
Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.
Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat Pak Guru Aku Mencintaimu ini meningkat.
Cuz ….
z z z z z z
“Kenapa Om lakuin itu?”
Andi mengangkat alis kanannya. “Apa?”
“Memberikan uang banyak sama Tiwi.”
Andi diam terenyak. Setelah menelan makanannya, ia membuka suara, “Kenapa kamu pikir aku?”
“Jika bukan Om, siapa lagi yang akan memberikan uang sebanyak itu? Tidak semua orang di sekitarnya adalah orang kaya,” tukas Satria.
“Kalau ternyata bukan aku?” uji Andi.
“Seharusnya Om juga tahu kalau itu enggak mungkin.”
Andi melepaskan garpu dan pisaunya. Ia menghentikan kegiatan makannya dan memilih fokus. “Memang aku yang melakukannya. Aku tidak mau pelayan seperti itu berdiri di sampingmu.”
“Apa menurut Om, hanya kekayaan yang menjadi tolak ukur manusia?”
“Seharusnya kamu tahu lebih dari itu,” sindir Andi.
__ADS_1
Satria tertegun. Andi benar. Apalagi dengan seorang anak tanpa ayah—Satria sudah memikirkan itu sebelumnya.
“Itu bukan yang paling penting buat Satria, Om. Cukup Satria bisa bersama orang yang Satria cintai, itu aja.”
“Memangnya apa yang bisa kamu dapatkan dari perempuan seperti itu?”
“Apa yang tidak didapatkan oleh kedua orang tuaku.”
Gantian Andi yang tertegun. Jika hanya melihat dari harta, mungkin pernikahan tidak bahagia kedua orang tua Satria bisa menjadi contoh.
“Memangnya apa jaminannya? Bukankah di luar sana juga banyak pernikahan dengan cinta yang berakhir perceraian?”
“Seenggaknya aku masih merasakan bahagia, meski hanya sekejap.”
“Apa kamu akan tetap berkeras kepala?” Andi menatap tajam.
Satria mengangguk dengan kepala menunduk. “Aku sudah memutuskan ini. Kuharap Om bisa menghargainya.”
“Sebagai seorang ayah, aku hanya bisa memberikan pilihan yang terbaik menurutku. Tapi kalau itu udah jadi pilihanmu, maka aku cuma bisa mendukungmu. Saat kamu menyesali keputusanmu, pintu rumahku selalu terbuka untukmu.”
“Om tenang aja. Aku tidak akan menyesali keputusanmu. Kalau pun yang seperti itu terjadi, aku tidak akan pernah menutup pintu rumahku sendiri.”
Andi menghela napas. Lalu mengembuskannya. Mengikuti keinginan keponakannya memang berat untuknya. Namun, mau bagaimana lagi ….
“Baiklah. Terserah kamu mau bagaimana,” ujar Andi pasrah.
Satria merasa lega. Ia berhasil menapakkan satu langkah kakinya.
__ADS_1
“Jadi, ada di mana Tiwi sekarang?” tanya Satria penuh harap.
Andi menggelengkan kepala. “Aku enggak tahu.”
Satria menarik alisnya sehingga matanya menyipit. “Apa maksud, Om?”
“Aku hanya memberikannya uang dan menyuruhnya pergi begitu saja.”
“Tapi … bagaimana itu mungkin?”
“Karena aku tidak pernah tertarik pada kehidupannya. Tapi aku percaya kalau dia adalah perempuan yang mau memegang janjinya.”
Satria menjadi lemas. Meski pamannya sempat menyembunyikan sesuatu, Andi tak pernah berbohong kepadanya. Sama seperti tadi.
Merasa tidak ada obrolan lagi yang diperlukan, Andi pun menata diri, lalu beranjak dari tempat ini, meninggalkan Satria sendiri.
Satria terpaku. Ia bingung harus bergerak bagaimana. Ia merasa lemas karena kehilangan jejak Tiwi.
o
o
o
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗