
Zeo mengembuskan napasnya sekali lagi. Kemudian bangun dan hendak beranjak pergi. “Oh, ya. Bokap lo juga manusia yang sama kayak lo: sama-sama punya hati dan sama-sama bisa merasa terluka. Gue harap lo jangan terlalu egois dengan menyiksa bokap lo pakai rasa bersalahnya. Dengan hubungan kalian yang enggak pernah membaik, gue yakin benar enggak ada di antara kalian berdua yang bisa hidup tenang. Kebahagiaan kalian hanya tampilan aja. Kenyataannya kalian semua saling memikirkan satu sama lain,” tutur Zeo.
Zeo menoleh lagi“Kalau gitu biar gue balik dulu. Joffy pasti udah nungguin di rumah,” pamit Zeo.
Zeo mulai melangkah, tetapi tiba-tiba berhenti. Dia menoleh untuk yang kesekian kali. “Oh, ya. Gue sama bokal lo mutusin buat tinggal di negara ini, di rumah orang tua gue. Jadi, kalau lo mau ketemu kami, lo bisa ke sana kapan aja,” imbuh Zeo.
Zeo melanjutkan langkahnya. Sesampainya di pintu, kakinya berhenti bergerak lagi. Bukan karena keinginannya, tetapi karena Satria menahannya. “Tunggu!” seru Satria yang rupanya sudah menoleh.
Zeo menoleh dengan ekspresi wajah bertanya-tanya. “Apa?”
Satria diam sejenak. Dia tidak yakin menanyakannya. Merasa sedikit malu.
“Lo … lo, kan, juga nikah sama orang yang udah kayak bokap lo. Gue enggak percaya kalau lo juga siap kayak ucapan yang lo bilang ke gue. Tapi, gimana kalian masih bisa terus bahagia dan bertahan sampai sekarang?” akhirnya Satria memberanikan diri menanyakan itu.
Zeo tersenyum tipis. Dia merasa senang karena Satria akhirnya mau menyahutinya.
“Enggak ada orang yang hidupnya terus bahagia, kami cuma berusaha buat bahagia. Pertengkaran pasti ada, ketidaksesuaian, bahkan kekecewaan, dan tangisan. Bokap lo bahkan berkali-kali harus bertahan buat tidur di antara salju di luar rumah. Kenapa kami masih bisa terus bersama sampai sekarang? Itu karena kami sama-sama berusaha untuk bertahan … karena ada yang lebih kuat dari kekecewaan kami, yaitu cinta. Kalau kami enggak punya itu, maka kami enggak akan bertahan sampai saat ini,” jelas Zeo.
“Kalau lo sendiri hidup kayak gitu, kenapa lo nasehati gue?” tanya Satria.
__ADS_1
“Gue cuma kasih peringatan kalau cintai itu enggak selamanya indah. Di mana ada cinta, di sana pasti ada kekecewaan,” jawab Satria.
“Bukannya yang namanya hidup emang lumrah, ya, sama rasa kecewa?” tanya Satria lagi.
“Itu pilihan aja,” timpal Zeo. Kemudian dia melanjutkan langkahnya dan menenggelamkan diri dari pandangan Satria dengan melewati belokan. Kini dia benar-benar pergi meninggalkan Satria sendirian yang dikepung oleh banyak pikiran.
Satria bahkan belum menemukan jawaban apa dia benar-benar menyukai Tiwi atau tidak. Akan tetapi, dia malah dihadapkan oleh banyak pilihan.
Bagaimana ini, Satria?
Sepertinya Satria tidak bisa tidur lagi untuk beberapa hari ini ….
“Lo … lo suka, ya, sama Tiwi …?”
Sejak pertanyaan itu masuk ke telinga Satria, bahkan merasuk ke dalam pikirannya, kehidupan Satria berubah total. Satria mulai sensitif pada setiap perubahan pergerakan Tiwi. Bahkan hanya berjalan saja, Satria mulai merasa penasaran.
Ah, sial! Apa yang sebenarnya terjadi padamu ini, Satria?
Kamu bahkan belum tahu bagaimana akhir kisah Tiwi dan Hendri!
__ADS_1
… Atau kisah mereka belum berakhir?
… Malah bersambung?
Lalu bagaimana dengan Satria?
.
.
.
.
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗