
“Ini, Bu,” tutur Zeo sembari menyodorkan micin yang dia beli dari warung, kepada Bu Ani.
Bu Ani menerima itu. Kemudian menaburkannya ke atas sopnya yang telah mendidih.
“Bu. Micin itu enggak baik kalau dibiasain lho, Bu,” tutur Zeo berusaha menasehati ibunya.
“Siapa beli micin buat dibiasain? Kita beli micin buat dimakan,” elak Bu Ani.
“Tapi micin itu enggak sehat bagi tubuh, Bu,” tegas Zeo.
“Seperti kata mutiara di novel My Obsessive Boyfriend, ‘kamu enggak bisa memiliki semua yang kamu inginkan. Kalau kamu mau mendapatkan sesuatu, berarti kamu harus mengorbankan sesuatu yang lain’, makanya Ibu ngorbanin kesehatan Ibu buat rasa enak,” jelas Bu Ani.
Zeo langsung menyenggol Bu Ani dengan ekspresi sebal di wajahnya.
“Hati-hati kalau ngomong, Bu!” tegur Zeo. Terkadang gaya bercanda Bu Ani sedikit kelewatan.
Bu Ani malah tertawa. “Lagian kalau enggak ada micin tuh enggak enak. Ibarat ‘jangan’ tanpa garam,” Bu Ani malah berucap seolah-olah dirinya adalah orang bijaksana.
“Ya udah. Sopnya dikasih garam dua kali lipat, tapi enggak pakai micin. Sekarang seimbang, kan?” saran Zeo.
Bu Ani langsung menyenggol Zeo. “Kamu ini … masih aja nakal.”
Zeo akhirnya tertawa.
“Oh, ya. Kamu kapan balik ke Rusia?” tanya Bu Ani setelah tawanya mereda.
Seketika Zeo menjadi diam. Meski dia sudah tinggal di Rusia selama enam tahun, entah mengapa nama itu terdengar asing di telinganya sekarang.
“Eng-enggak tahu,” jawab Zeo.
“Kok enggak tahu?” Bu Ani malah keheranan. “Atau kamu mau tinggal di sini buat selamanya?”
__ADS_1
Sebenarnya Bu Ani tadi hanya menggoda. Akan tetapi, Zeo malah memasukkannya ke dalam pikiran. Setelah selesai mengobrol dengan ibunya, Zeo pergi kembali ke kamarnya. Di sana sudah ada Bara yang sedang bermain bersama Joffy.
“Joffy,” panggil Zeo.
Anak yang dipanggil pun menoleh. “Iya, Ma!” sahutnya.
Bara turut mengangkat kepalanya. “Ada apa, Ze?” tanyanya.
Zeo tidak menjawab. Dia malah melangkah cepat mendekati Joffy dan langsung menggendong anak itu.
“Kamu mau ke mana?” tanya Bara penasaran.
“Kamu tunggu di sini dulu, ya, Sayang. Aku anter Joffy ke bapak dulu,” timpal Zeo.
“Tapi kenapa?” tanya Bara.
Zeo tidak menyahut lagi. Dia pun berjalan keluar dari kamar.
“Kamu main sama kakek dulu, ya, Nak. Soalnya ada yang mau Mama obrolin sama papamu,” ujar Zeo kepada Joffy. Sedangkan Joffy hanya mengangguk-angguk menerima saja.
“Ada apa?” sambut Bara.
“Tadi Ibu tanya sesuatu,” ujar Zeo.
“Tanya apa?”
“Kapan kita balik ke Rusia?”
“Terus kamu jawab apa?”
“Enggak tahu.” Zeo malah menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Emangnya kamu mau kita pulang kapan?” tanya Bara.
Zeo langsung menundukkan kepala. Dia merasa lemas setiap mendengar kata pulang.
“Ze?” panggil Bara.
Zeo malah menggigit bibirnya. Sebenarnya dia ingin mengatakan sesuatu. Entah kenapa dia malah merasa ragu.
“Sayang ….” Zeo memberanikan diri mengangkat kepalanya.
“Iya. Ada apa?” sahut Bara.
“Apa kita bisa enggak balik ke Rusia?” tanya Zeo dengan suara lirih. Dia ingin, tetapi takut mengatakannya.
“Apa?” pekik Bara.
Suara Zeo sangat lirih, Bara tidak salah dengar, kan?
“Aku … aku ….” Ah, sial! Mana Zeo si pemberani ini?
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗