
Adakah yang masih melek π§π§
Cuz ....
πππ
Setelah menghabiskan banyak waktu untuk berpikir, akhirnya Tiwi beranjak dari bangku yang dia duduki. Meski kakinya terasa lemas, dia harus pulang sebelum ada orang yang mencurigai kepergiannya.
Hanya tinggal sedikit lagi jaraknya, Tiwi menghentikan langkah kakinya. Sedangkan pandangannya mengarah menuju seorang perempuan berambut pirang yang berdiri membelakanginya. Perempuan itu terlihat ragu. Berulang-ulang hendak menekan tombol bel di samping gerbang, tetapi tidak pernah jadi. Sampai akhirnya perempuan itu menoleh.
βZe-zeo?β
Tiwi tidak salah lihat, kan?
Orang yang hendak dicarinya malah sudah berada di hadapannya.
Namun, apa yang sudah terjad kepada Zeo?
Perempuan itu tidak terlihat baik-baik saja. Rambutnya acak-acakan, dia bahkan tidak berdandan. Tiwi bisa mengetahui jelas dari wajahnya yang hanya dikotori oleh air mata. Tidak ada tanda-tanda riasan yang luntur.
Tiwi segera mendekat. βA-apa yang terjadi padamu?β tanya Tiwi penuh khawatir.
βTiwiii β¦,β Zeo malah merengek. Dia langsung memeluk Tiwi. Seolah-olah membutuhkan penopang untuk tubuhnya yang terasa lemah.
βZe-ze-ze β¦.β Tiwi tidak berani menyelesaikan kalimatnya. Sangat jelas kalau Zeo tidak sedang dalam keadaan mampu menjelaskan.
__ADS_1
-oOo-
Joffy dan Putri tengah bermain di halaman. Mereka berlari-larian dengan senangnya sejak satu jam lagi. Tidak ada yang bisa melerai mereka. Mereka terlalu asyik sendirian. Seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Sedari tadi, Satria juga asyik memerhatikan mereka. Apa yang mereka lakukan membuat Satria teringat akan masa kecilnya yang lenyap begitu cepatnya. Sebenarnya Satria tidak memiliki teman saat kecil. Terlalu sulit untuk bisa bermain bersama anak-anak orang kaya lainnya, Sedangkan dirinya tidak pernah membuka diri kepada anak-anak yang berasal dari keluarga biasa. Saat masih kecil, Satria hanya memiliki satu teman saja, yaitu ibunya. Hanya perempuan itu yang selalu bermain segalanya. Menggantikan apa yang bisa Satria lakukan bersama banyak teman, hanya dengan satu orang saja. Ibunya Satria memang multi talenta. Dia bisa melakukan segalanya; baik ibu, teman, bahkan seorang ayah. Itulah kenapa, saat ibunya meninggal, dunia Satria serasa hancur. Seolah tidak ada lagi orang yang akan hidup bersamanya.
Pamannya Satria memang orang yang baik. Namun, apa yang bisa dilakukan oleh orang yang sudah berkeluarga?
Satria terlalu asyik sendiri sampai tidak sadar kalau pergerakan kakinya, membuatnya tiba di samping Tiwi. Satria baru menyadari keberadaan dirinya saat mendengar suara tepuk tangan yang berasal dari tangan Tiwi. Satria menoleh. Seketika kejadian kemarin membayang-bayangi dirinya. Satria pun memalingkan wajahnya. Menyembunyikan semburat merah muda yang memaksa untuk dipamerkan.
βLo-lo-lo β¦ ada di sini?β sapa Satria.
Seketika Tiwi merubah wajahnya menjadi serius. Tidak berani bertingkah bebas. Apalagi, kejadian kemarin mulai muncul di kepala Tiwi.
Ini tidak seperti Tiwi yang biasanya mengganti baju di kamar mandi.
βI-iya, Tuan,β sahut Tiwi.
βUdah berapa lama?β tanya Satria.
βUdah lama sekali, Tuan,β jawab Tiwi.
Seketika Satria tidak tahu harus berbicara apa sehingga keheningan menguasai daerah tengah mereka.
Ah, sial! Kecanggungan ini serasa ingin mencekik satu sama lain.
__ADS_1
Tidak bisa! Ini harus dipatahkan. Akan tetapi, bagaimana caranya?
βMaaf β¦,β ucap Satria berusaha memberanikan diri.
βUntuk apa, Tuan?β sahut Tiwi.
βSoal kemarin, soal β¦.β
Ah, sial! Satria bahkan tidak berani menyelesaikannya. Dia khawatir bagaimana Tiwi akan berpikir tentangnya.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku πππ
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih π€π€
__ADS_1