
Satria mengembuskan napas beratnya. Entah sudah berapa lama ini, tetapi Tiwi masih belum mau menghentikan tangisnya. Perempuan itu duduk di atas lantai dengan melipat kedua kakinya. Sedangkan punggungnya malah menyandari kaki sofa. Mereka sedang berada di kamar Satria. Saking sibuk dengan rasa sedihnya, Tiwi sampai melupakan rasa canggungnya.
Satria sengaja membawa Tiwi masuk ke dalam kamarnya. Dia khawatir Putri melihat ibunya dalam keadaan menyedihkan seperti ini, kalau membawa Tiwi ke dalam kamarnya sendiri.
Baru saja Satria pergi keluar kamar. Kini dia kembali dengan sebotol air putih. Dia berjalan mendekati Tiwi. Kemudian turut duduk di atas lantai di samping perempuan itu.
Satria menyodorkan botol itu kepada Tiwi. “Minum dulu,” titahnya.
“Enggak mau!” tolak Tiwi.
Satria menjadi kesal sendiri. Dia menarik tangan Tiwi dan memaksa perempuan itu untuk memegangnya. “Minum biar tangis lo reda,” ujarnya.
“Makanya gue enggak mau minum. Soalnya gue masih mau nangis,” jelas Tiwi.
“Minum atau lo yang mau gue minumin,” ancam Satria.
Tiwi langsung meminum air putih itu. Dia terburu-buru sampai airnya tersisa setengah. Tiba-tiba saja dia teringat drama Korea Descendant Of The Sun. Itulah kenapa, dia jadi takut mendengar ancaman seperti itu dari Satria.
“Ini,” ucap Tiwi sembari mengembalikan botol itu ke Satria.
Satria menerima botol itu sembari menggeleng-gelengkan kepala. “Gitu aja kok susah,” gumamnya. Kemudian meletakkan botol itu ke atas meja tanpa beranjak dari duduknya.
Ah, sial! Benar saja. Gara-gara meminum air putih itu, Tiwi jadi tidak bisa menangis lagi. Padahal, kan, bukan ini yang Tiwi mauuu ….
Kini Tiwi membuang muka. Dia merasa malu untuk menunjukkan wajah jeleknya.
__ADS_1
“Lo tadi kenapa?” tanya Satria.
“Lo enggak lihat kalo gue tadi nangis?” timpal Tiwi.
“Ya, maksudnya lo tadi nangis gara-gara apa?” jelas Satria.
“Ya, gara-gara air mata gue jatuh,” timpal Tiwi.
Ah, sial! Bicara dengan orang bodoh tidak ada ujungnya.
Menjadi orang bodoh memang bukan dosa, tetapi orang bodoh benar-benar menyebalkan.
“Jadi, kenapa air mata lo sampai jatuh?” Satria masih terus bertanya. Dia mencoba untuk mengalah.
“Gara-gara gue sedih,” jawab Tiwi.
Oh, Tuhan. Semoga ini adalah yang terakhir kalinya Satria bertanya.
Tiwi tidak langsung menjawab. Dia mengembuskan napas beratnya lebih dulu, lalu menoleh ke Satria. Meski air mata tak lagi membendung di balik kelopak mata, bola mata Tiwi tetap memantulkan sayu.
“Gue lelah, Sat,” ujar Tiwi.
Hanya mendengar tiga kata itu, tubuh Satria bergetar. Seolah Tiwi membagi kesedihannya melewati tatapannya dan Satria menerima itu dengan baik.
“Gue lelah sama semua tuduhan ini,” imbuh Tiwi.
__ADS_1
“Lo habis dituduh lagi sama Hendri?” tanya Satria.
“Gue enggak tahu mana yang gue lakuin ini salah. Tapi kenapa semua hal yang gue lakuin jadi masalah?” protes Tiwi. Dia mengabaikan pertanyaan Satria baru saja.
Air putih yang Tiwi minum tadi memang berhasil menyurutkan air matanya sejenak. Kini kedua matanya kembali berkaca-kaca.
Beling yang mengisi mata Tiwi, malah hati Satria yang merasa perih.
“Apa lo mau jelasin semuanya?” tawar Satria.
“Jelasin apa? Gue bahkan enggak tahu salahnya di mana,” jelas Tiwi.
Ah, sial! Tiwi kembali menangis. Hanya saja, dia tidak histeris seperti tadi.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗