Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
138. Sekali Lagi Kebenaran 2


__ADS_3

“Jangan keras-keras ke Tiwi, Bang,” larang Zeo.


Hendri menoleh ke Zeo dengan wajah kesal. “Kamu kok malah belain dia, sih, dari pada Abangmu ini?” tanya Hendri merasa gusar.


“Aku cuma khawatir Abang ngerasa nyesel,” jawab Zeo.


“Nyesel? Buat apa? Buat perempuan licik itu? Enggak sudi!” timpal Hendri.


“Apa perlu kita taruhan?” tantang Zeo.


“Taruhan apa?” tanya Hendri.


“Kalau Abang sampai merasa menyesal, berarti Abang harus minta maaf dan kabulin apa pun permintaan Tiwi,” jelas Zeo.


“Kamu pikir Abangmu ini apaan?” sindir Hendri dengan sombongnya.


“Jadi taruhan, enggak?” tanya Zeo.


“Ya udah ya udah,” jawab Hendri setuju. Lagi pula entah apa yang akan Zeo lakukan.


“Abang belum tahu, kan, sesuatu yang Abang tinggalin dalam kehidupan Tiwi?” tanya Zeo.


Hendri mengernyitkan dahinya. Drama apa lagi yang sebenarnya Zeo ceritakan ini?


“Ze. Kamu mungkin salah paham. Aku sama Tiwi enggak ada sesuatu yang lebih sampai-sampai—“

__ADS_1


“Tiwi punya anak dari Abang,” potong Zeo.


Sudah kalimatnya terputus, bibir Hendri tak bergerak lagi. Mulutnya masih membuka tanpa takut akan ada seekor lalat yang masuk. Memang Hendri yang mematung, tetapi Hendri merasa malah waktu yang berhenti.


Hendri berusaha mencairkan suasana dengan tawanya. Dia yakin Zeo hanya bercanda untuk menakut-takutinya, meski ekspresi di wajah perempuan itu begitu serius.


“Mana mungkin! Aku sama Tiwi aja cuma main-main,” elak Hendri. Dia malah terpingkal-pingkal.


“Gue serius, Bang!” seru Zeo berusaha meyakinkan kakaknya.


“Iya. Serius bohongnya,” timpal Hendri.


“PUTRI!” akhirnya Zeo berteriak.


“Nama anaknya Abang: Putri Sartika,” ujar Zeo.


Seketika tawa Hendri berhenti. Keseriusannya mulai tertarik pada perkataan Zeo.


“Usianya lebih lima bulan dari pada Joffy. Jenis kelamin perempuan dan dia masih sekolah TK,” imbuh Zeo memperjelas.


Hendri langsung teringat pada anak lain yang berada di atas pangkuan Tiwi, saat dia bertemu Tiwi dan Satria bersamaan di taman. Apa mungkin anak itu?


“Kamu … kamu serius, kan, Ze?” Hendri malah menanyakan itu.


“Emangnya aku pernah bilang kalau aku bohong?” timpal Zeo.

__ADS_1


“Enggak mungkin enggak mungkin.” Hendri malah menggeleng-gelengkan kepala. Dia masih belum mau menerima kebenaran itu.


“Kalau aku punya anak dari dulu, seharusnya Tiwi udah kasih tahu aku dari dulu. Tapi dia diam aja dan ngilang gitu aja.” Hendri mendongak dengan ekspresi bodohnya. “Cewek licik itu pasti udah ngomong sesuatu yang enggak bener sama kamu. Jangan percaya, Zeo. Dia cuma bohong aja. Bisa jadi dia udah dihamilin cowok lain setelah kabur dari keluarganya,” Hendri malah berdalih.


“Selama aku belum menikah sama suamiku, Tiwi selalu tinggal sama aku, Bang, bukan cowok lain,” elak Tiwi.


“Ha?” Hendri terperangah, tetapi dia tidak begitu mengerti.


“Selama ini Tiwi tinggal sendirian buat ngelahirin dan ngerawat Putri. Karena Abang udah jatuh cinta sama kakak ipar, Tiwi milih nyembunyiin ini dari Abang, sampai-sampai dia diusir dari rumah orang tuanya. Selama ini yang Tiwi lakuin cuma buat kebaikan Abang sama kakak ipar. Jadi, tolong, Bang, jangan terlalu keras sama dia,” jelas Zeo.


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2