Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
49. Petaka


__ADS_3

Apa Bara sudah berbaikan dengan kekasihnya?


Apa Bara benar-benar akan menikah?


Lalu bagaimana dengan Zeo?


Apa Zeo akan benar-benar ditinggal dan dilupakan?


Apa pada akhirnya, Zeo harus melebur semangat dan perasaannya?


Lalu bagaimana dengan perjuangan Zeo?


Apa semua itu sekadar basa-basi takdir kehidupan?

__ADS_1


Sekadar menjadi antagonis di tengah-tengah kisah cinta sepasang pahlawan cerita ….


Pikiran Zeo benar-benar tidak keruan. Bercampur aduk seolah adonan. Antara keinginan yang memaksa dan perasaan yang pasrah ….


Dua sisi hati Zeo kini hidup dan mulai meracaukan dirinya. Hati egois Zeo, terus memaksa Zeo untuk memikirkan diri sendiri yang mungkin akan terbuang. Namun, hati kecilnya Zeo yang begitu lembut turut membuka mulut. Mengeluarkan suara-suara kecil untuk menghentikan kata-kata hati si egois yang tak berguna. Hanya menambah duka saja.


Bara akan bersama dengan perempuan yang dia cintai selama ini. Apa kamu yang tak pernah menjadi apa-apa baginya akan terus mengusik kehidupannya? Menjadi benalu di antara kehidupan yang tengah merekah? begitulah si hati kecil berusaha membujuk.


Zeo tidak tahu harus berbuat apa. Lagi-lagi dia mengurung diri sendiri di sudut kamar. Berbeda dari sebelumnya, kini dia masih mau makan, setidaknya tiga sendok per hari. Namun, dia tidak mau ke sekolah lagi. Bahkan saat Tiwi terus menarik tangannya, berusaha menggeretnya untuk pergi ke sekolah, Zeo tetap tidak mau bergerak. Memaku diri sendiri di atas kasur.


“Kalo orang tua lo sampai tahu lo enggak sekolah, bisa ribet urusannya, Ze!” seru Tiwi memperingatkan.


Benar saja. Dari keluarga Zeo, tidak ada satu pun yang tahu kalau Zeo tinggal bersama Tiwi. Mereka begitu tidak acuh ke Zeo sampai tidak berniat untuk menjenguk Zeo di rumah kosannya.

__ADS_1


Sungguh Zeo yang malang ….


Bukannya ketakutan, Zeo malah menutupi telinganya dengan bantal. Terserah jika orang tua Zeo sampai kemari. Lagi pula bukan dirinya yang mendapat masalah kalau Tiwi terpergok tinggal di sini. Malah bagus, kebenaran anak Tiwi bisa terbongkar.


Semakin lama Zeo mengukuhkan diri di ranjang, dia menjadi semakin tidak terawat. Bukan hanya penampilannya yang menjadi semakin acak-acakkan. Wajah Zeo dari hari ke hari kian memucat saja. Bibir memerah yang menjadi bunga penghias di wajahnya tergantikan warna putih. Kulit wajahnya yang putih malah tak tersentuh cokelat sama sekali.


Kini Tiwi benar-benar menyerah. Dia lelah memaksa Zeo yang tak tersentuh sedikit pun. Setiap hari, Tiwi hanya meninggalkan makanan di samping Zeo saja. Terserah perempuan itu mau ke sekolah, mandi, makan, atau hanya rebahan saja. Asal tidak mati begitu saja. Berabeh urusannya ….


Suatu hari, Tiwi mendapati Zeo tak bangun seharian. Dia mengira Zeo sedang berulah. Namun, keesokannya Zeo tak bangun lagi. Tiwi yang khawatir, pun, berusaha membangunkan Zeo.


“Ze-Ze!” panggil Tiwi sembari menggoyang-goyang tubuh Zeo. Namun, tak ada reaksi apa pun.


“Ze, bangun! Lo belum makan dari kemarin,” tambah Tiwi.

__ADS_1


Tidak ada sahutan apa pun. Tiwi langsung menggulingkan tubuh Zeo. Seketika dia terkejut. Wajah Zeo menjadi sangat putih.


-oOo-


__ADS_2