
Mata Shinta terbelalak mendengar ucapan yang Nadia dan Yona ucapkan. Memangnya Shinta tidak berpikir panjang sampai mau memiliki anak lagi sedangkan umurnya sudah melebihi kepala lima. Bisa jadi bahan ejekan banyak orang kalau sampai Shinta benar-benar hamil.
“Shin, kamu beneran hamil lagi?” tanya Hendra dengan raut wajahnya tidak terbaca.
Semua mata menoleh ke arah Hendra, lelaki itu berjalan menghampiri istrinya. Diraihnya tubuh Shinta ke dalam pelukannya.
“Pantas saja kamu enggak mau aku sentuh beberapa hari ini, jadi kamu hamil?” tanya Hendra mencium puncak istrinya dengan lembut.
Yona menganga, tidak menyangka dengan apa yang diucapkan daddynya. Yona mendekat ke arah orang tuanya.
“Daddy, Mommy beneran hamil? Yona salah dengar kan?” tanya Yona meminta jawaban dari daddy dan mommynya.
Yona memijit pelipisnya. Kenapa juga mereka harus kebablasan sampai sang mommy bisa hamil lagi anak ketiga. Padahal, sudah saatnya mereka fokus pada masa tua dan berbahagia bersama cucu-cucunya.
Cucu-cucunya, eh? Bukankah baru satu cucu yang lahir di dalam keluarga William karena Ariana sempat keguguran anak keduanya? Sedangkan Yona, wanita itu bahkan belum tahu kemana arah percintaan dirinya dengan Regan.
“Tidak, Mommy tidak boleh hamil lagi,” ucap Yona menolak dengan tegas.
“Yona, jaga mulutmu! Memangnya kenapa kalau Mommy hamil lagi? Kan bukan kamu yang mengandung dan merawatnya nanti,” jawab Hendra menatap Yona dengan tidak kalah kesalnya.
“Daddy, Mommy, kalian ini sudah tua. Malu atuh Dad kalau Mommy sampai hamil lagi!” kesal Yona tidak mau kalah.
Hendra berkacak pinggang mendengar penuturan dari putri bungsunya itu.
“Lah kenapa harus malu? Mommy hamil kan hasil tanam benih yang Daddy lakukan setiap malam!” sahut Hendra membela diri.
Wajah Shinta merona mendengar kalimat yang diucapkan suaminya. Dasar Hendra memang tidak bisa mengerem mulutnya di depan anak-anak. Tidak pantas rasanya membahas ‘tanam benih’ di depan Yona yang masih single dan juga di depan Nadia.
__ADS_1
“Daddy! Yona malu ka-“
“Stop! Stop! Kalian berdua ini bertengkar untuk sesuatu masalah yang menurut Mommy tidak penting,” ucap Shinta melerai pertengkaran di antara daddy dan anak itu.
“Sayang, kok kamu bilang tidak penting. Itu di dalam rahim kamu ada benihku yang sedang tumbuh,” jawab Hendra menatap Shinta tidak terima.
Shinta memutar bola matanya jengah. “Kalian ini kenapa? Siapa yang hamil? Mommy sedikit sensitive akhir-akhir ini karena sedang dapet.” Shinta tersenyum menatap Yona dan Hendra bergantian.
Yona dan Hendra terbelalak, satu sisi Yona sangat bahagia, di satu sisi Hendra nampak kecewa dengan jawaban sang istri.
“Yessss, akhirnya kalian enggak jadi punya anak,” ucap Yona bersorak bahagia.
“Emm, tapi kalau dipikir-pikir boleh juga sih Mommy mau nambah anak. Nunggu nambah cucu juga kelamaan. Iya kan Daddy?” tanya Shinta, bergelayut manja di lengan suaminya.
Hendra mengangguk antusias. “Iya dong Sayang, yuk kita buat siapa tahu berhasil percobaan buat anak ketiganya,” ucap Hendra merangkul pinggang Shinta menuju kamar mereka berdua.
“Enaknya nambah anak apa nambah cucu yaaa?” tanya Shinta sengaja menggoda Yona.
Nadia terkekeh menyaksikan keanehan yang terjadi dalam keluarga William. Beruntungnya Yona, hidup di tengah orangtua seharmonis itu. Berbeda dengan Nadia yang pernah mengalami kepahitan dalam kehidupannya karena perselingkuhan sang papa, dan perceraian kedua orangtuanya. Nadia pernah hancur, Nadia juga pernah remuk tak berbentuk. Sampai akhirnya Nadia percaya, Tuhan tak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umatnya.
“Aku pamit dulu ya, nanti malam aku datang,” ucap Nadia memeluk Yona.
“Aku tunggu, awas kalau enggak dating,” ancam Yona penuh peringatan.
Nadia mengulum senyumnya. “Happy birthday, nanti malam aku ucapin lagi. Aku pamit yaa,” ucap Nadia diangguki Yona.
Sepeninggalan Nadia dari rumahnya, Yona menoleh menatap pintu kamar daddy dan mommynya.
__ADS_1
“Mommy, Daddy, awas kalau kalian sampai telat!” teriak Yona disusul kikikan geli.
Yona membawa paperbag dan gaunnya naik ke lantai atas, masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap.
Ting! Satu pesan masuk ke ponsel Yona membuat wanita itu berhenti melangkah. Senyum Yona merekah mendapatkan satu pesan baru dari Regan.
Regan : Sudah siap untuk pestanya?
Kening Yona berkerut, tumben sekali Regan bertanya semacam itu kepadanya. Regan tidak mungkin melamarnya di tengah tamu undangan seperti di film-film kan? Tentu saja tidak, Regan bukan lelaki seromantis itu.
‘Tapi dia melamarmu di tengah samudra, disaksikan ribuan pasang mata dan deburan ombak yang menggulung.’ Dewi di dalam hati Yona bersuara, membela Regan tentu saja.
Yona tidak bisa menutupi kebahagiaannya kala itu, lelaki lurus tanpa belokan bisa melamarnya dengan begitu romantis di suasana yang sangat mendebarkan.
Yona : Hanya pesta ulang tahun, pesta pernikahan aku juga siap.
Yona terkikik geli membaca balasan yang dia kirimkan kepada Regan. Berani sekali Yona menggoda lelaki itu.
“Kalau begitu, bisakah kita menikah juga nanti malam?”
Wanita itu berjingkat kaget mendengar suara yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Kaki Yona meleset saking kagetnya. Untung saja Regan dengan sigap merangkul tubuh Yona hingga wanita itu jatuh dalam dekapannya.
“Pesta, dihadiri keluarga dan kerabat. Bukankah itu sangat cocok untuk menikah lebih dahulu secara agama? Esoknya, baru kita ke KUA dan bulan madu,” bisik Regan di telinga Yona sampai wanita itu menegang di tempatnya.
-----------
HELLOOO JAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA YA. TINGGALKAN RATE BINTANG 5 JUGA UNTUK REGAN DAN YONA, HIHIHI.
__ADS_1