My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Lelaki Mulut Lemes


__ADS_3

Berakhirlah kini Yona dan Regan di salah satu coffe shop yang ada di Bandar Udara Changi Singapura. Mereka merasakan sesak saat empat orang tua tengah menatap mereka menelisik.


Regan melirik Yona yang kini menundukkan kepalanya tidak berani menatap orang tuanya atau bahkan orang tua Ariana. Yona sangat malu dan juga tidak tahu harus berbicara apa untuk menjelaskannya.


Yona tidak mungkin mengatakan dia hanya spontan karena cemburu dengan pramugari pesawat yang sejak pertama kali mereka naik pesawat itu para pramugari disana menatap Regan penuh minat seperti melihat makanan enak yang siap untuk mereka santap. Mana mungkin Yona rela membiarkan Regan menjadi pemandangan gratis untuk para wanita pesawat yang kecentilan itu.


Baiklah, Yona tidak mengjudge para pramugari. Catat, Yona hanya kesal dengan pramugari itu.


"Jadi, apa yang tadi kami dengar di Pesawat itu benar adanya?" tanya Hendra membuka suaranya.


Yona meringis, wanita itu sungguh tidak tahu efek perkataannya akan membuat keadaan menjadi kacau. Bagaimana jika Yona dan Regan dinikahkan segera? Atau mungkin setelah mereka sampai di Indonesia.


Ini pasti menjadi alasan pendukung untuk mommy dan daddynya mempercepat pernikahan keduanya. Apalagi mommynya sangat menggebu-gebu jika membicarakan pernikahan diantara Yona dan juga Regan. Yona memang selalu apes akhir-akhir ini.


"Yona, Regan!"


Mereka berdua mendongak menatap Hendra, detik kemudian Yona menoleh ke arah Regan. Yona meminta Regan membantunya lewat tatapan mata memohon yang Yona tujukan padanya.


"Tidak tahu Daddy, memang benar Yona?" tanya Regan membuat mata Yona terbelalak.


Hei lelaki itu kenapa malah melontarkan pertanyaan yang menyudutkannya. Baru beberapa detik yang lalu Yona memberikan sinyal kepada lelaki itu untuk membantunya. Regan malah memberi garam diatas sayuran ini namanya!

__ADS_1


"Hei Regan!" teriak Yona menatap Regan melotot.


"Benar kamu hamil?" tanya Regan serius, mencoba menyembunyikan tawa yang kini mati-matian dia tahan melihat ekspresi wajah Yona yang sudah memerah.


"Ti-tidak, ini tidak seperti yang kalian pikirkan," jawab Yona gugup.


Baik Hendra maupun Shinta menatap keduanya dengan kening menyerngit.


"Kamu sendiri yang bilang kamu hamil," ucap Shinta memojokkan putrinya.


Dalam hatinya, Shinta berharap ini akan menjadi peluangnya untuk memuluskan jalannya menikahkan anaknya dengan Regan. Lelaki yang sudah dia pilih untuk menjadi suami dari putrinya. Lelaki yang sudah jelas bibit, bebet dan juga bobotnya.


"Tidak Mommy, bukan begitu," ucap Yona menatap orang tuanya dengan frustasi.


Yona mengambil segelas minuman yang dia pesan, meneguknya hingga menyisakan setengah dari gelas. Yona mengambil napasnya panjang,


"Itu hanya spontan, karena para pramugari itu menatap Regan terus menerus," jawab Yona seperti wajahnya di siram air, ini sangat memalukan.


Regan tersenyum, lelaki itu menunggu jawaban yang sejak tadi ingin dia dengar langsung dari Yona. Apa itu artinya Yona tidak rela jika Regan berdekatan dengan wanita lain meskipun hanya saling menatap?


Luar biasa, nampaknya pesona Regan tidak lagi diragukan. Lelaki itu kini besar kepala, dia tersenyum bangga karena Yona bisa cemburu karenanya.

__ADS_1


"Maksudmu kamu cemburu?" celetuk Regan menatap Yona.


Wanita itu kini terbelalak, kenapa Regan selalu memberinya pertanyaan yang menyudutkan dirinya? Sebenarnya Regan ini siapa? Musuh ataukah lelaki yang akan di jodohkan dengan dirinya? Yona menyesal sekali mengutarakan apa yang ada di hati wanita itu.


"Aku hanya tidak suka mereka berdiri di dekatku," elak Yona menatap Regan menantang.


"Di dekatmu atau di dekatku?" ulang Regan lagi.


Yona mendengus, wanita itu memalingkan wajahnya dari Regan. Sampai kapanpun lelaki itu pasti akan selalu menggodanya. Kan memang seperti itulah pekerjaan Regan, hanya menggoda dan mengolok-ngolok dirinya saja.


"Mommy tidak percaya, kalian pasti sudah melakukannya kan?"


Ini lagi mommynya, entah kenapa mommynya sangat ingin ada sesuatu antara Yona dan Regan. Wanita itu malah berharap jika Yona benar hamil agar dia bisa menikahkan Yona dan Regan secepatnya.


"Kami tidak pernah tidur bersama Mommy!"


"Hei kita pernah, di apartmenku," ucap Regan.


Semua orang menatap Regan terbelalak,mereka nampak ingin mendengar lanjutan dari cerita yang Regan ucapkan.


"Yaaaaaaaa Regannnnnnnn! Dasarrrr lelaki bermulut lemessssss," pekik Yona terbelalak mendengar Regan yang tengah membuka kartu as nya.

__ADS_1


__ADS_2