
Dengan terpaksa, Bara pun menerima tawaran perempuan itu. Langkahnya sangat lambat. Berharap waktu memberikannya kesempatan untuk segera pergi dari tempat ini. Sialnya, bahkan waktu seolah mengutuknya. Para pengunjung di sana tak juga menghentikan kegiatan makannya. Sedangkan Zeo, Bara bisa menebak. Perempuan itu pasti terlelap di toko pakaian tadi.
“Ba-bagaimana kabarmu …,” Bara berusaha memberanikan diri untuk bertanya “ … Shira.”
Setelah sekian lama, akhirnya Bara menyebutkan nama itu.
Shira kembali tersenyum. Nama itu keluar dari orang yang sama, tetapi terdengar berbeda. Rupanya benar: waktu mampu merubah seseorang.
“Seharusnya lebih baik darimu,” jawab Shira menyombongkan diri sendiri. “Kalau kamu?”
“Aku udah jauh lebih baik dari pada keadaanku yang dulu,” tutur Bara tidak mau kalah.
Shira menaikkan sudut bibir kirinya lebih tinggi dari pada yang lainnya. Benarkah begitu?
“Apa kamu juga berpikir kalau sekarang, kamu bisa jauh lebih baik dariku?” tanya Shira.
Bara mengangguk.
“Bagaimana mungkin? Bukannya dulu kamu selalu kalah dariku?” sindir Shira.
Tiba-tiba Bara merasakan seseorang memegang pundaknya. Bara menoleh. Seorang perempuan berambut pirang dengan ekspresi wajah tidak nyaman telah berdiri di belakangnya. Itu Zeo. Akhinya Bara bisa tersenyum.
“Kamu udah datang?” sambut Bara.
“Iya. Maaf. Aku sedikit lama,” pinta Zeo menyesal. Apa dia tidak tahu kalau waktu yang telah dia habiskan untuk memilih pakaian itu tidak sedikit?
“Enggak papa,” jawab Bara dengan tenangnya.
__ADS_1
Bara pun bangun. Dia keluar dari zona tidak nyaman ini.
“Ayo kita kembali,” ajak Bara.
Zeo mengernyitkan dahinya. Kenapa tiba-tiba? Bahkan makanan belum dipesan.
Zeo melirik ke arah selain Bara. Dia menemukan seorang perempuan cantik berada satu meja dengan suaminya. Melihat perempuan itu yang tersenyum dengan manisnya, tiba-tiba Zeo merasa tidak nyaman. Apa dia cemburu?
“Siapa dia?” tanya Zeo dengan menunjuk Shira melalui tatapannya.
Bara menengok pada Shira yang berada di posisi tak berubah.
“Oh … dia Shira. Temanku waktu kuliah,” jawab Bara.
Shira melebarkan senyumnya sembari mengangkat tangan kanannya. Bersikap seolah-olah mengundang keakraban kepada Zeo.
“Oh, ya, Shira. Kenalkan, dia istriku, Zeo. Kami udah nikah enam tahun yang lalu,” tutur Bara memperkenalkan Zeo.
“Benarkah? Wah, selamat, ya, atas pernikahan kalian. Maaf ucapanku terlambat. Aku baru mendengar kabar ini sekarang. Aku turut bahagia, ya.” Shira bertepuk tangan dengan ekspresi yang tak berubah. Sebenarnya, ekspresi seperti itulah yang menakutkan. Ekspresi di mana, antara senang atau tidaknya tidak bisa dibedakan.
“Kalau gitu, kami pergi dulu, ya,” pamit Bara.
Shira hanya mengangguk.
Bara meraih tangan Zeo. Menggenggamnya dengan erat. Memamerkan kebahagiaan di depan orang yang hanya bisa menciptakan luka. Kemudian mulai melangkahkan kakinya bersama. Seolah-olah mengatakan: tidak usah berjumpa masa lalu, karena kami sudah tidak membutuhkanmu.
Benar. Kehidupan Bara yang kini telah lebih baik jika dibandingkan kehidupan di masa lalu, di mana Bara terlibat dalam kehidupan Shira yang tak pernah berubah.
__ADS_1
Bukan karena masa lalu yang terlalu jauh, tetapi karena Bara takkan dikalahkan lagi olehnya. Bara tidak akan menang dan dia tidak akan kalah. Itu karena cintanya untuk Shira sudah tidak ada.
Hanya orang yang mendapat cinta yang akan menang ….
… Dan hanya orang yang jatuh cinta yang akan kalah ….
… Begitulah hukum di dunia cinta.
Bara akan kalah, tetapi bukan pada Shira, melainkan Zeo.
-oOo-
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗
__ADS_1