
Tuhan menciptakan keluarga dan teman memang untuk berbagi suka dan duka dalam hidup. Begitu juga dengan pasangan hidup, dia satu untuk selamanya. Begitulah pemahaman yang selama ini dipercaya oleh Regan dan Yona. Sekali pernikahan, untuk seumur hidup mereka.
Teman sekaligus sahabat, selalu menjadi bayangan bagi Regan maupun Yona. Persahabatan yang sangat kental layaknya saudara sendiri. Mereka saling membantu, saling menguatkan, dan juga tidak ketinggalan mereka sangat hobi saling mengejek satu sama lain. Perjalanan kisah cinta para sahabat yang nampaknya layak untuk menjadi cerita dogeng untuk anak-anak mereka kelak.
Regan dan Yona, kisah cinta berawal dari perjodohan yang berakhir di pelaminan, mereka benar-benar berjodoh karena pilihan orang tua adalah pilihan Tuhan. Sisil dan Nata, kisah cinta bos dan secretary yang terasa sudah menjamur di kalangan masyarakat, tapi memiliki jalan kehidupan unik, kepergian Sisil menyembunyikan kehamilannya dan kembali bertemu dengan Nata atas kehendak Sang Kuasa. Lalu Nadia dan Fernando, peliknya lika liku percintaan pasangan itu akhirnya juga bersatu di pelaminan. Kemudian Viona dan Racka, pasangan yang sempar berpisah karena terhalang restu ibunda dari Racka tidak memutuskan takdir mereka berdua. Dan yang terakhir, pasangan Rehan dan Melodi, meskipun maut menjadi saksi tapi pertolongan nyawa sepertinya menjadi kunci dari bersatunya Rehan dan Melodi yang tidak pernah disangka banyak orang.
“Bagaimana dulu kalian bisa bersatu lagi?” tanya Yona, mereka kini tidur berempat. Rehan, Yona, Sisil, dan Nata, begitulah formasi mereka saat ini. Untung saja, ranjang Sisil dan Nata memang sangat besar, Nayna dan Zio terkadang ingin tidur bersama orang tuanya. Apalagi terkadang Viona juga menitipkan Valeria bersama mereka saat dirinya memiliki keperluan yang mendesak.
Sisil menatap langit-langit kamarnya, memikirkan kisah masa lalu dirinya bersama dengan Nata.
“Semua itu mungkin sudah menjadi takdir, kami dipertemukan lagi setelah empat tahun lamanya tidak saling memberi kabar,” ucap Sisil tersenyum simpul.
“Dan saat itu aku seperti orang gila mencarimu ke manapun kiranya kamu berada,” tutur Nata mengingat kebodohannya saat itu, mengikuti kegilaan teman-temannya bertaruh apakah Nata bisa mendapatkan Sisil atau tidak.
Nata meninggikan bantalnya, bersandar pada leher ranjangnya.
“Saat itu hanya aku yang tidak ikut bertaruh,” ujar Regan tersenyum geli, turut mengingat bagaimana proses percintaan Nata dan Sisil hingga bersatu.
Yona terlihat begitu antusias, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tapi mereka masih asyik mengobrol menceritakan pengalaman cinta mereka untuk berbagi pengalaman. Katanya, pengalaman adalah guru terbaik.
“Nata seperti orang gila mencarimu saat itu,” kekeh Regan. Saat itu menjadi waktu yang sangat menegangkan. Namun jika diingat pada waktu sekarang, saat itu menjadi kilas perjalanan yang begitu menyenangkan untuk diceritakan kepada semua orang.
Sisil menatap suaminya, memeluk tubuh Nata dengan begitu erat.
“Benarkah kamu segila itu?” tanya Sisil meminta jawaban dari suaminya.
“Iya, aku bahkan merasa ingin mati saja dari pada harus hidup tanpa kamu, setiap hari aku merasa dihantui oleh rasa bersalahku,” jelas Nata kepada istrinya. “Tapi saat itu kamu hidup mewah bersama dengan Darwin Jaxon,” lanjut Nata sengaja mencela kelakuan Sisil kala itu.
Bagaimana mungkin Sisil sangat tega membuatnya kehilangan akal sehat dengan menutup akses semua akan wanita itu, tapi Sisil justru sering berlibur bersama lelaki lain saat mengandung anak Nata. Astaga, Nata sampai terbakar emosi ketika membayangkannya, tidak sanggup.
“Aku merasa ngantuk,” gumam Yona, menguap. Matanya sudah merah berair menahan kantuk yang mulai menyergapnya.
Yona memiringkan tubuhnya, wanita itu memeluk erat tubuh Regan. Mencari kehangatan pada dada bidang suaminya meskipun tubuhnya telah memakai selimut tebal.
“Hei, kamu tidur?” Sisil meraih pundak Yona.
__ADS_1
Dasar memang ibu hamil, seenaknya sendiri kelakuannya. Sudah menjadi penjajah di kamarnya dengan Nata, meminta Sisil dan Nata mendongeng dini hari, eh Yona malah tidur pertama di antara mereka berempat.
“Berhenti menggangguku atau aku berada di tengah kalian!” ancam Yona tak terbantahkan.
Sisil menarik kembali tangannya, enggan mengganggu singa betina yang tengah berbadan dua. Bisa-bisa Yona beneran berada di tengah dia dan Nata. Mereka berdua saja rela berpuasa malam ini demi kesenangan hati ibu hamil itu. Sisil sebagai wanita yang pernah dua kali merasakan nyidam aneh-aneh tidak bisa mengatakan nyidam Yona sangat konyol dan tidak masuk akal. Pernah saat itu Sisil ngotot minta sarapan di Singapura, alhasil dia dan Nata terbang ke Singapura memakai jett pribadi keluarga Corlyn setelah mendapatkan izin terbang dari pihak berwenang.
Pada akhirnya kantuk mulai menyerang mereka berempat, tidur saling memeluk pasangannya masing-masing menimbulkan sensasi tidur mereka untuk malam ini.
Pagi harinya, Sisil sudah bangun untuk mempersiapkan baju kerja dan juga segala keperluan sekolah Queenayna anak pertamanya. Sedangkan Regan dan Yona terlihat berjalan kecil mengelilingi rumah keluarga Corlyn, menikmati udara pagi, dan juga berolahraga ringan di sana.
“Regan, Yona? Kalian sepagi ini sudah mampir?”
Viona berdiri di belakang mereka, menyapa pasangan yang tengah berbahagia karena sebentar lagi mau dikaruniai dua jagoan sekaligus dalam pernikahan mereka. Yona tersenyum melambaikan tangannya ke arah Viona.
“Viona? Kamu semalam tidur di rumah mertuamu?” Yona terlihat sangat antusias.
Viona mengangguk membenarkan. “Iya, semalam ibunya Racka enggak enak badan jadi kita ke sana,” jelas Viona.
Mata Viona menelisik, baju tidur yang dipakai Yona saat itu terasa mengganggu pemikirannya.
“Aunty Yona,” pekik Varo girang melihat Yona berada di halaman rumahnya.
Varo mendekat, mencium punggung tangan Yona dan Regan silih bergantian.
“Hallo jagoan, Kakak Varo menanti kalian lahir,” kata Varo mengelus perut buncit Yona dengan lembut, kebiasaan saat aunty-auntynya tengah hamil.
“Kami baik, Kak Varo,” jawab Yona menirukan suara anak kecil hingga Varo tertawa merasa geli.
Kemudian Yona menatap Viona. “Iya tadi malam aku tidur di sini,” jawab Yona membenarkan prasangka dari Viona.
Viona mengulum senyumnya, memandang Regan dengan tatapan jenakanya. Untung saja para lelaki satu komplotan mereka sangat penyabar dan juga penyayang. Mereka tergolong lelaki bertanggung jawab dan begitu sayang pada istri serta keluarganya. Maka Yona bisa dikatakan beruntung memiliki Regan sebagai suami siaga yang siap menuruti segala nyidam Yona di kehamilannya yang pertama.
Baik itu mood, kesukaan, maupun tingkah laku Yona yang bisa berubah-ubah layaknya mood anak kecil.
“Yang sabar ya, Regan,” sahut Racka di belakang mereka, membawa Valeria dalam gendongannya.
__ADS_1
Racka sendiri sudah kenyang menghadapi kegilaan ibu hamil. Bersyukur sekali Racka, Viona memutuskan untuk tidak hamil lagi setelah proses panjang kelahiran Valeria yang masih menaruh trauma dalam kehidupan Viona.
Lelaki itu menepuk bokong Regan, mengedipkan matanya mengejek. Siapa suruh Regan dulu mengejek para lelaki saat menghadapi kehamilan istri-istri mereka. Alhasil, Regan mendapatkan batunya dengan menghadapi kelabilan Yona saat ini. Rasanya Racka ingin berteriak sambil berkata syukurin, biar tahu rasa si Regan kucrut itu.
“Oh iya, nanti malam kalian tidur di rumah kan?” tanya Yona kepada Viona dan Racka.
Pasangan itu memicingkan matanya, menatap Yona dengan rasa penasaran dalam diri mereka berdua.
“Memangnya kenapa?” Racka dan Viona dengan kompak bertanya.
“Nanti malam aku dan Regan mau tidur di rumah kalian,” jelas Yona.
Viona menoleh menatap suaminya. “Boleh aja kok, banyak kamar tamu di rumah,” sahut Viona membolehkan.
Viona sepertinya tidak mengerti apa yang diharapkan Yona saat ini. Yona bukan ingin tidur di kamar tamu, melainkan tidur satu kamar, satu ranjang dengan Viona dan Racka.
“Hei Yona, aku curiga anakmu cita-citanya nanti jadi satpam komplek, kerjaan ibunya pas hamil suka keliling sih,” kelakar Racka dengan polosnya mendapatkan jitakan di kepalanya dari Regan.
“Enak aja elu ngomong!” cecar Regan tidak terima.
“Hei, Yona bukannya mau tidur di ruang tamu. Dia maunya tidur sama kalian di ranjang kalian,” sahut Sisil mendorong stroller Zio menghampiri mereka semua.
Tidur bersama dengan mereka dalam satu ranjang yang sama? Bisa gila Racka membayangkannya.
“Apaa?” pekik Viona dan Racka bersamaan sampai membuat Valeria tersentak dari tidurnya.
Mulut pasangan itu ternganga, pupil matanya melebar sangat lucu di mata Yona.
"Just kidding, aku ingin tidur berdua saja sama suamiku, aku rindu." Yona menarik lengan Regan, bergelayut manja di sana.
--------------------
BUAT PARA PEMBACA KARENA BEBERAPA HARI INI BAKALAN UPDATE DOUBLE PART. MOHON UNTUK TIDAK MELONCATI BAB SAAT LIKE DAN KOMENTAR.
RASANYA SESAK SEKALI BAGI SEORANG AUTHOR YANG SUDAH MERELAKAN DOUBLE UPDATE EH BAB ATAS MINIM LIKE DAN KOMENTAR, DILEWATIN BEGITU SAJA KAYAK MONOPOLI HANYA LEWAT 😭😭😭
__ADS_1
AKU YAKIN PEMBACAKU BAIK-BAIK SEMUA KOK MAU NINGGALIN JEJAK BUAT APRESIASI AUTHORNYA 😍😍☺️