
Bola mata Zeo langsung membelalak. “A-apa maksudmu?” pekiknya.
Lagi-lagi Satria tak menjawab. Kini terpaksa Zeo melangkah dengan lemas dalam tarikan Satria.
Satria mengetuk pintu rumah itu. Tak lama, Bara keluar dari sana. Awalnya dia juga terlihat terkejut. Namun, Bara bisa menutupinya dengan tersenyum. Bara benar-benar memiliki banyak wajah.
“Kenapa kalian ke sini?” tanya Bara masih berpura-pura tak memiliki hubungan dengan Satria. “Bukannya kalian seharusnya bersiap-siap sekarang? Saya juga pasti akan ke sana nanti.”
“Enggak usah!” seru Satria dingin. “Bukannya Anda akan pergi hari ini?”
“Tapi saya masih punya waku kalau cuma untuk berkunjung sebentar,” bela Bara.
“Enggak usah. Cukup kamu bawa aja dia sekalian.” Satria mendorong Zeo sehingga jatuh dalam pelukan Bara.
Zeo langsung menarik diri. Posisi ini benar-benar tidak nyaman lagi baginya dan Bara.
“Ma-maaf,” kata Zeo terbata-bata.
Bara tak menyahut karena perhatiannya benar-benar dia pusatkan kepada Satria.
“Apa maksudmu?” tanya Bara keheranan. Tadi dia tidak salah dengar, kan?
__ADS_1
… Atau Bara hanya salah mengerti?
Satria memusatkan perhatiannya kepada Zeo.
“Aku memang menyukaimu, Ze. Tapi enggak setelah aku tahu kalo kamu memiliki sangkut paut dengan orang ini: orang yang paling kubenci dalam hidupku,” tutur Satria dengan telunjuk mengarah ke Bara.
Kepala Zeo mendongak. Dia menatap Satria keheranan. Sebelumnya mereka berdua hanya sebatas guru, lalu Satria mengakui laki-laki itu sebagai ayahnya. Namun, Satria malah membencinya?
Hubungan macam apa ini?
“Ta-tapi kenapa?” Zeo memberanikan diri untuk membuka suaranya.
“Karena aku enggak mau apa pun yang berasal dari orang ini masuk dalam hidupku, bahkan jika itu adalah kamu. Jadi ikutlah dengannya dan tinggallah bersamanya. Lebih tepatnya, jauh-jauhlah dari kehidupanku,” tegas Satria.
Zeo melirik ke arah Bara. “Lagipula dia udah punya calon istri sendiri,” katanya dengan suara pelan. Dia sangat muak mengakui semua itu.
“Emangnya siapa nama perempuan itu?” tanya Bara.
“Dahlia,” jawab Zeo.
“Itu nama mendiang ibuku, Bodoh!” seru Satria.
__ADS_1
“A-apa maksudmu ….” Zeo terperangah akan kabar itu.
“Laki-laki jahat itu menipumu! Dia takkan menikah dengan siapapun!” tegas Satria. Dia ingin sekali memaki-maki ayahnya seperti itu, tepat di depannya.
“Terus ….” Zeo kehilangan kata-kata.
“Aku memutuskan pernikahan ini! Aku enggak mau maksa siapapun menikah denganku. Jadi ikutlah dengannya ke mana pun dan jangan temui aku lagi! Aku enggak mau berhubungan dengan apa pun yang berhubungan dengan laki-laki itu!” seru Satria.
“Terus gimana sama Tiwi?” Rupanya Zeo belum melupakan beban yang sempat diambilnya.
“Aku yang akan menjaganya. Kamu enggak perlu pikiran itu. Dia bakal baik-baik aja sama aku,” tutur Satria tetap mengalah.
Kini, Zeo terdiam. Dia terpaku di tempat. Sudah kehabisan kata-kata, dia tidak tahu mau berbuat apa lagi. Dia senang akan berita yang didapatkannya. Namun, dia malu kepada Satria. Sudah banyak bantuan yang Satria berikan. Namun, Zeo tidak bisa membalas apa pun selain memberikan penolakan.
“Aku pergi,” pamit Satria. Kemudian dia bergegas ke arah motornya sebelum Zeo dan Bara mengutarakan pendapatnya.
.
.
.
__ADS_1
.
Selalu sisihkan waktu dan tenaga buat tinggalin jempol ama komen 🤗🤗🤗