Pak Guru, Aku Mencintaimu

Pak Guru, Aku Mencintaimu
130. Titik Terang 3


__ADS_3

Sekarang lirikan Zeo beralih ke Satria. “Sat,” panggilnya.


Satria mendongak. Tidak perlu mengeluarkan suara. Hanya melihat pantulan di mata Zeo, dia mengerti kalau Zeo tidak puas dengan jawaban Tiwi.


“Gue cuma enggak terima aja ada yang nyudutin temen gue,” ujar Satria.


“Nyudutin? Siapa? Aku?” Hendri menunjuk dirinya sendiri. Kemudian dia melihat ke Tiwi. “Wi,” panggilnya.


Dengan terpaksa Tiwi mendongak.


“Apa aku yang nyudutin kamu?” tanya Hendri.


Tiwi melirik ke Satria lebih dulu. Kemudian dia menggelengkan kepala.


Ah, sial! Apa yang kamu lakukan, Tiwi?


Ini hanya akan membuat Satria semakin tersudut!


Akan tetapi, mau bagaimana lagi ….


Kan, memang itu kebenarannya.


Hendri tersenyum sinis. Dia berhasil mengejek-ejek Satria kali ini.


“Lagian kamu … cuma temen aja, sok ngaku-ngaku jadi suami. Biar apa coba? Biar aku ngerasa rendah atau enggak enak hati kayak di drama-drama gitu?” sindir Hendri.

__ADS_1


Hendri malah tertawa. “Kalo aku bakal enggak enak hati, aku enggak bakal nikahin istriku enam tahun yang lalu,” ujarnya.


Sekarang Satria menjadi bungkam. Dulunya dia menolong Tiwi karena perempuan itu merasa tidak nyaman. Kalau Satria jujur tentang itu, itu hanya akan membuat Tiwi semakin merasa malu.


Dasar mereka berdua! Niatnya saling membantu malah menyudutkan satu sama lain. Apa ini yang disebut maju kena mundur kena?


“Kamu juga,” kini gantian Hendri menyebut Tiwi.


Tiwi memberanikan diri melihat Hendri, tetapi dia tidak menyahut.


“Diam aja dan malah biarin itu terjadi. Apa kamu pikir, dengan berbuat seperti itu, aku bakal cemburu dan jatuh cinta sama kamu?” Hendri malah tertawa. “Kalo kamu maunya gitu, harusnya kamu jujur aja. Mungkin aja aku masih bisa jadiin kamu selingkuhanku.”


Bruk!


Tiwi langsung bangun dari duduknya. Sedangkan Zeo memindahkan Joffy ke atas sofa, lalu dirinya turut bangun untuk melerai mereka berdua.


Oh, Tuha. Apa yang sebenarnya dilakukan para orang dewasa ini di depan si kecil?


Aksi peleraian itu tidak selesai seketika. Tiwi dan Zeo sampai kewalahan. Untung saja mereka berdua tidak terlalu berisik sampai harus menarik perhatian kedua orang tua Zeo.


Tangan Satria akhirnya melemah saat Tiwi memeluknya dan memohon dengan perasaan takut di balik punggungnya. “Kumohon … lepaskan …,” begitulah pinta Tiwi.


Di saat Satria kehilangan perhatiannya, Hendri tak mau melepaskan kesempatan ini, dia langsung membalas tinju Satria sampai Satria terjatuh menatap kursi dengan menindihi Tiwi. Hendri hendak menambah pukulannya lagi. Untung saja Zeo berhasil menahannya.


Satria langsung membangunkan tubuhnya. Tiwi terlihat kesakitan. Dia pun membantu Tiwi untuk kembali duduk ke sofa. Kemudian Satria berbalik. Ingin sekali meledakkan amarahnya di sana sekarang juga. Akan tetapi, Tiwi lebih gesit menahan tangannya.

__ADS_1


“Biarkan aku!” sentak Satria meronta.


Tiwi menggeleng-gelengkan kepala. “Sebaiknya kita pulang sekarang,” ujarnya.


“Tapi—“


“Kalo sampai Pak Doki dan Bu Ani terbangun, saya akan merasa sangat tidak nyaman,” ujar Tiwi memotong ucapan Satria.


Satria tersadarkan. Rupanya dia tidak sedang dalam keadaan berpikir dengan baik tadi. Dia pun menghela napas dan mengembuskan udara yang hampir saja menyesakkan dadanya. Untu beberapa saat, dia tengah menenangkan diri dengan mengabaikan lirikan tajam dari Hendri.


.


.


.


.


Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....


Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘


Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik


Terima kasih 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2