Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
156. Nasehat Ibu Zeo


__ADS_3

Zeo menyipitkan matanya. Memerhatikan ekspresi Satria baik-baik. Entah kenapa, dia tidak yakin tentang itu.


“Lo yakin? Coba, deh, lihat hati lo baik-baik,” titah Zeo.


Akhirnya Satria menoleh. Entah kenapa dia sedikit merasa terganggu dengan pertanyaan itu.


“Lo ikut campur banget, sih? Itu, kan, urusan gue,” timpal Satria.


“Padahal gue cuma mau bantu lo,” tutur Zeo sembari melirik ke samping. Bertingkah sok jual mahal.


“Bantu apaan?” tanya Satria.


“Soal Tiwi sama Hendri … gue tahu cerita mereka sampai akhir,” jawab Zeo.


Seketika bola mata Satria menjadi hidup. Rasa penasarannya meletup-letup di kepala. Dia pun memiringkan tubuhnya dengan kepala yang dibantali siku yang menumpu.


“Emang gimana sama mereka? Apa mereka bakal balikan?” tanya Satria antusias.


Zeo melirik sinis. “Lo, kan, enggak suka sama Tiwi. Ngapain lo tanya dan ngapain gue harus jawab?” sindir Zeo.

__ADS_1


Kini Satria membangunkan punggungnya sehingga menjadi duduk. “Gue, kan, cuma tanya. Apa hubungannya cuma tanya sama suka?” protes Satria.


“Ngapain lo tanya, Tiwi, kan, bukan urusan lo,” timpal Zeo. Dia sampai memeletkan lidahnya. Benar-benar mengejek Satria.


“Ya udah. Gue enggak tanya!” seru Satria mengambek. Dia kembali membaringkan punggungnya, bahkan sampai memalingkan wajahnya membelakangi Zeo.


Zeo menoleh. Biarkan saja meski hanya punggung yang bisa dia lihat.


“Tapi … lo yakin enggak suka sama Tiwi?” tanya Zeo sekali lagi.


Satria tak menjawab. Dia malah memejamkan matanya. Ingin berpura-pura tidur saja.


Dia merasa terganggu pada kehadiran Hendri dalam hidup Tiwi. Akan tetapi, apa mungkin benar dia menyukai seorang Tiwi?


Memangnya sejak kapan?


Zeo menghela napas sejenak, lalu mengembuskannya. “Gue harap lo pikirin baik-baik soal perasaan lo. Setelah itu, barulah pikirkan langkah selanjutnya. Bukannya gue enggak suka Tiwi. Tiwi sahabat gue dan dia adalah orang yang sangat baik. Hatinya beneran tulus. Tapi … lo masih muda, Sat. Masa depan lo masih jauh. Lo bisa banget dapatin cewek mana pun yang lebih baik dari Tiwi dalam segala hal, termasuk kecantikan, usia, pendidikan dan kekayaan.”


Zeo menghela napasnya sekali lagi, lalu mengembuskannya. Sebenarnya dia tidak nyaman mengatakan ini tentang sahabatnya. Akan tetapi, Satria adalah keluarganya sekarang. Sebagai orang tua, Zeo harus menyarankan jalan yang lebih baik, barulah memberikan mereka kesempatan untuk memilih.

__ADS_1


“Dibandingkan cewek lain, Tiwi kalah dalam segala hal. Dia enggak punya keluarga, apalagi kekayaan, sekolah bahkan putus di tengah-tengah, dan dia udah enggak muda lagi. Tiwi lebih tua dari gue dan lo malah lebih muda dari gue. Kalau lo sampai memutuskan sampai suka sama Tiwi, berarti lo juga harus mempersiapkan diri untuk mempercepat masa muda lo. Tiwi bukan remaja lagi, tapi seorang ibu yang punya anak berusia lima tahun. Kalau lo sampai bisa hidup bersama Tiwi, berarti lo harus langsung siap menjadi seorang ayah, bukannya pengantin baru.”


Satria masih tak menyahut. Zeo rasa tidak ada penjelasan lebih banyak yang harus dia bicarakan.


“Gue harap lo mau mikirin semua itu baik-baik, jangan sampai gegabah hanya karena perasaan sebentar,” imbuh Zeo.


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik

__ADS_1


Terima kasih 🤗🤗


__ADS_2