Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
111. Tertangkap Basah


__ADS_3

Pagi semua 🤗🤗🤗


Meski Authornya lagi gila, moga kalian enggak pada lari, ya 😁😁


Cuz ....


💃💃💃


“Zeo,” panggil Satria.


“Gu-gue bisa jelasin. Tolong mengertilah,” pinta Zeo gelagapan.


“Iya, benar. Gue bisa jelasin. Ini salah gue,” sahut Tiwi berusaha membela.


“Gue ke sini buat ketemu lo, Zeo,” ujar Satria.


Zeo dan Tiwi saling menoleh. Mereka terkejut melihat wajah Satria yang dipenuhi ekspresi ketenangan. Bagaimana bisa laki-laki itu tidak terkejut sama sekali?


“Lo enggak usah pasang ekspresi kaget kayak gitu,” tutur Satria. Dia sendiri merasa geli melihat posisi yang terbalik ini. Bukannya Satria yang terkejut akan keberadaan Zeo di rumahnya, malah Zeo yang terkejut.


Zeo menyipitkan matanya. “Jadi, sebelumnya lo udah tahu kalo gue tinggal di sini selama ini?” tanya Zeo.


Satria malah heran. Apa Zeo memang sepintar ini dari dulu atau baru-baru ini? Dengan mudahnya perempuan itu membaca keadaan.


“Iya. Gue udah tahu,” aku Satria.


“Kenapa lo enggak bilang apa-apa?” pekik Tiwi.


“Karena gue pikir ini bukan urusan gue,” ujar Satria.


“Terus kenapa lo mau ketemu gue?” tanya Zeo.


“Sebenarnya bukan gue yang mau ketemu lo,” elak Satria.

__ADS_1


“Apa maksud lo?” tanya Zeo.


“Ada urusan milik lo yang harus lo selesaiin,” jelas Satria.


Zeo mengernyitkan dahinya. Sama sekali tidak mengerti arti dari kalimat yang Satria lontarkan, sampai sebuah wajah bertengger di belakang Satria.


Seketika bola mata Zeo membundar sempurna. Pernapasannya mulai terasa berat.


“Ke-kenapa cowok itu ada di sini?” tanya Zeo dengan jari telunjuk mengarak ke belakang Satria.


Satria menoleh. Entah sejak kapan Bara sudah berada di belakangnya.


“Zeo …,” sapa Bara.


Zeo benar-benar muak mendengar suara itu. Dia pun memalingkan wajahnya. “Pergi!” usirnya.


“Ada yang perlu—“


“Wi!” panggil Satria memotong ucapan Bara.


“Ikut gue. Ada yang mau gue omongin,” tutur Satria.


“Ta-tapi ….”


Belum selesai Tiwi menyahuti Satria, Zeo sudah memanggilnya, “Wi ….”


Ah, sial! Tiwi bingung harus pilih yang mana.


“Wi!” sentak Satria. Dia muak dengan semua drama ini.


“So-sorry, Sat ….” Itulah keputusan Tiwi.


Apa Satria akan menerimanya dengan pasrah?

__ADS_1


Tentu saja, tidak. Satria langsung memasuki kamar itu, lalu menarik Tiwi. Dengan terpaksa Tiwi bangun dan mengikuti langkah Satria. Meninggalkan Zeo yang kini hanya tersisa sendiri bersama Bara.


Ah, sial! Entah apa yang harus Zeo lakukan ….


“Ze …,” panggil Bara.


“Apa aku pernah bilang mau bicara sama kamu?” sindir Zeo. Dia tetap memalingkan wajahnya.


Bara memberanikan diri memasuki kamar itu. Kemudian menutup pintunya agar tidak ada suara yang keluar dan menjadi gosip nantinya.


“Ze. Kita harus bicara,” ujar Bara. Dia berjalan mendekati Zeo.


“Untuk apa lagi bicara? Bukannya kamu enggak suka bicara, tapi sukanya pergi gitu aja,” sindir Zeo.


“Ada yang harus aku jelasin dan ada yang harus kamu tahu,” ujar Bara.


“Kalo kamu pergi tanpa pamit buat tidur di kamar Shira?” tebak Zeo.


Langkah Bara berhenti. Dia terperangah. “Bagaimana kamu tahu?” tanya Bara.


Zeo berdesah sinis. Apa tadi itu pengakuan?


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘

__ADS_1


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2