
Tak lama, Bara datang. Dia duduk tanpa disuruh.
“Gimana itu bisa terjadi?” tanya Satria.
“Semua ini salahku,” jawab Bara.
“GIMANA ITU BISA TERJADI?!” sentak Satria mengulangi pertanyaannya. Dia muak dengan dialog bertele-tele ini.
“Kami sedang berlibur ke Bali. Tapi ada sesuatu yang terjadi sehingga membuatku enggak bisa pulang. Zeo marah soal itu. Lalu menghilang begitu aja tanpa kasih kabar,” jelas Bara.
“Udah saya duga dari dulu: Anda enggak bisa kasih kebahagiaan ke orang lain. Anda cuma tahu apa yang Anda inginkan. Bahkan Anda tidak mau menyadari kesalahan sendiri,” tukas Satria.
“Apa maksudmu?” tanya Bara.
“Saya dan Zeo emang enggak ketemu sangat lama. Tapi saya yakin, Zeo enggak akan berulah semudah itu. Pasti ada sesuatu yang lebih buruk terjadi sebelum itu,” jelas Satria.
“Tapi apa itu?” Bara malah bertanya.
“Mana saya tahu. Kan, Anda yang salah. Maka cari tahu sendiri,” tutur Satria.
Bara merasa buntu. Ini tidak seperti Bara yang putus asa dengan mudahnya.
“Apa Anda udah cari di rumah keluarganya?” tanya Satria.
“Udah. Tapi dia enggak ada di sana,” jelas Bara.
__ADS_1
“Jadi, mereka udah tahu kalau Anda adalah suaminya Zeo?” tanya Satria.
Bara menggelengkan kepala. “Belum. Aku cuma bilang kalau aku teman lamanya.”
Satria tersenyum sinis. “Anda bahkan enggak berani mengakui kesalahan Anda sendiri. Berani sekali membawa anak ke luar negeri tanpa meminta restu dari orang tuanya?” sindir Satria.
Satria bangkit. Dia pergi menuju mobilnya lagi tanpa meninggalkan pamit kepada ayahnya. Kini tersisa Bara sendiri di halaman. Dia menunduk penuh penyesalan sembari memikirkan apa yang terjadi sebelumnya. Namun, dia masih belum menemukan petunjuk sama sekali.
Oh, Zeo ….
Di mana dirimu?
-oOo-
Tiga orang laki-laki berpakian serba hitam tengah membungkuk bersamaan. Sedangkan seorang perempuan berpakaian formal hanya menunduk di samping mereka. Perempuan itulah adalah Bu Endang. Kepala pelayan yang menggantikan Tiwi untuk sementara waktu.
“Bagaimana bisa?” tanya Satria yang sedari tadi berada di depan mereka semua dengan ekspresi wajah serius.
“Kami berhasil menemukan jejak terakhirnya di bandara. Kemudian dia lenyap begitu saja,” timpal Bu Endang.
“Apa kamu pikir aku akan percaya? Ini bahkan bukan film aksi Hollywood!” sentak Satria.
“Maafkan kami, Tuan,” hanya itu yang bisa Bu Endang katakan.
“Dasar kalian semua payah!” maki Satria.
__ADS_1
Satria mengacungkan telunjuknya. Pokoknya aku enggak mau tahu, kalian harus terus cari dia di maan pun keberadaannya. Bahkan kalau di sudah terbang ke Mars!” titah Satria.
“Ba-baik, Tuan,” timpal Bu Endang. Kemudian dia menoleh ke arah anak-anak buahnya. Bibirnya bergerak tanpa mengeluarkan suara. Ruipanya dia tengah memberikan isyarat. Tak lama, mereka semua menyingkir dari hadapan Satria.
Ah, sial! Berulang-ulang Satria melemparkan tinjunya ke udara. Berusaha untuk melepaskan api amarah yang membara di otaknya. Namun, semua itu sia-sia. Sampai Satria berbalik dan menemukan Tiwi berada di belakangnya.
“Lo—“
“Apa lo enggak berlebihan?” tanya Tiwi memotong ucapan Satria.
Alis kanan Satria terangkat. “Berlebihan apanya?” tanyanya keheranan.
“Soal mencari Zeo,” tutur Tiwi.
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗