
Posisi Zeo tidak benar-benar seburuk itu. Dia juga belum tahu apakah Satria benar-benar berpikir buruk tentangnya. Karena Zeo tidak bersekolah selama dua hari ini. Tidak ada yang tahu tentang keberadaannya. Pagi dia berangkat sekolah, tetapi dia tidak pernah sampai ke sekolah. Satria yang berada di sekolah juga tidak akan berpikir kalau Zeo akan melakukan itu.
Zeo merasa terganggu dengan laptop milik Tiwi yang telah dirusaknya. Meski Tiwi telah menumpangkan hidupnya kepada Zeo dan merepotkan Zeo, bukan berarti Zeo bisa berbuat seenaknya. Menanggung Tiwi adalah keputusannya, tetapi merusak laptop itu bukan keputusan Tiwi. Tiwi bahkan menentang keras itu. Sehingga Zeo pun memutuskan untuk membolos sekolah selama beberapa hari untuk mencari pekerjaan paruh waktu. Dia masih baru di kota ini dan tidak memiliki seorang teman pun, sehingga dia harus berusaha keras untuk mendapatkannya.
Rupanya tidak seperti yang Zeo pikirkan—tidak perlu membutuhkan beberapa hari—dalam dua hari dia berhasil mendapatkan pekerjaan itu. Mulai besok, setelah petang dia akan bekerja menjadi pelayan di sebuah rumah makan. Setelah harinya dipenuhi kekhawatiran, akhirnya Zeo bisa pulang dengan perasaan lega.
“Gue balik,” kata Zeo saat memasuki kamar. Dia mengira Tiwi akan menyambutnya. Rupanya Tiwi malah tidak ada di sana. Entah ke mana Tiwi pergi, keheranan Zeo langsung berubah setelah menemukan sebuah laptop baru di atas ranjang.
Zeo melihat laptop itu sebaik mungkin. Mungkin saja dia salah melihat. Namun, itu benar-benar laptop baru dengan merk terkenal yang harganya pasti sangat mahal. Laptop dengan merk murah saja tidak ada yang berharga satu juta, bahkan jika itu barang bekas, kecuali setelah layarnya dipisahkan dari keyboard-nya.
“Lo udah pulang?” Suara itu mengejutkan Zeo.
Zeo menoleh. Rupanya Tiwi datang dari luar dengan handuk membalut kepalanya. Sepertinya dia baru selesai mandi.
__ADS_1
“Lo dapet dari mana laptop ini?” Zeo menunjuk laptop itu.
“Tadi Satria yang tinggalin.”
“Dia tadi ke sini?!”
“Justru itu yang bikin gue heran, kalo dia pulang sekolah dari tadi, kenapa lo masih baru pulang?”
“Enggak penting, kata lo?” Tiwi merasa teringgung. “Satria bilang lo udah enggak ke sekolah dua hari. Jadi dia ke sini khawatir kalo lo enggak pulang sejak pestanya itu. Jadi lo kemana?”
“Lo enggak perlu tahu. Itu urusan gue. Jadi biar gue yang balikin laptop ini besok.” Zeo hendak mengambil laptop itu, tetapi Tiwi langsung mendorong tangannya. Kemudian Tiwi menarik laptop itu dan menyekapnya di dalam pelukannya.
“Oke. Itu emang bukan urusan gue. Jadi gue enggak bakal tanya lagi. Tapi jangan pernah sentuh laptop ini. Karena laptop ini urusan gue, bukan urusan lo,” sindir Tiwi.
__ADS_1
“Tapi laptop ini dari Satria!” tegas Zeo.
“Laptop ini emang dari dia dan bukan dari lo!” Tiwi lebih menegaskan.
Tiwi pun segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan laptop yang masih berada di pelukannya. Takut-takut Zeo akan membawanya lari saat dirinya tengah lalai.
“Wi!” panggil Zeo.
“Tiwi!” panggil Zeo lagi karena mengabaikannya.
Zeo pun mendekat dan menggoyangkan tubuh Tiwi. “Wi,” panggilnya. Namun, Tiwi malah mengeratkan pelukannya terhadap laptop itu sampai membenamkan kepalanya ke dalambantal. Perempuan itu benar-benar telah mengabaikan Zeo. Perempuan itu memilih berpura-pura terlelap, meski dia tidak akan bisa tidur. Jika dia tidur, maka Zeo akan membawanya lari.
***
__ADS_1