
Yuhu .... Yu ZEZE ama Babang Barbar akhirnya kembali 🤗
Moga enggak bosen-bosen, yups 😉
Cuz ....
💃💃💃
“Kenapa kamu masih diam di sini? Bukannya seharusnya kamu mengikutinya?” tanya Bara dengan suara dingin. Tidak ada yang bisa dia lakukan dengan kecanggungan ini.
“Apa Bapak tidak dengar tadi? Dia udah buang saya, Pak!” tegas Zeo.
“Kamu, kan, bisa nyusulin dia dan minta kesempatan lagi darinya,” saran Bara.
“Lagi pula, Bapak enggak ngusir saya,” jelas Zeo.
Bara terperangah. Dia baru menyadari itu. Sebenarnya dia enggan mengusir Zeo. Dalam hati, dia sangat senang karena Zeo telah berdiri di hadapannya.
“Lalu bagaimana dengan pernikahanmu?” tanya Bara.
“Apa Bapak juga udah lupa? Dia tadi bilang kalau pernikahan ini udah dia putuskan. Yang artinya, enggak akan terjadi,” tutur Zeo.
“Kalau gitu pulanglah. Kamu enggak akan dapat apa-apa di sini,” akhirnya Bara mengeluarkan pengusirannya.
Bara berbalik. Dia hendak memasuki pintunya.
“Tapi saya enggak mau pergi,” tolak Zeo.
Bara mengembuskan napas berat. Dia pun berbalik. “Kamu itu—“
__ADS_1
“Saya maunya tinggal sama Bapak,” tutur Zeo memotong ucapan Bara.
“Apa kamu lupa kalau kamu itu masih sekolah? Untuk apa kamu tinggal sama saya? Saya, kan, bukan ayah kamu,” tolak Bara.
“Karena Bapak yang akan jadi suami saya,” tutur Zeo.
“Apa saya pernah mengatakan kalau saya akan menikah sama kamu?” sindir Bara.
“Bapak emang enggak pernah mengatakan itu. Tapi saya akan mengatakan sesuatu yang membuat Bapak akhirnya menikahi saya,” terang Zeo.
Alis kanan Bara terangkat. Ulah apa lagi yang akan Zeo pamerkan.
“Apa itu?” tanya Bara penasaran.
“Bapak akan jadi seorang ayah,” tutur Zeo.
“Apa maksudmu?” tanya Bara.
“Saya hamil, Pak,” jawab Zeo. Akhirnya dua kata yang sedari dulu hanya bisa dipendamnya, berhasil dia cuatkan. Semua ini karena Satria.
Lagi-lagi Satria ….
Bola mata Bara membelalak seketika.
“Hamil?” tanya Bara lagi. Dia masih tidak percaya akan pernyataan baru saja.
Zeo menganggukkan kepala.
“Apa maksudmu, itu anak saya?” Bara menunjuk dirinya sendiri. Tentu saja dia langsung mengerti. Malam itu, bukankah dia tidak sepenuhnya tidak sadarkan diri?
__ADS_1
“Jadi, Bapak mengingat sesuatu? Maksudku, tentang malam itu?” Zeo terperangah. Dia bahkan belum menjelaskan kebenaran, tetapi Bara berhasil menebaknya.
Bara menganggukkan kepalanya pelan. Dia merasa malu telah menipu untuk itu.
Bola mata Zeo berkaca-kaca. Dia sudah tak kuat menahan air mata yang terus berdesakan ingin keluar sedari tadi. Dadanya terasa begitu berat. Kemudian dia bergegas mendekati Bara tanpa menatap laki-laki itu. Kemudian Zeo memukuli dada Bara saking kesalnya.
“Tega, tega, tega! Bapak tega sama saya!” jerit Zeo.
Untuk sejenak, Bara membiarkan Zeo terus memukulinya. Melampiaskan kekesalan untuk melonggarkan ruang kosong dalam hatinya. Setelah pukulan itu memelan, Bara menghentikannya dengan memegang kedua tangan Zeo.
“Maafkan aku,” bisik Bara.
Apa semua ini bisa gugur hanya dengan satu maaf?
Kenapa begitu mudah?
… Setelah siksaan apa saja yang Zeo rasakan selama ini.
Mau bagaimana lagi?
Inilah cinta ….
Pada akhirnya, Zeo tetap jatuh dalam pelukan Bara.
“Maafkan aku, Zeo,” Bara belum berhenti membisikkan kata-kata itu. Sedangkan Zeo kini malah larut dalam tangisnya.
-oOo-
Kasih komen, lah 😥 kasihanilah author ni yang jomblo jadi enggak ada yang ngechat 😭😭
__ADS_1