
Pagi hari tiba. Hari ini, bahkan Zeo terbangun dengan senyuman.
Oh, tidak! Dia bahkan tidak melepaskan senyuman itu selama tidurnya. Kini dia merasa lega. Tidak ada yang memberatkan atau perasaan apa pun yang perlu dia tahan.
Zeo sangat bahagia pagi ini. Meski hanya udara dan dinding yang dia lihat pertama kali, kehangatan di balik punggung dan yang melingkari perutnya membuatnya merasa nyaman. Kehangatan itu pula yang membuatnya enggan terbangun sedari tadi. Terus hanyut dalam ingatan yang merasuki mimpinya.
Zeo memang tidak melihat angka berapa yang ditunjuk oleh jarum jam. Namun, dia bisa menduga kalau pagi telah berubah menjadi siang. Terik mentari yang menerobos masuk kamar melalui kelambu itu telah mengacaukan tidurnya yang nyenyak.
“Cups!”
Zeo langsung tertidur saat merasakan bibir Bara yang mendarat di pundaknya.
Sejak kapan Bara bangun?
“Bukalah matamu. Lagi pula aku udah lihat kamu bangun dari tadi,” bisik Bara. Kini gantian dia mengecup lengan Zeo.
Ah, sial! Betapa memalukannya Zeo sedari tadi malam. Dia sudah mematok harga yang tinggi untuk dirinya, tetapi Bara selalu berhasil membuktikan kalau dirinya sekadar barang rombengan. Zeo pun membuka matanya dengan bibir mengerucut kesal.
Bara tersenyum. Dia puas karena Zeo selalu berhasil menurutinya.
“Jadi, kapan kita akan ke rumah mertua?” tanya Bara.
“Kita?”
__ADS_1
Zeo tidak salah dengar, kan?
“Tentu aja. Kamu, kan, masih harus ngenalin aku ke mereka,” ujar Bara.
“Aku akan pulang setelah ini, sendirian, tanpa kamu. Lagian mereka juga enggak tertarik buat kenalan sama kamu,” ejek Zeo.
Bara kembali tersenyum. Rupanya Zeo berusaha menaikkan harganya lagi.
“Kalau kamu enggak ngenalin aku sekarang, lalu gimana kamu mau jelasin soal kehamilanmu nanti?” sindir Bara.
“Kehamilan?” Dahi Zeo berkerut. “Kehamilan apa?” tanya Zeo tak mengerti.
“Apa kamu enggak akan hamil?” timpal Bara.
“Untuk apa aku hamil?” Zeo malah semakin tidak mengerti.
Perkataan Bara sekadar lelucon. Akan tetapi, dari pada tertawa, Zeo malah merasa malu. Kedua pipinya terasa hangat karena semburat rona merah muda.
“Apaan kamu ini, sih?” rengek Zeo.
Bara malah mengeratkan pelukannya. “Jangan pergi lagi,” larangnya.
Kini Bara menciumi punggung Zeo, lalu memejamkan matanya. Kemarin malam terlalu panas sampai membuatnya kesulitan tidur. Kini dia ingin tidur nyenyak bersama kenyamanan dalam pelukannya.
__ADS_1
-oOo-
“Mbak Tiwi, Mbak Tiwi!” panggil seseorang.
Tiwi yang tadinya sibuk membersihkan piring di dapur menoleh. Rupanya salah satu pelayan memanggilnya.
Memang tidak ada lagi Joffy di sini. Namun, jabatan Tiwi kembali. Dasar Satria yang sialan itu! Rupanya dia tidak menepati janjinya. Sedangkan Tiwi tidak berani menagih. Dinginnya tatapan Satria yang seperti bongkahan es yang tajam itu, seolah ingin menusuk masuk ke dalam mata Tiwi.
“Ada apa?” sahut Tiwi. Dia kembali memusatkan perhatiannya ke arah piring-piring di tangannya. Gawat kalau sampai pecah. Gaji satu bulannya belum tentu cukup untuk melunasinya. Belum lagi utangnya kepada Satria yang belum habis-habis.
“Ada suami Mbak di luar,” jawab pelayan itu.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗