
Tiba-tiba saja taksi yang dinaiki oleh Zeo mogok di tengah jalan. Dengan terpaksa Zeo tidak bisa langsung sampai ke rumah Pak Bara.
Sang sopir menoleh ke arah Zeo yang masih duduk di kursi penumpang. “Maaf, ya, Mbak. Enggak tahu kenapa bisa jadi gini,” ucap sang sopir merasa menyesal.
Zeo mengembuskan napasnya dengan berat. Mau bagaimana lagi, dia tidak mungkin, kan, memaksa si sopir untuk mendorong taksi itu hingga dirinya sampai di rumah Bara?
“Tapi saya enggak perlu bayar, kan, Pak?” tawar Zeo.
“Enak aja. Ya, bayar, lah!” pekik sang sopir.
“Tapi, di drama-drama, kan, gitu, Pak!” tegas Zeo. Kemudian dia memasang ekspresi wajah seperti yang ditampilkan oleh sopir-sopir lainnya. Dia berusaha menirukan sopir-sopir di drama. “Maaf, ya, Mbak. Saya cuma bisa antar sampai di sini. Sebagai ganti rugi, Mbak enggak perlu bayar, deh.”
“Kalau mau gitu, jadi Nikita Willy dulu, Neng!” seru sang sopir.
“Ini aja saya udah rugi, masak mau dipojokin lagi,” dumel sang sopir.
Zeo berdengus kesal. Tadi saja, sang sopir bersikap ramah. Sekarang, galaknya minta ampun.
“Nama Bapak Galak, ya?” tanya Zeo sembari menyorokan selembar uang biru.
“Marsudi, Mbak,” jelas sang sopir membenarkan.
__ADS_1
“Terus Bapak, kok, galak, sih?” tanya Zeo.
“Emang kalau saya Galak, nama saya kudu Galak juga?” sahut sang sopir.
“Iyalah, Pak. Kayak Galaknya si Meta di novel sebelah,” timpal Meta.
“Terus kalau semua orang galak dinamain Galak, gimana jadinya?” tanya sang sopir.
“Kan, enggak semua orang galak. Yang galak, kan, cuma Bapak sama Galaknya si Meta,” ejek Zeo. Kemudian dia langsung keluar sebelum sang sopir mencabik-cabik dirinya.
Brak! Pintu taksi itu menutup. Langsung saja Zeo mengambil langkah seribu.
Setelah berada sangat jauh dari mobil tadi, Zeo mulai memelankan langkahnya. Kini dia mulai kecapaian. Sedangkan jaraknya dengan rumah Bara masih jauh.
Tak terasa hari sudah petang. Semburat jingga tak lagi menguasai cakrawala. Itu memang sudah terjadi. Karena awan hitam berhasil menjajahinya.
Ah, musim hujan. Rupanya belum selesai. Malah sekarang sedang deras-derasnya.
Tiba-tiba rintikan gerimis berjatuhan. Sudah tidak membawa uang, payung pun tak ada. Kian sial saja nasibmu, Zeo!
Bahkan hujan deras menggantikan gerimis, Zeo tetap berjalan tenang. Dia tidak berlari seperti drama-drama di TV. Percuma saja, toh, dia tetap akan basah. Mencari tempat teduh, puh, percuma. Mau sampai kapan dia menunggu?
__ADS_1
Seperti yang dijelaskan, latar waktu di sini adalah petang!
Sesampainya di rumah Bara, tubuh Zeo lemas seketika. Dia sudah berjuang sejauh ini. Namun, malah pintu rumah tertutup yang dia dapatkan. Benarkah Bara sedang tidak ada di rumah? Jika demikan, maka benarlah kalau Tuhan sedang mengutuk Zeo hari ini.
Wussh ….
Brak!
Angin berteriak keras untuk mendorong pintu itu sampai Zeo terperanjat.
Zeo terperangah. Jadi kesedihannya hanya basa-basi?
Pintu ini hanya menutup tanpa terkunci—
Terima kasih, Tuhan, sudah memberikan kesempatan bagi Zeo untuk berjuang.
Zeo pun melangkahkan masuk kakinya tanpa permisi ke rumah itu. Nekad begitu saja, tanpa tahu ada siapa di dalam ….
-oOo-
Digantungin mulu 😒😒
__ADS_1
Iya .... Biar kayak sinetron India 🤭