
“Gue juga enggak tahu. Zeo enggak mau bilang apa pun ke gue,” jawab Tiwi lemas. Dia sendiri kecewa akan hal itu. Padahal Tiwi menganggap kalau dirinya adalah sahabat Zeo dan orang terdekat Zeo. Namun, dia tak tahu apa-apa tentang Zeo, bahkan sampai Zeo menjerumuskan diri sejauh ini.
“Terus, apa lo punya dugaan sama seseorang? Mungkin ada cowok yang lagi dekat sama Zeo?” tutur Satria.
“Gue malah sempat ngira kalau lo bokapnya itu anak,” timpal Tiwi. Dia tidak memberikan petunjuk apa-apa.
“Apa enggak ada cowok lain yang lo duga punya hubungan sama Zeo?” tanya Satria.
“Mana gue tahu! Dia kan jarang di rumah. Pulang sekolah, kerja. Pulang kerja, tidur. Tapi gue enggak pernah lihat dia main hape ama cowok mana pun. Satu-satunya cowok yang dekat ama dia cuma lo,” jelas Tiwi dengan menaikkan suaranya. Dia menjadi kesal sendiri. Ditanyai ini itu, sedangkan dirinya bukan apa-apa bagi Zeo.
Tubuh Satria seketika lemas. Kekuatannya terkuras. Dia mengira penyelidikannya akan berakhir sia-sia. Namun, saat hendak pergi dari kamar kossan Zeo, perhatiannya tertarik pada sebuah kalung yang menggantung di dinding.
Tidak-tidak! Bukan kalung itu tepatnya! Namun, liontin yang menggantung di tengah-tengah: sebuah kunci. Kunci itu terlihat tak asing. Kunci itu sama persis dengan kunci yang dipakai Zeo untuk masuk ke atap sekolah ….
Seketika bola mata Satria membundar sempurna. Sebuah puzzle lain tiba-tiba mencuat di pikirannya. Kini Satria ingat, bukan hanya di atap itu dia melihat kunci itu. Saat memasuki rumah Bara beberapa hari lalu, dia sempat melihat kunci yang sama di samping foto ibunya.
Satria bergegas keluar dari kossan Zeo dan Tiwi. Kemudian menghubungi pihak keamanan di sekolah. Dia pun menanyakan siapa saja yang memiliki kunci itu.
“Enggak ada, Tuan. Kunci ini cuma saya yang pegang, kok. Guru-guru juga enggak ada,” jelas orang itu di seberang sambungan telepon.
“Lalu apa Bapak tahu siapa aja yang pernah ke sana?” tanya Satria.
“Banyak, Tuan. Di sana kan ada gudang juga. Biasanya emang saya sendiri yang ke sana. Tapi kalau saya sibuk, ya, saya minta tolong sama guru-guru buat ke sana sendiri,” jawab orang itu.
“Kalau orang yang sering ke sana? Yang sering banget?” tanya Satria lagi.
“Saya enggak tahu, Tuan,” jawab orang itu.
__ADS_1
Satria berdesah kecewa. Rupanya dia tak memiliki petunjuk apa pun.
“Tapi, Tuan …,” kata orang itu memberi pengecualian.
“Iya, Pak? Kenapa?” sahut Satria penuh antusias. Berharap harapan yang lenyap itu terbit kembali.
“Sekitar beberapa minggu yang lalu, sebenarnya saya sering liat motor Pak Bara masih di parkiran. Tapi waktu saya cari ke mana-mana, dia enggak ada. Padahal motor itu udah pergi kalo malam. Terus ada satu siswi juga yang beberapa kali saya lihat masih ada di sini meski sekolah udah tutup. Sempat saya cari juga ke mana-mana, tapi enggak ada juga. Sebenarnya saya mau nanyain ini ke Pak Bara langsung, tapi Pak Bara sering enggak masuk waktu itu. Kalo tanya ke guru-guru lain, takutnya jadi rumor,” jelas orang itu.
Tidak ada kepastian sebenarnya. Namun, otak cerdas Satria bisa menjawabnya dengan mudah. Dia tak mau mempercayai ini, tapi logikanya bahkan bisa menebak alur cerita lebih jauh.
Satria benar-benar lemas dan putus asa. Itulah kenapa dia terus mengurung diri di kamarnya sampai hari pernikahan. Dia tengah memikirkan banyak hal. Bahkan saat Zeo berusaha masuk ke kamarnya, Satria hanya menyahuti dengan kebisuan.
Akhirnya Satria membuka kamarnya di hari pernikahannya. Dia bergegas pergi ke kamar di mana Zeo menginap di rumahnya. Rupanya Zeo sudah bangun, tetapi penampilannya masih acak-acakan.
“Ada apa?” tanya Zeo keheranan.
“Ke mana?” Zeo semakin heran. Ini bahkan terlalu pagi.
“Ke orang tuaku,” jawab Satria.
“Bukannya kita sudah pergi ke makam ibumu?”
“Ada satu orang tuaku yang belum kamu ketahui.”
“Kalo gitu tunggulah. Biar aku mandi dulu.”
“Enggak perlu. Kita harus pergi sekarang juga.”
__ADS_1
“Tapi kenapa terburu-buru?”
Satria tidak menjawab. Dia langsung menarik tangan Zeo dan pergi ke motornya. Lalu motor itu melaju hingga berhenti di depan rumah Bara.
Seketika Zeo membeku.
“U-untuk apa kita ke sini?” tanya Zeo. Dia menjadi gugup.
Satria melirik sinis atas kegugupan itu.
Satria tidak menjawab. Dia langsung menarik Zeo. Namun, Zeo tidak mau bergerak.
“Tidak-tidak! Sepertinya penata rias sudah sampai di rumah,” tolak Zeo.
Zeo berbalik, tetapi Satria berhasil menahannya.
“Dia ayahku!” tegas Satria.
.
.
.
Bagaimanakah akhir kisah Zeo, Satria, dan Bara?
Enak banget, ya, jadi Zeo. Diimpit oleh dua cowok caem.
__ADS_1
Coba aja, gue 😥 deketikan satu cowok aja dikira kuntilanak mau beranak 😭😭😭