
“Apa kamu pikir aku enggak bisa bayar taksi?” tanya Zeo merasa tersinggung.
“Aku yakin kamu bisa. Tapi, dari pada uangnya kamu pakai buat bayar taksi, mending buat belanja kamu sama Joffy,” timpal Bara.
Ah, sial! Ucapan Bara ada benarnya. Terpaksa Zeo harus menyisihkan rasa gengisnya kali ini.
“Ya udah,” tutur Zeo akhirnya setuju.
Bara menggoreskan senyum di wajahnya. Rupanya ini cukup baik untuk langkah awalnya. Bara pun melepaskan tangan Zeo. Kemudian menyodorkan helm lain kepada Zeo.
Usai mengenakan helm itu, Zeo pun menaiki boncengan di belakang Bara. Tidak membutuhkan waktu lama bagi motor itu melaju kemudian. Membelah jalan raya yang dipenuhi malam bersama kerlap-kerlip kendaraan lainnya.
Zeo memang tidak menyentuh Bara sedikit pun. Namun, angin-angin yang berlarian di sekitar telinganya mengingatkannya akan masa lalu.
Enam tahun lalu ….
Kehidupan Zeo begitu indahnya.
Zeo tidak tahu apa itu masalah, dia hanya tahu kalau dia harus mencapai apa yang dia inginkan. Seperti merasakan kehangatan dengan melingkarkan tangan ke tubuh Bara.
Kini, Zeo bahkan tidak tahu lagi apa yang dia inginkan.
Motor itu melaju dengan tenangnya. Akan tetapi, Zeo mulai menyadari sesuatu yan tak sesuai dengan pemikirannya. Rupanya motor itu tidak melalui jalan yang biasa Zeo lewati saat pergi ke rumah orang tuanya. Apa Bara membawanya ke tempat lain?
“Bukannya kita mau pulang ke rumahku?” tanya Zeo.
“Iya,” jawab Bara.
__ADS_1
“Tapi rumahku, kan, lewat jalan sana!” Zeo menunjuk ke belakang. Entah arah mana yang sebenarnya dia maksudkan.
“Itu rumah orang tuamu,” timpal Bara.
Zeo terperangah. Apa sedari tadi memang bukan rumah orang tua Zeo yang menjadi tujuan Bara?
“Jadi, kita mau ke mana?” tanya Zeo.
“Ini udah malam. Jadi, besok aja aku antar kamu ke rumah orang tuamu. Untuk sekarang, kamu menginap dulu di rumah kita,” jawab Bara.
Rumah kita?
Zeo tidak salah dengar, kan?
“Aku enggak mau. Aku maunya ke rumah orang tuaku sekarang …,” rengek Zeo.
Bara malah diam. Dia lebih asyik pada motornya.
Bukannya berhenti, Bara malah mempercepat lajunya.
“Kalau enggak berhenti sekarang, aku yang bakal loncat di sini!” ancam Zeo.
Bara melepaskan tangan kirinya dari setik. Dia langsung memegang tangan Zeo dan memaksa perempuan itu memeluknya meski hanya dengan satu tangan.
“Enggak usah aneh-aneh,” larang Bara.
“Kalau gitu anterin aku pulang ke rumah orang tuaku!” seru Zeo.
__ADS_1
“Aku bakal anterin kamu ke rumah orang tuamu sekarang. Tapi, berarti kamu kudu siap buat ngenalin aku sebagai menantu mereka saat itu juga,” balas Bara.
“Kenapa gitu?” tanya Zeo.
“Ini udah malam. Apa kamu enggak bakal biarin aku menginap di rumahmu? Apa orang tuamu bakal biarin aku menginap kalau cuma jadi orang asing?” timpal Bara.
Ah, sial! Zeo sudah tersudut. Bara memang benar.
“Jadi, gimana?” tanya Bara.
Zeo mengerucutkan bibirnya. Dia sebal mengaku kalah. “Ya udah ya udah. Kita pulang ke rumahmu dulu,” jawabnya.
Lagi pula Zeo belum yakin untuk memperkenalkan Bara kepada kedua orang tuanya ….
-oOo-
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗