
“Gimana kamu bisa tahu semuanya?” tanya Hendri.
“Sebenarnya, setelah Tiwi diusir dari orang tuanya, dia ikut aku ngekos di kota, waktu pindah sekolah di sana,” aku Zeo. Dia menunduk dengan ekspresi wajah ketakutan. Sudah terlanjur membongkar satu hal, terpaksa dia harus membongkar hal lainnya.
“Terus kenapa kamu enggak bilang apa-apa ke aku?” tanya Hendri.
Zeo semakin tidak berani melihat Hendri. “Aku tahu itu waktu Abang udah lama nikah sama kakak ipar. Tiwi yang maksa aku buat enggak bilang apa-apa sama Abang. Tapi dalam hati aku juga ngerasa lega. Karena berarti, keluargaku enggak perlu hancur,” aku Zeo.
Brak! Hendri menyepak meja kecil yang tadinya dia letakkan nampannya, sampai meja itu terjungkir.
Zeo terperanjat. Tidak perlu melirik, dia yakin kalau wajah Hendri sekarang dipenuhi oleh ekspresi menyeramkan.
“Kamu emang nyelamatin keluarga kita tapi kamu udah ngehancurin kehidupan aku!” sentak Hendri. Amarahnya sedang meledak sekarang.
“Kalau kamu langsung bilang ke aku, seenggaknya aku bisa menyelamatkan kehidupan Tiwi. Tapi gara-gara semua rahasia ini, enggak ada yang terselematkan di antara kehidupan kami berdua!” imbuh Hendri.
“Maafin aku, Bang. Tapi beneran, aku enggak punya maksud buruk buat ngehancurin kehidupan Abang,” bela Zeo merengek.
“Kebaikan apa pun, kalau dilakukan dengan cara yang salah, cuma bakal jadi alasan, Zeo! Bukannya bapak udah sering bilang gitu?” timpal Hendri.
“Maafin aku, Bang. Maafin aku …,” hanya kalimat itu yang bisa Zeo ucapkan berulang-ulang dengan suaranya yang semakin lirih.
__ADS_1
Lutut Hendri menjadi lemah. Dia pun duduk di atas sofa sembari mengacak-acak rambutnya saking merasa frustasi. Entah bagaimana kehidupannya kemudian berjalan, tetapi sekarang dia benar-benar hancur. Pikirannya tertimbun oleh bayang-bayang perasaan Tiwi yang terluka selama ini. Lalu istrinya ….
Bagaimana Hendri akan menjelaskan semua ini kepada istrinya?
Hendri bisa saja menimbun semua kebenaran ini dari istrinya dan bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Akan tetapi, Hendri tidak akan melakukan itu. Kini dia sudah sangat dewasa. Dia mungkin bisa menyembunyikan kebenaran, tetapi tidak dengan penyesalan.
Jadi apa yang akan Hendri lakukan selanjutnya?
-oOo-
Ini memang sudah malam, tetapi Zeo masih berjalan sendirian di tepi jalan. Dia tidak berani tinggal di rumah Hendri setelah apa yang terjadi tadi. Untuk tinggal di tempat Tiwi, Zeo masih memiliki rasa malu. Dia bahkan belum meminta maaf atas kesalahpahaman yang sempat terjadi, bagaimana Zeo akan mengatakan untuk tinggal di rumah Satria?
Tiba-tiba langkah Zeo berhenti. Dia terkejut melihat sebuah motor besar berwarna hitam berhenti di depannya, memang sengaja menghadangnya. Sang pengendara melepaskan helmnya. Rupanya dia adalah Bara.
“Naiklah!” seru Bara.
“Enggak usah,” tolak Zeo dingin. Dia pun berjalan untuk melewati motor itu. Akan tetapi, Bara lebih cepat menarik tangannya.
“Naik, kok!” tegas Bara.
“Aku bisa pulang sendiri!” Zeo lebih menegaskan.
__ADS_1
“Lagian bisnya udah lewat,” ujar Bara.
“Aku mau naik taksi, kok,” dalih Zeo.
“Dari sini ke rumah orang tuamu butuh lebih dari satu jam. Jadi, lebih baik kamu naik sini.” Bara menunjuk bagian boncengannya dengan lirikan.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗
__ADS_1