokter Ozan tertawa melihat interaksi Yona dan Regan. “Ayo masuk ke dalam, Tante Bella pasti senang kalian datang ke mari,” ucap Dokter Ozan, menyingkir dari pintu untuk memberikan jalan bagi Regan dan Yona masuk ke dalam rumahnya.
Kening Dokter Ozan mengkerut bingung di saat Regan dan Yona justru terdiam di depan pintu rumahnya.
__ADS_1
“Regan, Yona, ayo masuk ke dalam. Kenapa malah diam saja di luar,” ajak Dokter Ozan menyadarkan Regan dan Yona dari kebingungannya.
Yona menoleh ke arah Olivia. “Kalian segera masuk ke dalam setelah Olivia tenang,” ucap Yona dengan suaranya setengah berbisik.
Wanita itu melangkahkan kakinya memasuki rumah keluarga Bellvaria, disusul dengan Regan di belakangnya.
“Deril ke mana Om?” tanya Yona, mencari sosok adik lelaki Olivia.
Olivia memejamkan matanya, tangannya memegang dadanya yang kini terasa sesak, seakan tidak ada pasokan udara di dalam sana. Deril, adiknya. Olivia tidak sanggup bertemu dengan adik lelakinya yang mungkin sudah beranjak menjadi lelaki dewasa tahun ini.
Air mata Olivia menetes mendengar suara lembut khas ibunya kini menyapa Yona dan Regan di dalam sana.
“Yona, Regan. Kalian salah hari ya?” tanya Bella menatap Yona dan Regan dengan jenaka.
Dokter Ozan dan Bella tertawa, seakan tidak sadar bahwa sebentar lagi mereka akan mendapatkan kejutan yang membuat mereka sampai tidak menyangka bahwa hari ini akan tiba.
“Tante, kok Tante Bella senang begitu kita salah hari,” ucap Yona menatap Bella dengan memasang wajah kesal.
“Iya lah, kalau enggak salah hari kalian mana mungkin datang ke sini,” sahut Bella dengan senyumannya.
Rasanya sudah cukup sandiwara yang kini Yona mainkan bersama Regan. Kedatangan mereka ke sana bukan untuk menipu keluarga itu lagi. Kedatangan mereka ke sana untuk menunjukkan satu kebenaran yang selama ini tidak diketahui oleh keluarga Bellvaria.
“Tante Bella, Om Ozan, ada tamu yang sebenarnya di luar,” jelas Yona menatap orang tua Olivia serius.
“Tamu? Siapa? Om tadi tidak melihat ada orang lain selain kalian,” jawab Dokter Ozan penasaran.
“Masuklah!” ucap Yona memperintahkan Olivia dan Gustin Justavo untuk masuk ke dalam rumah keluarga Bellvaria.
Gustin Justavo mengangguk, lelaki itu mencium kening Olivia, memberikan kekuatan lewat kecupan hangat sebagai sugesti untuk istrinya.
Olivia meyakinkan dirinya, meski terasa berat melangkahkan kakinya namun Olivia tetap memaksa kakinya terus melangkah untuk masuk ke dalam rumahnya.
-----------------------
HELLO READERS TERCINTA, JANGAN LUPA DUKUNG NOVEL MY SWEET DOSEN. LIKE, KOMEN, DAN VOTE, KARENA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERMANFAAT SEKALI BAGI AUTHOR. AYO APRESIASI NOVEL FAVORIT KALIAN DENGAN VOTE ❣️❣️🥰
__ADS_1