Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
99. Kehilangan


__ADS_3

Namun, bagaimana kalau Zeo sampai marah?


Tidak-tidak. Bara harus bergegas pulang dan menjelaskan semuanya.


Tentu tidak semua. Lebih tepatnya menjelaskan kebohongannya.


-oOo-


Mobil Bara telah sampai di halaman rumah. Saat dia keluar dari pintu mobil, rumah yang seharusnya terlihat bahagia itu malah terlihat sangat suram. Ruangan sangat gelap padahal hari masih siang. Ke mana Zeo? Kenapa lampunya tidak dimatikan?


Brak! Bara menutup pintu mobilnya. Kemudian bergegas kearah pintu di sana. Bahkan pintu itu tertutup. Zeo tidak mungkin berjalan-jalan sendiri dan mengunci pintu itu, kan?


Bara mencoba membuka pintu itu. Benar saja: pintu itu terbuka. Rupanya Zeo tidak menguncinya. Seharusnya perempuan itu ada di dalam, kan?


“Ze!” panggil Bara setelah masuk ke dalam rumah. Karena belum mendapat sahutan itu, dia mengulangi teriakannya dan terus begitu, “Zeo!”


Bara menyalakan lampunya lebih dulu. Baru kemudian pergi ke kamar untuk memeluk istrinya dan mengatakan maaf setulus-tulusnya.


“Zeo,” panggil Bara bersamaan membuka pintu itu. Namun, tidak ada siapapun yang menyambutnya kecuali dinding berwarna putih. Tidak ada yang mengisi kamar itu selain keheningan.


Alis kanan Bara terangkat. Apa Zeo sedang mandi?


Kini Bara mendekat ke pintu kamar mandi.

__ADS_1


Tidak-tidak. Bara tidak akan membukanya begitu saja. Meski Zeo adalah istrinya, harus ada tata krama dalam berhubungan.


Tok tok tok! Bara mengetuk pintu kamar mandi.


“Ze! Apa kamu ada di sana, Sayang?” tanya Bara dengan menempatkan bibirnya tepat di samping pintu.


Sama seperti sebelumnya, hanya kesunyian yang membalas panggilan Bara.


Awalnya Bara tidak yakin. Namun, dia harus melakukan ini untuk mendapat kepastian. Dia pun membuka pintu kamar mandi.


Heh! Ternyata hanya WC yang menyambut Bara.


Bara menutup pintu itu dengan lemas. Dia kesulitan mencari Zeo hanya beberapa saat, tetapi dia sudah frustasi. Lalu bagaimana dengan Zeo yang sudah kehilangan dirinya selama dua hari?


Tiba-tiba Bara membuka matanya. Dia langsung teringat sesuatu ….


“Coba saja membuatku tidak nyaman. Maka aku akan meninggalkanmu di sini.” Itu adalah perkataan Zeo beberapa hari lalu di pantai.


Zeo tidak benar-benar melakukan itu, kan?


Bara langsung bangun. Dia beranjak dari ranjangnya dan segera membuka pintu lemari. Namun, hanya baju miliknya yang menyambutnya. Tidak ada barang-barang Zeo. Bahkan setelah Bara mencarinya di seluruh kamar. Rupanya, Zeo telah pergi ….


Bara akhirnya menyadari saat satu-satunya koper yang dia bawa telah lenyap.

__ADS_1


-oOo-


Napas Bara tersendat-sendat. Padahal dia sampai ke bandara dengan menaiki mobil, bukannya berlari. Meski begitu, dia tidak memiliki waktu untuk membungkuk atau sekadar memperbaiki napas. Bara terus berlari sembari mengulangi panggilan teleponnya untuk Zeo yang tak pernah dijawab.


Panggilan itu terus memberikan tanggapan dering. Bara berharap bisa mendengar suara dering lainnya dari ponsel Zeo.


Sebuah lagu terdengar samar-samar di telinga Bara. Bara ingat kalau lagu itu adalah lagu yang biasa Zeo gunakan untuk nada dering ponselnya. Bara merasa lega. Bibirnya tersenyum semringah. Dia pun bergegas mengejar sumber suara itu.


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2